Published using Google Docs
PTK 1 P SUNARDI JURNAL PKn.docx
Updated automatically every 5 minutes

PENERAPAN  MODEL  PEMBELAJARAN  WORD SQUARE  UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI  BELAJAR  PKn  PADA  SISWA

KELAS V SEMESTER I DI SD NEGERI LANGENHARJO 02,  

KECAMATAN   GROGOL, KABUPATEN SUKOHARJO

TAHUN  PELAJARAN  2013/2014

Oleh:Sunardi

SD Langenharjo 02,Grogol,Sukoharjo

ABSTRAK

Tujuan dari pada Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk meningkatkan prestasi belajar PKn konsep Materi pengertian perundang-undangan dengan menggunakan model pembelajaran Woprd Square . Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, tempat pelaksanaan penelitian di SD Negeri Langenharjo 02 dengan subjek penelitian seluruh siswa Kelas V  SD Negeri Langenharjo 02,  Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 23 siswa.Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan tes. Analisis data dilakukan dengan 3 (tiga) tahapan meliputi: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hipotesis menyatakan: diduga prestasi belajar  konsep Materi pengertian perundang-undangan dengan menggunakan model pembelajaran Word Square siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 semester I Tahun Pelajaran 2013/2014. Data empiris menyatakan bahwa prestasi belajar konsep Materi pengertian perundang-undangan dengan menggunakan model Pembelajaran Word Square dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 65 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 7 siswa (29.2%) ke kondisi akhir nilai rata-rata 79 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 13 siswa (100%) pada siswa kelas I SDN Langenharjo 02 semester I Tahun Pelajaran 2013/2014.Sehingga dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran Word Square dapat meningkatkan Prestasi belajar konsep Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V semester I SDN Langenharjo 02,Kecamatan Grogol Tahun Pelajaran 2013/2014.

Kata kunci:  Prestasi Belajar, model pembelajaran Word Square.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Upaya untuk membangkitkan motivasi siswa Kelas V SDN Langenharjo 02,Kecamatan Grogol dalam pembelajaran PKn sudah dilakukan guru kelas dengan berbagai macam cara, seperti memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mengemukakan gagasan, serta mendesain pembelajaran dalam bentuk belajar kelompok. Namun demikian,  hasil pembelajaran  PKn pada Ulangan Harian Semester I materi  pelajaran Lembaga Pemerintahan tingkat pusat , belum begitu memuaskan. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai PKn: 6,3.

Terkait belum optimalnya prestasi belajar PKn siswa Kelas V SDN Langenharjo 02,Kecamatan Grogol diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul " PENERAPAN  MODEL  PEMBELAJARAN  WORD SQUARE  UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI  BELAJAR  PKn  PADA  SISWA KELAS V SEMESTER I DI SD NEGERI LANGENHARJO 02,  KECAMATAN   GROGOL, KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN  PELAJARAN  2013/2014". sebagai salah satu alternatif pembelajaran bermakna yang bermuara pada pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh karena itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dan meningkatkan kemampuan belajar bagi siswanya dan untuk memperbaiki mutu mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, metode mengajar, penggunaan prasarana, strategi pembelajaran maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar, untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru harus mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga mau belajar.

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar yang kondisi pembelajarannya hingga kini masih dihadapkan pada permasalahan pembelajaran yang menekankan pada bahan ujian dan terselesainya materi tanpa ada usaha untuk mengaktifkan siswa agar pembelajaran lebih menarik dan mengesankan. Tidaklah heran kalau dalam kenyataan dijumpai banyak siswa yang memiliki nilai PKn rendah. Hal ini disebabkan pada umumnya masih banyak guru hanya menggunakan metode ceramah tanpa disertai alat peraga dalam pembelajaran, sehingga terasa membosankan dan verbalisme.

Menghadapi hal tersebut guru hendaknya sedapat mungkin menggunakan alat peraga, agar siswa dapat memahami konsep PKn yang diajarkan, sehingga siswa dapat dengan mudah menyelesaikan soal-soal yang dihadapi, tidak hanya verbalisme saja. Dengan demikian penyebab rendahnya nilai ulangan PKn dapat diatasi yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.        Pada masa sekarang belajar merupakan masalah setiap orang. Hampir setiap kegemaran, keterampilan, dan sikap manusia dibentuk dan berkembang karena belajar. Belajar merupakan suatu kegiatan yang disengaja yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, belajarnya sebagai hasil latihan dan pengalaman individu.Kegiatan yang disebut belajar dapat terjadi dimana-mana. Sekolah merupakan salah satu tempat terjadinya proses belajar yang diusahakan dengan sengaja untuk menyajikan pengalaman bagi siswa, sehingga siswa dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Namun demikian, kenyataan yang dijumpai di kelas terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Walaupun guru telah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, hasilnya masih jauh dari apa yang diharapkan guru. Hal ini penulis alami ketika mengajar di Kelas V pada mata pelajaran PKn, dengan materi Pemerintah Kabupaten/Kota.        Penulis telah menggunakan metode ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab, namun hasilnya masih saja kurang sesuai dengan yang diharapkan penulis. Ternyata dari 13 siswa, hanya 7 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas.

Rumusan Masalah

        Berdasarkan uraian di atas permasalahan dalam penelitian ini  dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah dengan penggunaan metode tanya jawab   dapat meningkatkan hasil prestasi belajar  PKn siswa Kelas V  SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo ?
  2. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran word square  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn Kelas V di SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo ?
  3. Apakah dengan penggunaan  model pembelajaran word square  dapat meningkatkan prestasi belajar PKn Kelas V SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo ?

Tujuan Penelitian

        Secara umum melalui penelitian ini diharapkan akan mendapat cara yang terbaik untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran PKn di Kelas V  SD Negeri  Langenharjo 02,Kecamatan Grogol. Adapun tujuan secara khusus untuk :

  1. Memperbaiki proses pembelajaran PKn Kelas V SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol, yang selama ini hanya menggunakan model pembelajaran word square.
  2. Meningkatkan hasil prestasi pembelajaran PKn Kelas V SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol agar siswa aktif dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar.
  3. Meningkatkan prestasi belajar PKn Kelas V SD Negeri Langenharjo 02 Kecamatan Grogol,  Kabupaten Sukoharjo.

Manfaat Penelitian

        Dengan menggunakan metode tanya jawab  dalam pembelajaran PKn di dapat manfaat sebagai berikut :

  1. Bagi Guru
  1. Lebih mudah dalam menyampaikan materi
  2. Menumbuhkan semangat belajar
  1. Bagi Siswa
  1. Memudahkan siswa dalam memahami materi
  2. Menghilangkan kebosanan dan kejenuhan
  3. Dapat menumbuhkan kreatifitas dan aktivitas
  1. Bagi Proses KBM
  1. Tercapainya tujuan belajar
  2. Meningkatkan prestasi belajar / prestasi siswa        

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.Kajian Teori

 1.Pengertian Model Pembelajaran Word Square

Model pembelajaran Word Square merupakan pengembangan dari metode ceramah yang diperkaya. Hal ini dapat diidentifikasi melalui pengelompokkan metode ceramah yang diperkaya yang berorientasi kepada keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagaimana disebutkan oleh Mujiman (2007)Model Pembelajaran Word Square merupakan model pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi  Teka-Teki Silang tetapi bedanya jawabannya sudah ada namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. Model pembelajaran ini sesuai untuk semua mata pelajaran.Tinggal bagaimana Guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. Tujuan huruf/angka pengecoh bukan untuk mempersulit siswa namun untuk melatih sikap teliti dan kritis.Word Square merupakan salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode ini merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara guru membagikan lembar kegiatan atau lembar kerja sebagai alat untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan.

Instrument utama metode ini adalah lembar kegiatan atau kerja berupa pertanyaan atau kalimat yang perlu dicari jawabannya pada susunan huruf acak pada kolom yang telah disediakan.Langkah-Langkah Model Pembelajaran Word SquareLangkah-langkah Model Pembelajaran Word Square adalah sebagai berikut :1. Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh. 3. Siswa menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai  jawaban secara vertikal, horizontal maupun diagonal. 4.Berikan poin setiap jawaban dalam kotak.

   Kekurangan dan Kelebihan Model Pmebelajaran Word Square

Beberapa kelebihan dari model pembelajaran Word Square yaitu:

1. Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi         pelajaran.

2. Melatih untuk berdisiplin.

3. Dapat melatih sikap teliti dan kritis.

4.  Merangsang siswa untuk berpikir efektif.

Model pembelajaran ini mampu sebagai pendorong dan penguat siswa terhadap materi yang disampaikan. Melatih ketelitian dan ketepatan dalam menjawab dan mencari jawaban dalam lembar kerja. Dan tentu saja yang ditekankan disini adalah dalam berpikir efektif, jawaban mana yang paling tepat.Sedangkan beberapa kekurangan dari model pembelajaran word square  yaitu:

1.      Mematikan kreatifitas siswa.

2.      Siswa tinggal menerima bahan mentah.

3.  Siswa tidak dapat mengembangkan materi yang ada dengan          kemampuan  atau potensi yang dimilikinya.

Dalam model pembelajaran ini siswa tidak dapat mengembangkan kreativitas masing-masing, dan lebih banyak berpusat pada guru. Karena siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan jawaban dari lembar kerja pun tidak bersifat analisis, sehingga siswa tidak dapat menggali lebih dalam materi yang ada dengan model pembelajaran word square ini.

Dari penjelasan tentang model pembelajaran word square maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran word square adalah suatu pengembangan dari metode ceramah namun untuk mengetahui pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan maka diberikan lembar kerja yang didalamnya berisi soal dan jawaban yang terdapat dalam kotak kata. Membutuhkan suatu kejelian dan ketelitian dalam mencari pilihan jawaban yang ada dengan tepat. Namun sebagaimanan model pembelajaran yang lainnya, model pembelajaran word square mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari model pembelajaran ini yaitu siswa hanya menerima bahan mentah dari guru dan tidak dapat mengembangkan kreativitasnya, karena siswa hanya dituntut untuk mencari jawaban bukan untuk mengembangkan pikiran siswa masing-masing. Sedangkan kelebihannya yaitu meningkatkan ketelitian, kritis dan berfikir efektif siswa. Karena siswa dituntut untuk mencari jawaban yang paling tepat dan harus jeli dalam mencari jawaban yangada dalam lembar kerja.

Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

            Pendidikan Kewarganegaraan dirumuskan secara luas untuk mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran dan belajar, dalam proses penyiapan warga negara tersebut. Cogan (1999:4) mengartikan civic education sebagai "...the foundational course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives", maksudnya adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga negara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakatnya. Menurut Zamroni (Tim ICCE, 2005:7) mengemukakan bahwa pengertian Pendidikan Kewarganegaraan adalah: Pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis, melalui aktivitas menanamkan kesadaran kepada generasi baru, bahwa demokrasi adalah bentuk kehidupan masyarakat yang paling menjamin hak-hak warga masyarakat. Demokrasi adalah suatu learning proses yang tidak dapat begitu saja meniru dari masyarakat lain. Kelangsungan demokrasi tergantung pada kemampuan mentransformasikan nilai-nilai demokrasi.Sementara itu, PKn di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hakikat negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama, walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. (Risalah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI).
                     Pendidikan Kewarganegaraan menurut Depdiknas (2006:49), adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD NRI 1945. Lebih lanjut Somantri (2001:154) mengemukakan bahwa: PKn merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenaan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
civic education
)1999:4(Menurut Branson  dalam demokrasi adalah pendidikan – untuk mengembangkan dan memperkuat – dalam atau tentang pemerintahan otonom (self government). Pemerintahan otonom demokratis berarti bahwa warga negara aktif terlibat dalam pemerintahannya sendiri; mereka tidak hanya menerima didikte orang lain atau memenuhi tuntutan orang lain.
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

Dalam usaha meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran  PKn,  guru perlu membuat perencanaan program yang matang dengan  mengkombinasikan berbagai metode pengajaran, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan selalu aktif mengikuti jalannya proses belajar mengajar yang diberikan guru. Selain perencanaan program yang matang perlu adanya media ,alat     bantu/peraga yang besar manfaatnya untuk menarik perhatian dan  sekaligus dapat memotivasi siswa dalam belajarnya.Selain ditempuh dengan berbagai persiapan dan pelaksanaan yang     matang untuk memudahkan penguasaan/memantapkan apa yang telah     dipelajari dalam kegiatan belajar atau kesulitan yang dialami perlu adanya  tugas-tugas atau mempelajari materi yang belum terkuasai dengan dilaksanakannya model pembelajaran word square, sebagai secara berdiskusi usaha lain untuk membantu siswa untuk meningkatkan prestasi belajar yang optimal.

        Model pembelajaran word square secara berdiskusi adalah salah satu usaha pemberian bimbingan kepada siswa yang dilakukan secara kelompok dengan menggunakan teknik  interaksi yang wujudnya diskusi . Dengan interaksi siswa secara terbuka saling memberikan sumbangan pikiran untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dari masing-masing anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.        Dalam  model pembelajaran word square secara diskusi  pembimbing selain sebagai pemimpin berperan juga sebagai fasilitator, dan nara sumber. Pembimbing selalu memberikan pengawasan, sekaligus memberikan pelayanan yang diperlukan siswa sewaktu mengalami permasalahan yang belum dapat terpecahkan saat berlangsungnya diskusi.

Kerangka Berpikir

        Dengan menggunakan model pembelajaran word square mengajar secara berdiskusi dalam pembelajaran PKn, akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, sehingga siswa akan berusaha meningkatkan kemampuan dirinya dalam menguasai berbagai bentuk soal PKn baik secara teori maupun praktek, dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PKn meningkat. Kerangka berfikir itu dapat digambarkan sebagai berikut :

Hipotesis

                Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir serta kenyataan di atas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :“Penggunaan model pembelajaran word square mengajar secara diskusi  dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan Prestasi Belajar PKn di SDN Langenharjo 02”.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester ITahun Pelajaran 2013/2014 selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada bulan Agustus  2013 sampai bulan Oktober 2013. Pemilihan waktu ini menyesuaikan dengan jadwal materi pelajaran PKn pada Kelas V. Penelitian ini dilakukan di SDN Langenharjo 02  Kecamatan  Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa Kelas V yang berjumlah 13 anak, terdiri dari 10 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Alasan Kelas V  dipilih sebagai subjek penelitian karena kondisi siswa pada kelas tersebut bermasalah sesuai dengan prestasi belajar  PKn tentang  Pengertian Perundang-undangan  rendah

Sumber Data

Sumber data penelitian ini meliputi hasil tes tertulispada mata pelajaran PKn pada kondisi awal, siklus I, siklus II. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yaitu nilai hasil tes pembelajaran PKn, sedangkan data kualitatif berupa informasi tentang keefektifan pembelajaran di dalam kelas ketika guru melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Word square.Banyaknya data dalam penelitian ini ada tiga macam, yaitu: 1)Data Prestasi belajar belajar Pengertian Perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran Word square pada kondisi awal sebelum pelaksanaan PTK. Data yang dimaksud adalah nilai tertulis.2)Data prestasi belajar belajar Pengertian Perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran Word square pada siklus I. Data yang dimaksud adalah nilai tertulis.3)Data prestasi belajar belajar Pengertian Perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran  Word square pada pada siklus II. Data yang dimaksud adalah nilai tertulis.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

        Data Prestasi belajar Materi pengertian perundang-undangan dan penerapan model  pembelajaran Word square  pada kondisi awal sebelum pelaksanaan PTK dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah buku daftar nilai PKn siswa kelas V. Data Prestasi belajar Materi pengertian perundang-undangan  dan penerapan model pembelajaran Word square  pada siklus I diperoleh melalui tes tertulis. Data Prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran  Word square pada siklus II diperoleh melalui tes tertulis.

Validasi Data

        Validasi data nilai praktek prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan  dan penerapan model pembelajaran Word square baik kondisi awal, siklus I, siklus II diperoleh dengan teknik observasi. Supaya data tersebut valid, peneliti membandingkan hasil observasinya dengan hasil observasi teman sejawat.Validasi data prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran Word square, baik kondisi awal, siklus I, siklus II diperoleh dengan teknik tes. Supaya data yang diperoleh valid perlu dilakukan validasi isi.         

Analisis Data

Langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1) Data prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran Word square meliputi nilai praktek dan nilai tes tertulis kondisi awal, siklus I, siklus II dihitung rata-ratanya, dengan bobot yang sama.

Indikator Kinerja

Indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini adalah: 1)Nilai prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan  dan penerapan model pembelajaran Word square menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II,. 2) Nilai rata-rata Prestasi belajar Materi pengertian perundang-undangan dan penerapan model pembelajaran Word square mencapai nilai Kriteri Ketuntasan Minimal yang ditetapkan (KKM), yaitu 70.3) Minimal 70 % siswa Kelas V , nilai prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan   dan penerapan model pembelajaran Word square siswa mencapai KKM.

Prosedur Tindakan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus.Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari 4 (empat) komponen, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi.

 PEMBAHASAN DAN HASIL TINDAKAN

Deskripsi Kondisi Awal

Masalah yang dialami oleh siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 dalam pelajaran PKn adalah rendahnya metode/model pembelajaran Word square untuk meningkatkan prestasi belajar pemahaman materi pelajaran Pengertian Perundang-undangan. Hal tersebut terlihat dari nilai siswa yang rendah pada nilai tes tertulis maupun nilai praktik.Untuk Lebih jelasnya dapat dilihat pada table dan grafik berikut.

Table 4.1 Hasil Prestasi belajar siswa pada Kondisi Awal

Uraian

Nilai Praktel

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

65

50

58

70

Ketuntasan

0 Siswa (0%)

Gambar 4.1. Grafik Pengaruh pembelajaran Word square untuk meningkatkan Prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan, Siswa pada Kondisi Awal

Dari data di atas, pada kondisi awal ini niIai rata-rata siswa hanya 58, jauh di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan dalam pembelajaran PKn di SDN Langenharjo 02, yaitu 70. Tidak ada siswa yang mencapai KKM  dari total 13 siswa Kelas V yang mencapai nilai KKM, atau 13 siswa nilainya di bawah KKM.

Ada 2 faktor yang menyebabkan réndahnya, model pembelajaran untuk meningkatkan Prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02, yaitu faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal siswa tersebut antara lain: motivasi, intelegensi, kebiasaan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor guru sebagai fasilitator kegiatan belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana kurikulum dan orangtua(lingkungan).

Pada pembelajaran PKn selama ini masih menggunakan model pembelajaran yang monoton, yaitu ceramah dan instruksi langsung. Dengan metode ini membuat siswa kurang aktif, hanya guru yang aktif menyampaikan materi.Dan berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak tertarik atau jenuh dengan pelajaran PKn khususnya pada Materi pengertian perundang-undangan sehingga menyebabkan rendahnya prestasi belajar belajar siswa di sekolah apalagi di rumah orang tua kurang perhatian terhadap anaknya khususnya dalam hal belajar.Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti sekaligus sebagai guru kelas akan melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas melalui pembelajaran Word square untuk meningkatkan Prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V SD N Langenharjo 02, Kec. Grogol, Kab. Sukoharjo.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I pertemuan pertama dilaksanakan, banyak siswa terlihat belum aktif dan canggung karena siswa belum terbiasa melaksanakan model pembelajaran Word square, serta beberapa siswa yang kurang fokus dalam pembelajaran.Setelah guru memberi motivasi, siswa mengikuti pelajaran dengan baik.Meskipun demikian, motivasi pembelajaran explicit Instruktion  terhadap siswa dalam menerirma penjelasan guru masih cukup tinggi.Siswa saling membantu dan bekerjasama dengan temannya, yang diam dan pasif terus berupaya untuk bisa.Demikian upaya guru dalam memotivasi para siswa.Ternyata upaya ini cukup berhasil, siswa berusaha untuk aktif dalam mengikuti pelajaran Materi pengertian perundang-undangan dengan  model pembelajaran Word square

Dan hasil tes praktik maupun tes tertulis pembelajaran Word square  untuk meningkatkan prestasi belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2 Peningkatan Prestasi belajar belajar  pada Siklus I

Uraian

Nilai Praktel

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

80

65

68,4

70

Ketuntasan

5 siswa (61,5%)

Gambar 4.1. Grafik Prestasi belajar Belajar Siswa pada Siklus I

Melalui penerapan  model pembelajaran Word square  pada siklus I, nilai rata-rata prestasi belajar  siswa adalah 68,4, nilai tertinggi 80 dan nilai terendah adalah 65. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sejumlah 5 siswa (61,5%) dari total 13 siswa Kelas V SDN Langenharjo 02  semester I Tahun Pelajaran 2013/2014.Refleksi hasil implementasi penerapan pada siklus I adalah sebagai berikut,

Uraian

Kondisi Awal

Siklus I

Tindakan

Belum menerapkan model pembelajaran Word square  

Sudah menerapkan model pembelajaran Word square  

Nilai terendah

Nilai tertinggi

Nilai rata-rata

Ketuntasan

50

65

58

0 siswa (0%)

65

80

68,4

5 siswa (61,5%)

Dari tabel di atas diperoleh fakta pembelajaran Word square  belajar Materi pengertian perundang-undangan siswa pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan, nilai rata-ratanya adalah 58 (jauh dibawah nilai KKM), nilai tertinggi 65, nilai terendah 50 dan hanya 0 siswa (0%) yang mencapai nilaiKKM.Pada siklus I, melalui penerapan model pembelajaran Word square belajar Materi pengertian perundang-undangan , siswa menunjukkan peningkatan. Nilai rata-ratasiswa menjadi 68,4 (masih di bawah nilai KKM),nilai tertinggi 80, nilai terendah 65 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 5 siswa (61,5%)

Meskipun terjadi peningkatan pada siklus I ini,namun peningkatannya belum mencapai indikator keberhasilan dalam penelitan ini. Maka peneliti dan guru kolaborator memutuskan untuk melanjutkan tindakan penelitian ke siklus II dengan tetap menerapkan model pembelajaran Word square  belajar Materi pengertian perundang-undangan, dengan perbaikan pada kelemahan dan kekuranganyang terjadi pada siklus I.

Deskripsi Hasil Siklus II

Pada kegiatan pembelajaran sigklus II, secara umum siswa prestasi belajar belajar materi  Pengertian Perundang-undangan berjalan baik dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran Word square . Siswa juga tampak semakin percaya diri, hal ini karena siswa telah melaksanakan diskusi dengan teman tim sebelumnya. Bila dibandingkan dengan penampilan kegiatan pembelajaran pada sikIus I, prestasi belajar siswa Iebih baik, Prestasi belajar siswa siswa pada siklus II dapat dilihat sebagai berikut,

Table 4.3 Prestasi belajar belajar Siswa pada Siklus II

Uraian

Nilai Praktek

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

85

70

76,1

70

Ketuntasan

13 siswa (100%)

Gambar 4.1. Grafik prestasi belajar belajar, Siswa pada Siklus II

Nilai rata-rata prestasi belajar belajar siswa dengan langkah-langkah model pembelajaran Word squarepada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 pada siklus II adalah 76,1 (diatas nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 70 dan siswa yang berhasil mencapai nilai KKM sebanyak 13 siswa (100%), berarti  tidak ada siswa yang nilainya di bawah KKM. Peningkatan hasil prestasi belajar belajar dengan langkah-langkah model pembelajaran Word square pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 pada siklus II jika dibandingkan siklus I adalah sebagai berikut

Uraian

Siklus I

Siklus II

Tindakan

Sudah menerapkan model pembelajaran Word square pembelajaran PKn

Sudah menerapkan model pembelajaran pembelajaran PKn. Word square 

Nilai terendah

Nilai tertinggi

Nilai rata-rata

Ketuntasan

65

80

68,4

5 siswa (61,5%)

70

85

76,1

13 siswa (100%)

Dari tabel di atas, secara empiris diperoleh fakta bahwa dalam model pembelajaran Word squaredengan konsep Pengertian Perundang-undangan pada siswa setelah pelaksanaan tindakan penelitian siklus II “Melalui penerapan model pembelajaran Word squaremateri belajar  Pengertian Perundang-undangan  menunjukkan peningkatan  dari pada siklus I. Pada siklus I, nilai rata-rata model pembelajaran Word square konsep Pengertian Perundang-undangan pada siswa Kelas V adalah 68,4 (di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilaiterendah 65 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumIah 5 siswa (61,5%).

Pada siklus II model pembelajaran Word square belajar Materi pengertian perundang-undangan  pada siswa Kelas V menunjukkan peningkatan, menjadi nilai rata-rata 76,1(dI atas nilai KKM),nilai tertinggi 85, nilaiterendah 70 dan siswa yang mencapai nilai KKM menjadi 13 siswa (100%), berarti tidak ada siswa yang nilainya di bawah KKM.

Peningkatan hasil pembelajaran Materi pengertian perundang-undangan melalui model pembalajaran Word square pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitan tindakan kelas Ini.Akan tetapi peneliti dan guru kolaborator memutuskan untuk menghentikan penelitian ini,untuk melihat kevalidan efektivitas model pembelajaran Word square  dalam meningkatkan hasil prestasi belajar Materi pengertian perundang-undangan. Jadi melalui penenerapan model pembelajaran Word square dapat meningkatkan prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 Semester I Tahun Pelajaran 2013/2014.

Pembahasan

Tujuan pelaksanaan tindakan kelas dalam ini adalah meningkatkan Prestasi belajar materi  Pengertian Perundang-undangan dalam pembelajaran PKn pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 semester ITahunPelajaran 2013/2014 Data prestasi belajar belajar siswa adalah sebagai berikut,

Table 4.5 Peningkatan prestasi belajar belajar Siswa

Uraian

Kondisi Awal

Siklus I

Siklus II

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

65

50

58

0 siswa (0%)

80

65

68,4

5 siswa (61,5%)

80

70

76,1

13 siswa (100%)

Pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan, prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan  dalam pembelajaran Word square  pada siswa nilai rata-rata adanya 58 (jauh dibawah nilai KKM), nilai tertinggi 65, nilai terendah 50 dan tidak ada siswa  yang mencapai nilai KKM. Pada siklus I, melalui penerapan model  pembelajaran Word square belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa menunjukkan peningkatan. Nilai rata-rata siswa menjadi 68,4 (masih di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 65 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 5 siswa (61,5%).

Pada siklus II prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan dalam pembelajaran Word square pada siswa Kelas V  menunjukkan peningkatan, menjadi nilai rata-rata 76,1 (di atas nilai KKM), nilai tertinggi 85, nilai terendah 70 dan siswa yang mencapai nilai KKM menjadi 13 siswa (100%), berarti tidak ada siswa yang nilainnya di bawah KKM.

Hasil Tindakan

Penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran PKn melalui penerapan model pembelajaran Word square belajar Materi pengertian perundang-undangan  pada siswa Kelas V di SDN Langenharjo 02 ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus.Pada setiap siklus, data yang diambil adalah nilai praktek dan nilai tes terltulis pada akhir siklus. Secara empiris diperoleh hasil tindakan sebagai berikut : melalui penerapan model pembelajaran Word squaredapat meningkatkan prestasi belajar belajar Materi pengertian perundang-undangan pada siswa Kelas V dari kondisi awal nilai rata-rata 58 dengan siswa yang mencapai kentuntasan KKM sejumlah 0 siswa (0%) ke kondisi akhir  nilai rata-rata 76,1 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 13 siswa (100%) pada siswa Kelas V SDN Langenharjo 02 semester ITahun Pelajaran 2013/2014.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

        Dari hasil perbaikan pembelajaran yang penulis lakukan menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar pada siswa, baik penilaian terhadap diskusi kelompok, prestasi siswa pada akhir siklus maupun prestasi belajar siswa sesudah pelaksanaan perbaikan, bila dibandingkan dengan prestasi belajar siswa sebelum perbaikan. Dengan demikian penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :

  1. Pada prinsipnya model pembelajaran word square mengajar secara dengan diskusi ini layak dipergunakan dan dikembangkan para pendidik dalam usaha membantu siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Kemauan dan kemampuan serta kreatifitas guru dipandang sangat menentukan dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa secara optimal.
  2. Model pembelajaran word square mengajar secara diskusi memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mendiskusikan setiap permasalahan yang timbul pada setiap mata pelajaran untuk mencari pemecahan.
  3. Model pembelajaran word square mengajar  merupakan salah satu model yang dapat membantu siswa dalam usaha meningkatkan prestasi belajar yang optimal.

Saran        

        Berdasarkan kesimpulan tersebut, beberapa hal yang sebaiknya dilaksanakan oleh guru dalam meningkatkan prestasi belajar khususnya meningkatkan peran serta siswa untuk aktif terhadap pelajaran adalah sebagai berikut :

1.Membimbing siswa dalam memahami penyelesaian suatu soal.

2.Memberikan layanan bimbingan belajar kelompok karena dengan bimbingan siswa akan dapat terbuka dan mau menyampaikan hasil pikirannya dalam kelompok.

3.Mengetahui karakteristik dari masing-masing siswa untuk mempermudah melayani dan membantu siswa apabila mengalami permasalahan yang dihadapi.

4.Menjadi teladan yang dapat dianut oleh peserta didik, karena dengan adanya keteladanan anak akan semakin percaya dan beranggapan bahwa gurunya memiliki kemampuan yang lebih, sehingga anak didik akan semakin mudah diarahkan untuk mencapai prestasi belajar yang optimal.

5.Dalam perbaikan pembelajaran perlu adanya tukar pendapat atau diskusi dengan teman sejawat agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk. (2007). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Nur Herrhyanto dan Akib Hamid. (2004). Statistik Dasar. Jakarta : Universitas Terbuka.

Prayitno, Eman Anti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Proyek.

Suparno dan Muhammad Yunus. (2003). Ketrampilan Dasar Menulis. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar & Zainal Arifin, 1992, Pendekatan dalam Proses Mengajar, Bandung : Remaja Karya.

Wardani, I.G.K., Siti Julaeha dan Ngadi Marsinah. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.K., Kuswoyo Wihardit, dan Noehi Nasoetion, (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wina A. Putar, Udin. (2004). Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Oleh:Sunardi

SD Langenharjo 02,Grogol,Sukoharjo

196210081986081002