Pemahaman Alkitab – Agustus 2026

Nyanyian Pembuka: KJ. 289: 1-2 Tuhan, Pencipta semesta

1. Tuhan, Pencipta semesta, Kaulah Yang Mahamulia;

sungguh besar karunia yang Kauberi.

2. KasihMu nyata terjelma di sinar surya yang cerah,

di sawah dan tuaiannya yang Kauberi.

“Kesaksian di tengah masyarakat”

Bacaan Alkitab: Roma 12: 14-21
(Bahan Pemahaman Alkitab ini, terkait dengan “Bulan Misi”)

Pendahuluan

Ketika mendengar kata "misi", banyak orang langsung membayangkan penginjilan, pengutusan ke daerah terpencil, atau memberitakan Injil dari rumah ke rumah.

Semua itu benar, tetapi tidak sesempit itu maknanya. Alkitab menunjukkan bahwa misi juga dilakukan melalui kehidupan sehari-hari.

  • Bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang ada di sekitar kita, di lingkungan hidup kita.
  • Bagaimana kita menghadapi orang yang berbeda pendapat.
  • Bagaimana kita bersikap ketika disakiti.
  • Bagaimana kita menjaga lingkungan.
  • Bagaimana kita menghadirkan damai.

Semuanya adalah kesaksian kita, sebagai orang Kristen.

Di bacaan Alkitab kali ini, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma yang hidup di tengah masyarakat yang penuh tekanan. Orang Kristen saat itu menjadi kelompok kecil. Mereka tidak memiliki kekuasaan. Namun Paulus tidak menyuruh mereka melawan dunia dengan kebencian.  Sebaliknya, ia mengajarkan jalan yang berbeda. Jalan kasih. Jalan damai. Jalan yang menjadi kesaksian tentang Kristus.

Konteks Roma 12

Pasal 12 merupakan perubahan besar dalam surat Roma.  Pasal 1–11 berbicara mengenai karya keselamatan Allah.

Mulai pasal 12 Paulus menjelaskan:  "Kalau kita sudah diselamatkan, bagaimana kita harus hidup?" Dengan kata lain, Keselamatan selalu menghasilkan perubahan hidup. Orang yang telah mengalami kasih Kristus dipanggil menjadi saksi Kristus, menyatakan kasih Kristus itu dalam kehidupan sehari-hari.

I. Kesaksian dimulai dengan memberkati, bukan membalas, ayat 14

Perikop bacaan kita, dimulai dengan perkataan Paulus "Berkatilah siapa yang menganiaya kamu." Kalimat ini sangat radikal. Sebab, dunia berkata: Balaslah! Tetapi Paulus berkata: Berkatilah. Mengapa?

Karena, sesungguhnya kasih selalu lebih kuat daripada kebencian. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan dan melakukan hal itu. Di atas salib Tuhan Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka."

Diskusi Refleksi:

Apakah saya masih menyimpan dendam?

Bagaimana saya memperlakukan orang yang pernah melukai saya?

II. Kesaksian nyata dari kepedulian (emphati), ayat 15

"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis."

Kesaksian bukan hanya berbicara. Tetapi juga hadir, dalam rasa, bukan sekedar fisik. Kadang orang tidak membutuhkan ceramah. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Terkait dengan tema bulan misi saat ini, kita sadari bahwa masyarakat Indonesia sedang bergumul: kemiskinan, pengangguran, sakit, bencana, kesepian, tekanan hidup, dan lain-lain.

Gereja dipanggil hadir.  Bukan hanya memberi nasihat (Nato = No Action, Talk Only). Tetapi menemani.  Sharing, berbagi rasa. Menjadi pendengar, yang emphatik.

Diskusi Refleksi:

Terkadang lebih mudah menasihati, daripada menemani orang yang sedang menderita. Mengapa?

III. Kesaksian melalui kerendahan hati, ayat 16

Paulus berkata, "….Janganlah menganggap dirimu pandai." Kerendahan hati membuka hati orang lain. Tidak membuat orang lain menjadi minder, tidak mempunyai nilai diri. Orang lebih mudah menerima Injil dari seseorang yang rendah hati daripada dari orang yang merasa paling benar. Seperti ada pepatah mengatakan “Makin berisi bulir  padi, makin merunduk.” Demikian pula orang yang dewasa imannya. Ia tidak menjadi sombong, tinggi hati tetapi semakin rendah hati.

Diskusi Refleksi:

Manusia pada umumnya ingin menjadi orang yang pandai. Di saat kita menjadi orang yang pandai, terkadang secara otomatis kita menganggap orang lain “bodoh” atau kualitas di bawah kita. Betulkah?

IV. Kesaksian dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, ayat 17–19

Paulus berkata, "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan." Ini bukan kelemahan, bukan pengecut. Tetapi justru memiliki kekuatan dan keberanian yang besar. Mengapa?  Karena orang yang mampu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan, selain ini adalah perintah Tuhan, tetapi ini juga menunjukkan kekuatan yang dimilikinya. Dan pembalasan adalah hak Tuhan. Orang percaya dipanggil memutus rantai kebencian. Cara memutus rantai kebencian adalah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Diskusi Refleksi::

Mengapa membalas dendam sering kali justru memperpanjang konflik, dan lebih disukai?

V. Kesaksian yang membawa damai, ayat 18

"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang."

Perhatikan. Paulus sangat realistis. Ia tahu tidak semua orang mau berdamai. Tetapi bagian kita, sebagai orang Kristen, adalah mengusahakan damai. Damai bukan berarti mengalah terhadap dosa atau kejahatan. Damai berarti memilih jalan kasih.

Diskusi Refleksi::

Mengapa berdamai dengan orang yang menyakiti kita, tidak mudah?

VI. Kesaksian melalui kebaikan, ayat 20–21

"Janganlah dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan."

Ini adalah puncak bagian ini. Kebaikan memiliki kekuatan yang luar biasa. Kebaikan dapat melembutkan hati, dapat mengubah hubungan, dapat membangun masyarakat, dapat beremphati, selalu punya keinginan untuk memberi, di saat orang lain membutuhkan.

Dalam rangka Bulan Misi kita tahun ini, dengan tema besar "Indonesia Bergumul, Gereja Bermisi."

Bagaimana Roma 12 berbicara mengenai misi? Sebagaimana dijelaskan di pendahuluan, berarti ber”Misi” berarti menghadirkan nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan yang nyata dan dalam keseharian.

Jika masyarakat dipenuhi kebencian, gereja menghadirkan kasih.

Jika masyarakat dipenuhi konflik, gereja menghadirkan damai.

Jika masyarakat dipenuhi sikap egois (mementingkan diri sendiri), gereja menghadirkan kepedulian dan berbagi.

Jika masyarakat merusak alam, gereja menghadirkan tanggung jawab sebagai pengelola ciptaan Tuhan.

Mengapa menjaga alam menjadi bagian dari misi?

Karena:

  • Alam adalah ciptaan Tuhan.
  • Manusia menerima mandat untuk memeliharanya (Kejadian 2:15).
  • Kerusakan alam berdampak kepada sesama manusia.

Misalnya:  banjir, longsor, abrasi, polusi, krisis air bersih.

Ketika gereja menanam mangrove, membersihkan pantai, mengurangi sampah plastik (yang tidak ramah lingkungan) , perduli terhadap energi, semua itu adalah kesaksian kita. Masyarakat melihat bahwa orang percaya mengasihi bukan hanya manusia, tetapi juga semua lingkungan hidup, ciptaan Tuhan.

Diskusi Refleksi:

Apakah mudah untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan? Yang mana lebih dahulu muncul saat kita dijahati: kebaikan atau kejahatan?

Studi Kasus Diskusi

Kasus 1

Tetangga sering membuang sampah sembarangan sehingga selokan tersumbat. Apa yang akan Saudara lakukan?

Memarahinya?

Diam saja?

Mengajak berdialog?

Mengadakan kerja bakti?

Apa bentuk kesaksian Kristen?

Bagaimana Firman Tuhan hari ini menyoroti hal tersebut?

 

Kasus 2

Di media sosial muncul perdebatan yang penuh kebencian. Sebagai orang Kristen, apa yang seharusnya dilakukan?

Bagaimana Firman Tuhan hari ini menyoroti hal tersebut?

Kasus 3

Gereja akan mengadakan penanaman mangrove.  Ada umat yang berkata, "Itu bukan pekerjaan gereja."

Bagaimana Saudara menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari misi?

Pertanyaan diskusi

  1. Menurut Saudara, mengapa kesaksian hidup sering lebih kuat daripada khotbah?
  2. Apa tantangan terbesar menjadi saksi Kristus di masyarakat saat ini?
  3. Mengapa Paulus menekankan hidup dalam damai?
  4. Bagaimana gereja dapat menjadi berkat bagi lingkungan sekitar?
  5. Mengapa kepedulian terhadap alam merupakan bagian dari kesaksian iman?
  6. Apa yang dapat dilakukan (komitmen nyata) kelompok PA (wilayah) , terkait dengan Bulan Misi tahun ini? (tidak hanya untuk alam, tetapi untuk kehidupan)

Komitmen Praktis

Selama Bulan Misi, saya akan:

  • Berdamai dengan seseorang.
  • Mengunjungi orang yang sedang bergumul.
  • Membantu orang yang membutuhkan.
  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
  • Menanam pohon atau mangrove.
  • Menjadi pembawa damai di keluarga.
  • Mengajak orang lain menjaga lingkungan.

Kesimpulan

Roma 12:14–21 mengajarkan bahwa kesaksian Kristen bukan hanya terdengar melalui kata-kata, tetapi terlihat melalui kehidupan. Ketika dunia membalas kebencian dengan kebencian, orang percaya dipanggil membalas dengan kasih. Ketika masyarakat dipenuhi perpecahan, gereja dipanggil menjadi pembawa damai. Dan ketika ciptaan Tuhan mengalami kerusakan, gereja dipanggil merawatnya sebagai wujud kasih kepada Sang Pencipta.

Di tengah tema Bulan Misi, "Indonesia Bergumul, Gereja Bermisi," gereja dipanggil hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai saksi Kristus. Misi bukan hanya dilakukan di mimbar, tetapi di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dan bahkan melalui kepedulian terhadap alam. Dengan demikian, Injil bukan hanya diberitakan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan yang membawa harapan bagi sesama dan bagi seluruh ciptaan.

Ingat:

"Kesaksian yang paling indah bukanlah ketika dunia mendengar kita berbicara tentang Kristus, tetapi ketika dunia melihat Kristus hidup melalui cara kita mengasihi, mengampuni, perduli, membawa damai, dan merawat ciptaan-Nya. Di tengah Indonesia yang bergumul, gereja bermisi dengan menghadirkan kasih yang nyata."

Nyanyian Penutup: KJ. 432: 1-2 - Jika padaku ditanyakan

  1. Jika padaku ditanyakan apa akan kub'ritakan pada dunia yang penuh penderitaan,

'kan kusampaikan kabar baik pada orang-orang miskin, pembebasan bagi orang yang ditawan;

yang buta dapat penglihatan, yang tertindas dibebaskan;

sungguh tahun rahmat sudah tiba.

K'rajaan Allah penuh kurnia itu berita bagi isi dunia.

  1. Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan pada dunia yang penuh dengan cobaan,

aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya, menyampaikan kasih Allah yang sejati.

T'lah tersedia bagi kita pengampunan dan anug'rah,

kes'lamatan dalam Kristus, PuteraNya.

K'rajaan Allah penuh kurnia itu berita bagi isi dunia.