UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA DAN HASIL BELAJAR PKN DALAM MENGENAL PENTINGNYA HARGA DIRI MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS DEEP DIALOGUE / CRITICAL THINKING (DD/CT) BAGI SISWA KELAS III
SEMESTER 2 SD NEGERI WONOREJO POLOKARTO
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Oleh:Jumisah
SD Negeri Wonorejo,Polokarto,Sukoharjo
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: Aktivitas siswa, dan Hasil Belajar PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” pada siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 melalui pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT).Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 selama 3 (tiga) bulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas III Semester 2 di SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 17 orang siswa. Prosedur dalam penelitian ini pada intinya mengacu pada desain penelitian yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; 3) observasi; dan 4) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Penerapan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa dengan aktivitas belajar dengan kategori aktif pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Peningkatan aktivitas belajar siswa diindikasikan dengan meningkatnya jumlah siswa dengan aktivitas belajar kategori aktif dari sebesar 23.53% pada kondisi awal, meningkat menjadi 35.29% pada tindakan Siklus I, kemudian meningkat menjadi 88.24% pada tindakan Siklus II; dan 2) Penerapan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” pada siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari sebesar 73.76 pada kondisi awal, meningkat menjadi 79.82 pada akhir tindakan Siklus I, kemudian meningkat menjadi 84.35 pada akhir tindakan Siklus II. Ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari sebesar 47.06% pada kondisi awal, meningkat menjadi 70.59% pada akhir tindakan Siklus I, kemudian meningkat menjadi 100% pada akhir tindakan Siklus II.
Kata Kunci: aktivitas belajar, Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT)
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Proses belajar-mengajar adalah proses dialog, secara sederhana, dialog merupakan percakapan antara orang-orang, dan melalui dialog tersebut, dua masyarakat/kelompok atau lebih yang memiliki pandangan berbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Komunikasi interaktif, efektif dan penuh dengan keterbukaan akan memunculkan suasana yang lebih demokratis dan nyaman dalam proses pembelajaran, sehingga dengan dialog yang mendalam pendidik dan peserta didik akan jauh lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan serta mencari solusi praktis untuk proses pembelajaran kedepannya. Suasana yang demokratis ini juga akan lebih memudahkan guru dalam menentukan strategi yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran yang menekankan proses dialog adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT).
Hal yang sama juga terjadi di SD Negeri Wonorejo Polokarto, khususnya pada kelas III semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa proses pembelajaran lebih banyak berjalan searah. Guru lebih banyak menyampaikan materi pembelajaran dengan metode ceramah dan siswa lebih banyak berperan sebagai passive receiver.Hasil observasi di lapangan juga ditemukan fakta bahwa pada saat proses pembelajaran, siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Kurang aktifnya siswa terlibat dalam pembelajaran ditunjukkan dengan kurang adanya interaksi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa merasakan kejenuhan sehingga menyebabkan beberapa diantaranya membuat gaduh dan mengganggu konsentrasi siswa lain, kurangnya penguasaan materi pelajaran serta kurangnya kedisiplinan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa tidak berani bertanya tentang materi yang belum dimengerti juga belum bisa bekerja sama.
Kondisi tersebut tentu saja berdampak pada kurang optimalnya hasil belajar yang diperoleh siswa dalam pembelajaran PKn. Kurang optimalnya hasil pembelajaran PKn yang diperoleh siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 tercermin dari hasil yang diperoleh dalam ulangan harian.Berdasarkan nilai ulangan harian, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 dalam pembelajaran PKn adalah sebesar 73.76 dan belum melampaui KKM yang ditetapkan untuk pembelajaran PKn yaitu 75.00.
Hasil analisis terhadap ketuntasan belajar siswa menunjukkan bahwa dari 17 orang siswa yang ada, ternyata hanya ada 8 orang siswa atau 47.06% yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00. Sisanya sebanyak 9 orang siswa atau 52.94% masih belum mencapai ketuntasan belajar. Hal ini tentu saja masih jauh dari harapan di mana seharusnya sebanyak > 80.00% siswa sudah mencapai ketuntasan belajar sesuai apa yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.
Berdasarkan studi awal yang penulis lakukan pada guru Kelas III SD Negeri Wonorejo Polokarto, dalam mengajar guru belum mencobakan metode-metode yang direkomendasikan oleh Depdikbud. Metode yang sering digunakan oleh guru dalam mengajar masih sebatas ceramah dan tanya jawab. Dalam penelitian ini penulis akan mencobakan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) yang merupakan metode yang belum pernah dicobakan sebelumnya pada siswa.
Pembelajaran di SD Negeri Wonorejo Polokarto khususnya kelas III pada mata pelajaran PKn tentang mengenal pentingnya harga diri, penguasaan materi masih sangat rendah. Maka dari itu perlu segera mendapat penanganan dan perhatian peneliti. Selain rendahnya prestasi belajar siswa, siswa belum berani untuk bertanya hal belum jelas dan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran.Pola pembelajaran yang dilakukan selama ini, hanya mengandalkan salah satu macam metode yang dianggap sesuai dengan kondisi sekolah yaitu metode ceramah dan jarang mengunakan alat peraga sebagai media belajar. Sehingga pembelajaran yang diharapkan belum tercapai dan hasil prestasi belajar secara maksimal sulit untuk dicapai.
Pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran inovatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membagi ide-ide, mempertimbangkan jawaban yang paling tepat dan menjawab pertanyaan secara lisan sehingga menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengemukakan ide atau jawaban di depan kelas.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) untuk meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar PKn. Adapun judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah: “Upaya Meningkatkan Aktivitas Siswa dan Hasil Belajar PKn dalam Mengenal Pentingnya Harga Diri Melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) bagi Siswa Kelas III Semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto Tahun Pelajaran 2013/2014”
Perumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Tujuan Penelitian
Merujuk pada perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara praktis maupun secara teoretis. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:
Aktivitas Belajar
Aktivitas berasal dari kata aktif yang berarti giat, atau sibuk. Menurut Depdikbud (2007:29) bahwa “Aktivitas adalah kegiatan, kesibukan”. Aktivitas belajar merupakan masalah yang dihadapi oleh setiap orang sepanjang masa. Hal ini disebabkan karena hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, semuanya itu terbentuk dan berkembang karena peristiwa belajar. Oleh karena itu, berbagai ahli mengemukakan pendapatnya tentang belajar. Menurut Nasution (2000:29) bahwa: “Belajar adalah perubahan kelakukan berkat pengalaman dan latihan. Belajar membawa perubahan individu yang belajar, dan perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga berbentuk kecakapan, kebiasaan atau pribadi seseorang.”
Menurut Winkel (2001:36) bahwa: “belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berkas.Sedangkan menurut Hitzman yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2001:89) mengatakan bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Dari ketiga pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan menurut Winkel (2001:102), “aktivitas belajar adalah sebagai proses siswa dalam mengikuti kegiatan belajar”.
Secara sederhana, dialog adalah percakapan antara orang-orang dan melalui dialog tersebut, dua masyarakat/kelompok atau lebih yang memiliki pandangan berbeda-beda bertukar ide, informasi dan pengalaman. Deep dialogue (dialog mendalam), dapat diartikan bahwa percakapan antara orang-orang tadi (dialog) harus diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, 2001). Sedangkan ciritical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar.
Beberapa prinsip yang harus dikembangkan dalam deep dialogue/critical thinking, antara lain adalah: adanya komunikasi dua arah dan prinsip saling memberi yang terbaik, menjalin hubungan kesederajatan dan keberadaban serta empatisitas yang tinggi. Dengan demikian, deep dialogue/critical thinking mengandung nilai-nilai demokrasi dan etis sehingga keduanya seharusnya dimiliki oleh manusia. Nilai-nilai demokrasi dan etis yang dijadikan orientasi dalam DD/CT, mempunyai kaitan erat dengan tujuan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia (PKn), terutama dalam pembentukan warga negara yang baik, demokratis, cerdas dan religious. Sebagai pendekatan pembelajaran, pada dasarnya Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) bukanlah sebuah pendekatan yang baru sama sekali, akan tetapi telah diadaptasikan dari berbagai metode yang telah ada sebelumnya (GDI, 2001). Oleh karena itu, Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) bisa menggunakan semua metode pembelajaran yang telah digunakan sebelumnya seperti Multiple Intelligences, Belajar Aktif, Keterampilan Proses ataupun Parthnership Learning Method, sebagaimana yang dikembangkan oleh Eisler. Dengan demikian, filosofi DD/CT melakukan penajaman-penajaman terhadap seluruh metode pembelajaran yang telah ada, baik yang bersifat konvensional maupun yang bersifat inovatif.
Fokus kajian pendekatan DD/CT dalam pembelajaran dikonsentrasikan dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman, melalui dialog secara mendalam dan berpikir kritis, tidak saja menekankan keaktifan peserta didik pada aspek fisik, akan tetapi juga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual. Peserta didik yang telah belajar di kelas yang menggunakan pendekatan DD/CT, diharapkan akan memiliki perkembangan koqnisi dan psikososial yang lebih baik. Mereka juga diharapkan dapat mengembangkan ketrampilan hidup tentang DD/CT yang akan meningkatkan pemahaman terhadap dirinya dan terhadap orang lain yang berbeda dari diri mereka, dan oleh karena itu akan memperkuat penerimaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan.
Untuk keperluan pendekatan pembelajaraan, Global Dialogue Institute (2001) mengindetifikasi ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan DD/CT, yaitu: 1) Peserta didik nampak aktif; 2) Mengoptimalisasikan potensi intelligensi peserta didik; 3) Berfokus pada mental, emosional dan spiritual; 4) Menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis; 5) Peserta didik menjadi pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik; 6) Dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari; 7) Lebih menekankan pada nilai, sikap dan kepribadian.
Deep dialogue/critical thinking merupakan sebuah pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang terhadap sebuah proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini masih bersifat umum, karena strategi dan metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran tergantung pada pendekatan yang digunakan. Pendekatan pembelajaran terbagi menjadi dua, yaitu pendekatan yang berpusat kepada guru dan pendekatan yang berpusat kepada siswa. Pembelajaran deep dialogue/critical thinking merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Menurut GDI dalam Ketut p Arthana (2010:16) pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking pada dasarnya adalah hasil adaptasi dari berbagai metode pembelajaran yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu deep dialogue/critical thinking dapat disatukan dengan berbagai metode pembelajaran yang sudah ada, baik metode pembelajaran yang konvensional atau pun metode pembelajaran yang inovatif.Kegiatan dalam pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking difokuskan pada kegiatan dialog secara mendalam dan berpikir kritis. Dua kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya mendapatkan sebuah konsep pembelajaran tetapi mereka juga mendapatkan pengalaman belajar sehingga mereka betul-betul memahami konsep pembelajaran dan dapat menerapkannya dalam kehidupan yang kontekstual.
Pendekatan berbasis deep dialogue/critical thinking mengakses paham konstruktivisme yang menekankan pada kegiatan berdialog dan berpikir kritis. Menurut teori konstruktivis belajar adalah bagaimana seorang siswa mengkonstuksi konsep yang dimilikinya baik konsep yang baru ataupun konsep yang lama dengan situasi dunia nyata.Jadi pembelajaran deep dialogue/critical thinking adalah pembelajaran yang menuntut siswa untuk dapat mengkonstruksi pengetahuannya dengan berdialog dan berpikir kritis dalam proses pembelajaran sehingga mereka dapat mengaitkan sendiri pengetahuannya dengan kehidupan nyata. Dalam proses pembelajaran deep dialogue/critical thinking seorang guru hanya menjadi fasilitator yang mengarahkan, memberi dukungan, memberi motivasi, mengamati, dan memberikan feedback kepada para siswa.
Pelajaran PKn oleh kebanyakan siswa seringkali menjadi pelajaran yang menjemukan, karena mengandalkan hafalan belaka, sehingga masih terdapat siswa yang memiliki hasil belajar PKn yang tidak memuaskan. Namun ini bukanlah suatu alasan mengapa hasil belajar mereka tidak seperti yang diharapkan. Karena pada dasarnya prestasi itu dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Berdasarkan hasil pengamatan, pembelajaran PKn di kelas III SD Negeri Wonorejo Polokarto masih belum optimal. Guru belum menerapkan metode pembelajaran yang dapat mendorong siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Kondisi tersebut berdampak pada kurang optimalnya hasil belajar yang diperoleh siswa dalam pembelajaran PKn. Kurang optimalnya hasil belajar yang diperoleh siswa ditunjukkan dengan tingkat ketuntasan belajar yang baru mencapai 47.06% dari jumlah siswa yang ada.
Berangkat dari kondisi tersebut, maka guru perlu melakukan perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan yang dilakukan guru adalah dengan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking (DD/CT).Dalam pembelajaran PKn, keterlibatan siwa dalam menemukan konsep sangat diperlukan, karena dengan dilibatkannya siswa dalam penemuan konsep, maka siswa akan lebih memahami konsep tersebut. Sehingga aktivitas dan hasili belajar meningkat. Jadi penerapan pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking (DD/CT) sangat tepat. Karena pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking (DD/CT) adalah layanan metode belajar yang menekankan pada keaktifan siswa di dalam proses belajar mengajar yaitu siswa belajar secara berkelompok, siswa menggunakan kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam belajar.
Adapun alur kerangka pemikiran mengenai penerapan pendekatan pembelajaran berbasis deep dialogue/critical thinking (DD/CT) untuk meningkatkan hasil belajar PKn yang ditujukan untuk mengarah jalannya penelitian agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Diagram Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, hipotesis tindakan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014. Pemilihan lokasi dilandasi adanya pertimbangan bahwa: 1) peneliti adalah guru PKn di sekolah tersebut sehingga memudahkan dalam pelaksanaan penelitian; dan 2) siswa kelas III di sekolah tersebut memerlukan perbaikan dalam pembelajaran PKn.Penelitian dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013/2014.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri dari 17 orang siswa. Pemilihan subjek dilandasi alasan bahwa siswa kelas III belum mencapai ketuntasan belajar dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri”.
Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri”. Berdasarkan jenis data tersebut, maka data dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi: 1)Siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto, tahun pelajaran 2013/2014.2) Dokumen antara lain berupa kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan buku penilaian.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, teknik tes, dan analisis dokumen. Tes dalam penelitian adalah tes prestasi belajar, dan tes kecerdasan. Teknik tes dilakukan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri”.Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian ini yang berhubungan dengan kondisi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok. Teknik dokumen dilakukan untuk mengkaji kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan buku penilaian yang dilakukan guru dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” bagi siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto, tahun pelajaran 2013/2014.
Validitas Data
Data yang diperoleh dalam penelitian perlu diperiksa validitasnya sehingga data dapat dipertanggungjawabkan dan dijadikan sebagai dasar dalam penarikan kesimpulan. Teknik yang digunakan dalam pemeriksaan validitas data antara lain adalah menggunakan teknik triangulasi, dan memperpanjang masa pengamatan.
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif – kuantitatif. Analisis data secara kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif, seperti hasil observasi dan studi dokumentasi. Tahapan analisis data deskriptif kualitatif terdiri dari: pemaparan data, reduksi (data yang sudah ada di cek dan dicatat kembali), kategorisasi (data dipilah-pilah), penafsiran dan penyimpulan.Analisis data deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisa data kuantitatif, seperti hasil tes.
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini terdiri dari indikator aktivitas belajar dan hasil belajar. Atas dasar hal tersebut, maka indikator kinerja penelitian dapat dikemukakan sebagai berikut ini:
Prosedur Penelitian
Prosedur PTK ini mnegikuti prinsip-prinsip PTK, yaitu terdiri dari beberapa tahap diantaranya; tahap planning (rencana tindakan), implementing (tindakan), observing (observasi), dan reflecting (refleksi) yang kemudian diikuti dengan perencanaan ulang pada siklus kedua, dan seterusnya.Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus tidakan dan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa siswa dengan aktivitas kategori aktif adalah sebanyak 4 orang siswa atau 23.53%. Jumlah siswa dengan aktivitas kategori cukup aktif adalah sebanyak 9 orang atau 52.94%. Jumlah siswa dengan aktivitas kategori kurang aktif adalah sebanyak 4 orang atau 23.53%.Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran pada kondisi awal dapat disajikan ke dalam tabel berikut ini.
Tabel 4
Aktivitas belajar Siswa Kondisi Awal Berdasar Kategori
No. | Kategori Aktivitas | Jumlah | % |
1. | Aktif (Skor 25 – 32) | 4 | 23.53% |
2. | Cukup Aktif (Skor 16.5 – 24.5) | 9 | 52.94% |
3. | Kurang Aktif (Skor 8 – 16) | 4 | 23.53% |
Jumlah | 17 | 100.00% |
Kondisi awal tingkat pemahaman siswa kelas III SD Negeri Wonorejo Polokarto semester 2 Tahun pelajaran 2013/2014 dalam pembelajaran PKn materi “ Mengenal Pentingnya Harga Diri” dapat diketahui dari hasil nilai ulangan harian yang dilakukan guru. Berdasarkan data hasil tes ulangan harian yang dijadikan sebagai identifikasi kondisi awal pembelajaran PKn, menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 85.00 dan nilai terendah adalah 65.00. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah sebesar 73.76. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 73.76 ≤ KKM yang ditetapkan dengan KKM > 75.00. Atas dasar hal tersebut siswa secara klasikal belum mencapai ketuntasan belajar.
Ditinjau dari ketuntasan belajar, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00 adalah 8 orang siswa atau 47.06% dari jumlah siswa. Sedangkan jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar adalah 9 orang siswa atau 52.94%. Berdasarkan hal tersebut, maka secara klasikal siswa kelas III semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 SD Negeri Wonorejo Polokarto belum mencapai ketuntasan belajar dalam pembelajaran PKn.Data ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal dapat dilihat dari daftar nilai siswa kondisi awal dalam tabel berikut:
Tabel 5
Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Kondisi Awal
No. | Ketuntasan | Jumlah | % |
1. | Tuntas | 8 | 47.06 |
2. | Belum Tuntas | 9 | 52.94 |
Jumlah | 17 | 100 | |
Nilai Rata-rata | 73.76 | ||
Nilai Terendah | 65 | ||
Nilai Tertinggi | 85 | ||
Berangkat dari kondisi tersebut maka diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Langkah tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran dengan Strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT). Melalui penerapan Strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) tersebut diharapkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran semakin meningkat. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar siswa berupa meningkatnya penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
Pengamatan dilakukan terhadap dua aspek, yaitu aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa pada tindakan pembelajaran Siklus I.
Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang mempunyai aktivitas belajar dengan kategori aktif dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hasil pengamatan aktivitas belajar pada tindakan Siklus I dapat disajikan ke dalam tabel berikut ini.
Tabel 6
Aktivitas belajar Siswa Tindakan Siklus I Berdasar Kategori
No. | Kategori Aktivitas | Jumlah | % |
1. | Aktif (Skor 25 – 32) | 6 | 35.29% |
2. | Cukup Aktif (Skor 16.5 – 24.5) | 10 | 58.82% |
3. | Kurang Aktif (Skor 8 – 16) | 1 | 5.88% |
Jumlah | 17 | 100.00% |
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa siswa dengan aktivitas kategori aktif adalah sebanyak 6 orang atau 35.29%. Jumlah siswa dengan aktivitas kategori cukup aktif adalah sebanyak 10 orang atau 58.82%. Jumlah siswa dengan aktivitas kategori kurang aktif adalah sebanyak 1 orang atau 5.88%.
Berdasarkan data hasil tes yang dilakukan pada akhir tindakan Siklus I, dapat diketahui bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 90.00 dan nilai terendah adalah 70.00. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah sebesar 79.82. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 79.82 > KKM yang ditetapkan dengan KKM > 75.00. Atas dasar hal tersebut siswa secara klasikal dianggap sudah mencapai ketuntasan belajar.
Ditinjau dari ketuntasan belajar, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00 adalah 12 orang siswa atau 70.59% dari jumlah siswa. Sedangkan jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar adalah 5 orang siswa atau 29.41%. Berdasarkan hal tersebut, maka indikator penguasaan penuh secara klasikal, berupa tercapainya > 80.00% jumlah siswa sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00 belum tercapai.Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat disajikan ke dalam tabel berikut:
Tabel 7
Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Tindakan Siklus I
No. | Ketuntasan | Jumlah | % |
1. | Tuntas | 12 | 70.59 |
2. | Belum Tuntas | 5 | 29.41 |
Jumlah | 17 | 100 | |
Nilai Rata-rata | 79.82 | ||
Nilai Terendah | 70 | ||
Nilai Tertinggi | 90 | ||
Berangkat dari kondisi tersebut maka diperlukan perbaikan tindakan pembelajaran pada siklus berikutnya. Langkah tersebut adalah dengan memperkecil anggota kelompok dari 4 atau 5 orang siswa menjadi 3 orang siswa pada tindakan siklus berikutnya. Melalui penerapan pembelajaran dengan penerapan Strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) tersebut diharapkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran semakin meningkat. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar siswa berupa meningkatnya penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan adanya beberapa perbaikan yang dilakukan pada tindakan Siklus II.
Kegiatan pengamatan pada tindakan pembelajaran Siklus II dilaksanakan terhadap kegiatan siswa dan guru selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Hasil pengamatan aktivitas belajar menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan kondisi sebelumnya. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang mempunyai aktivitas belajar dengan kategori aktif dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.Hasil pengamatan aktivitas belajar pada tindakan Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut ini.
Tabel 8
Aktivitas belajar Siswa Tindakan Siklus II Berdasar Kategori
No. | Kategori Aktivitas | Jumlah | % |
1. | Aktif (Skor 25 – 32) | 15 | 88.24% |
2. | Cukup Aktif (Skor 16.5 – 24.5) | 2 | 11.76% |
3. | Kurang Aktif (Skor 8 – 16) | 0 | 0% |
Jumlah | 17 | 100.00% |
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa siswa dengan aktivitas kategori aktif adalah sebanyak 15 orang atau 88.24%. Jumlah siswa dengan aktivitas kategori cukup aktif adalah sebanyak 2 orang atau 11.76%.
Berdasarkan hasil tes akhir tindakan, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar dan tingkat ketuntasan belajar siswa. Berdasarkan data hasil tes yang dilakukan pada akhir tindakan Siklus II, dapat diketahui bahwa nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 94.00 dan nilai terendah adalah 75.00. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah sebesar 88.24. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 88.24 ≥ KKM yang ditetapkan dengan KKM > 75.00. Atas dasar hal tersebut siswa secara klasikal dianggap sudah mencapai ketuntasan belajar.Ditinjau dari ketuntasan belajar, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00 adalah 17 orang siswa atau 100% , maka indikator penguasaan penuh secara klasikal, berupa tercapainya > 80.00% jumlah siswa sudah mencapai ketuntasan belajar dengan KKM > 75.00 sudah terlampaui.
Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut:
Tabel 9
Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa Tindakan Silkus II
No. | Ketuntasan | Jumlah | % |
1. | Tuntas | 17 | 100 |
2. | Belum Tuntas | 0 | 0 |
Jumlah | 17 | 100 | |
Nilai Rata-rata | 84.35 | ||
Nilai Terendah | 75 | ||
Nilai Tertinggi | 94 | ||
Berangkat dari kondisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru pada tindakan Siklus II berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan terlampauinya indikator keberhasilan tindakan berupa nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa, yaitu dengan ketuntasan kelas sebesar 100%.
Pembahasan Hasil Tindakan
Hipotesis tindakan yang menyebutkan bahwa “Strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PKn” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa dengan aktivitas belajar kategori aktif pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.Hasil pengamatan pada kondisi awal menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa cukup rendah. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya siswa dengan aktivitas belajar kategori aktif baru mencapai 23.53% dari jumlah siswa yang ada.
Berangkat dari kondisi tersebut, guru melakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri”. Langkah perbaikan yang dilakukan guru pada tindakan Siklus I berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya jumlah siswa dengan aktivitas belajar kategori aktif dari sebesar 23.53% pada kondisi awal, meningkat menjadi 35.29% pada tindakan Siklus I.
Peningkatan yang diperoleh pada tindakan Siklus I dianggap belum optimal. Oleh karena itu, guru melakukan perbaikan pembelajaran pada tindakan Siklus II. Perbaikan yang dilakukan guru berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa dari 35.29% pada tindakan Siklus I, meningkat menjadi 88.24% pada tindakan Siklus II.
Peningkatan aktivitas belajar siswa dari kondisi awal hingga tindakan Siklus II selanjutnya dapat disajikan ke dalam diagram berikut ini.
Gambar 9 Diagram Peningkatan Aktivitas belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Tindakan Siklus II
Penerapan Strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan hasil belajar PKn bagi siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014
Hipotesis tindakan yang menyebutkan bahwa “Penerapan pendekatan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” pada siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada kondisi awal adalah sebesar 73.76 belum melampaui KKM yang ditetapkan dengan KKM > 75.00. Ketuntasan belajar siswa baru mencapai 47.06% dari jumlah siswa. Hal tersebut mendorong untuk perlunya dilaksanakan perbaikan pembelajaran, yaitu melalui penerapan metode pembelajaran inovatif strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT).
Perbaikan pembelajaran yang dilakukan guru cukup efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa dan tingkat ketuntasan belajar siswa. Nilai rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa pada akhir tindakan Siklus I mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu meningkat dari 73.76 menjadi 79.83. Tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 47.06% pada kondisi awal, meningkat menjadi sebesar 70.59% pada akhir tindakan Siklus I.
Peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada tindakan Siklus I dipandang belum optimal sehingga guru melakukan perbaikan pada tindakan Siklus II. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan memperbanyak jumlah kelompok sehingga anggota masing-masing kelompok menjadi lebih sedikit. Perubahan tersebut mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Perbaikan yang dilakukan guru berdampak positif dengan meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus II. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada akhir tindakan Siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan nilai rata-rata pada akhir tindakan Siklus I, yaitu meningkat dari 79.82 menjadi 84.35. Tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 70.59% pada akhir tindakan Siklus I, meningkat menjadi sebesar 100% pada akhir tindakan Siklus II.
Atas dasar hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran inovatif strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” pada siswa kelas III semester 2 SD Negeri Wonorejo Polokarto tahun pelajaran 2013/2014. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut.
Tabel 11
Ketuntasan Belajar pada Kondisi Awal Hingga Siklus II
No. | Ketuntasan | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II | |||
Jumlah | % | Jumlah | % | Jumlah | % | ||
1. | Tuntas | 8 | 47.06 | 12 | 70.59 | 17 | 100 |
2. | Belum Tuntas | 9 | 52.94 | 5 | 29.41 | 0 | 0 |
Jumlah | 17 | 100 | 17 | 100 | 17 | 100 | |
Hasil-hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran inovatif strategi Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) yang dilakukan oleh guru dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar tersebut dikaitkan dengan adanya penciptaan suasana belajar yang menyenangkan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.Data peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran PKn materi “Mengenal Pentingnya Harga Diri” dari kondisi awal hingga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas selanjutnya dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut.
Gambar 10 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir Tindakan Siklus II
Pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut memungkinkan siswa dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Guru mengupayakan cara kreatif untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa juga didorong agar kreatif berinteraksi dengan teman, guru, materi pelajaran dan segala alat bantu belajar, sehingga hasil pembelajaran meningkat.
P E N U T U P
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dibahas pada bab sebelumnya, maka penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut:
Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian tersebut di atas selanjutnya dapat dikemukakan beberapa saran. Adapun saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut.
Siswa diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar menjadi semakin optimal.
Guru kelas disarankan agar mengembangkan kapasitas diri dengan belajar menggunakan berbagai model pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa mereka.
Sekolah diharapkan mendorong para guru untuk menerapkan model pembelajaran yang inovatif. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong para guru mengikuti berbagai pelatihan yang dilaksanakan oleh instansi terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 2002. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Anni, Chatarina Tri, dkk. 2005. Psikologi Belajar. Semarang : UPT MKK UNNES.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan: untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta: Aditya Media.
Depdikbud, 2007, Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Harminingsih. 2008. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Global Dialogue Institute. 2001. Deep Dialogue/Critical Thinking as Instructional Approach.
Ketut P Arthana. 2010. Pembelajaran Inovatif Berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking. Jurnal Teknologi Pendidikan.
Mahmud, M. Dimyati. 2002. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta : BPEF.
Muhibbin, Syah. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta :PT. Raja Grafindo Persada.
Purwanto, Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sardiman AS. 2009 Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Silberman, Melvin L. 2007. Active Learning Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Slameto. 2005. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rev. Jakarta: Rineka Cipta.
Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
WS. Winkel. 2001. Psikogi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Oleh:JUMISAH S.Pd.
SD Negeri Wonorejo,Polokarto,Sukoharjo
NIP. 19590101 198012 2 007