Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Untuk Meningkatkan Kompetensi Perkalian Pada Siswa Kelas II SD Negeri Celep 01 Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011
Sadiyem
ABSTRAK
Adapun tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah mendiskripsikan proses pembelajaran, peningkatan kompetensi perkalian, dan perubahan perilaku pada siswa kelas II SD Negeri Celep 01 semester II tahun pelajaran 2010/2011 setelah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heards Together.
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Maret 2011. Penelitian dilakukan pada waktu itu karena materi yang berhubungan dengan kompetensi perkalian masuk dalam program semester II tahun pelajaran 2010/2011. Yang menjadi subyek penelitian tindakan kelas ini adalah kompetensi perkalian siswa kelas II SD Negeri Celep 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo.
Prosedur peneilitian yang digunakan yaitu prosedur jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yatu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Analisis data kualitatif model pembelajaran dianalisis menggunakan analisis deskritif kualitatif dengan membandingkan siklus I dan siklus ke II sedangkan data yang berupa angka (kuantitatif) dari hasil belajar siswa dianalisis menggunakan deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai siklus 1 dan nilai tes siklus II kemudian difleksi.
Hasil penelitian melalui pembelajaran kooperatif Tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II tentang kompetensi perkalian berlangsung dengan lancar dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, dari kurang aktif menjadi aktif, dari kerjasamanya kurang baik menjadi baik, dari dan dari suasana kurang menyenangkan menjadi menyenangkan. Dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan kompetensi perkalian yaitu dari 6 ( 28,57%) siswa yang mendapat nilai tuntas menjadi 21 (100%) meningkat 15 (71,43%). Nilai rata-rata dari 55,85 menjadi 82,85 meningkat sebesar 27. Terjadi perubahan perilaku siswa kelas II SD Negeri Celep 01 ke arah positip. Perubahan tersebut dari kurang aktif menjadi aktif, dari kerjasamanya kurang baik menjadi baik, dan dari suasana kurang menyenangkan menjadi menyenangkan.
Kata Kunci : Kompetensi Perkalian. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
. Pembelajaran matematika di SD merupakan peletak konsep dasar yang dijadikan landasan untuk belajar pada jenjang berikutnya. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kompetensi perkalian siswa kelas II SD Negeri Celep 01 pada Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011 masih rendah belum sesuai dengan standar keberhasilan yang ditetapkan atau belum semua siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 65, dari 21 siswa yang mendapat nilai di atas KKM hanya 5 siswa (23,80%) dan yang mendapat nilai di bawah KKM ada 15 siswa (76,20%) dengan nilai rata-rata kelas 55,85, serta dalam proses pembelajaran siswa kurang aktif, belum ada kerjasama dan tampak kurang senang. Berdasarkan wawancara dengan siswa, pada umumnya mereka merasa bingung dan kesulitan untuk memahami konsep perkalian, yang disebabkan guru mengajarnya kurang menarik dan banyak memberikan tugas.
Harapan setelah penelitian tindakan kelas dengan melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together. Dalam proses pembelajaran matematika diperlukan adanya perubahan paradigma pembelajaran. Perubahan yang dimaksud adalah pembelajaran dari teacher center ke student center, sehingga siswa lebih aktif, dapat bekerjasama dengan teman atau kelompoknya dalam suasana yang menyenangkan.Juga diharapkan ada peningkatan dari nilai rata- rata dan nilai ketuntasan siwa.
Berdasarkan masalah di atas perlu adanya cara pemecahan masalah atau solusi tindakan yaitu diadakan penelitian tindakan kelas, penelitian dilaksanakan dengan dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dengan 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan,dan refleksi. Tindakan siklus pertama menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together peraga gambar dan pada tindakan siklus kedua menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan peraga benda kongkrit. Tindakan siklus pertama dan kedua digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran tentang kompetensi perkalian bagi sisiwa kelas II SD Negeri Celep 01 semester II tahun pelajaran 2010/2011.
Mengingat keterbatasan yang ada pada peneliti bedasarkan masalah di atas agar kompetensi perkalian siswa meningkat dan tercipta proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) peneliti mencoba mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul: “Penerapan Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Kompetensi Perkalian Pada Siswa Kelas II SD Negeri Celep 01 Semester II Tahun 2010/2011”.
Rumusan masalah
Melalui tindakan kelas ini akan diungkapkan rumusan masalah sebagai berikut :
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan khusus dalam penelitian tindakan kelas dibawah ini adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan proses pembelajaran kompetensi perkalian dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together pada siswa kelas II SD Negeri Celep 01 semester II tahun pelajaran 2010/2011.
2. Mendiskrisikan peningkatan kompetensi perkalian pada siswa kelas II SD Negeri Celep 01 semester II setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together.
3. Mendiskripsikan peningkatan kompetensi perkalian pada siswa kelas II SD Negeri Celep 01 semester II setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together.
Manfaat penelitian
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Kajian Teori
Hakikat Pembelajaran Matematika
Pembelajaran seharusnya menjadi aktivitas yang bermakna yaitu pembebasan untuk mengaktualisasi seluruh potensi yang dimilki siswa. Menurut Hall (2008 : 384) Pembelajaran aktivitas adalah para siswa mengembangkan pemahan dari hubungan antara kesadaran dan dunia obyektif dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan melalui manipulasi obyek-obyek dan peralatan, para siswa bisa memperoleh pengetahuan dalam berbagai bidang. Piaget (1985) mengatakan bahwa individu-individu memperoleh pengetahuan melalui eksplorasi aktif dimana mereka membentuk pola, struktur kognitif yang membantu mereka mengatur pola atau pemikiran-pemikiran untuk menginterpretasikan pengalaman-pengalaman mereka.
Sebagai seorang pendidik kita harus mengetahui bahwa profesional seorang guru bukanlah pada kemampuanya mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi lebih pada kemampuan untuk melaksanakan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa dan diharapkan dalam proses pembelajaran dapat membimbing siswa aktif. Siswa belajar dengan aktif ketika mereka secara terus menerus terlibat secara mental ataupun secara fisik. Pembelajaran aktivitas itu penuh semangat hidup giat, berkesinambungan, kuat dan efektif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental dan bisa memahami pengalaman yang dialami. ( Leuwis 2008 : vii)
Agar pembelajaran di kelas dapat belangsung dengan baik dan hasil belajar siswa dapat dioptimalkan menurut Martha Kaufeldt (2008: 8) guru-guru dalam memberikan pengajaran berbeda dengan secara harmonis menyusun pengalaman-pengalaman pembelajaran yang kuat untum memenuhi kebutuhan unik dari setiap siswanya, dipandu dengan pengajaran dan konsep-konsep pembelajaran yang harmonis dengan otak yaitu menciptakan suatu iklim dan lingkungan yang aman dan terjamin, merancang pengalaman-pengalaman, tugas-tigas dan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk melibatkan siswa, menggunakan pengelompokan dan kerjasama yang luwes, memberikan umpan balik dan penilaian yang segera terus menerus, menyediakan cukup banyak waktu untuk proses yang aktif, dan menyusun kesempatan-kesempatan untuk pilihan pribadi dalam suatu sistim yang terorganisir.
Belajar Matematika harus dipandang sebagai suatu proses untuk mengkontruksikan konsep-konsep matematika dan strategi penyelesaian suatu masalah. Dalam mengkontruksi itu si pembelajaran harus aktif. Menurut Marpaung (2007: 3) bahwa matematika adalah aktivitas manusia. Si pembelajaran harus aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika. Si pembelajar harus aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika. Si pembelajar bukan insan yang pasif menerima apa yang disampaikan oleh guru, tetapi aktif baik secara fisik, teristimewa secara mental mengolah dan menganalisa informasi, mengkontruksi pengetahuan matematika.
Matematika adalah aktivitas manusia, matematika lahir dan tumbuh dari aktivitas manusia. Banyak dimensi kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan ilmu matematika, karenanya belajar matematika akan lebih bermakna bila siswa diberi ketrampilan seluas-luasnya beraktivitas matematis. Siswa diharapkan beraktivitas membangun sendiri dan pengetahuan dan ketrampilan matematikanya. (Roosilawati 2005: 3). Dalam pembelajaran matematika yang membuat matematika terasa mudah dan menyenangkan, matematika harus dikaitkan dengan realitas kehidupan, dekat dengan alam pikiran siswa dan relevan dengan masyarakat agar menjadi nilai manusiawi. Matematika haruslah tidak dipandang sebagai materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa atau orang lain tetapi hendaklah di pandang sebgagai kegiatan manusia sehingga pendidikan matematika haruslah berfokus pada matematika sebagai kegiatan.
Sedangkan menurut Van den Heuvel-Panhuizen ((1996), dalam Marpaung, 2007: 3) merumuskan 5 prinsip pendidikan matematika Realistik atau Realistie Mathematic Education (RME) yaitu prinsip aktivitas, prinsip realitas, prinsip berjenjang, prinsip jalinan, prinsip interaksi.
Pembelajaran Perkalian di Sekolah Dasar
Perkalian adalah konsep matematika utama yang seharusnya dipelajari oleh anak-anak setelah mereka mempelajari operasi penambahan dan pengurangan. Bila operasi pertambahan dan pengurangan ini sudah diperkenalkan pada kelas satu di sekolah dasar,berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran matematika SD/MI, bahwa operasi perkalian mulai diperkenalkan pada kelas dua di sekolah dasar. Para orang tua dan guru mungkin ingin memahami bagaimana caranya mengajarkan keterampilan perkalian ini secara benar kepada anak-anak mereka. Pada prinsipnya, perkalian sama dengan penjumlahan secara berulang. Oleh karena itu, kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari perkalian adalah penguasaan penjumlahan (Heruman, 2007: 22). Menurut Buchori,dkk (2004: 10). Pada dasarnya perkalian adalah penjumlahan berulang dari suatu bilangan yang sama.
Metode untuk mengajarkan Perkalian pada tahap awal yang paling sesuai adalah dengan menghubungkan ke konsep Penambahan, yaitu dengan memandang perkalian sebagai penambahan beruntun (3x4 = 4+4+4 = 12). Karena dengan pendekatan penambahan beruntun ini, si anak dapat menggunakan pemahaman yang telah didapat selama mempelajari operasi Penambahan untuk selanjutnya digunakan mempelajari Perkalian. Dengan pendekatan ini konsep Perkalian dipandang oleh si anak sebagai perkembangan wajar dari konsep Penambahan yang telah dimengerti olehnya
Ada beberapa tahap untuk mengajarkan anak-anak mengenai konsep perkalian ini. Tahap-tahap ini bergantung pada kemampuan (bukan pada umur) anak tersebut secara unik sehingga tidak dapat dipaksakan dalam proses pengajarannya. Untuk memudahkan, cara pengajaran operasi perkalian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap penanaman konsep, pemahaman konsep dan pembinaan keterampilan.
1). Penanaman konsep perkalian
Pada awal pembelajaran, guru dapat bercerita tentang permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perkalian. Untuk membantu kemampuan berpikir siswa, diberikan bantuan benda atau gambar yang sesuai dengan cerita. Depdiknas (2010: 357) memberikan contoh pengenalan operasi perkalian adalah sebagai berikut:
a). peragaan dengan mengumpulkan benda secara berulang, missal untuk 3 x 4 dikumpulkan/ambil 4 buah benda sebanyak 3 kali, kemudian dihitung seluruhnya
3 x 4 sama dengan tiga empatan
3 x 4 = 12.
b). Menghitung berulang, misalnya untuk 3 x 4, siapkan 4 benda kemudian benda tersebut dihitung 3 kali secara berulang, hitungan terakhir merupakan jawaban hasil perkalian 3 x 4.
c). Penjumlahan berulang, misalnya:
2). Pemahaman konsep perkalian
Untuk mengetahui apakah siswa telah memahami topik perkalian ini, kita dapat memberikan contoh soal dengan jawaban yang benar dan salah. Apabila siswa mengatakan “salah” pada soal dengan jawaban salah, serta dapat mengoreksi jawaban salah tersebut, berarti siswa telah paham.
3). Pembinaan keterampilan
Pembinaan keterampilan pada awalnya dapat dilakukan dengan menggunakan drill pada siswa tentang perkalian sampai hasil palin besar 50. Selanjutnya, siswa harus hafal perkalian sampai 100.
Pembinaan ketrampilan siswa dalam perkalian dapat dilakukan dengan cara mencongak secara perorangan. Kegiatan mencongak ini sering dilakukan guru-guru di masa lalu ketika menjelang pulang sekolah. Guru memberikan soal perkalian, siswa kemudian menjawabnya. Siswa yang menjawab dengan benar dipersilahkan untuk pulang lebih dahulu dan siswa tidak siswa yang tidak dapat menjawab atau masih salah dalam menjawabnya, tidak diperbolehkan untuk pulang. Kegiatan ini memang efektif, dalam melatih siswa untuk hafal perkalian.
Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Marpaung, dkk (2002, 35) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif menerapkan prinsip-prinsip melalui tahapan persiapan, presentasi kelas, kegiatan kelompok, tes, dan penghargaan. Hal-hal yang dipersiapkan pada tahap ini antara lain adalah (a) materi pelajaran, (b) membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kooperatif, (c) menentukan skor dasar siswa, (d) latihan kerjasama kelompok, dan (d) menentukan jadwal kegiatan. Kagan (1994: 22) menyatakan bahwa ada empat prinsip pembelajaran kooperatif yaitu: (1) stimulasi, (2) innteraksi, (3) ketergantungan yang positif, dan (4) keadaan yang bisa dipertanggungjawabkan secara individual dan partisipasi yang sama. Pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe antara lain tipe STAD, JIGSAW, TGT, NHT dan lain-lain. Masing-masing tipe pembelajaran kooperatif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.
Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning) adalah suatu pembelajaran yang memposisikan siswa belajar secara kelompok dan saling bertukar gagasan untuk memcapai tujuan atau keberhasilan kelompoknya ( Suwarno. 2010:12).
Numbered Heads Together (NHT) adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Kagan (1993) dengan melibatkan banyak siswa dalam meriview materi pelajaran dan memeriksa penguasaan mereka akan materi pelajaran. Agar pelaksanaan lebih menyenangkan maka setiap penunjukan siswa yang bernomor di kepalanya harus menjawab diselingi dengan bernyanyi.
Langkah-langkah pembelajaran dengan model Numbered Heads Together menurut Suprijono (2009: 92) pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Heads Together diawali dengan Numbering. Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah peserta dalam satu kelas terdiri dari 40 siswa dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajarinya, maka tiap kelompok terdiri 8 orang. Tiap-tiap orang dalam tiap-tiap kelompok diberi nomor 1-8.
Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Berikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru.
Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama-sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pernyataan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Kerangka Berpikir
Beradasarkan pada landasan teori yang diuraikan di atas dapat dijelaskan kerangka berpikir dalam penelitian sebagai berikut :
Bagan 1
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, hipotesis tindakan penelitian adalah :
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Waktu dan Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Maret 2011. Penelitian dilakukan pada waktu itu karena materi yang berhubungan dengan kompetensi perkalian untuk siswa kelas II masuk materi program semester II tahun pelajaran 2010/2011.
Yang menjadi subyek penelitian tindakan kelas ini adalah kompetensi perkalian siswa kelas II SD Negeri Celep 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo, dengan jumlah siswa 21 yang terdiri dari 10 laki-laki dan 11 perempuan.
Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data yang berasal dari subyek penelitian dan dari bukan subyek. Sumber data dari subyek penelitian merupakan sumber data primer yaitu tentang proses dan hasil belajar siswa.
Alat Pengumpulan Data
Validitas Data dan Analisis Data
Untuk memperoleh data yang valid mengenai kompetensi perkalian pada siswa kelas II SD Negeri Celep 01 tahun pelajaran 2010/2011 yaitu sebagai berikut :
1. Proses pembelajaran sisiwa (pengamatan) divalidasi dengan melalui trianggulasi sumber yaitu data yang berasal dari siswa, guru, dan kolaborasi teman sejawat. Data kualitatif hasil pengamatan menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan pengamatan dan refleksi dengan membandingkan proses kondisi awal, siklus I dan siklus II.
Prosedur Tindakan
Seperti dinyatakan diatas bahwa desain penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitan tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus dan tiap-tiap siklus berisi empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan reflesksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Diskripsi Kondisi Awal
Hasil tes kondisi awal sebelum dilaksanakan tindakan dapat dilihat tabel dibawah ini :
Nilai Ulangan Harian Dan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
NO | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 | 21-30 | 1 | 4,76 | Belum tuntas |
2 | 31-40 | 3 | 14,28 | Belum tuntas |
3 | 41-50 | 5 | 23,81 | Belum tuntas |
4 | 51-60 | 6 | 28,57 | Belum tuntas |
5 | 61-70 | 4 | 19,04 | Tuntas |
6 | 71-80 | 2 | 9,52 | Tuntas |
Jumlah | 21 | 100 | ||
Berdasarkan dari tabel di atas tentang hasil nilai ulangan matematika kondisi awal kelas II SD Negeri Celep 01 Semester II Tahun pelajaran 2010/2011 ada 15 siswa atau 71,44 % dinyatakan belum tuntas, nilai masih dibawah KKM 65 dan 6 siswa 28,56 % dinyatakan tuntas. yaitu terdiri dari 1 siswa memperoleh nilai antara 21-30, 3 siswa memperoleh nilai antara 31-40, 5 siswa memperoleh nilai antara 41-50, 6 siswa memperoleh nilai antara 51-60, 4 siswa memperoleh 61-70, 2 siswa memperoleh 71-80. nilai rata-rata ulangan kondisi awal yaitu : 55,85, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram dibawah ini :
Diagram Kriteria Ketuntasan Minimal Kondisi Awal
Diagram Perolehan Nilai Belajar Siswa Kondisi Awal
Deskripsi Siklus I
Prosentase Perolehan Proses Pembelajaran Siklus I
No | Aspek | Jumlah Skor | Rata-rata | Prosentase | Keterangan |
1 | Keaktifan | 53 | 2,53 | 65,42 | Cukup aktif |
2 | Kerja Sama | 54 | 2,57 | 64,28 | Cukup baik |
3 | Suasana Belajar | 55 | 2,61 | 65,47 | Cukup menyenangkan |
Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus I
NO | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 | 31-40 | 1 | 4,76 | Belum tuntas |
2 | 41-50 | 1 | 4,76 | Belum tuntas |
3 | 51-60 | 4 | 19,08 | Belum tuntas |
4 | 61-70 | 6 | 28,57 | Tuntas |
5 | 71-80 | 5 | 23,81 | Tuntas |
6 | 81-90 | 2 | 9,52 | Tuntas |
7 | 91-100 | 2 | 9,52 | Tuntas |
Jumlah | 21 | 100 | ||
Berdasarkan tabel diatas hasil nilai dan ketuntasan belajar siswa siklus I dari 21 siswa masih ada 6 siswa (28,57%) yang memperoleh nilai dibawah KKM 65. yaitu terdiri dari 1 siswa memperoleh nilai antara 31-40, 1 siswa memperoleh nilai antara 41-50 dan 4 siswa memperoleh nilai 51-60. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai tuntas diatas KKM sebanyak 15 siswa (71,43%) yang terdiri dari 6 siswa memperoleh nilai antara 61-70, 5 siswa memperoleh nilai 71-80, 2 siswa memperoleh 81-90, dan 2 siswa memperoleh nilai 91-100, nilai rata-rata siklus I adalah 72,85.
untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram dibawah ini :
Diagram Kriteria Ketuntasan Minimal Siklus I
Diagram Perolehan Nilai Belajar Siswa Siklus I
Deskripsi Siklus II
Prosentase Perolehan Proses Pembelajaran Siklus II
No | Aspek | Jumlah Skor | Rata-rata | Prosentase | Keterangan |
1 | Keaktifan | 77 | 3,67 | 91,67 | aktif |
2 | Kerja Sama | 76 | 3,61 | 90,47 | baik |
3 | Suasana Belajar | 77 | 3,67 | 91,67 | kreatif |
Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus II
NO | Interval Nilai | Frekuensi | Prosentase (%) | Keterangan |
1 | 61-70 | 7 | 33,33 | Tuntas |
2 | 71-80 | 6 | 28,57 | Tuntas |
3 | 81-90 | 3 | 14,28 | Tuntas |
4 | 91-100 | 5 | 23,81 | Tuntas |
Jumlah | 21 | 100 | ||
Berdasarkan tabel di atas hasil nilai dan ketuntasan belajar siswa siklus II dari 21 seluruh siswa memperoleh nilai diatas KKM 65. yaitu terdiri dari 7 siswa memperoleh nilai antara 61-70, 6 siswa memperoleh nilai 71-80, 3 siswa memperoleh 81-90, dan 5 siswa memperoleh nilai 91-100. Nilai rata-rata siklus II 82,85. untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram dibawah ini :
Diagram Kriteria Ketuntasan Minimal Siklus II
Diagram Perolehan Nilai Belajar Siswa Siklus II
Pembahasan/Diskusi
Dalam pembahasan ini ada 3 hal yang akan dibahas, yaitu meliputi tindakan, aktivitas proses pembelajaran, dan hasil belajar siswa.
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II |
1 | Belum menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together | Menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together tanpa bimbingan guru | Menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together dengan bimbingan guru |
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II | Refleksi |
1 | Siswa : pasif, kurang bisa berminat belum ada kerjasama, pasif dan suasana belajar kurang menyenangkan | Keaktifan: Jumlah skor : 53 Nilai rata-rata : 2,53 Prosentase : 65,42 % Katagori : Cukup aktif Kerja Sama : Jumlah skor : 54 Nilai rata-rata : 2,57 Prosentase : 64,20 % Katagori : Cukup baik Suasana Belajar : Jumlah Skor : 55 Nilai rata-rata : 2,61 Prosentase : 65,47 % Katagori : Cukup menyenangkan | Keaktifan : Jumlah skor : 77 Nilai rata-rata : 3,67 Prosentase : 91,67 % Katagori : Aktif Kerja Sama : Jumlah skor : 76 Nilai rata-rata : 3,61 Prosentase : 90,47 % Katagori : baik Suasana Belajar : Jumlah skor : 77 Nilai rata-rata : 3,67 Prosentase : 91,67 % Katagori : Aktif | Dari siklus I ke siklus II, keaktifan terdapat peningkatan jumlah skor 53 menjadi 77 meningkat 19. Nilai rata-rata 2,53 menjadi 3,67 meningkat 1,14. Prosentase meningkat dari 65,42 % menjadi 91,67 % meningkat 26,25 %. Dari katagori cukup aktif menjadi aktif. Dari kerjasama dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan jumlah skor 54 menjadi 76 meningkat 22. Nilai rata-rata dari 2,57 menjadi 3,61 meningkat 1,04. Prosentase 64,20% menjadi 90,47% meningkat 26,27%. Dari katagori cukup baik menjadi baik. Dari siklus siklus I ke siklus II suasana belajar terdapat peningkatan. Jumlah skor 55 menjadi 77 meningkat 22. Nilai rata-rata 2,61 menjadi 3,67 meningkat 1,05. Prosentase meningkat dari 65,47% menjadi 91,67 % meningkat 26,20 %. Dari katagori cukup menyenangkan menjadi menyenangkan. |
No | Kondisi Awal | Siklus I | Siklus II | Refleksi Kondisi Awal ke Siklus II |
1 | Dari 21 siswa yang mendapat nilai : Tuntas 6 siswa (28,57%), dan siswa yang belum tuntas 15 siswa (71,43%) nilai rata-rata 55,85 | Dari 21 siswa yang mendapat nilai : Tuntas 15 siswa (71,43% dan siswa yang belum tuntas 6 siswa (28,57%), nilai rata-rata 72,85 | Dari 21 siswa seluruh siswa berjumlah 21 orang telah tuntas (100%), nilai rata-rata 82,85 | Dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 6( 28,57%) siswa yang mendapat nilai tuntas menjadi 21 (100%) meningkat 15 (71,43%). Nilai rata-rata dari 55,85 menjadi 82,85 meningkat sebesar 27 |
Hasil penelitian
Berdasarkan pembahasan (diskusi) di atas hasil tindakan yang berupa aktivitas proses pembelajaran, hasil belajar dan perubahan perilaku dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dari kondisi awal ke kondisi akhir terdapat peningkatan tentang proses belajar. Dari siklus I ke siklus II proses pembelajaran kompetensi perkalian dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heards Together berlangsung dengan lancar dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I, dari kurang aktif menjadi aktif, dari kerjasamanya kurang baik menjadi baik, dari dan dari suasana kurang menyenangkan menjadi menyenangkan.
2. Hasil belajar Siswa
Dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan kompetensi perkalian yaitu dari 6 ( 28,57%) siswa yang mendapat nilai tuntas menjadi 21 (100%) meningkat 15 (71,43%). Nilai rata-rata dari 55,85 menjadi 82,85 meningkat sebesar 27.
3. Perubahan perilaku siswa.
Perubahan perilaku siswa kelas II SD Negeri Celep 01 mengalami perubahan perilaku kearah positip. Perubahan tersebut dari kurang aktif menjadi aktif, dari kerjasamanya kurang baik menjadi baik, dan dari suasana kurang menyenangkan menjadi menyenangkan.
PENUTUP
Simpulan
Menurut teoritik dan empirik hasil penelitian tindakan kelas melalui pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat disimpulkan sebagai berikut :
Implikasi
Berdasarkan kajian teori serta penerapan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Buchori, Junaidi, Sutigno, Dadang Gasto. 2004. Gemar Belajar Matematika 4. Semarang: Aneka Ilmu.
Departemen Pendidikan Nasional 2010.Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.Jakarta:BSNP.
Gina, Leuwis. 2008. Pembelajaran Aktif. Indeks : Jakarta.
Hall. Gine E. 2008. Mengajar Dengan Senang. Indeks : Jakarta.
Kaufeldt Mantha.2008. Wahai Para Guru Ubahlah Cara Mengajarmu. PT Indeks: Jakarta.
Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika SD. Pt Remaja Rosda Karya: Bandung.
Marpaung.Y.2002 Pelatihan Terintergrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika (Model-model Pembelajaran). Depdiknas: Jakarta.
Roosilawati Erwin. 2005. Pendekatan Kontekstual. LPMP : Semarang.
Suprijono, Agus. 2009. Coperative Learning, Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Yansen, Marpaung. 2007. Penilaian dan Evaluasi dalam Pendidikan Matematika Realistik. LPMP Jawa Tengah : Semarang.
BIODATA PENULIS
Nama : Sadiyem, S.Pd
Tempat, Tanggal, Lahir : Sukoharjo, 3 Juni 1962
NIP : 19620603 198304 2 014
Unit Kerja : SDN Celep 01 UPTD Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.