PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI KEMASAN 02 SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Siswanto
Gugus Diponegoro
Abstrak
Tujuan dalam penelitian tindaka kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat belajar IPA tentang bagian-bagian tumbuhan melalui pendekatan Contextual Teaching And Leearning pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 Semester I tahun pelajaran 2012/2013 dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA tentang bagian-bagian tumbuhan melalui pendekatan Contextual Teaching And Leearning pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 Semester I tahun pelajaran 2012/2013.
Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan yaitu bulan Juli 2012 sampai dengan bulan Oktober 2012. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah pemahaman bagian-bagian tumbuhan pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02, UPTD Pendidikan Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah siswa 17.
Prosedur penelitian yang digunakan yaitu prosedur jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Analisis data kualitatif model pembelajaran dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan membadingkan siklus I dan siklus II, sedangkan data yang berupa angka dari hasil belajar siswa dianalisa menggunakan deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai siklus I dan nilai siklus II kemudian direfleksi.
Hasil penelitian melalui pendekatan Contextual Teaching And Leearning dalam pemahaman bagian-bagian tumbuhan pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 semester I tahun pelajaran 2012 /2013. Proses pemahaman bagian-bagian tumbuhan berlangsung baik denga situasi dan kondisi yang menyenangkan dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan keaktifan dari cukup aktif menjadi amat aktif, peningkatan ketelitian dari cukup teliti menjadi amat teliti, rasa ingin tahu dari cukup baik menjadi amat baik, dan melalui cukup pendekatan Contextual Teaching And Leearning dapat meningkatan hasil belajar IPA tentang bagian-bagian tumbuhan pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 semester I tahun pelajaran 2012/2013. Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan yaitu 6 (35,29%) siswa yang mendapat nilai tuntas menjadi 17 (100%) meningkatkan 11 (64,71%). Nilai rata-rata dari 66,18 menjadi 75,88 meningkat sebesar 9,70.
Kata kunci: Minat dan Hasil Belajar, Contextual Teaching And Leearning.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri Kemasan 02, masih terkesan kering, sepi dan tidak menarik bagi siswa, guru umumnya dalam mengajar cenderung bersifat informatif atau hanya transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa sehingga siswa belum aktif dalam proses pembelajaran siswa juga belum sepenuhnya menyukai pelajaran IPA disebabkan oleh kurangnya minat belajar maupun kreativitas yang dimiliki oleh siswa. Selain itu alat peraga juga terbatas sehingga mengakibatkan minat siswa terhadap mata pelajaran IPA berkurang. Berdasarkan kenyataa hasil tes siswa pada materi bagian-bagian tumbuhan masih rendah. Dari 17 siswa yang mendapat nilai tuntas hanya 6 siswa (35,29%) dan 11 siswa (64, 71%) mendapat nilai belum tuntas dengan KKM 70. Nilai rata-rata ulangan tes 66,18.
Untuk mengatas permasalahan tersebut di atas, diperlukan strategi pembelajaran yang berguna untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa secara optimal yaitu dengan menggunakan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching And Leearning (CTL). Dengan strategi ini, diharapkan proses pembelajaran berlangsung alamiah sesuai dengan dunia nyata dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dengan melihat kondisi yang ada, memungkinkan jika pendekatan Contextual Teaching And Leearning diterapkan di SD Negeri Kemasan 02. Kondisi di sekitar SD masih banyak kebun yang luas. Pendekatan Contextual Teaching And Leearning melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontrukivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, permodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya sehingga, melalui pendekatan Contextual Teaching And Leearning ini, diharapkan siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap IPA agar memperoleh hasil yang optimal.
Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti perlu untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Minat dan Hasil Belajar IPA Tentang Bagian-bagian Tumbuhan Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Leearning pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 Semester I Tahun Pelajaran 2012/2013”.
Rumusan Masalah
Melalui penelitian tindakan kelas ini akan diungkapkan rumusan masalah sebagai berikut.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan khusus dalam penelitian tindakan kelas di bawah ini adalah sebagai berikut:
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah.
Meningkatan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPA tentang Bagian-bagian Tumbuhan sehingga hasil belajarnya juga meningkat.
Meningkatkan keterampilan guru dalam memilih pendekatan pembelajaran yang tepat yaitu Contextual Teaching And Learning.
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan bagi sekolah tentang variasi pembelajaran dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching And Learning dalam pembelajaran IPA.
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Kajian Teori
Hakikat Minat
Minat merupakan suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran antara perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecendurangan-kecenderungan lain yang mengarahkan seseorang kepada suatu pilihan tertentu. Cita-cita merupakan perwujudan dari minat, dalam hubungan dengan masa depan yang perlu direncanakan oleh seseorang, terkait dengan menentukan pilihan terhadap pendidikan, pekerjaan, teman hidup, dan sebagainya. Semakin sering minat dan mengekspresikan dalam kegiatan, semakin kuatlah minat tersebut. Sebaliknya minat akan padam bila tidak disalurkan (Depdiknas, 2002: 9).
Minat menunjukkan jenis pengalaman, perasaan yang disebut kegunaan, yang dihubungkan dengan perhatian pada objek, atau tindakan (Drever, 1988: 235), minat seseorang dapat terdorong untuk melakukan apa yang diinginkannya. Seseorang yang berminat terhadap sesuatu, maka orang itu akan melakukan langkah-langkah nyata untuk mengetahui segala sesuatu yang diinginkan atau diminatinya (Walgito, 1983: 67).
Hasil Belajar IPA
Menurut Chaplin pengertian hasil belajar atau hasil belajar: “Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi” (1992: 159).
Nasution (1972: 45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi itu megandung maksud untuk mengetahui kemampuan belajar atau penugasan siswa ata terhadap materi yang diberikan guru.
Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Tujuan pelajaran IPA di SD/MI menyebutkan bahwa pelajaran IPA di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai barikut: (a) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan dalam ciptaa-Nya. (b) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dalam pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (c) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. (d) Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. (e) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan. (f) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keperaturannya sebagai salah satu ciptaan tuhan. (g) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan ketrampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs. (Depdiknas, 2007: 43).
Tumbuhan termasuk makluk hidup yang bersifat autotrof, karena mempunyai kemampuan dapat membentuk makanannya sendiri dan bahkan menyediakan makanan bagi makluk hidup lain. Tumbuhan memiliki bagian-bagian tertentu, yaitu: daun, batang, akar, bunga, buah, dan biji (Rahayu, 11: 1). Daun mempunyai fungsi yaitu sebagai tempat pembuatan makanan (fotosintesis), sebagai alat pernapasan pada tumbuhan, dan tempat berlangsungnya proses penguapan. Batang mempunyai fungsi sebagai pengangkut, penopang, dan penyimpanm cadangan makanan pada tumbuhan. Aka berfungsi sebagai penyerap air dan zat hara, memperkokoh tumbuhan, serta menjadi alat pernapasan. Bunga berfungsi mempercantik tumbuhan, dan tempat berlangsungnya perkembangbiakan tumbuhan. Buah berfungsi sebagai sumber makanan bagi manusia dan hewan, sedangkan biji berfungsi sebagai calon tumbuhan baru.
Pendekatan Kontekstual
Muslich (2009: 41) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajarn dengan dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendekatan kontekstual dipilih karena dalam sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapik sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui strategi CTL, siswa diharapakan belajar melalui “mengalami”, buka menghafal.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencaari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata , bukan saja bagi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa. Sehingga tidak akan mudah dilupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami mater yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Menurut Nurhadi (2004: 103) pembelajaran kontekstual (contexstual teaching and learning-CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungka antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh daari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.
Berdasarkan pengertian di atas, dalam pembelajaran yang kontekstual siswa di dorong untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaat dan bagaimana mencapainya. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan proses daripada hasil. Dengan model pembelajaran CTL proses pembelajaran diharapkan dapat secara alamiah dan dalam bentuk kenyataan, siswa mengalami, dan siswa menyadari apa yang dipelajari berguna bagi hidupnya.
Kerangaka Berpikir
Berdasarkan pada landasan teori yang diuraikan di atas dapat dijelaskan kerangka berpikir dalam penelitian sebagai berikut.
Gambar 1
Skema Kerangka Berpikir
Dari gambar siklus kerangka berpikir di atas dapat di jelaskan bahwa kondisi awal guru beleum menerapkan pendekatan Contextual Teaching And Learning dalam pembelajaran IPA tentang Bagian-bagian Tumbuhan minat dan hasil belajar siswa masih rendah.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas diajukan hipotesi tindakan sebagai berikut.
METODE PENELITIAN
Setting dan Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan yaitu bulan Juli 2012 sampai dengan bulan Oktober 2012 . Penelitian dilakukan pada waktu itu karena materi yang berhubungan dengan Bagian-bagian Tumbuhan pada siswa kelas IV masuk materi program semester I tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Kemasan 02, UPTD Pendidikan Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Alasan tempat penelitian tersebut karena peneliti mengajar di kelas dan sekolah tersebut. Subjek dala penelitian adalah pemahaman Bagian-bagian Tumbuhan pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 yang terdiri dari 17 siswa.
Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data yang berasal dari subjek penelitian dan dari bukan subjek penelitian. Sumber data dari subjek penelitian merupakan sumber data primer yaitu tentang proses dan hasil belajar siswa. Data primer tentang proses belajar berupa hasil pengamatan selama pelaksanaan tindakan yang meliputi tentang keterlibatan siswa, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sedangkan data primer tentang hasil belajar berupa nilai ulangan harian. Sumber data selain dari subjek penelitian merupakan sumber data sekunder yaitu data hasil pengamatan yang dilakukan dengan kolaborasi dengan teman sejawat.
Sedangkan teknik pengumpulan data sebagai berikut.
Validitas Data dan Analisis Data
Untuk memperoleh data yang valid mengenai kompetensi pemahaman Bagian-bagian Tumbuhan pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 semester I pada siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 semester I tahun pelajaran 2012/2013 yaitu
Prosedur Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan dan refleksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN’
Deskripsi Kondisi Awal
Hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar pada mata pelajaran matematika selama ini kurang baik, dalam pembelajaran guru menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Hasil tes kondisi awal sebelum dilaksanakan tindakan kelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
No | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 | 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 71-75 76-80 80-85 86-90 91-95 96-100 | - - - 3 3 5 2 2 1 1 - - - | - - - 17,65 17,65 29,41 11,76 11,76 5,88 5,88 - - - | - - - Belum tuntas Belum tuntas Belum tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas - - - |
Jumlah | 17 | 100% | ||
Berdasarkan dari tabel di atas tentang hasil nilai ulangan harian kondisi awal siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 02 semester I tahun pelajaran 2012/2013 ada 11 siswa (64,71%) dinyatakan belum tuntas atau nilai yang masih di bawah KKM 70, sedangkan yang nilainya telah tuntas ada 6 siswa atau (35,29%). Nilai terdiri dari 3 siswa memperoleh nilai antara 51-55, 3 siswa memperoleh nilai antara 56-60, 5 siswa memperoleh nilai antara 66-70, 2 siswa memperoleh nilai antara 71-75, 1 siswa memperoleh nilai antara 76-80, 1 siswa memperoleh nilai antara 81-85. Nilai rata-rata ulanga kondisi awal 66,18.
Deskripsi Siklus I
Hasil pengamatan tentang proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel di bawah ini sebagai berikut.
Tabel Prosentase Proses Pembelajaran Siklus I
No | Aspek | Jumlah Skor | Rata-rata | Prosentase% | Keterangan |
1 2 3 4 | Keaktifan Ketelitian Rasa Ingin Tahu Kerja Sama | 44 45 43 42 | 2,58 2,64 2,52 2,47 | 64,5 66 63 61,75 | Cukup aktif Cukup aktif Cukup aktif Cukup aktif |
Berdasarkan tabel di atas perolehan proses pembelajaran siswa siklus I dari jumlah 17 siswa, aspek keaktifan memperoleh jumlah skor 44 rata-rata nilai 2,58 , prosentase 64,5% , dengan kategori cukup aktif. Aspek ketelitian memperoleh jumlah skor 45, rata-rata nilai 2,64 , prosentase 66% dengan kategori cukup teliti. Aspek rasa ingin tahu memperoleh jumlah skor 43, rata-rata nilai 2,52 prosentase 63%, dengan kategori cukup tinggi. Aspek kerja sama memperoleh jumlah skor 42, rata-rata nilai 2,47 , prosentase 61,75% dengan kategori cukup baik. Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus I
No | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 | 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 71-75 76-80 80-85 86-90 91-95 96-100 | - - - - 2 1 6 4 2 2 - - - | - - - - 11,765 5,882 35,294 23,530 11,765 11,765 - - - | - - - - Belum tuntas Belum tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas - - - |
Jumlah | 17 | 100% | ||
Berdasarkan dari tabel di atas tentang hasil nilai ulangan harian siklus I siswa kelas IV Negeri Kemasan 02 semester I tahun pelajaran 2012/2013 ada 3 siswa atau 17,647% dinyatakan belum tuntas atau nilai masih di bawah KKM 70. Sedangkan yang nilainya telah tuntas ada 14 siswa atau 82,353%. Nilai terdiri dari 2 siswa memperoleh nilai antara 56-60, 1 siswa memperoleh nilai antara 61-65, 6 siswa memperoleh nilai antara 66-70, 4 siswa memperoleh nilai antara 71-75, 2 siswa memperoleh nilai memperoleh nilai antara 76-80, dan 2 siswa memperoleh nilai antara 81-85. Nilai rata-rata ulangan harian siklus I adalah 72,65.
Deskripsi Siklus II
Hasil pengamatan tentang proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel di bawah ini sebagai berikut.
Tabel Prosentase Proses Pembelajaran Siklus II
No | Aspek | Jumlah Skor | Rata-rata | Prosentase% | Keterangan |
1 2 3 4 | Keaktifan Ketelitian Rasa Ingin Tahu Kerja Sama | 63 64 63 64 | 3,70 3,76 3,70 3,76 | 92,5 94 92,5 94 | Amat aktif Amat teliti Amat tinggi Amat baik |
Berdasarkan tabel di atas perolehan proses pembelajaran siswa siklus II dari jumlah 17 siswa. Aspek keaktifan memperoleh jumlah skor 63 dengan rata-rata nilai 3,70 prosentase 92,5 % dengan kategori aktif baik. Aspek ketelitian memperoleh jumlah skor 64, dengan rata-rata nilai 3,76, prosentase 94% dengan kategori amat teliti. Aspek rasa ingin tahu memperoleh jumlah skor 63, dengan rata-rata nilai 3,70, prosentase 92,5 % dengan kategori amat tinggi. Aspek kerja sama memperoleh jumlah skor 64 dengan rata-rata nilai 3,76, prosentase 94%, dengan kategori amat baik.
Hasil belajar siswa pada siklus II dapat di lihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus II
No | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 | 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 71-75 76-80 80-85 86-90 91-95 96-100 | - - - - - - 5 7 3 1 1 - - | - - - - - - 29,412 41,176 17,647 5,882 5,882 - - | - - - - - - Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas - - |
Jumlah | 17 | 100% | ||
Berdasarkan tabel di ata tentang hasil nilai ulangan harian siklus II siswa kelas IV SD Negeri Kemasan 0 2 semester I tahun pelajaran 2012/2013 semua siswa sudah dari 5 siswa memperoleh nilai antara 66-70, 7 siswa memperoleh nilai antara 71-75, 3 siswa memperoleh nilai antara 76-80, 1 siswa memperoleh nilai antara 81-85, 1 siswa memperoleh nilai antara 86-90. Nilai rata-rata ulangan harian siklus II adalah 75,88.
Pembahasan/Diskusi
Dalam pembahasan ini ada 3 hal yang akan dibahas yaitu meliputi tindakan, proses pembelajaran, dan hasil belajar siswa.
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II |
1 | Belum menggunakan model pembelajaran CTL. | Menggunakan model pembelajaran CTL dalam kelompok besar. | Menggunakan model pembelajaran CTL dalam kelompok kecil. |
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II | Refleksi |
1 | Siswa Pasif, terkesan kering sepi dan tidak tertarik pada pelajaran IPA. | Keaktifan Jumlah skor: 44 Nilai rata-rata: 2,58 Prosentase: 64,5% Kategori: Cukup aktif | Keaktifan Jumlah skor: 63 Nilai rata-rata: 3,70 Prosentase: 92,5% Kategori: Amat aktif | Dari siklus I ke siklus II keaktifan terdapat peningkatan jumlah skor 44 menjadi 63 meningkat 19. Nilai rata-rata 2,58 menjadi 3,70 meningkat 1,12, prosentase dari 64,5% menjadi 92,5% meningkat 28%. Dari kategori cukup aktif menjadi amat aktif. |
Ketelitian Jumlah skor: 45 Nilai rata-rata: 2,64 Prosentase: 66% Kategori: Cukup teliti | Ketelitian Jumlah skor: 64 Nilai rata-rata: 3,76 Prosentase: 94% Kategori: Amat teliti | Dari siklus I ke siklus II ketelitian terdapat peningkatan jumlah skor 45 menjadi 64 meningkat 19. Nilai rata-rata 2,64 menjadi 3,76 meningkat 1,12, prosentase dari 66% menjadi 94% meningkat 28%. Dari kategori cukup teliti menjadi amat teliti. | ||
Rasa Ingin Tahu Jumlah skor: 43 Nilai rata-rata: 2,52 Prosentase: 63% Kategori: Cukup tinggi | Rasa Ingin Tahu Jumlah skor: 63 Nilai rata-rata: 3,70 Prosentase: 92,5% Kategori: Amat tinggi | Dari siklus I ke siklus II rasa ingin tahu terdapat peningkatan jumlah skor 43 menjadi 63 meningkat 20. Nilai rata-rata 2,52 menjadi 3,70 meningkat 1,18, prosentase dari 63% menjadi 92,5% meningkat 29,5%. Dari kategori cukup tinggi menjadi amat tinggi. | ||
Kerja Sama Jumlah skor: 42 Nilai rata-rata: 2,47 Prosentase: 61,75% Kategori: Cukup baik
| Kerja Sama Jumlah skor: 64 Nilai rata-rata: 3,76 Prosentase: 94% Kategori: Amat baik | Dari siklus I ke siklus II kerja sama terdapat peningkatan jumlah skor 42 menjadi 64 meningkat 22. Nilai rata-rata 2,47 menjadi 3,76 meningkat 12,9, prosentase dari 61,75% menjadi 94% meningkat 32,25%. Dari kategori cukup baik menjadi amat baik. |
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II | Refleksi |
1 | Dari 17 siswa yang mendapat nilai tuntas 6 siswa (35,29%), dan siswa yang belum tuntas 11 siswa (64,71%), dengan nilai rata-rata 66,18. | Dari 17 siswa yang mendapat nilai tuntas 14 siswa (82,35%), dan siswa yang belum tuntas 3 siswa (17,65%), dengan nilai rata-rata 72,65. | Dari 17 siswa yang mendapat nilai tuntas 17 siswa (100%), berarti semua siswa sudah tuntas dengan nilai rata-rata 77,50. | Dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 6 (35,29%) siswa yang mendapat nilai tuntas menjadi 17 (100%) meningkat 11 (64,71%). Nilai rata-rata dari 66,18 menjadi 75,88 meningkat sebesar 9,70. |
Hasil Penelitian
Berdasarkan pembahasan (diskusi) di atas hasil tindan yang berupa proses, hasil belajar dan dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan tentang proses belajar. Dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan keaktifan dari cukup aktif menjadi amat aktif. Aspek ketelitian dari cukup teliti menjadi amat teliti. Aspek rasa ingin tau dari cukup tinggi menjadi amat tinggi. Aspek kerja sama dari cukup baik menjadi amat baik
Dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan yaitu nilai belum tuntas dari 11 siswa (64,71%) menjadi 0 siswa (0%). Nilai tuntas dari 6 siswa (35,29%) menjadi 17 siswa (100%) yaitu meningkat 11 siswa (64,71%). Nilai rata-rata dari 66,18 menjadi 75,88 yaitu meningkat sebesar 9,70.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan teoritik dan empirik hasil penelitian tindakan kelas melalui model pembelajarn Contextual Teaching And Learning disimpulkan sebagai berikut.
Implikasi
Berdasarkan kajian teori serta penerapan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Dekdipnas. 2002. Pendekatan Kontekstual/Contextual Teaching And Learning. Jakarta: Ditjen Dikdasimen.
________. 2007. Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta: BNSP.
Drever, James. 1998. Kamus Psikologi Terjemaha Simanjuntak. Jakarta: Bumi Aksara.
J.P. Chaplin. 1992. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Muslich Mansur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi da Kontekstual. Jakarta; Bumi Aksara.
Nasution. 1972. Psikologi Pengajaran Nasional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: Grasindo.
Rahayu Tuti, Rahayu Triastuti. 2011. Pendalaman Materi Bidang Studi IPA Sekolah Dasar. Surakarta: UMS.
Walgito, Bimo. 1993. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
BIODATA PENULIS
Nama : Siswanto, S.Pd.
NIP : 195801241982011004
Unit Kerja : SD Negeri Kemasan 02, Gugus Diponegoro, UPTD Pendidikan
Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo,
Propinsi Jawa Tengah.