KONSTITUSI ORDO KARMEL

1995


Regula St.Albertus

(1) ALBERTUS, yang dipanggil menjadi Patriark Gereja Yerusalem karena rahmat Allah, menyampaikan salam sejahtera dalam Tuhan dan berkat Roh Kudus kepada putera-putera terkasih dalam Kristus[1], B. dan para pertapa lainnya di bawah ketaatan kepadanya, yang tinggal dekat sumber di Gunung Karmel.

(2) Berulangkali dan dengan pelbagai cara[2] para bapa suci menetapkan bagaimana setiap orang harus hidup taat kepada Yesus Kristus dan setia mengabdiNya dengan hati yang murni dan hati nurani yang baik[3], dalam status hidup apapun atau cara hidup religius apapun yang dipilihnya.

(3) Namun, karena kamu mohon kepada kami, agar kami memberikan kepadamu suatu pedoman hidup sesuai dengan cita-cita hidupmu yang harus kamu pegang teguh untuk selanjutnya, maka:

(4) Pertama-tama kami tetapkan, agar salah seorang dari antara kamu menjadi prior, yang dipilih untuk jabatan itu dengan persetujuan bersama semua saudara atau dengan persetujuan sebagian besar dan lebih bijak. Hendaknya setiap saudara lain menjanjikan ketaatan kepadanya dan berusaha menepati ketaatan yang dijanjikannya dengan perbuatan nyata[4] bersama dengan kemurnian dan pelepasan hak milik.

(5) Selanjutnya kamu boleh bertempat tinggal di tempat-tempat yang sunyi atau di tempat manapun yang diberikan kepadamu, yang menurut pandangan prior dan para saudara dianggap cocok dan layak untuk menghayati hidup kebiaraanmu.

(6) Selain itu, masing-masing dari antara kamu hendaknya mempunyai bilik terpisah menurut keadaan tempat yang kamu rencanakan untuk didiami. Bilik-bilik itu ditentukan menurut ketetapan prior sendiri dan dengan persetujuan para saudara lain atau sebagian yang lebih bijak.

(7) Namun hendaknya kamu menyantap apa saja yang dihidangkan bagimu di ruang makan bersama, sambil mendengarkan suatu bacaan Kitab Suci, jika hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

(8) Tidak seorangpun dari antara para saudara diperkenankan pindah dari tempat yang telah ditentukan baginya atau bertukar tempat dengan saudara lain tanpa seijin prior yang menjabat pada waktu itu.

(9) Bilik prior hendaknya berdekatan dengan pintu masuk tempat itu, agar ia lebih dahulu menemui orang-orang yang datang ke tempat itu; dan dengan demikian segala sesuatu yang perlu dikerjakan, dapat dilaksanakan menurut pertimbangan dan ketentuannya.

(10) Masing-masing hendaknya tinggal di biliknya atau di dekatnya, sambil merenungkan hukum Tuhan siang dan malam[5] serta berjaga dalam doa[6], kecuali bila sibuk dengan pekerjaan lain yang wajar.

(11) Mereka yang tahu mendoakan ibadat harian bersama dengan para rohaniwan, hendaknya melaksanakannya menurut ketentuan para bapa suci dan kebiasaan Gereja yang telah disahkan. Mereka yang tidak tahu, hendaknya mendoakan “Bapa kami”[7] dua puluh lima kali pada waktu ibadat malam, kecuali pada hari Minggu dan hari raya. Kami menetapkan bahwa pada ibadat malam hari-hari tersebut jumlah doa itu dilipatduakan, sehingga “Bapa kami” didoakan lima puluh kali. Pada ibadat pagi doa yang sama diucapkan tujuh kali. Demikian pula pada ibadat-ibadat lain doa yang sama diucapkan tujuh kali, kecuali pada ibadat sore hendaknya diucapkan lima belas kali.

(12) Tidak seorangpun dari antara para saudara boleh mengatakan sesuatu adalah miliknya, tetapi semuanya hendaknya menjadi milik bersama[8]; dan apapun juga hendaknya dibagikan kepada tiap orang oleh prior - dalam artian oleh saudara yang ditunjuknya untuk tugas tersebut – dengan mengingat usia dan kebutuhan masing-masing[9].

(13) Sejauh memang dibutuhkan, kamu boleh mempunyai keledai atau bagal dan memelihara beberapa ternak maupun unggas.

(14) Suatu tempat ibadat hendaknya dibangun di tengah bilik-bilik[10], sejauh hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Di situ setiap pagi kamu harus berkumpul untuk menghadiri perayaan Misa[11], apabila dengan mudah dapat dilaksanakan.

(15) Lagi pula pada hari Minggu atau pada hari lain bila perlu, hendaknya kamu membicarakan pemeliharaan tata-tertib dan kesejahteraan rohani[12]. Pada kesempatan itu hendaknya juga diperbaiki dengan kasih sayang pelanggaran dan kesalahan para saudara[13], bila terdapat pada seseorang.

(16) Hendaknya kamu berpuasa setiap hari kecuali pada hari Minggu mulai dari pesta Pengangkatan Salib Suci sampai hari Kebangkitan Tuhan, kecuali bila penyakit atau kelemahan badan maupun alasan lain yang wajar menganjurkan untuk tidak berpuasa, sebab kebutuhan tidak mengenal hukum.

(17) Hendaknya kamu berpantang daging, kecuali bila harus dimakan karena penyakit atau kelemahan tubuh. Dan karena kamu dalam perjalanan seringkali harus mengemis, maka di luar rumah biaramu kamu boleh makan hidangan yang dimasak dengan daging, supaya kamu tidak menjadi beban bagi mereka yang menjamumu. Di laut pun kamu boleh makan daging.

(18) Namun, hidup manusia di dunia ini merupakan suatu pencobaan[14] dan semua orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus menderita aniaya[15]. Lagi pula musuhmu, si setan, berkeliling seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya[16]. Maka, hendaklah kamu berusaha dengan seksama mengenakan perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat musuh[17].

(19) Pinggangmu hendaknya berikatkan kemurnian[18], dadamu hendaknya dilindungi pikiran-pikiran suci, sebab tertulis: pikiran suci akan melindungi engkau[19]. Pakailah baju zirah keadilan[20], supaya kamu mampu mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa serta dengan segenap kekuatanmu, dan mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri[21]. Dalam segala keadaan peganglah perisai iman; dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah berapi si jahat[22]: tanpa iman tak mungkin kamu menyenangkan hati Allah[23]. Lagi pula, kenakanlah ketopong keselamatan[24], agar kamu mengharapkan keselamatan hanya dari Penyelamat yang akan membebaskan umatNya dari dosa mereka[25]. Akhirnya, hendaknya pedang Roh, yaitu firman Allah[26], diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu[27], dan segala sesuatu yang harus kamu lakukan, lakukanlah itu dalam Sabda Tuhan[28].

(20) Kamu harus melakukan suatu pekerjaan, sehingga setan selalu mendapati kamu sibuk, jangan sampai ia dapat masuk ke dalam jiwamu karena kamu menganggur. Dalam hal ini kamu menerima pengajaran dan teladan rasul Paulus; melalui mulutnya Kristus berbicara[29]. Ia diangkat dan ditentukan Allah menjadi pewarta serta guru para bangsa dalam hal iman dan kebenaran[30]. Jika kamu mengikutinya, kamu tidak akan tersesat. Ia berkata: kami bekerja dan berjerih payah di antara kamu siang dan malam, supaya tidak menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau memberikan teladan kepadamu untuk kamu ikuti. Sebab ketika kami berada di antara kamu, kami menyatakan hal ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Sebab kami mendengar bahwa di antara kamu ada yang berlaku tidak tertib dan tidak bekerja. Orang-orang semacam itu kami peringatkan dan kami mohon dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya bekerja dengan tenang dan dengan demikian makan rejekinya sendiri[31].

Jalan ini suci dan baik: tempuhlah jalan itu[32].

(21) Rasul itu menganjurkan keheningan ketika ia menyuruh orang bekerja dengan tenang[33]; demikian pula nabi memberi kesaksian: keheningan memupuk keadilan[34]; dan lagi pula ia berkata: dalam ketenangan dan pengharapan terletaklah kekuatanmu[35]. Oleh karena itu kami menetapkan supaya kamu memegang teguh keheningan sesudah ibadat malam sampai selesai ibadat pagi hari berikutnya. Meskipun pada waktu lain keheningan tidak perlu dijaga begitu ketat, namun hendaknya menjaga diri dari banyak bicara. Sebab tertulis - dan tidak kurang pengalaman mengajarkan - bahwa dalam banyak bicara pasti terdapat dosa[36]; dan orang yang gegabah dalam percakapannya akan mengalami akibat buruknya[37]. Demikian pula, orang yang banyak bicara merugikan jiwanya[38]. Dan dalam Injil Tuhan bersabda: setiap kata sia-sia yang diucapkan seseorang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman[39]. Maka, setiap orang harus mempertimbangkan perkataannya dan mengekang mulutnya, agar ia tidak tergelincir dan jatuh karena lidahnya sehingga tidak tertolong sampai binasa[40]. Bersama dengan nabi ia harus menjaga jalannya agar tidak berdosa karena lidahnya[41]; dan ia harus berusaha memelihara dengan seksama dan hati-hati keheningan yang memupuk keadilan[42].

(22) Dan engkau, saudara B. dan siapa pun yang akan diangkat menjadi prior sesudah engkau, hendaknya selalu mengingat dan mengamalkan[43] apa yang disabdakan Tuhan dalam Injil: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hambamu[44].

(23) Kamu juga, saudara-saudara lainnya, hormatilah priormu dengan rendah hati[45] dengan lebih memikirkan Kristus yang mengangkatnya menjadi atasanmu daripada orang itu sendiri[46]. Dia pun bersabda kepada para pemimpin Gereja: Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku[47]. Jangan sampai kamu dihakimi karena menghinanya, tetapi semoga kamu menerima ganjaran hidup kekal karena taat setia.

(24) Kami telah menulis ini kepada kamu dengan ringkas[48] dan menetapkannya sebagai suatu pedoman hidup yang harus kamu hayati. Akan tetapi apabila seseorang berbuat lebih daripada ini, Tuhan sendiri akan memberikan ganjaran kepadanya pada waktu Ia datang kembali[49]. Namun, hendaknya menggunakan penegasan sebagai penuntun kebajikan-kebajikan[50].

oooooooOOOOOooooooo


BAGIAN I

MISI DAN KARISMA ORDO KARMEL

DAN CIRI-CIRI DASARNYA

BAB I

Karunia dan Misi Ordo

1.                        Dalam Yesus Kristus, Putera Bapa dan ‘yang sulung dari segala ciptaan’[51], kita hidup dalam persatuan dengan Allah dan sesama dengan cara yang baru. Dengan demikian, kita turut ambil bagian dalam misi Sabda yang Menjelma di dunia ini. Kita membangun Gereja, yang dalam Kristus adalah “sakramen – tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia”.[52]

2.                        Kita hidup setia pada Yesus Kristus[53] dan menganut InjilNya sebagai norma tertinggi hidup kita[54]. Oleh kuasa Roh Kudus yang membagikan kurniaNya kepada tiap orang sesuai dengan kehendakNya[55], kita berusaha hidup bersama dengan saling melayani satu sama lain serta melayani semua orang. Dengan demikian kita turut bekerjasama dalam rencana Allah untuk mengumpulkan semua orang baik laki-laki maupun perempuan ke dalam satu Umat yang kudus.[56]

3.                        Salah satu kurnia Roh itu adalah hidup injili yang kita ikrarkan sebagai religius. Kita dipanggil oleh Kristus untuk menghayati dan menyebarkan kuasaNya yang mengubah dan memerdekakan, dan bahkan hidup injili itu sendiri dengan cara yang khas untuk kita, berdayaguna dan sesuai dengan zaman. Kehidupan tersebut ditandai dengan usaha mencari Allah secara intensip dalam kesetiaan total kepada Kristus, yang nampak dalam hidup persaudaraan dan semangat kerasulan.

4.                        Panggilan ini berarti menerima sepenuhnya syarat-syarat yang ditetapkan oleh Kristus bagi mereka yang mau mengikutiNya menurut cara hidup ini. Panggilan tersebut berarti menerima kehendak Allah sebagai partisipasi dalam ketaatan Kristus. Selain itu, panggilan ini mencakup pula hidup miskin dan milik bersama sebagai ungkapan persatuan kita dengan Kristus dan ungkapan persatuan timbal-balik dengan saudara-saudara kita sebagaimana yang diajarkan oleh Injil. Akhirnya, panggilan ini berarti kemurnian yang dikuduskan yang merupakan ungkapan cinta kita kepada Allah dan saudara-saudari kita.

5.                        Kita memandang hidup bakti kita terutama sebagai undangan dan karunia agung dari Allah; dengan itu Ia menyucikan kita bagi Diri-Nya melalui pelayanan kepada saudara-saudari kita menurut teladan Yesus. Melalui persaudaraan kita panggilan ini menyempurnakan dalam diri kita daya karismatis - suatu kurnia Roh Kudus - yang diterima saat pembaptisan dan krisma. Daya itu menyatukan kita secara khusus dengan Gereja dan menjadikan kita siap untuk melayani Allah dan sesama, dalam menegakkan dan memperkuat Kerajaan Kristus dalam hati manusia serta untuk menyebarkannya ke segala penjuru dunia.[57]

6.                        Untuk itu kita, para Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, ikut serta dalam proses mengenal diri dan berusaha menemukan di antara berbagai karisma dan panggilan yang ada ciri-ciri yang menampilkan wajah khas keluarga religius kita di dalam Gereja.

7.                        Pada zaman perang salib di Tanah Suci para pertapa menetap di berbagai tempat di Palestina. Beberapa dari antara mereka “mengikuti teladan Elia, orang suci dan pencinta kesunyian. Mereka menghayati gaya hidup menyepi di gunung Karmel dekat sumber air yang disebut sumber Elia. Dalam bilik-bilik kecil, yang menyerupai bilik-billik sarang lebah, mereka hidup bagaikan lebah-lebah Allah yang mengumpulkan madu ilahi kemanisan rohani”.[58]

  1. Selanjutnya, Santo Albertus, Batrik Yerusalem menyatukan para pertapa tersebut atas permintaan mereka menjadi suatu persekutuan; ia memberi mereka suatu pedoman hidup yang mengungkapkan cita-cita pertapaan mereka (propositum)[59] dan mencerminkan semangat peziarahan ke Tanah Suci dan jemaat awali di Yerusalem.[60] Terdorong oleh cinta mereka pada Tanah Suci, para pertapa ini “mempersembahkan diri mereka di Tanah ini kepada Dia yang telah memperolehnya dengan menumpahkan darahNya, agar mereka dapat melayaniNya dengan sikap kemiskinan religius”[61] sambil bertekun “dalam tobat suci”[62] dan membentuk persekutuan persaudaraan.

 

  1. Cara hidup ini disahkan secara berturut-turut oleh Honorius III pada tahun 1226, Gregorius IX pada tahun 1229 dan oleh Innocentius IV pada tahun 1245.[63] Pada tahun 1247, Innocentius mengesahkannya secara definitif sebagai suatu peraturan hidup yang otentik, dengan menyesuaikannya pada kondisi kehidupan di Barat.[64] Penyesuaian itu menjadi perlu ketika para Karmelit mulai bermigrasi ke Barat untuk menghindari pengejaran. Pengadaptasian ini juga mengungkapkan keinginan mereka untuk menghayati hidup ‘dimana mereka dengan bantuan Allah akan bergembira bekerja bagi keselamatan mereka sendiri dan sesama.’[65]

10.                        Berkat pengesahan Regula oleh Iniocentius IV, para Karmelit melibatkan diri dalam pengabdian Gereja menurut cita-cita bersama Ordo-ordo Mendikan, yang dikenal juga sebagai Ordo persaudaraan apostolik. Namun, mereka tetap mempertahankan ciri khas karisma awali mereka;[66] dan selama berabad-abad Ordo dan Gereja menyimpulkan bahwa ciri tersebut merupakan ciri khas Karmel terutama karena guru-guru kehidupan rohani yang dibangkitkan Allah dalam Ordo.

11.                        Regula menjabarkan pedoman arah hidup Karmelit dalam mengikuti Yesus menurut semangat Ordo. Kita hendaknya merenungkan hukum Tuhan siang dan malam,[67] dalam keheningan dan kesunyian sehingga Sabda Allah berlimpah-limpah dalam hati dan juga dalam mulut orang yang mengakuinya.[68] Kita harus berdoa terus-menerus terutama dengan tetap berjaga dan mendoakan mazmur.[69] Kita juga harus mengenakan persenjataan rohani;[70] hidup dalam persekutuan persaudaraan yang diungkapkan dalam perayaan ekaristi setiap hari,[71] dalam pertemuan penuh persaudaraan dalam kapitel,[72] dengan berbagi kepemilikan atas harta benda,[73] dengan koreksi kesalahan dalam persaudaraan penuh kasih,[74] dan dengan hidup bermatiraga[75] dengan bekerja dan lakutapa, bersandarkan pada iman, harapan dan cinta, selalu menyelaraskan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, yang dicari dalam iman melalui dialog dan pelayanan Prior kepada para saudaranya.[76] 

12.                        Spiritualitas Karmel ditandai oleh dua unsur. Yang pertama adalah unsur Elia, yang dikembangkan oleh para Karmelit dalam bentuk hidup di Gunung Karmel, tempat dimana nabi Elia berkarya. Unsur yang kedua adalah keakraban dengan Maria dalam hidup rohani kita; keakraban ini nampak jelas karena kita disebut saudara-saudaranya dan karena gereja pertama di Gunung Karmel dipersembahkan kepadanya.

13.                        Pada saat umat manusia memasuki tahapan baru dalam sejarahnya, kita para Karmelit yang dijiwai oleh Roh yang bekerja dalam Gereja berusaha menyesuaikan cara hidup kita dengan kondisi yang baru.[77] Kita berusaha memahami tanda-tanda zaman dan mempelajarinya dalam cahaya Injil, karisma kita dan warisan rohani kita,[78] supaya kita dapat mewujudkan cara hidup ini dalam berbagai budaya.


BAB II

KARISMA ORDO

14.                        ‘Hidup taat kepada Yesus Kristus dan setia mengabdiNya dengan hati yang murni dan hati nurani yang baik’.[79] Kata-kata tersebut, yang diilhami oleh Santo Paulus, merupakan dasar semua unsur karisma kita; kata-kata tersebut dijadikan oleh Albertus sebagai dasar cara hidup kita. Konteks khusus Palestina, tempat asal Ordo, dan proses pengesahannya oleh Tahta Suci sepanjang sejarah Ordo, memberi makna dan inspirasi baru bagi cara hidup yang diuraikan dalam Regula.

                        Para Karmelit hidup mengikuti Kristus melalui komitmen untuk mencari wajah Allah yang hidup (dimensi kontemplatif hidup), melalui persaudaraan dan melalui pelayanan (diakonia) di tengah umat manusia. 

15.                        Tradisi rohani Ordo menekankan bahwa ketiga unsur fundamental karisma tersebut bukan merupakan nilai-nilai yang terpisah dan tanpa kaitan melainkan erat terjalin.

                        Sudah lama sekali para Karmelit menekankan dinamika pengalaman padang gurun sebagai faktor penting dalam mempersatukan nilai-nilai tersebut. Pengalaman padang gurun merupakan komitmen para Karmelit untuk menjadikan Kristus tersalib, yang dilucuti dan ditelanjangi, sebagai dasar hidup mereka, untuk mengarahkan segenap daya mereka kepadaNya dalam iman, menyingkirkan segala rintangan yang menghalangi mereka untuk bergantung seutuhnya kepadaNya atau yang merintangi kasih setia sempurna kepada Allah dan kepada sesama. Proses pengosongan yang mengarah kepada persatuan dengan Allah – tujuan akhir segala pertumbuhan manusia –  dalam spiritualitas kita diungkapkan dalam bentuk kemurnian hati (puritas cordis) dan bersemuka dengan Allah (Vacare Deo). Hal tersebut menunjukkan keterbukaan total kepada Allah dan pengosongan diri secara bertahap. Melalui proses ini, ketika kita melihat kenyataan dengan mata Allah, sikap kita terhadap dunia diubah menurut cinta-Nya dan kontemplasi hadirat Allah yang penuh kasih akan tampak dalam hidup persaudaraan dan pelayanan kita.[80]

1. Dimensi Kontemplasi hidup kita

16.                        Sejak awal mula komunitas Karmelit mengambil gaya hidup kontemplatif, baik dalam struktur maupun dalam nilai-nilai dasariahnya. Hal ini tercermin dengan jelas dalam Regula, yang menggambarkan komunitas para saudara yang berdedikasi penuh untuk mendengarkan Sabda dalam doa,[81] dan merayakan pujian bagi Tuhan dengan penuh semangat.[82] Regula menyebutnya sebagai suatu komunitas yang anggota-anggotanya terbuka untuk didiami oleh Roh dan dibentuk oleh nilai-nilai Roh: kemurnian, pikiran suci, keadilan, cinta, iman, harapan akan keselamatan,[83] karya yang dilaksanakan dengan damai,[84] keheningan yang memupuk keadilan dan yang membawa kebijaksanaan pada kata dan tindakan[85] sebagaimana diajarkan Sang Nabi; dan penegasan sebagai ‘penuntun kebajikan-kebajikan’.[86]

17.                        Tradisi Ordo selalu menafsirkan Regula dan karisma mendasar sebagai ungkapan dimensi kontemplatif dari hidup, dan para guru rohani besar dari keluarga Karmel selalu merujuk kepada panggilan kontemplatif ini. Kotemplasi dimulai saat kita mempercayakan diri kita kepada Allah, apapun cara yang dipilih-Nya untuk mendekati kita; kontemplasi adalah sikap terbuka kepada Allah yang kehadiran-Nya kita temukan dalam segala hal. Maka, kontemplasi merupakan perjalanan batin para Karmelit yang berasal dari prakarsa bebas Allah yang menyentuh dan mengubah kita menuju persatuan kasih denganNya, yang mengangkat kita untuk menikmati kasih yang cuma-cuma ini dan hidup dalam hadiratNya yang penuh cinta. Kontemplasi adalah pengalaman transformatif kasih Allah yang melimpah. Kasih ini mengosongkan kita dari cara-cara berpikir, mencintai dan berperilaku manusiawi kita yang terbatas dan tidak sempurna, dan mengubahnya menjadi cara-cara ilahi.

18.                        Kontemplasi juga mempunyai nilai injili dan gerejawi.[87] Praktek kontemplasi bukan hanya merupakan sumber hidup rohani kita, tetapi juga menentukan mutu hidup persaudaraan kita dan pelayanan kita di tengah umat Allah.[88] Nilai-nilai kontemplasi – apabila dihayati dengan setia dalam berbagai peristiwa hidup sehari-hari – membuat persaudaraan Karmel menjadi kesaksian kehadiran Allah yang hidup dan penuh misteri di tengah umatNya. Pencarian wajah Allah dan keterbukaan pada karunia Roh Kudus menjadikan kita lebih menaruh perhatian pada tanda-tanda zaman dan lebih peka terhadap benih Sabda dalam sejarah, dalam memandang serta menilai fakta dan peristiwa baik di dalam Gereja maupun dalam masyarakat.[89] 

                        Dengan hidup seperti Kristus, dalam solidaritas dengan peristiwa dan harapan umat manusia,[90] para Karmelit akan mampu membuat keputusan yang tepat untuk mengubah kehidupan dan membuatnya lebih selaras dengan kehendak Bapa. Selanjutnya, demi kebaikan Gereja, dimensi kontemplatif Karmel akan mendukung mereka yang merasa terpanggil untuk hidup eremitis.

2. Persaudaraan

19.                        Sikap kontemplatif terhadap dunia sekitar kita menjadikan kita mampu menemukan kehadiran Allah dalam peristiwa hidup sehari-hari, dan khususnya melihat Dia dalam diri para saudara dan saudari kita. Dengan demikian kita dibimbing untuk menghargai misteri mereka yang berbagi hidup bersama kita. Regula kita menghendaki kita secara mendasar sebagai “saudara-saudara”[91] dan mengingatkan kita bahwa kualitas hubungan interpersonal dalam komunitas Karmel[92] harus terus-menerus dikembangkan dan ditingkatkan dengan mengikuti teladan komunitas perdana di Yerusalem. Bagi kita menjadi saudara berarti tumbuh di dalam persekutuan dan persatuan,[93] menghilangkan hak-hak istimewa[94] dan perbedaan-perbedaan, dalam semangat partisipasi dan bertanggung jawab bersama[95], dalam berbagi harta benda,[96] rencana bersama tentang kehidupan, dan karisma pribadi.[97] Menjadi saudara juga berarti saling mempedulikan kesejahteraan rohani dan psikologis tiap pribadi, melalui dialog dan rekonsiliasi.[98]

20.                        Nilai-nilai persaudaraan ini terungkap dan berkembang dalam Firman, Ekaristi dan doa.

                        Dengan mendengarkan, berdoa, dan menghayati Sabda – dalam keheningan, kesunyian dan dalam komunitas,[99] terutama dalam bentuk lectio divina - para Karmelit setiap hari dibimbing untuk mengenal dan mengalami misteri Yesus Kristus.[100] Dengan diilhami oleh Roh dan berakar dalam Yesus Kristus, serta berdiam didalam-Nya siang dan malam,[101] segala pilihan dan tindakan para Karmelit dibimbing oleh Sabda-Nya.[102] 

                        Dengan diilhami oleh Sabda dan dalam persekutuan dengan seluruh Gereja, para saudara berkumpul untuk memuliakan Allah[103] dan mengundang orang lain untuk berbagi pengalaman doa.

                         Sedapat mungkin setiap hari para saudara dipanggil dari kesunyian dan karya kerasulannya untuk merayakan Ekaristi - sumber dan puncak hidup mereka -[104] sehingga dengan berhimpun bersama di sekeliling altar Tuhan,[105] mereka dapat pula “bersatu menjadi sehati dan sejiwa”[106], menghayati koinonia persaudaraan sejati dalam sikap tanpa pamrih, saling melayani,[107] setia dalam mencapai tujuan bersama, serta dalam semangat rekonsiliasi yang dijiwai oleh cinta Kristus.[108] 

                        Sebagai persaudaraan kontemplatif kita mencari wajah Allah dan melayani Gereja dalam dunia atau juga dalam keheningan eremitis.

3. Pelayanan di tengah umat

21.                Sebagai persaudaraan kontemplatif kita juga mencari wajah Allah ditengah-tengah dunia. Kita percaya bahwa Allah telah menempatkan kediamanNya di antara umatNya, dan karena itu persaudaraan Karmel menyadari dirinya sebagai bagian yang hidup dari Gereja dan sejarah -  suatu persaudaraan yang terbuka, mampu mendengarkan lingkungannya, dan rela ditanyai dunia; siap untuk menghadapi tantangan hidup dan untuk memberikan tanggapan hidup injili yang otentik berdasarkan karisma kita sendiri.[109] Para Karmelit mewujudkan solidaritasnya dan ikut bekerjasama dengan semua orang yang menderita, yang berharap dan melibatkan diri dalam mencari Kerajaan Allah.[110]

22.                        Kata perjalanan yang disinggung dalam Regula[111] merupakan ungkapan dari cara hidup Injili dan kerasulan Ordo-ordo mendikan. Hal itu merupakan panggilan bagi persaudaraan Karmel untuk melakukan penegasan dan mengikuti jalan yang digariskan Roh Tuhan bagi komunitas dan bagi tiap orang. Itu juga merupakan tanda solidaritas dan pengabdian tanpa pamrih, baik kepada Gereja universal dan lokal maupun kepada dunia masa kini.[112]

23.                        Tempat tinggal komunitas merupakan tempat dimana komunitas berhimpun dan hidup. Bagi Karmelit tempat tersebut juga merupakan tempat penerimaan tamu[113] sehingga umat dapat berbagi dalam semangat bersama, dalam rekonsiliasi penuh persaudaraan dan dalam pengalaman akan Allah yang dihayati dalam komunitas.

24.                        Akhirnya, keberadaan di tengah umat merupakan tanda dan kesaksian kenabian dari hubungan baru persaudaraan dan persahabatan antara pria dan wanita dimana saja. Keberadaan di tengah umat ini merupakan pesan kenabian tentang keadilan dan perdamaian dalam masyarakat dan antara bangsa-bangsa. Sebagai bagian integral dari Kabar Baik, kenabian ini harus diwujudkan melalui komitmen aktif untuk mengubah sistem dan struktur yang penuh dosa menjadi sistem dan struktur yang penuh rahmat.[114] Selain itu, keberadaan di tengah umat juga merupakan ungkapan ‘pilihan untuk berbagi hidup dengan kaum kecil’ (“minores”) sehingga kita dapat mewartakan harapan dan keselamatan di tengah mereka – lebih melalui cara hidup daripada melalui kata-kata kita.[115] Pilihan ini merupakan konsekuensi logis dari kaul kemiskinan dalam persaudaraan mendikan yang kita ucapkan, dan sejalan dengan ketaatan kita kepada Kristus, yang dihayati juga dengan mendengarkan kaum miskin dan mereka yang secara istimewa memancarkan wajah Tuhan.[116] 

5. Elia dan Maria, inspirator kita

25.                        Segala yang kita dambakan dan segala yang kita kehendaki bagi diri kita pada masa kini terwujud dalam hidup Nabi Elia dan Santa Perawan Maria. Menurut cara mereka masing-masing, keduanya mempunyai semangat yang sama …, pendidikan yang sama, dan guru yang sama, yaitu: Roh Kudus.[117] Dengan memandang Maria dan Elia, kita dapat lebih mudah memahami dan membatinkan, menghayati dan mewartakan kebenaran yang memerdekakan kita.[118]

26.                        Dalam diri Elia kita melihat seorang nabi anakorit yang selalu haus akan Allah semata dan hidup dalam hadiratNya.[119] Dia adalah seorang kontemplatif yang terbakar oleh cinta membara akan Sang Absolut, yaitu Allah,[120] kata-katanya bernyala-nyala seperti obor.[121] Ia adalah mistikus yang setelah perjalanan jauh dan melelahkan, belajar membaca tanda-tanda baru kehadiran Allah.[122] Ia adalah nabi yang melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat dan yang dengan berjuang melawan dewa-dewa palsu berusaha membawa umat kembali pada kesetiaan akan Perjanjian dengan Allah yang Tunggal.[123] Ia adalah nabi yang solider dengan kaum miskin dan kaum terbuang serta membela mereka yang menjadi korban kekerasan dan ketidak-adilan.[124]

                Dari Elia, para karmelit belajar menjadi pertapa padang gurun, yang dengan hati yang tak terbagi berdiri di hadapan Allah, mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah, mengutamakan pengabdian mereka kepada perkara Allah, dan terbakar oleh cinta yang hangat akan Allah. Sebagaimana Elia, para Karmelit percaya akan Allah dan membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh dan Sabda, yang mengakar dalam hatinya, untuk memberi kesaksian akan kehadiran ilahi di dalam dunia, dengan membiarkan Allah menjadi sungguh-sungguh Allah dalam hidupnya.[125] Dan akhirnya, mereka melihat Elia sebagai bagian dari sekelompok nabi, dan darinya mereka mengetahui apa artinya  hidup berkomunitas.[126] Selain itu, dari Elia para Karmelit juga belajar menjadi saluran cinta Allah yang lembut kepada mereka yang miskin dan rendah hati.[127]

27.                        Maria yang dinaungi oleh Roh Allah,[128] adalah perawan yang berhati baru,[129] yang memberi wajah manusiawi kepada Sabda yang menjelma menjadi manusia.[130] Ia adalah Perawan yang mendengarkan secara bijaksana dan kontemplatif, menyimpan serta merenungkan dalam hatinya semua peristiwa dan firman Tuhan.[131] Ia adalah murid kebijaksanaan yang setia, yang mencari Yesus – Kebijaksanaan Allah – dan membiarkan dirinya dididik dan dibentuk oleh Roh-Nya supaya dalam iman ia selalu selaras dengan cara dan pilihan-Nya.[132] Dengan demikian, Maria ditampilkan sebagai orang yang mampu membaca perkara-perkara besar yang telah dikerjakan Allah padanya demi keselamatan orang-orang yang rendah hati dan miskin.[133]

                Maria bukan hanya Bunda Tuhan, melainkan juga murid-Nya yang sempurna, wanita beriman.[134] Ia mengikuti Yesus, berjalan bersama para murid, dan dengan mereka berbagi perjalanan yang melelahkan dan menantang perjalanan yang menuntut terutama kasih persaudaraan dan pengabdian timbal balik.[135] 

                Pada pernikahan di Kana, Maria mengajar kita untuk percaya kepada Puteranya;[136] pada kaki salib ia menjadi Bunda semua orang beriman[137] dan bersama mereka ia mengalami kegembiraan kebangkitan. Ia bergabung bersama para murid lain dalam ‘doa terus menerus’[138]88 dan menerima buah pertama Roh Kudus yang memenuhi jemaat kristiani perdana dengan semangat kerasulan.

                        Maria adalah pembawa kabar baik keselamatan bagi semua orang.[139]89 Ia adalah wanita yang menjalin hubungan persekutuan, tidak hanya dengan lingkungan para murid Yesus, melainkan lebih dari itu, yaitu dengan umat manusia: dengan Elizabeth, dengan kedua mempelai di Kana, dengan wanita-wanita lain dan dengan para ‘saudara’ Yesus.[140]90

                        Dalam diri Perawan Maria, Bunda Allah dan pralambang ulung Gereja, para Karmelit melihat gambaran sempurna dari segala yang mereka dambakan dan mereka harapkan bagi diri mereka.[141]91 Oleh sebab itu, Maria selalu dipandang sebagai Pelindung, Bunda dan Semarak Ordo; di mata dan dalam hati para Karmelit ia adalah Perawan Termurni. Dengan menatapnya dan hidup dalam kemesraan rohani dengan dia, kita belajar untuk berada di hadirat Allah dan hidup dengan sesama sebagai saudara-saudara Tuhan. Maria hidup di tengah kita sebagai ibu dan saudari, penuh perhatian akan kebutuhan kita, dan bersama-sama dengan kita ia menunggu dan berharap, menderita dan bergembira.[142]92

                        Skapulir adalah tanda cinta keibuan Maria yang tetap selalu kepada para biarawan dan biarawati Karmel. Dengan devosi kepada skapulir, sesuai dengan tradisi Ordo khususnya semenjak abad ke 16, para karmelit mengungkapkan keakraban Maria penuh cinta kepada umat Allah; Skapulir merupakan tanda penyerahan kepada Maria, suatu sarana untuk menyatukan umat beriman dengan Ordo, dan merupakan cara yang berdaya guna dan merakyat untuk evangelisasi.[143]93

5. Keluarga Karmel

28.                         Adanya berbagai bentuk perwujudan karisma Karmel merupakan kegembiraan bagi kita; berbagai bentuk perwujudan tersebut meneguhkan kesuburan karisma kita yang kaya dan kreatif,[144]94 yang dihayati atas dorongan Roh - suatu kesuburan yang harus diterima dengan syukur dan penegasan.

                        Semua orang dan kelompok, baik yang dilembagakan maupun tidak, yang diilhami oleh Regula Santo Albertus, tradisi dan nilai-nilai yang diungkapkan dalam spiritualitas Karmel merupakan Keluarga Karmel dalam Gereja dewasa ini.[145]95

                        Termasuk dalam keluarga ini kita semua dan para saudara kita dari reformasi Theresia, para rubiah kedua cabang, kongregasi-kongregasi religius yang berafiliasi, kaum awam Ordo ketiga, lembaga sekular, orang-orang yang bergabung dengan Ordo lewat skapulir suci dan mereka yang dengan dasar iman atau ikatan lain apapun bergabung dengan Ordo, gerakan-gerakan yang meskipun bukan bagian Ordo secara yuridis mencari inspirasi dan dukungan spiritualitasnya, serta setiap orang yang tertarik akan nilai-nilai Karmel.


BAGIAN KEDUA

HIDUP DALAM KOMUNITAS

29.                         Allah Tritunggal, sumber dan model Gereja,[146] juga merupakan sumber dan model persaudaraan kita. Persekutuan trinitaris (koinonia) pengenalan dan kasih yang kita bagi bersama, merupakan karunia bagi kita, dan mendorong kita untuk membuka diri bagi pengenalan dan kasih akan Allah serta sesama. Karena itu perkembangan pengenalan dan kasih dalam setiap komunitas lokal, yang terbuka bagi seluruh Ordo, Gereja dan seluruh umat manusia, menunjukkan semakin sempurnanya unsur hakiki identitas kita sebagai saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

30.                         Hidup persaudaraan menurut teladan jemaat Yerusalem[147] merupakan penjelmaan kasih tanpa pamrih Allah, yang dibatinkan melalui suatu proses yang terus-menerus dalam mengosongkan diri kita dari segala bentuk egosentrisme – baik dalam diri pribadi maupun dalam kelompok – sehingga kita dapat memusatkan diri seutuhnya pada Allah. Dengan demikian kita menampakkan hakikat karisma dan kenabian hidup bakti Karmel dengan secara serasi memadukan dengannya karisma pribadi masing-masing anggota dalam melayani Gereja dan dunia.[148]

                        Karena itu kita dipanggil untuk membaharui diri sebagai saudara melalui dialog di antara kita, terbuka bagi tanda-tanda zaman - dan dengan demikian terbuka juga  kepada semua orang – dan menyambut mereka yang terlibat dalam pelayanan kita, terutama kaum muda dan kaum miskin. Kita juga terbuka terhadap pengembangan bentuk-bentuk baru komunitas dan pelayanan baru, yang mungkin berpengaruh nyata terhadap Gereja dan masyarakat dengan mengajak semua orang untuk bertobat.[149] Oleh sebab itu ungkapan dan bukti persaudaraan kita terwujud dalam hidup bersama yang dihayati dalam semangat Elia dan di bawah perlindungan Perawan Maria, Bunda Allah dan Saudari kita.

31.                         Hidup bersama harus menuju kepada persatuan yang lebih mendalam dalam hal saling mengenal dan kasih. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam hidup bersama kita terdapat  saat-saat yang  lebih intensif dan penting:[150]

a.         dalam partisipasi bersama dalam Ekaristi yang membuat kita menjadi satu tubuh, dan yang merupakan sumber dan puncak hidup kita, dan dengan demikian merupakan sakramen persaudaraan;

b.         dalam perayaan bersama dalam Liturgi Ibadat Harian;

c.         dalam mendengarkan Sabda dalam suasana doa;

d.         dalam pertemuan yang harus diadakan secara berkala, menurut norma Statuta Provinsi, untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan komunitas.

e.         dalam pertemuan-pertemuan komunitas lainnya yang harus dilaksanakan secara berkala, menurut norma Statuta Provinsi dimana kita dalam suasana dialogis dan penegasan:

f.          dalam santap bersama dan rekreasi bersama;

g.         dalam kerja bersama, kerja tangan ataupun pekerjaan lain baik dalam komunitas atau dimana saja yang dilaksanakan atas nama komunitas;

h.         dalam berbagi kegembiraan, keprihatinan dan persahabatan.

32.                         Seluruh kegiatan kita di luar biara hendaknya berkaitan erat dengan kegiatan di dalam biara, dan hendaknya merupakan kesatuan yang menyeluruh.[151] Tugas komunitas persaudaraan kerasulan adalah hadir di tengah umat, terbuka dan bersatu dengan mereka, secara kritis mendorong mereka memahami kebutuhan manusiawi mereka.[152] Dengan demikian komunitas kita akan mengungkapkan dengan sungguh iman, harapan dan kasih, dan menjadi tempat yang mendukung perkembangan pribadi.

33.                         Menurut hakikatnya hidup komunitas harus mendukung perkembangan manusiawi, intelektual, rohani dan pastoral para biarawan sehingga mereka sungguh-sungguh menyatu ke dalam komunitas dan tugas perutusannya menurut bakat dan kemampuan pribadi. Maka ungkapan kesatuan harus dicari bukan dalam bentuk keseragaman kaku, melainkan dalam kebhinekaan yang organis.[153] Sebelumnya penegasan pada semua taraf harus dilaksanakan baik dalam hal pembagian tugas yang memadai maupun  pemilihan tugas-tugas khusus komunitas. Pada kesempatan tertentu para pakar dan fasilitator dapat diminta untuk membantu kita dalam dialog bersama.

Selain itu, komunitas harus menjamin agar tidak ada seorang anggota pun yang dibebani tugas berlebihan, baik itu karya kerasulan ataupun karya lainnya, yang membuat hidup bersama dan latihan kesalehan menjadi mustahil atau terlalu sulit untuk dilakukan.[154] Statuta Provinsi hendaknya menetapkan lamanya cuti tahunan bagi setiap biarawan.

34.                         $1.Untuk memupuk dimensi kontemplatif dan persaudaraan hidup kita, hendaknya menghindari kegiatan yang berlebihan dan tingkah laku yang kurang teratur, dan demikian juga setiap gaya hidup yang bertentangan dengan aspirasi hidup bakti yang terdalam.[155]

        $2.Para Karmelit hendaknya sadar akan semakin pentingnya komunikasi di dalam masyarakat dewasa ini pada taraf mondial dan juga akan perkembangan teknologi di bidang ini.[156] Sudah barang tentu bahwa media massa mempunyai peluang besar untuk pewartaan Injil.[157] Tetapi penyalahgunaan dan manipulasi sarana-sarana tersebut dapat membahayakan martabat dan kebebasan manusia. Karena itu komunitas kita hendaknya mempertimbangkan cara yang terbaik dalam menggunakan media massa demi melindungi dimensi kontemplatif dan persaudaraan hidup kita dan meningkatkan efisiensi kerasulan kita.[158]

35.                         Tiap komunitas hendaknya mempunyai jumlah saudara yang memadai guna mendukung kondisi yang sesuai untuk membina hidup persaudaraan yang sungguh-sungguh. Para biarawan yang karena alasan kesehatan, pendidikan, kerasulan atau alasan lain yang wajar harus tinggal di luar biara,[159] hendaknya bergabung pada suatu komunitas yang terbentuk dengan baik, yang anggotanya dapat membina hubungan persaaudaraan dengannya, dan mendampinginya dalam kegiatan-kegiatannya. Dari pihak biarawan tersebut sejauh mungkin hendaknya ada usaha untuk mengunjungi komunitas tersebut secara berkala, rela mengambil bagian dalam berbagai pertemuan komunitas, agar ia dapat menarik lebih banyak manfaat dari persaudaraan.

36.                         Keramah-tamahan adalah ciri khas kehidupan persaudaraan, dan hendaknya dinyatakan tidak hanya kepada para saudara se-Ordo dan sanak saudara mereka, melainkan juga kepada orang lain sejauh itu mungkin.

37.                         Untuk menjamin agar struktur ekonomis hidup religius kita tidak menyerupai pola duniawi yang penuh ketidak-adilan, persaudaraan dalam keluarga Karmelit hendaknya diungkapkan dalam memberi perhatian dan berbagi dengan komunitas-komunitas seluruh Ordo terutama dengan yang lebih miskin.[160]

38.                         Kita perlu membina rasa hormat dan terimakasih kepada orang yang lanjut usia, yang telah mencurahkan tenaganya bagi Ordo dan Gereja. Komunitas hendaknya menyambut baik sumbangan mereka dalam kegiatan-kegiatan komunitas sesuai dengan kemampuan mereka, dan menghindari penilaian pribadi manusia berdasarkan efisiensi dan prestasi karena hal tersebut bertentangan dengan Injil.

                        Komunitas hendaknya menyambut kehadiran para saudara yang sakit sebagai anugerah dengan melihat Kristus yang menderita dalam diri mereka. Persaudaraan kita harus dinyatakan dengan cara yang sangat istimewa melalui perhatian penuh kasih kepada para saudara yang sakit atau lemah kesehatannya.

Komunitas hendaknya menjamin agar para saudara ini tidak kekurangan apapun yang dapat membantu memulihan kesehatan mereka, dan apabila diperlukan mereka dapat dibawa ke klinik atau pusat kesehatan, dan mereka hendaknya didukung untuk mendapatkan setiap bantuan rohani.

39.                         Berdoa bagi orang yang telah meninggal dunia adalah ‘sesuatu yang suci dan saleh’;[161] maka kita perlu dengan tulus mengenangkan dalam Tuhan para saudara kita yang telah meninggal baik dengan mempersembahkan Misa untuk arwah mereka maupun dengan berdoa bagi mereka, sehingga secara rohani kita tetap bersatu bersama mereka. Statuta Provinsi hendaknya menetapkan secara khusus doa bagi Paus, konfrater dari Provinsi atau biara sendiri yang telah meninggal, bagi para anggota Kuria Jenderal yang meninggal selama menjabat, bagi para mantan Jenderal dan para rubiah Ordo. Prior Jenderal akan memberikan petunjuk mengenai para biarawan yang tidak berafiliasi dengan Provinsi tertentu.

Apabila salah seorang konfrater meninggal dunia, Prior rumah hendaknya menyampaikan kepada Prior Provinsial. Dia kemudian hendaknya meneruskannya kepada Prior Jenderal dan semua biara Provinsi, dan juga menyusun riwayat hidup singkat almarhum, yang hendaknya diterbitkan sesegera mungkin dalam buletin resmi Ordo.

40.                         Pertobatan pada Injil[162] perlu dilakukan setiap hari agar kita tetap setia kepada panggilan hidup persaudaraan. ‘Komunitas religius harus tampil dalam Gereja sebagai komunitas yang berdoa dan bertobat.’[163] Kita perlu mencari bentuk-bentuk konkrit pertobatan, terutama melalui penegasan hidup yang terus menerus dalam cahaya Injil, tanda-tanda zaman dan pengalaman orang miskin, dan dalam pelaksanaan penuh setia pelayanan kita, dengan memperhatikan keadaan dan tradisi Gereja setempat. Setiap komunitas hendaknya, mencari cara yang lebih sesuai untuk mewujudkan semangat tobat sesuai dengan statuta Provinsi. Dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum kanonik dan Konferensi Uskup negara yang bersangkutan, peraturan mengenai puasa dan pantang hendaknya ditetapkan oleh Statuta Provinsi, selaras dengan Regula, dengan memperhatikan keadaan dan kebiasaan Gereja setempat.

41.                         Jubah religius kita merupakan ‘tanda penyerahan diri’,[164] dan terdiri dari tunika coklat atau berwarna gelap, skapulir dan kapus yang sama warnanya; pada tunika dikenakan sabuk kulit. Statuta Provinsi dapat menentukan warna yang lain apabila ada alasan khusus (misalnya: iklim). Pada kesempatan lebih meriah hendaknya juga dikenakan mantol putih, yang lebih pendek daripada tunika dengan kapus putih yang bentuknya sama seperti yang berwarna gelap. Pengenaan jubah religius baik di dalam biara maupun di luar hendaknya ditentukan dalam Statuta Provinsi, dengan tetap memperhatikan hak Ordinaris wilayah.[165]

42.                         Di setiap biara hendaknya ada bagian yang dikhususkan bagi para biarawan,[166] batas-batasnya hendaknya ditentukan oleh komunitas. Semua biarawan hendaknya menghormati norma-norma yang mengatur penggunaan bagian rumah yang dikhususkan tersebut; bila ada alasan yang wajar, Prior dapat memberikan pengecualian atas norma-norma tersebut.

BAB IV

Nasihat-nasihat Injil dan Kaul

43.                         Inti dan dasar hidup bakti ialah mengikuti Yesus Kristus secara radikal. Nasihat-nasihat injili ketaatan, kemiskinan dan kemurnian yang diikrarkan secara publik dalam Gereja adalah suatu bentuk radikal kesaksian mengikuti Kristus.[167] Dengan mengikuti Kristus yang taat, miskin dan murni, kita menjadi kurang memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi mengarahkan diri untuk mencari Kerajaan Allah dalam sejarah.

44.                         Hidup bakti kita yang dibentuk menyerupai hidup Kristus melalui ketiga nasihat Injil yang dihayati melalui kaul-kaul dan nilai-nilai injili lainnya adalah anugerah Allah.[168] Meskipun tidak bermotivasikan keduniawian,[169] namun kita hidup di dalam dunia[170] sebagai saksi-saksi akan nilai kehidupan sebagai anugerah yang berharga. Nilai ini bila dihayati dalam semangat sabda bahagia akan mengubah dunia seturut rencana Bapa.

1. Ketaatan: mendengarkan dan menegaskan rencana Allah

45.                         Lewat ketaatan religius yang dihayati secara murni melalui tindakan,[171] kita menyerahkan seluruh kehendak kita kepada Allah. Yesus Kristus adalah sumber dan alasan ketaatan kita. Ia telah menghayati kebebasanNya tidak dalam kecukupan diri dan otonomi pribadi, melainkan dalam ketaatan kepada Bapa.[172] Ketaatan Kristus bukan hanya suatu komitmen untuk melaksanakan karya Bapa[173] tetapi  juga kesetiaan pada umat manusia dan keselamatannya.[174] Yesus taat karena mengasihi Bapa[175] dan karena mengasihi kita. Yesus seutuhnya milik Allah dan seutuhnya bagi umat manusia. Satu-satunya tujuan hidupNya ialah mewujudkan Kerajaan Allah, dan demi tujuan itu Ia tetap setia sampai wafat.[176]

46.                         Roh Yesus tinggal dalam diri kita; kita tidak berada di bawah hukum, melainkan di bawah rahmat.[177] Dengan membiarkan diri dibimbing oleh Roh,[178] kita akan diajar untuk mengetahui kehendak Allah[179] dan akan dibimbing kepada seluruh kebenaran.[180]

Bagi kita dewasa ini mengikuti Kristus dalam ketaatanNya[181] berarti bersama-sama mendengarkan Sabda Allah,[182] yang diterima dan dihayati dalam Gereja; itu berarti pula belajar membaca tanda-tanda zaman untuk menegaskan kehendak Allah pada masa ini[183] dan dengan setia melaksanakan setiap hari perutusan apapun yang dipercayakanNya kepada kita.

Hal ini mencakup suatu proses transformasi yang berkesinambungan dan mendalam agar dapat mengendapkan kehendak Allah yang selalu kreatif dan memberi kehidupan. Dengan cara demikian kita tidak hanya dapat memilih dengan bebas untuk bertindak sesuai dengan perintah-perintah Allah, melainkan karena dimurnikan kita semakin dekat pada Allah yang mengasihi kita.

47.                         Kita menyerahkan diri untuk taat pada kehendak Allah bukan hanya secara perorangan tetapi juga sebagai komunitas. Komunitas sesungguhnya merupakan tempat kita bersama-sama mencari kehendak Allah. Dalam pencarian ini kita melibatkan diri sebagai murid-murid satu sama lain dan bersama-sama bertanggung jawab dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah, yang dibaca dalam terang tanda-tanda zaman dan menurut karisma Ordo.[184] Dengan demikian kita adalah saudara-saudara dalam ketaatan; secara berdampingan dan bersama-sama kita menghadapi tantangan Injil dan kedatangan Kerajaan Allah.

48.                         Dengan sadar akan kehadiran Kristus dan InjilNya di pusat komunitas, Prior hendaknya menempatkan diri dalam pengabdian kepada kehendak Allah dan dalam pelayanan kepada para saudara; dia hendaknya membimbing mereka menuju ketaatan yang dewasa dan bertanggung jawab kepada Kristus melalui dialog dan penegasan yang memadai,[185] dengan tetap menjaga wewenangnya untuk memutuskan dan memerintahkan apa yang harus dilakukan.[186] Dalam komunitas Prior hendaknya menjadi pendorong untuk menghayati karisma kita; dia hendaknya menjadi tanda dan ikatan kesatuan. Para saudara hendaknya ‘menghormati Prior mereka dengan rendah hati dengan lebih memikirkan Kristus yang mengangkatnya atas mereka daripada orang itu sendiri’.[187]

49.                         Dalam kasus berat pemimpin tinggi dapat memberi perintah (praeceptum)kepada seorang biarawan berdasarkan kaul ketaatan. Perintah demikian itu harus diberikan secara tertulis atau di hadapan dua saksi.[188]

2. Kemiskinan: berbagi dan solidaritas

50.                         Yesus Kristus, manusia miskin, lahir dan hidup dalam keadaan hina dina. Dalam hidupnya di dunia Ia memilih untuk lepas dari setiap kekayaan,[189] kekuasaan dan gengsi duniawi.[190] Ia mengambil keadaan hamba, menjadi sama dengan manusia[191] dan menyamakan dirinya dengan kaum kecil dan kaum miskin.[192] Bersama dengan para muridNya, Ia berbagi seluruh hidupNya,[193] rencana Bapa,[194] perutusanNya,[195] dan doaNya.[196] Dengan demikian bagi mereka, Ia bukan hanya Guru, melainkan juga Sahabat dan Saudara.[197] Pada salib Yesus telah mengalami ketelanjangan yang mutlak dan kemiskinan yang radikal menurut rencana Bapa. Sesungguhnya dari salib Ia telah menyerahkan diriNya sendiri secara total bagi umat manusia. Yesus yang kaya telah menjadi miskin bagi kita, agar kita yang miskin menjadi kaya kerena kemiskinanNya.[198]

51.                         Dengan mengikuti Yesus, manusia miskin, jemaat kristiani perdana yang diilhami persekutuan (Koinonia) persaudaraan telah menghayati dan mewujudkan pembagian segala harta jasmani[199] dan rohani.[200]

52.                         Dengan mengikuti Kristus dan meneladan hidup Gereja perdana sebagai teladan, kita pun ingin menerima dengan sukarela anugerah nasihat Injili kemiskinan, dengan mengikrarkan kaul untuk memiliki segalanya secara bersama dan menyatakan bahwa tak sesuatu pun adalah milik kita secara pribadi.[201] Kita percaya bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah, dan segala sesuatunya, harta rohani, jasmani, dan kultural yang diperoleh dengan jerih payah kita, harus ‘diberikan kembali’ dengan cuma-cuma untuk pengembangan manusiawi dan sosial semua orang dalam cara apapun itu dapat melayani sebaik mungkin kepentingan Gereja dan Ordo kita.[202]

53.                         Kemiskinan merupakan realitas yang mendua dan kompleks. Apabila kemiskinan berarti kurangnya sarana yang perlu untuk mempertahankan hidup, akibat ketidak-adilan atau dosa pribadi dan sosial, maka kemiskinan ini bernilai negatif.[203] Namun kemiskinan dapat juga merupakan gaya hidup Injili yang dianut oleh mereka yang percaya hanya kepada Allah dengan berbagi harta bendanya, solider dengan kaum miskin, dan dengan melepaskan setiap keinginan akan penguasaan dan kecukupan diri. Dalam kontemplasi kita mengendapkan sikap sejati kemiskinan yang merupakan proses mendalam pengosongan batin. Dengan demikian kita semakin kurang mengawasi kegiatan dan gagasan, keutamaan dan prestasi kita, dan karena itu kita menjadi terbuka terhadap karya Allah. Dengan demikian kita menjadi sungguh miskin seperti Kristus, bahkan sampai tidak memiliki kemiskinan yang kita pilih dalam proses ini dimana kasih Allah mengosongkan kita.

54.                         Maka kita yang telah bebas memilih kemiskinan sebagai gaya hidup Injili, merasa terpanggil oleh Injil dan Gereja untuk membangkitkan hati nurani manusia untuk menghadapi masalah kemiskinan, kelaparan dan ketidak adilan sosial.[204] Kita akan mencapai tujuan itu, terutama apabila kemiskinan kita menjadi kesaksian tentang makna manusiawi pekerjaan sebagai sarana penghidupan dan sebagai pengabdian kepada orang lain;[205] apabila kita berusaha mempelajari dan mengenal sebab-sebab ekonomis, sosial dan moral kemiskinan yang berakar pada ketidakadilan;[206] apabila kita menggunakan secara ugahari dan sederhana harta kita dengan memanfaatkannya secara cuma-cuma dalam pelayanan pengembangan manusiawi dan rohani sesama;[207] dan akhirnya apabila kita melakukan penegasan secara tepat dan seimbang mengenai bentuk-bentuk kehadiran kita di tengah umat dengan memilih cara kehadiran yang mendukung pembebasan dan pengembangan umat manusia seutuhnya.[208]

55.                         Karena itu biarawan yang telah mengikrarkan kaul meriah tidak dapat memiliki harta benda sebagai milik pribadi; apapun yang mereka terima akan menjadi milik rumah biara, Provinsi atau Ordo, menurut norma-norma Konstitusi ini dan Statuta Provinsi.[209]

56.                         Dengan tetap memperhaikan daya ikat kanonik ketentuan no. 55, di negara-negara dimana hukum sipil tidak mengakui akibat kaul meriah, para biarawan diperkenankan melakukan tindakan hukum tertentu (donasi, surat wasiat, dan sebagainya) menurut hukum sipil, dengan daya ikat sipil atas nama rumah biara, Provinsi atau Ordo.

Dalam kasus dimana hukum sipil juga tidak mengakui rumah biara, Provinsi atau Ordo sebagai badan hukum, para biarawan boleh bertindak seolah-olah mereka adalah pemilik menurut hukum sipil, tetapi selalu tanpa mengurangi daya ikat hukum kanonik yang disebutkan di atas.

57.                         Dalam penggunaan harta benda kita bertanggung jawab di hadapan Allah untuk menghayati kemiskinan yang telah kita ikrarkan dengan bebas, dengan memperhatikan bahwa kita mengikrarkan kaul kemiskinan untuk menghayati hidup sederhana baik secara pribadi maupun dalam komunitas, dengan menghindari segala hal yang dapat menyinggung perasaan kaum miskin. Statuta Provinsi hendaknya menetapkan jumlah dana yang harus disediakan bagi setiap biarawan untuk keperluan pribadi sambil memperhitungkan bahwa kebutuhan mungkin berbeda di masing-masing negara. Norma-norma mengenai puasa dan pantang yang disebutkan pada no. 40 harus mendukung kita untuk hidup sederhana dan untuk membantu kaum miskin.

58.                         Janganlah kita lupa bahwa cara yang paling baik untuk mengungkapkan kaul kemiskinan dewasa ini ialah setia memenuhi hukum kerja yang berlaku untuk umum. Maka hendaknya kita dengan penuh semangat mematuhi ketentuan Regula yang mengajak kita untuk rajin bekerja.[210] Kita  sadar bahwa melalui jerih payah kita, kita menjadi rekan Allah dalam karya penciptaan[211] dan sekaligus mengembangkan kepribadian kita; melalui kasih yang aktif kita membantu para konfrater bahkan semua orang; dan kita menyumbang untuk kesejahteraan Ordo. Selain itu kita juga meneruskan nilai mulia yang diberikan oleh Yesus pada pekerjaan – karena Ia tidak pernah meremehkan pekerjaan tangan - dan kia mengikuti teladan Santa Perawan Maria, yang hidupnya di dunia ini penuh kesibukan dan pekerjaan yang biasa.

3. Kemurnian: selibat demi Kerajaan Allah

59.                         Allah Kerajaan dan Kerajaan Allah adalah acuan mendasar dan cakrawala global bagi hidup selibat kita dan bagi seluruh eksistensi Kristiani. “Hanya kasih Allah yang dapat memanggil kita untuk kemurnian religius secara definitif. Kasih ini menuntut cinta persaudaraan sedemikian kuat sehingga mendorong para biarawan untuk hidup secara lebih mendalam bersama dengan sesama di dalam hati Kristus. Persembahan diri kepada Allah dan sesama akan merupakan sumber perdamaian yang mendalam.[212]

60.                         Kristus Yesus, manusia yang murni, mempersembahkan diri secara total demi Kerajaan Allah. Ia mengasihi semua orang, terutama “kaum kecil” dan miskin. KasihNya tidak possesif,[213] melainkan memerdekaan.[214] Seluruh hidupnya dipersembahkan bagi pelayanan kepada para saudara. HidupNya menampakkan wajah Bapa dengan jelas.[215]

61.                         Dengan mengikuti Yesus dalam kemurnianNya, hidup selibat kita menjadi setara dengan kasih yang total dan penuh kepada Allah dan kepada setiap pribadi manusia.[216] Sadar akan kasih Allah yang merangkul setiap pribadi, para Karmelit harus terus-menerus diubah oleh kasih ilahi.tanpa pamrih dan tanpa syarat ini. Pengendapan ini terjadi lewat proses transformasi terus-menerus akan semua kemampuan afektif sehingga kita menjadi sungguh-sungguh murni berkat pengembangan seluruh pribadi. Melalui daya kasih murni dan tak terbagi ini[217] hubungan antar pribadi bertumbuh dalam kebenaran dan transparansi. Di dalam dunia yang sering terpecah belah oleh sengketa dan perpecahan seorang yang baru dan murni dalam Roh akan menampakkan dan memancarkan kehadiran Tuhan kita yang memerdekakan.

62.                         Sebagaimana bagi Yesus, demikian pula bagi kita kasih yang dihayati dalam selibat mempunyai nilai mistik dan sosial atau politis; kasih itu adalah cinta tak terbagi kepada Allah, Sang Absolut yang tunggal, yang memberi makna pada keberadaan diri kita; kasih itu juga adalah kasih preferensial, cuma-cuma dan membebaskan bagi orang yang rendah dan miskin, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah – kesamaan, solidaritas dan martabat pribadi manusia - dapat berakar dan menyebar dalam komunitas manusia.

63.                         Karisma kemurnian yang dibaktikan adalah anugerah Allah,[218] tetapi kita sadar bahwa kita membawa anugerah ini dalam bejana tanah liat,[219] yaitu dalam kemanusiaan kita yang lemah dan rapuh. Karena itu kita merasa perlu menghayati nilai-nilai yang mengembangkan integrasi yang seimbang dan matang dari afektifitas dan kemampuan untuk akrab dengan sikap Injili yang selaras dengan bentuk hidup kita.

Agar selibat kita yang dipilih demi Kerajaan Allah menjadi sarana yang memadai untuk kedewasaan kita sebagai manusia dan untuk perkembangan iman kita, kita perlu mendidik diri kita terutama dalam kasih sejati di antara para saudara,[220] komunikasi dan dialog bersama, dan dalam kemampuan mengasihi sesama tanpa mau memilikinya, melainkan menghargainya sebagai pribadi. Selain itu  kita juga harus belajar tentang makna pemberian dan pelayanan cuma-cuma serta tranparansi dalam persahabatan. Akhirnya kita harus memaknai keheningan sebagai perhatian pada Sabda dan asketisme kristiani sebagai sesuatu yang memurnikan perasaan kita dan membaharui relasi yang sejati dengan orang lain, dengan berpartisipasi dalam salib Kristus yang mewujudkan kasihNya tanpa pamrih kepada BapaNya dan saudara-saudariNya sampai sehabis-habisnya.


Bab V

Doa

  1. Doa pada umumnya

  1. Allah Tritunggal menarik kita kepada persekutuan dengan-Nya dan satu sama lain dalam iman, harapan dan kasih. Keutamaan-keutamaan ini dialami, dipupuk dan diungkapkan dalam doa, bila kita mengarahkan perhatian kita kepada Allah, dalam bentuk penghormatan dan kasih, dengan mendengarkan penuh ketaatan, dalam penyesalan tulus iklas dan dalam permohonan penuh harapan.[221]

Doa adalah buah karya Roh Kudus dalam diri kita dan dalam hidup kita. Dialah yang berkata-kata apabila kita tak mampu berkata-kata. Ia membimbing kita kepada persatuan dengan seluruh Gereja dan membantu kita untuk memperdalam pengalaman kita akan Allah.

Tradisi doa Karmel dibangun atas pengalaman doa konkrit para anggotanya sepanjang sejarah. Pengalaman ini mengisahkan sejarah kehadiran Allah yang penuh kasih dalam hidup para Karmelit, sehingga seorang Karmelit dapat berkata bersama pemazmur: ‘Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan namaNya!’, dan ‘Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu; berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya’.[222] 

Sejak awal berdirinya Ordo Karmel telah melaksanakan baik hidup doa maupun kerasulan doa. Doa adalah pusat dari hidup kita, dan darinya muncul komunitas dan pelayanan otentik.[223] Doa komunitas Karmel melambangkan Gereja yang berdoa bagi dunia. Hal ini mengingatkan kita akan teladan Maria, Bunda Yesus, yang ‘menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya’ sambil memuji karya agung yang dikerjakan Tuhan dalam dirinya.[224] 

Dengan merenungkan dan menyelami makin mendalam misteri Kristus, kita menjadi semakin taat dalam hidup mengikuti Kristus, dengan komitmen yang senantiasa semakin kuat untuk berkarya sebagai murid-muridNya bagi penebusan umat manusia.[225]

Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajar kita berdoa dengan cara yang mempersatukan surga dan bumi. Oleh sebab itu di dalam spiritualitas kita, kasih bagi dunia dan pengalaman akan yang transenden kita perpadukan.[226]

65.                Dengan mencari inspirasi dalam sumber-sumber asli spiritualitas kristiani, kita mempersatukan pengalaman kita akan Allah dengan pengalaman manusiawi kita. Apabila kita berdoa, kita ingat akan kebutuhan dan keprihatinan dunia tempat kita hidup, bersama dengan kesadaran akan penggilan kita untuk melayani seluruh anggota Gereja.[227] Hal ini menuntut komunitas untuk mencari metode-metode doa yang baru, misalnya meditasi bersama, doa alkitabiah bersama, dan juga bentuk-bentuk baru lainnya.[228]

66.                Doa dapat mengambil berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan komunitas dan pribadi; doa perlu dipupuk dengan cara mencari Allah secara terus-menerus, yang didukung oleh lectio divina, studi, meditasi dan sakramnen-sakramen. Mencari Allah secara terus-menerus hendaknya menjadi dasar dan ungkapan tertinggi dari hidup bersama.

67.                Keheningan dan kesunyian yang harus diusahakan tiap orang dan komunitas membuat kita siap mendengarkan suara Roh Kudus.[229] Karena itu dalam setiap rumah Ordo hendaknya kita menciptakan dan memelihara suasana keheningan, samadi dan kesunyian. Dengan demikian kita dapat melibatkan diri dengan lebih mudah dalam doa pribadi serta lebih berhasil dalam studi dan karya.[230] Namun, norma-norma khusus mengenai hal tersebut ditetapkan oleh Kapitel lokal sesuai dengan Statuta Provinsi.

68.                        Bila mungkin akan sangat bermanfaat apabila setiap Provinsi dan Regio mendirikan dan mengembangkan pusat-pusat spiritualitas, retret dan studi yang dapat menyediakan kesempatan samadi dan retret bagi para biarawan dan bagi mereka yang mencintai spiritualitas Ordo.

                         Selain itu hendaknya dalam Ordo dikembangkan kerjasama antara pusat-pusat spiritualitas dan rumah-rumah studi yang ada pada tingkat regional maupun internasional.         

2. Doa Liturgis

69.                        Sebagai biarawan kita dipanggil untuk merayakan secara bersama-sama Kurban Ekaristi dan ibadat harian menurut teladan Gereja awali.[231] Doa liturgis merupakan bentuk tertinggi pertemuan komunal dengan Allah dan mewujudkan apa yang dirayakan. Doa pribadi[232] berkaitan erat dengan doa liturgis; yang satu mengalir dari yang lain.[233]

70.                        Perayaan harian Kurban Ekaristi hendaknya menjadi ‘pusat dan puncak seluruh hidup komunitas’.[234] Dengan perayaan Ekaristi kita mengungkapkan kerinduan kita untuk pergi bersama Kristus sampai pada Bapa. Kepada-Nya kita mempersembahkan hidup kita sehari-hari dalam pengurbanan total yang bersatu erat dengan misteri paskah Kristus, agar dengan Kristus sebagai Pengantara, kita disempurnakan dari hari ke hari dalam persatuan dengan Allah dan sesama sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua. [235] 

                        Dalam perayaan Ekaristi dimana kita berbagi dalam perjamuan Tuhan dan mengambil bagian dalam buah kurban Kristus, komunitas dibangun, dan persatuan kita dengan seluruh keluarga para beriman dibangun dan diungkapkan.

71.                        Liturgi suci mempersatukan kita dengan kesaksian para rasul dan iman seluruh Gereja. Perayaan liturgi bersama merupakan ciri utama Regula kita.[236]  Selain perlu mempersiapkan liturgi secara seksama, kita juga hendaknya bertumbuh dalam cinta akan liturgi dan dalam keinginan akan pembaharuannya. Dengan demikian kita berharap dapat memperdalam partisipasi kontemplatif kita dalam misteri yang kita rayakan.

72.                        Doa publik Gereja adalah perwujudan partisipasi kita dalam Gereja yang berdoa, yang bersama Kristus ‘memuji Allah tanpa henti dan berdoa bagi keselamatan dunia’.[237] Berkat keunggulannya yang khusus sebagai doa publik dan resmi Gereja, liturgi menjadi sumber efektif bagi hidup rohani para pendoa.[238]

                        ‘Liturgi Ibadat Harian memperluas pujian dan doa ke berbagai waktu sepanjang hari, menghadirkan misteri keselamatan, doa permohonan dan antisipasi kemuliaan surgawi sebagaimana yang ditawarkan kepada kita dalam perayaan Ekaristi’.[239] Liturgi Ibadat Harian bersama dengan perayaan Ekaristi melestarikan secara terus menerus sepanjang tahun liturgi misteri-misteri penebusan yang dilaksanakan Tuhan kita Yesus Kristus bagi kita, agar kita dapat berhadapan dengannya dan karena itu kita dipenuhi oleh rahmat keselamatan.[240]                        

73.                        Liturgi Ibadat Harian hendaknya dirayakan secara bersama-sama. Maka hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga semua dapat mengikutinya. Bila di suatu komunitas tertentu ada kesulitan khusus, sekurang-kurangnya Ibadat Pagi dan Ibadat Sore hendaknya didoakan secara bersama-sama setiap hari.

                        Bagian-bagian yang tidak didoakan secara bersama karena alasan apapun, hendaknya didoakan secara pribadi.[241]

74.                        Di tempat-tempat di mana kita melaksanakan kegiatan pastoral, pantaslah kita merayakan beberapa bagian liturgi Ibadat Harian bersama dengan umat beriman.[242]

75.                        Kita hendaknya seringkali melakukan pengakuan dosa kepada Gereja melalui sakramen tobat dan juga dalam perayaan tobat bersama menurut kebiasaan Gereja setempat. Dengan demikian berkat kerahiman Allah kita mendapatkan pengampunan atas dosa yang telah kita lakukan terhadap Allah dan kita sekaligus diperdamaikan kembali dengan Gereja.[243]

76.                        Setiap biarawan Ordo berhak mengaku dosa kepada imam manapun yang hidup dalam persekutuan penuh dengan Gereja; berdasarkan Konstitusi ini imam tersebut langsung menerima yuridiksi bila perlu.

3. Doa Pribadi

77.                        Setiap orang Kristiani pasti dipanggil untuk berdoa bersama, namun mereka juga hendaknya mengundurkan diri untuk berdoa kepada Bapa di tempat tersembunyi.[244] Praktek hidup dalam hadirat Allah, suatu tradisi Karmel, secara berangsur-angsur menjadi sulit dilakukan pada zaman modern ini. Maka kita hendaknya berusaha saling membantu mencari Allah lewat doa yang berkaitan erat dengan hidup kita sehari-hari.

                        Dengan cara yang sama para Karmelit diundang untuk mengalami secara lebih mendalam bentuk-bentuk doa yang umumnya sesuai dengan spiritualitas khas kita. Kita dianjurkan untuk mencari bentuk-bentuk baru doa yang sesuai dengan karisma kita.

78.                        Pembinaan rohani hendaknya langsung berkaitan dengan pendidikan doktrinal dan pastoral; pembinaan itu hendaknya diberikan sedemikian rupa sehingga kita dapat belajar hidup dalam persekutuan mesra dan akrab dengan Bapa, lewat Putera-Nya Yesus Kristus, dan dalam Roh Kudus. Hendaknya kita menghayati misteri Paskah dan mencari Kristus dalam hidup kita sehari-hari, dalam partisipasi aktif dalam Ekaristi dan liturgi Ibadat Harian, dalam diri umat manusia, khususnya kaum miskin, orang-orang sakit, anak-anak dan mereka yang tidak beriman. Seluruh hidup kita hendaknya dipenuhi dengan rasa religius yang mendalam sehingga kita dapat melihat peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri dan dunia sekitar kita dalam cahaya Allah.[245]

                        Oleh sebab itu seluruh hidup kita hendaknya bersifat kontemplatif secara mendalam sehingga kita melihat segala yang terjadi bagaikan dengan mata Allah.

79.                         Kontemplasi dalam tradisi Karmel benar-benar suatu anugerah cuma-cuma dari Allah. Allah yang mengambil prakarsa, datang kepada kita, meresapi kita semakin mendalam dengan hidup dan kasih-Nya, dan kita menanggapinya dengan memperkenankanNya berperan sebagai Tuhan atas hidup kita.

                        Kontemplasi adalah sikap terbuka kepada Allah yang hadirat-Nya kita temukan di mana-mana. Dengan demikian kita mengikuti teladan nabi Elia yang selalu mencari Allah, dan Maria yang menyimpan segalanya di dalam hatinya.[246]

80.                         Doa hening memberikan bantuan yang sangat besar untuk meningkatkan semangat kontemplasi dalam diri kita. Oleh sebab itu setiap hari kita hendaknya menyediakan waktu yang memadai untuk doa hening tersebut.

81.                         Selain itu hidup doa juga menuntut kewajiban memeriksa hidup kita dalam cahaya Injil, sehingga doa dapat mempengaruhi hidup pribadi maupun hidup berkomunitas kita.[247]

82.                        Lectio divina merupakan sumber sejati spiritualitas kristiani yang dianjurkan oleh Regula.[248] Maka hendaknya kita melaksanakannya setiap hari untuk memupuk cinta yang mendalam dan sejati untuk itu, sehingga kita dapat berkembang dalam pengenalan akan Yesus Kristus.[249] Dengan demikian kita melaksanakan perintah Rasul Paulus yang tercantum dalam Regula: ‘Hendaknya pedang roh, yaitu Firman Allah, diam berlimpah-limpah dalam mulut dan hatimu, dan segala sesuatu yang harus kamu lakukan, lakukanlah itu dalam nama Tuhan.’[250]

                        Disarankan agar lectio divina dilaksanakan secara bersama dengan teratur sehingga para saudara dapat berbagi pengalaman akan Allah dan menjawab bersama-sama tantangan sabda-Nya.

83.                        Pembacaan buku-buku rohani, terutama karya para penulis Ordo kita sangatlah dianjurkan.

84.                        Retret dan rekoleksi hendaknya diatur oleh komunitas menurut petunjuk Statuta Provinsi.

                        Hal yang paling utama adalah bahwa doa hendaknya menjiwai seluruh hidup kita, agar dalam iman, harapan dan kasih kita dapat memuliakan nama Bapa di bumi dalam persatuan dengan Kristus. ‘Kita perlu senantiasa berdoa.’[251]

4. Penghormatan kepada Santa Perawan Maria dan para kudus.

85.                        Selama hidupnya di dunia Santa Perawan Maria tampil sebagai teladan sempurna bagi murid Kristus. Karena itu Gereja dalam misi kerasulannya mengikuti teladan Perawan Bunda Allah, model sempurna dalam mengikuti Kristus,[252] khususnya dalam keterlibatannya bagi penebusan kita; dalam hal ini Perawan Maria berperan secara aktif dari ‘Fiat’nya untuk Penjelmaan sampai pada kehadirannya di kaki salib, dan dalam solidaritasnya dengan komunitas Kristiani awali yang berhimpun dalam doa.[253] 

86.                        Penghormatan kepada Santa Perawan Maria dan kewajiban untuk menyebarkannya termasuk bagian intrinsik misi yang diemban oleh Ordo di dalam Gereja. Maka, dengan tetap mengacu pada tujuan Gereja[254], hendaknya kita dengan bersemangat mengembangkan penghormatan kepada Santa Perawan Maria, terutama dalam hal liturgi. Keteladanan Santa Perawan Maria yang timbul dari perayaan liturgi itu sendiri[255] mengajak umat beriman untuk meneladan ibu-Nya dan melalui dia meneladan Puteranya. Dengan demikian umat beriman diajak untuk merayakan misteri Kristus dengan perasaan dan sikap sebagaimana Perawan memandang Puteranya di Betlehem, di Nazaret dan pada saat wafatNya, serta bersama para putera barunya bersorak atas kebangkitan-Nya.[256]

                        Kita sangat menghargai praktek kesalehan dan devosi kepada Bunda Perawan yang telah diajarkan selama berabad-abad oleh magisterium Gereja.[257] Dengan tetap mempertahankan bentuk-bentuk devosi tradisional kepada Maria (misalnya: mengenakan skapulir, berdoa rosario), bentuk-bentuk devosi baru hendaknya diperkenalkan.[258]

87.                        Sebagai Karmelit kita menyatakan devosi kita kepada Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel dengan merayakan pestanya dengan meriah setiap tahun. Pesta-pesta Maria lainnya dari penanggalan liturgi hendaknya juga dirayakan dan apabila peraturan liturgi mengijinkan, dianjurkan untuk merayakan Misa Votif Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel dan ofisi Santa Maria pada hari Sabtu. Lagi pula diajurkan agar tiap komunitas berkumpul setiap hari untuk menyanyikan Flos Carmeli, Salve Regina atau antifon Maria lainnya, menurut masa liturgi.  

88.                        Sepanjang tahun liturgi Gereja merayakan misteri Paskah Kristus dalam diri para kudus.[259]

                        Para Karmelit dipanggil untuk merayakan para kudusnya dengan devosi khusus, sambil menemukan dalam diri mereka ungkapan paling hidup dan sejati karisma dan spiritualitas Ordo selama berabad-abad. Hari raya nabi Elia, peringatan nabi Elisa dan hari raya pelindung Ordo, yakni Santo Yosef, Yoakim dan Anna hendaknya dirayakan dengan kemeriahan khusus.

89.                         Skapulir Karmel sebagai sakramentali Gereja adalah lambang yang sesuai untuk mengungkapkan devosi kita kepada Santa Perawan Maria, dan merupakan lambang persatuan umat beriman pada keluarga Karmel. Skapulir ini mengingatkan kita akan keutamaan-keutamaan Santa Perawan yang hendaknya kita kenakan, dan terutama mengingatkan kita akan persatuan mesra dengan Allah dan pengabdian penuh rendah hati kepada sesama di dalam Gereja Allah, dalam harapan akan keselamatan kekal.[260]

                        

90.                        Tempat ziarah Maria, tempat kita melaksanakan karya kerasulan kita dan ke tempat itu umat beriman datang berduyun-duyun, hendaknya amat dihargai. Tempat tersebut hendaknya semakin dijadikan pusat untuk mendengarkan Sabda dalam suasana doa, dan hendaknya disitu ada hidup liturgi dengan perayaan yang memadai (Ekaristi dan Rekonsiliasi). Khususnya tempat-tempat ziarah kita hendaknya menjadi pusat-pusat refleksi atas perjalanan Maria dan pusat evangelisasi dengan memperhatikan religiositas rakyat kepada Bunda Alah, Bunda Gereja dan semua manusia. Tempat-tempat ziarah tersebut hendaknya juga mempunyai fungsi keteladanan, dan menjadi tempat pertemuan yang menarik panggilan, tempat solidaritas yang menyajikan pelayanan kepada saudara-saudara yang miskin, tempat kita terlibat dalam gerakan ekumenis dengan pertemuan dan doa.[261]


BAB VI

Misi Kerasulan kita - Gagasan Umum

  1. Misi Karmel mengambil bagian dalam misi Yesus, yang diutus untuk mewartakan khabar baik Kerajaan Allah dan membebaskan manusia seluruhnya dari setiap dosa dan penindasan.[262] Oleh karena itu kerasulan kita sebagai Karmelit merupakan bagian integral dari karisma kita. Dalam kerasulan ini kita dibimbing oleh ajaran para Gembala Gereja, tradisi kita dan nilai-nilainya, tanda-tanda zaman, dan terutama dengan penuh perhatian mendengarkan Sabda dan menafsirkannya dari sudut pandang kaum miskin. Kita perlu mengevaluasi dan membaharui pelayanan (diakonia) kita dalam Gereja, agar kita dapat menanggapi masalah-masalah yang timbul dari keadaan budaya, sosial dan religius umat.[263] Dalam melaksanakan misi, kita hendaknya memperhitungkan karisma dan bakat para saudara, dan sekaligus batasan-batasan alamiah dari sumbangan kita.

  1. Kita para Karmelit pertama-tama dan terutama hendaknya melaksanakan misi kita di tengah umat melalui kekayaan hidup kontemplatif kita. Karya kenabian kita dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk pelayanan kerasulan. Tetapi karena tidak setiap bentuk kerasulan mudah diselaraskan dengan karisma kita atau dengan kemampuan komunitas tertentu, maka kita hendaknya selalu melakukan penegasan atas berbagai kemungkinan yang muncul dalam tiap keadaan.

  1. Dengan diilhami orientasi mendasar karisma kita serta konteks gerejani dan sosial dewasa ini, beberapa petunjuk berikut ditawarkan sebagai pedoman penegasan dalam misi kerasulan kita:[264]

Dengan demikian kita berusaha mendengarkan Allah yang berbicara kepada kita melalui Kitab Suci dan sejarah umat kita.

  1. Karena itu kita hendaknya mempelajari kebutuhan serta tuntutan religius dan sosial pada setiap tempat dan waktu, agar kita dapat memperkuat kesaksian kita akan semangat komunitas di antara seluruh umat Allah dengan berbagai kegiatan kerasulan yang sesuai, yang diprakarsai dan dilaksanakan dalam semangat kerja sama persaudaraan.

  1. Dengan tetap setia kepada warisan rohani Ordo, hendaknya kita menyalurkan berbagai kegiatan kita untuk mendorong usaha mencari Allah dan meningkatkan hidup doa. Dalam berbagai kerasulan hendaknya kita diilhami Maria: keberadaannya di antara para Rasul,[265] keibuannya bagi Gereja yang diterimanya pada kaki Salib, sikap mendengarkan Sabda Allah dan ketaatannya yang total kepada kehendak ilahi. Untuk mencapai tujuan ini hendaknya kita membina dan memupuk kenangan akan Maria dan devosi kepadanya di antara umat.

  1. Dalam Kitab Suci dan tradisi Karmel nabi Elia dihormati sebagai orang yang tahu membaca tanda-tanda baru kehadiran Allah dengan pelbagai cara, Ia berusaha mendamaikan mereka yang menjadi asing atau seteru.

        Sebagai Karmelit yang disemangati oleh teladannya dan keinginan kita yang kuat untuk mewujudkan ajaran Tuhan tentang kasih dan rekonsiliasi, hendaknya kita mengambil bagian dalam gerakan ekumenis dan dialog antar agama yang dianjurkan oleh Konsili Vatikan II.[266] Mengenai yang pertama kita hendaknya mengembangkan hubungan dengan para Ortodoks dan orang-orang Kristen lainnya. Sehubungan dengan yang kedua hendaknya kita membina dialog dengan kaum Yahudi dan Muslim pada tingkat yang berbeda-beda; dengan mereka kita berbagi mengenai devosi kepada nabi Elia sebagai manusia Allah; kita juga hendaknya berdialog dengan kaum Hindu serta Buddhis dan penganut agama-agama lainnya.[267]

        Lagi pula para Karmelit hendaknya siap untuk mendampingi setiap orang yang dengan tulus-ikhlas ingin mengalami sang transenden dalam kehidupannya dan yang hendak berbagi pengalamannya akan Allah.


BAB VII

Pengutusan kerasulan kita dalam Gereja setempat

  1. Sambil tetap mempertahankan ciri universalnya, Ordo berusaha melibatkan diri sepenuhnya dalam Gereja-gereja setempat. Hal ini berarti bekerja sama dengan berbagai unsur Gereja-gereja tersebut.[268] Dalam Gereja setempat kita hendaknya menawarkan sumbangan karisma kita bagi karya penginjilan dengan memupuk dimensi kontemplatif kehidupan dan persaudaraan serta komitmen konkret bagi keadilan.

  1. Sejauh memungkinkan dan dengan tetap memperhatikan peraturan dan kebijakan pastoral Gereja dan Ordo, kita hendaknya siap melaksanakan berbagai bentuk kerasulan yang diminta oleh Gereja menurut kebutuhan tempat dan waktu.[269] Hal itu dapat kita capai melalui kerasulan parokial, pelayanan kaum beriman dalam Gereja-gereja, pendidikan kaum muda di sekolah dan di tempat lain, retret, studi, bimbingan rohani, pengajaran tentang masalah-masalah rohani dan prakarsa lain.

  1. Dengan dipandu oleh Magisterium dan mengacu kepada dokumen-dokumen resmi Ordo serta tanda-tanda zaman, kita hendaknya dengan sukarela mengundang dan memperkenalkan kepada kaum beriman tradisi kita yang kaya dan pengalaman kontemplasi. Kita hendaknya mendukung kaum awam dalam mengembangkan anugerah dan karisma khusus mereka[270] sehingga mereka dapat melibatkan diri dalam perutusan Gereja. Perutusan kita, sebagaimana diatur dalam no. 93 dan 97, ialah melaksanakan dan menerima evangelisasi di dalam Gereja, suatu misi yang secara khusus ditujukan bagi mereka yang tersesat.

  1. Kita juga melaksanakan perutusan kita melalui pekerjaan yang kita lakukan di paroki-paroki dalam menjawab kebutuhan pastoral Gereja-gereja setempat. Suatu paroki baru diterima melalui kesepakatan tertulis, yang disusun menurut ketetapan hukum kanon antara Prior Provinsial dengan persetujuan Konsiliumnya, dan Ordinaris wilayah.[271]

        Statuta Provinsi hendaknya menetapkan kriteria yang harus dipenuhi dalam penerimaan paroki.

  1. Jika paroki didirikan dalam gereja milik Ordo, dalam kesepakatan tersebut hendaknya ditetapkan dengan jelas hubungan antara paroki dan komunitas religius, terutama sehubungan dengan penggunaan gereja dan soal-soal keuangan.

  1. $ 1.        Untuk menerima jabatan dalam keuskupan, Prior Provinsial, setelah berkonsultasi dengan Konsiliumnya, dapat mengizinkan atau mengajukan kepada Uskup saudara-saudara yang dianggap cukup cakap untuk tugas tersebut.

$ 2.        Sebagai seorang religius para saudara yang bertugas di keuskupan sesuai dengan kesepakatan tetap berada di bawah otoritas pemimpinnya sendiri. Sedangkan dalam hal-hal yang menyangkut tugasnya, mereka berada di bawah otoritas yang mereka abdi.[272]

  1. Mereka yang melaksanakan suatu pelayanan dalam keuskupan, berada di bawah yuridiksi Uskup dalam segala hal yang menyangkut pelaksanaan karya pastoral, menurut ketetapan hukum kanon. [273]

  1. Statuta Provinsi dapat menetapkan apakah jabatan Pastor paroki dan Prior setempat dapat diemban oleh satu orang yang sama dan menetapkan periode waktu maksimal masa bakti biarawan dalam jabatan Pastor paroki di paroki yang sama, demikian pula tentang hubungan timbal balik antara Pastor paroki dan komunitas para biarawan dalam hal kerja sama di bidang kegiatan kerasulan paroki.

  1. Misi ad gentes, yakni pewartaan Injil di mana Injil tak dikenal, adalah salah satu kegiatan mendasar Gereja,[274] karena Gereja pada hakekatnya adalah misioner.[275] Pelaku utama perutusan “ad gentes” ialah Roh Kudus,[276] yang mengilhami Provinsi dan Komisariat untuk menugaskan para anggotanya dalam karya itu, dan Roh Kuduslah yang memberikan karisma misioner kepada mereka yang diutus. Dalam karya ini Ordo melihat “peluang besar bagi kasih, pewartaan injili, pendidikan kristiani, budaya dan solidaritas dengan kaum miskin, kaum tersisihkan, kaum tertindas dan kaum yang terdiskriminasi”[277]

        Seluruh komunitas kita hendaknya mendukung komitmen hakiki ini melalui doa dan membangkitkan kepekaan kaum beriman untuk terlibat langsung dan memberi bantuan materiil menurut kemampuan mereka.

        Kegiatan misioner menuntut suatu spiritualitas khusus,[278] dan melibatkan proses inkulturasi, maka kita percaya bahwa perutusan “ad gentes” akan mewujudkan inti karisma Karmel dengan cara yang baru demi kepentingan Gereja dan Ordo.


BAB VIII

Perhatian bagi Keluarga Karmel

  1. Karena Rasul menasihatkan kepada kita untuk berbuat baik kepada semua, terutama kepada saudara-saudari dalam iman,[279] maka para anggota Ordo hendaknya membina kasih dan perhatian terhadap mereka yang menimba inspirasi dari cita-cita Karmel yang sama. Karena kharisma Karmel diberikan kepada Keluarga Karmel secara keseluruhan, maka setiap anggota mempunyai peranan penting dalam formasio anggota lain dalam lingkup apapun, agar berbagai ungkapan hidup Karmel dapat saling diperkaya.

  1. Kita hendaknya mendampingi para rubiah Karmel dan sejauh mungkin kita saling mendukung. Setiap Provinsi yang mempunyai sekurang-kurangnya satu biara rubiah Karmel hendaknya mengangkat seorang Delegat Provinsial bagi para Rubiah menurut ketetapan Statuta Provinsi. Selain itu hendaknya diangkat seorang Delegat Jenderal yang bertanggungjawab untuk mengembangkan relasi di antara biara-biara dan untuk saling bertukar informasi. Delegat Jenderal hendaknya bekerjasama dengan Asisten Federal Religius bila ada.

  1. Kerja sama timbal balik dengan para suster tarekat-tarekat yang beraffiliasi dengan Ordo hendaknya dikembangkan.

  1. Ordo Karmel juga diperkaya oleh kaum beriman yang di bawah inspirasi Roh Kudus menata hidupnya menurut ketetapan-ketetapan Injil dalam semangat Karmel. Ordo ketiga dan berbagai bentuk kehidupan Karmelit awam mempunyai pengaruh atas semangat dan struktur seluruh keluarga Karmel. Hendaknya kita membantu mereka untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan dalam menyembuhkan dan mengembangkan masyarakat dengan ragi Injil. Seorang Delegat Jenderal untuk para karmelit awam dalam berbagai bentuknya hendaknya diangkat. Statuta Provinsi hendaknya menentukan berbagai delegat pada tingkat-tingkat yang lain.


BAB IX

Pengutusan Kerasulan dan Perwujudan Keadilan

dan Perdamaian di Dunia

  1. Kristus membawa keselamatan manusia bukan sebagai orang asing atau orang dari luar sejarah dunia. Sebaliknya, Ia menyamakan DiriNya baik dengan bangsa-Nya maupun dengan seluruh umat manusia. Dan mereka “yang mengaku diri murid Kristus hendaknya mendengarkan panggilanNya terutama bila Ia berkata: ‘Aku lapar dan kamu memberi Aku makan; Aku haus dan kamu memberi Aku minum; Aku orang asing dan kamu menerima Aku; Aku telanjang dan kamu memberi Aku pakaian; Aku sakit dan kamu mengunjungi Aku; Aku di penjara dan kamu datang melawat Aku’”.[280]

  1. Kita hidup dalam dunia yang penuh ketidak-adilan dan keresahan. Tugas kita adalah untuk membantu menemukan penyebab keadaan ini, solider dengan penderitaan kaum pinggiran, berpartisipasi dalam perjuangan mereka bagi keadilan dan perdamaian, berjuang bagi pembebasan mereka seutuhnya dan membantu mereka mewujudkan kerinduan mereka akan hidup yang layak.[281]

  1. Kaum miskin, “orang-orang kecil” (minores), merupakan mayoritas penduduk dunia. Masalah-masalah mereka yang kompleks berhubungan dengan dan untuk sebagian besar disebabkan oleh hubungan-hubungan internasional, dan khususnya oleh sistem-sistem ekonomi dan politik yang berkuasa di dunia dewasa ini. Kita tidak dapat tinggal acuh tak acuh di tengah jeritan para tertindas yang memohon keadilan.[282]

  1. Kita hendaknya mendengarkan dan menafsirkan realitas dari sudut pandang kaum miskin yang tertindas oleh situasi ekonomi dan politik yang menguasai umat manusia dewasa ini. Masalah mereka banyak, dan kita hendaknya menentukan prioritas di dalam menghadapinya. Dengan demikian kita akan menemukan kembali Injil sebagai kabar baik dan Yesus Kristus sebagai pembebas dari setiap bentuk penindasan.

  1. Realitas sosial menantang kita. Bila memperhatikan jeritan kaum miskin dan setia pada Injil, kita hendaknya berdiri pada pihak mereka, mengutamakan para “minores”. “Dalam Ordo ada keinginan untuk semakin berpihak pada orang kecil dari sejarah untuk membawa amanat harapan dan keselamatan kepada mereka, lebih dalam bentuk perbuatan daripada hanya sekedar kata-kata.. Hal ini dianjurkan karena sejalan dengan karisma Ordo, yang dapat diringkas dalam “vivere in obsequio Jesu Christi”: hidup mengikuti Yesus Kristus berarti juga hidup mengikuti kaum miskin dan mereka yang lebih mencerminkan wajah Kristus”.[283]

  1. Inspirasi kita yang bersumber pada Elia, yang menjadi dasar karisma kenabian, mengundang kita untuk bersama ‘orang kecil’ menempuh jalan yang ditempuh oleh sang nabi pada zamannya, yaitu: jalan keadilan dengan melawan ideologi palsu dan menuju pengalaman konkret akan Allah yang hidup, jalan solidaritas dengan membela dan memihak pada korban ketidakadilan, jalan mistik dengan berjuang bagi kaum miskin untuk memulihkan kepercayaan pada diri sendiri dengan membaharui kesadaran mereka bahwa Allah ada pada pihak mereka.[284]

  1. Untuk menyiapkan dan mendidik diri agar dapat menerima “keadaan kaum miskin” secara Injili, kita perlu membaca ulang Kitab Suci dari sudut pandang kaum miskin, tertindas dan pinggiran, memandang prinsip-prinsip kristiani dalam hal keadilan dan perdamaian sebagai suatu bagian integral formasio kita di segala tingkat, menyelami situasi kaum miskin, menggunakan analisis sosial dalam cahaya iman sebagai sarana untuk menemukan dosa yang menjelma dalam struktur-struktur politik, sosio-ekonomis dan kultural tertentu,[285] membela dan mengembangkan setiap tanda  kehidupan bahkan yang terkecil sekalipun.


 BAGIAN KETIGA

FORMASIO

BAB X

Proses formatif Karmel

  1.  Formasio Karmelit merupakan suatu proses yang khusus; melalui proses ini seseorang belajar mengidentifikasi dirinya secara penuh dengan cita-cita hidup Karmelit, yang mencakup persaudaraan kontemplatif di tengah umat.

        Para Karmelit belajar untuk semakin menjadi murid sejati Yesus melalui formasio, mengambil bagian dalam kurban-Nya kepada Bapa dan berbagi sepenuhnya dalam misi-Nya bagi kesejahteraan umat manusia menurut karisma khas Ordo Karmel.

  1.  Karena pembaptisan dan krisma para Karmelit dipanggil kepada kedewasaan dalam Yesus Kristus dan karena itu melakukan secara terus-menerus pertobatan hati dan transformasi rohani. Hal ini merupakan proses yang berlangsung seumur hidup yang membawa para Karmelit ke dalam persatuan yang lebih erat dengan Yesus Kristus, saudara kita, dalam semangat solidaritas dan ketergantungan timbal balik dengan semua orang yang membutuhkan pembebasan dan dengan seluruh ciptaan yang menantikan penebusan.[286]

        Lewat proses pendewasaan ini para biarawan mampu menangkap secara objektif realitas pribadi dan kelompok, menilai secara kritis dan kemudian mengungkapkan perbedaan antara teori dan praktek serta terus menerus bertumbuh dalam relasi antar pribadi dan komuniter.

  1.  Komunitas-komunitas kita hendaknya mengembangkan gaya hidup yang mengungkapkan pertobatan dan perkembangan hidup dalam Kristus secara terus menerus, yang tampak dalam rasa syukur atas panggilan yang telah diterima. Dengan cara ini keberadaannya akan merupakan pewartaan kabar baik dan memikat serta mengundang panggilan baru.[287]

  1. Pedoman berikut ditujukan kepada para calon formasio awal. Pedoman tersebut mencerminkan proses formasi kita. Hubungan antara para biarawan yang sudah mengikrarkan kaul dan para calon baru hendaknya didasarkan pada interaksi dan keterbukaan timbal balik di bawah dorongan Roh Kudus. Para biarawan yang serius mewujudkan tuntutan Ordo dan karisma tradisi kita yang hidup, sedangkan para calon baru menantang dan mendorong kita melalui karunia pribadi yang mereka peroleh dari Roh Kudus, sehingga dapat memperkaya dan membaharui hidup Karmel.[288] 

BAB XI

Pelayanan formasio

  1. Proses formasio dalam berbagai tahapnya dipercayakan kepada tanggung jawab para formator yang matang baik dalam pengalaman manusiawi maupun dalam hidup bakti serta mampu memberi bimbingan dan mendampingi para calon dalam perjalanannya.

  1. Para pemimpin tinggi atau kapitel hendaknya mengangkat para formator yang cakap dan dipersiapkan secara khusus untuk tugas yang hendak mereka laksanakan;  mereka tidak perlu ragu-ragu membebaskan para formator dari tugas-tugas lain yang tampaknya lebih penting, namun tidak sebanding dengan tugas formator.[289]

        Mengingat penting dan beratnya tanggung jawab para formator ini, maka mereka yang terlibat dalam tugas ini hendaknya menerima dukungan dan pemikiran tertentu, serta perhatian khusus perlu diberikan atas kesehatan mereka.

  1. Pada setiap tahap formasio, para formator hendaknya dibantu oleh suatu tim[290] yang dapat melibatkan juga anggota-anggota non-Karmelit, yang membantu mereka mendampingi para calon dan melakukan evaluasi serta mengambil keputusan tentang mereka.

  1. Prior Provinsial dan Konsiliumnya hendaknya terlibat langsung dalam formasio, dengan mengadakan kunjungan, pertemuan, tanya jawab, dan bersama-sama dengan tim melakukan evaluasi dan membuat keputusan akhir.

  1. Arah dan pedoman umum dari segala yang menyangkut formasio untuk Ordo secara keseluruhan merupakan wewenang Prior Jenderal atau delegatnya, sedangkan untuk masing-masing Provinsi wewenang Prior Provinsial atau delegatnya. Mereka semua hendaknya mengusahakan agar tugas formasio dilaksanakan dalam semangat tanggung jawab bersama penuh persaudaraan.

  1. Penanggung jawab utama formasio ialah para calon sendiri.[291] Mereka berbagi tanggung jawab ini dengan formator,[292] dengan komunitas dimana mereka mendapatkan formasio[293] serta dengan pemimpin tinggi dan delegatnya.

        Bantuan apapun yang diterima oleh calon hendaknya dapat mendorong mereka mengembangkan anugerah pribadinya sendiri agar mereka secara berangsur-angsur masuk ke dalam hidup Karmel dan bergabung pada Ordo.

        Calon hendaknya dibimbing sedemikian rupa sehingga ia mampu berbagi pengalaman, prakarsa, dan tugas-tugasnya dengan orang lain.

  1. Ketetapan-ketetapan dan prosedur formasio para calon yang baru hendaknya mencakup kriteria berikut: bakat-bakat dan aspirasi pribadi, tuntutan hidup bersama dan tuntutan konkret Gereja. Ketetapan formasio hendaknya sejalan dengan Regula, Konstitusi yang berlaku dan dokumen-dokumen resmi Ordo.

  1. Misi semua pendidik mencakup tanggung jawab berat yang dapat diringkas ke dalam ketetapan-ketetapan berikut: dengan melakukan penegasan terbuka terhadap gagasan dan metode baru formasio calon; mengembangkan kepekaan para calon terhadap masalah-masalah dan aspirasi manusia yang hendaknya mereka layani; mendidik para calon untuk melihat hidup manusia dan masalah-masalah konkretnya dalam cahaya Sabda Allah; mempersiapkan para calon untuk mampu menjadikan orang rekan kerja sejati dalam membangun persaudaraan manusiawi dan Injili, dan membentuk hati nurani yang baik sehingga mereka dapat bekerja sama dalam karya transformasi Allah.[294]

  1. Semua aspek proses formatif itu ditetapkan oleh Ratio Institutionis Vitae Carmelitanae (RIVC), yang disahkan Prior Jenderal dan Konsiliumnya. Delegatus Prior Jenderal bagi formasio bertugas untuk mengembangkan implementasinya. Sekurang-kurangnya sekali selama masa bakti enam tahun Prior Jenderal dan Konsiliumnya hendaknya mengadakan pertemuan semua formator dalam Ordo untuk merevisi dan membaharui RIVC.[295]

  1. Akhirnya, hendaknya mereka ingat bahwa masalah-masalah formasio yang senantiasa berubah tidak dapat dipecahkan dengan rumus siap pakai. Kita semua wajib melaksanakan formasio kita sebagai proses berkelanjutan untuk perkembangan dan pertumbuhan kita, dan dengan demikian mencari jalan baru dimana Allah sudi membimbing kita. Dengan saling berbagi dan bertukar pengalaman kita dapat lebih memahami apa yang diinginkan Allah dari kita. Usaha kita di bidang formasio hendaknya senantiasa diilhami Sabda Injil: “Kita hanyalah hamba yang tak berguna; kita hanya melakukan kewajiban kita.”[296]


BAB XII

Pelayanan panggilan

  1. Panggilan kepada hidup bakti dalam Ordo Karmel adalah anugerah Allah, namun kita menerimanya lewat Karmel. Sikap perseorangan dan komunitas Ordo membantu menegaskan panggilan tersebut. Tak ada sesuatu pun yang lebih mengembangkan panggilan daripada semangat para saudara yang menampakkan kebanggaan mereka menjadi Karmelit. Hal ini tampak dalam cinta mereka akan Sabda Allah, perayaan liturgi, hidup bersama, perayaan para Kudus Karmel, keberadaan di tengah umat dalam pengabdian dan pelayanan, dan dalam minat mereka untuk mengembangkan kegiatan dan publikasi Karmelit.

        Setiap Provinsi perlu mempunyai sekurang-kurangnya seorang penanggung jawab promosi panggilan dengan tugas untuk:[297]

  1. Menyemangati komunitas, mendorong keterlibatan anggota dalam pelayanan panggilan dan khususnya dalam pastoral panggilan kaum muda;
  2. Mengembangkan dan mengkoordinasi prakarsa panggilan dengan melibatkan terutama para Karmelit muda;
  3. Mencermati tanda-tanda panggilan pada para calon;
  4. Mendampingi para calon dalam perjalanan pertumbuhan panggilan mereka.

  1. Meskipun semua komunitas hendaknya melibatkan diri dalam promosi panggilan, namun perlu adanya suatu badan yang memadai pada tingkat Provinsi dan/atau antar provinsi. Tugas badan ini adalah mengorganisasi pengalaman-pengalaman hidup persaudaraan dan doa dalam kaitannya dengan aktivitas yang diadakan oleh komunitas-komunitas lain dan oleh mereka yang terlibat dalam pelayanan panggilan. Khususnya mereka hendaknya siap untuk menyambut, mengamati dan mendampingi mereka yang dalam proses penegasan panggilannya.

  1. Para promotor panggilan hendaknya mempunyai suatu jaringan dengan lembaga-lembaga pelayanan panggilan di negeri masing-masing.


BAB XIII

Tahap-tahap formasio

  1. Meski formasio merupakan proses seumur hidup, ada saat-saat dan tahap-tahap progresif tertentu. Tahap-tahap formasio awal terdiri dari: pra-novisiat, novisiat dan masa profesi sementara. Formasio untuk berbagai pelayanan di mulai pada formasio awal dan berlangsung terus setelah profesi kekal. Formasio berkelanjutan adalah proses seumur hidup.

Formasio awal dan formasio berkelanjutan hendaknya dilihat sebagai tahap-tahap proses yang berlangsung terus menerus dan mempunyai tujuan masing-masing.

  1. Pra-Novisiat

  1. Pra-novisiat bertujuan untuk membantu calon mengenal diri sendiri dengan lebih baik dan memahami motivasi panggilan secara mendalam, mengembangkan kekuatan mereka dalam menjawab panggilan tersebut, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengalami panggilan Allah secara bebas dan obyektif.

  1. Wewenang menerima calon masuk pra-novisiat terletak pada pemimpin tinggi atau delegatnya setelah mendengarkan pandangan mereka yang bertanggung-jawab atas pra-novisiat.

  1. Statuta Provinsi hendaknya menggariskan bentuk, masa dan isi pra-novisiat.[298]

  1. Setelah calon menyadari bahwa ia dipanggil Allah dan dinilai cakap, calon tersebut hendaknya diterima di novisiat menurut ketetapan hukum kanon.[299]

  1. Novisiat

  1. Novisiat adalah masa inisiasi ke dalam hidup Karmel.[300] Pada tahap ini calon hendaknya mengalami cara hidup kita agar mampu mengetahui apakah ia cakap untuk itu. Novis hendaknya dapat mengenal dan menghayati hidup mengikuti Kristus, yang miskin, murni dan taat, dalam kerangka karisma Ordo.[301]

  1. Novisiat hendaknya dilaksanakan dalam biara yang telah ditentukan untuk tujuan ini menurut hukum kanon.[302] Dengan persetujuan Konsiliumnya dan Prior Provinsial yang bersangkutan, Prior Jenderal berwenang untuk mendirikan, memindah dan menutup suatu rumah novisiat dengan dekrit tertulis. Dalam keadaan tertentu dia boleh menunjuk lebih dari satu rumah novisiat dalam provinsi yang sama.[303]

        Dalam kasus khusus, Prior Provinsial boleh memberi ijin kepada para novis yang berada di bawah wewenangnya untuk tinggal di salah satu rumah Ordo untuk jangka waktu tertentu.[304]

  1. Sebelum memulai novisiat, calon hendaknya menjalani retret sekurang-kurangnya lima hari lengkap.

  1. Untuk masuk novisiat secara sah calon harus sudah berusia tujuh belas tahun penuh.[305]

  1. Novisiat dimulai dengan upacara penerimaan masuk novisiat menurut rituale kita.

  1. Seluruh komunitas, di mana novis tinggal, hendaknya bersama-sama bertanggung jawab atas formasionya. Namun, pengarahan dan bimbingan formasio si calon hendaknya dipercayakan kepada seorang biarawan tertentu, yang mempunyai bakat yang memadai dan kepekaan untuk menilai budaya zaman kita, sehingga ia mampu mempersiapkan calon untuk kehidupan Ordo menurut semangat Injil, Regula dan Konstitusi Ordo kita. Biarawan ini dan juga lain-lainnya yang diharapkan bekerja sama dalam formasio para novis, hendaknya mendapat sarana yang memadai.

  1. Program novisiat hendaknya dilaksanakan menurut pedoman RIVC.

  1. Selama novisiat hendaknya studi biasa ditangguhkan. Namun pemimpin tinggi boleh mengizinkan atau bahkan memerintahkan studi materi yang dapat membantu melengkapi formasio novis.[306]

  1. Untuk melengkapi formasio para novis, pemimpin tinggi dapat mengizinkan para novis untuk jangka waktu tertentu melakukan suatu kegiatan kerasulan yang sesuai dengan ciri Ordo kita di luar rumah novisiat, bila setelah berbicara dengan pembimbing novis dia menganggap hal itu bermanfaat dan mendapatkan persetujuan Konsiliumnya.[307]

  1. Waktu untuk kegiatan kerasulan di luar novisiat dapat juga dibagi menjadi beberapa jangka waktu. Namun, jumlah hari di luar novisiat untuk kegiatan seperti itu ditambahkan pada kedua belas bulan yang dituntut untuk sahnya novisiat dengan mengingat bahwa masa novisiat tidak boleh melebihi dua tahun.[308]

        Kegiatan kerasulan ini tidak boleh dimulai sebelum novisiat telah berlangsung selama tiga bulan di rumah novisiat. Lagi pula, kegiatan tersebut harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga novis hidup di novisiat sekurang-kurangnya enam bulan berturut-turut, dan kembali ke novisiat sekurang-kurangnya sebulan sebelum pengikraran profesi sementara.

  1. Dengan memperhatikan ketentuan no. 147 dan 148 ketidak-hadiran dalam rumah novisiat yang melebihi tiga bulan berturut-turut atau terputus-putus membuat masa novisiat menjadi tidak sah sehingga harus diulangi. Ketidak-hadiran yang melebihi 15 hari harus diganti. Sehubungan dengan ketidak-hadiran kurang dari 15 hari Pemimpin tinggi mengambil keputusan untuk kasus demi kasus[309] setelah mendengarkan pembimbing novis dan mempertimbangkan alasan-alasan ketidak-hadiran.

  1. Bila seorang religius yang telah meninggalkan Ordo baik pada akhir novisiat maupun setelah profesi memohon untuk diterima kembali, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dan dengan mendengarkan Provinsial yang berkepentingan, mempunyai wewenang untuk menerimanya kembali. Prior Jenderal tidak perlu menuntut calon mengulangi masa novisiatnya. Namun, setelah mendengarkan Prior Provinsial yang berkepentingan, Prior Jenderal hendaknya menetapkan masa probasi, dan setelah masa probasi berakhir calon dapat diizinkan mengikrarkan kaul-kaulnya. Prior Jenderal hendaknya juga menetapkan lamanya kaul-kaul sementara sebelum profesi kekal menurut ketetapan Hukum Kanonik artikel 655 dan 657, setelah mendengarkan Prior Provinsial yang bersangkutan.[310]

  1. Para novis dapat menikmati semua kemurahan rohani yang diberikan kepada Ordo. Dalam hal harta benda para novis, hendaknya ditaati ketetapan-ketetapan Hukum Kanonik.[311]

3. Tahap profesi sementara

  1. $ 1.                        Pada akhir novisiat para calon yang cakap dan yang memohon dengan sukarela untuk mengikrarkan profesi, hendaknya diizinkan untuk mengikrarkan profesi sementara. Profesi ini merupakan awal hidup bakti.[312] Namun formasio dalam hidup Karmel hendaknya berlanjut terus dari tahap sebelumnya secara sistematis dan seimbang.[313]

$ 2.                        Pentinglah bahwa selama tahap ini para calon memperdalam dan memantapkan hidup bakti Karmelnya sampai mereka dapat secara matang membuat keputusan definitif. Pada tahap ini hendaknya juga dilaksanakan pembekalan ilmiah dan teknis untuk berbagai pelayanan.[314]

                        Kalau mau menghayati tahap ini sepenuhnya seseorang yang telah berprofesi hendaknya berusaha memadukan studi dan kegiatan kerasulan dengan hidup doa dan persaudaraan. Selama tahap formasio awal para biarawan muda hendaknya tidak dibebani dengan jabatan dan pekerjaan yang dapat merugikan formasionya.[315]

  1. Pada akhir novisiat Pemimpin tinggi dengan persetujuan Konsiliumnya dan setelah mendengarkan kapitel rumah, berhak mengizinkan para calon yang dianggap cakap untuk mengikrarkan profesi sementara.

        Pemimpin tinggi berhak untuk menerima profesi pertama dan pembaharuan kaul, atau apabila ia tidak membuat penetapan lain, pemimpin rumah dapat menerima profesi tersebut, dan pada gilirannya dia dapat mendelegasikannya.

  1. Karena alasan wajar Pemimpin tinggi dapat mengizinkan profesi pertama dimajukan dengan jangka waktu tidak melebihi 15 hari.[316] Demikian pula karena alasan wajar ia dapat mengizinkan profesi pertama dilaksanakan di luar rumah novisiat.

  1. $ 1.        Profesi sementara hendaknya diikrarkan untuk periode waktu tiga tahun. Statuta provinsi dapat menetapkan agar profesi sementara diikrarkan untuk periode waktu satu tahun, dan setiap tahun dibaharui selama tiga tahun.[317] 

$ 2.                 Bila dianggap baik, periode ini dapat diperpanjang sampai enam tahun, dan selama waktu itu calon hendaknya membaharui kaul-kaul sementaranya.[318] Namun, pada kasus-kasus khusus Pemimpin tinggi dapat memperpanjang masa profesi sementara tetapi tidak boleh melebihi tiga tahun.[319]

$ 3.                Karena alasan wajar, Pemimpin tinggi dapat mengizinkan pembaharuan profesi sementara dimajukan tetapi tidak lebih dari satu bulan, dengan tetap memperhatikan ketentuan Hukum Kanonik artikel 657 $3.

4. Profesi kekal

  1. Profesi kekal hendaknya didahului oleh persiapan rohani selama sekitar sebulan.[320] Calon hendaknya menjalani masa ini dalam doa dan rekoleksi, refleksi dan meditasi mengenai pentingnya langkah yang menentukan dan utama ini; dengan langkah ini ia akan membaktikan hidupnya bagi Allah untuk selamanya.

  1. $ 1.        Agar profesi kekal menjadi sah, kriteria berikut hendaknya dipenuhi:
  1. Usia calon harus sesuai dengan tuntutan Hukum Kanonik, yakni sekurang-kurangnya 21 tahun.
  2. Calon harus telah menjalani sekurang-kurangnya tiga tahun profesi sementara; karena alasan wajar pemimpin tinggi dapat mengizinkan profesi kekal dimajukan tetapi tidak lebih dari tiga bulan;[321]
  3. Pemimpin tinggi dengan suara deliberatif Konsiliumnya dan suara konsultatif kapitel rumah di mana calon tinggal, memberi izin untuk mengikrarkan profesi itu.

$ 2.        Melalui profesi kekal calon digabungkan secara definitif pada Ordo dengan segala hak dan kewajibannya.         

  1. Mengenai harta benda orang yang berprofesi hendaknya ditaati ketetapan-ketetapan yang diatur oleh Hukum Kanonik.[322]

5. Formasio untuk berbagai pelayanan        

  1. Berbagai pelayanan yang diemban oleh para Karmelit menurut panggilan khas masing-masing, tumbuh dari kekuatan persaudaraan yang hidup dan pada saat yang sama membawa kesaksian persaudaraan itu di antara kaum beriman.

  1. Selain formasio karmelit, para religius kita hendaknya menerima pendidikan kemanusiaan, profesional, ilmiah dan teknis yang memadai sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka yang wajar dengan mengingat kebutuhan dan rencana Provinsi dan Ordo. Dengan demikian mereka dapat melaksanakan tugas mereka sesuai dengan kecakapan sebenarnya demi kesejahteraan umat Allah.[323]

        Untuk mengembangkan aspek internasional Ordo dan juga meningkatkan sikap terbuka terhadap aneka budaya dan cara berpikir dan cita rasa berbeda, diharapkan setiap orang selama masa formasio mempelajari bahasa kedua.

        Selain itu hendaknya diusahakan secara khusus agar mereka mendapatkan bahan formasio khas karmelit atau yang berkaitan dengan pelayanan yang lebih sesuai dengan karisma dan warisan rohani kita.

  1. Biarawan yang tidak merasa terpanggil untuk tahbisan imamat hendaknya didorong untuk mengikuti studi, bahkan untuk mencapai gelar yang lebih tinggi, agar menjadi lebih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan Provinsi yang mereka layani. Mereka hendaknya diberi kesempatan mengikuti kursus teologi, khususnya Kitab Suci. Hendaknya juga diusahakan untuk membekali mereka dengan formasio karmelit yang menyeluruh, sehingga hidup Injili mereka dapat makin berkembang dan mereka dapat menyampaikan kepada orang lain pengetahuan yang telah mereka peroleh.

  1. $ 1.                Tugas imam ialah bekerja sama dengan Uskupnya untuk menyebarkan Sabda Allah, melayani sakramen-sakramen, menjiwai komunitas, menjadi sarana Kristus dalam membina umat Allah dan membangun komunitas Injili. Maka para religius kita yang hendak menerima tahbisan suci hendaknya mempersiapkan diri secara memadai, dengan menyelesaikan studi dan latihan rohani serta pastoral menurut norma-norma yang ditetapkan Tahta Suci, Konferensi paraUskup di masing-masing negara dan RIVC.

$ 2.        Profesi kekal harus mendahului penerimaan diakonat.

  1. Para religius yang mengikuti kuliah di luar biara hendaknya didampingi para saudara yang ahli di bidang akademis, dan yang dapat membantu mereka mengarahkan pendidikan mereka yang lebih tinggi menjadi formasio Karmel yang utuh.

        Di rumah-rumah formasio kita, para calon hendaknya dibantu untuk memadukan studi teoretis, pastoral dan profesional mereka dengan aspek-aspek lain hidup Karmel.

  1. Dianjurkan kerja sama yang bersifat nasional maupun internasional untuk novisiat dan formasio awal.

  1. Di setiap biara, terutama di setiap rumah formasio, hendaknya ada perpustakaan yang baik dan terus diperbaharui, karena hal ini merupakan bantuan yang mutlak perlu untuk belajar dan untuk studi tentang para penulis Karmel.

  1. Dalam Ordo hendaknya ada pusat-pusat studi internasional guna mengembangkan aspek internasional Ordo, pendalaman spiritualitas karmelit, sejarah Ordo, dan untuk mempersiapkan para formator dan pakar lain. Salah satu dari pusat-pusat itu ialah Centro S. Alberto di Roma, yang menampakkan kesatuan seluruh Ordo. Pusat itu hendaknnya mempunyai Statuta khusus dan berada di bawah yurisdiksi langsung Prior Jenderal

  1. Institutum Carmelitanum hendaknya berada di Roma; tugasnya ialah memperkenalkan warisan rohani Karmel kepada seluruh Ordo dan dunia zaman kita. Institutum itu hendaknya melibatkan para ahli yang cakap, yang dipilih dari seluruh Ordo.

6. Formasio berkelanjutan

  1. Formasio berkelanjutan merupakan jawaban atas panggilan Allah, yang memanggil setiap orang pada setiap saat dan dalam keadaan baru. Rahmat panggilan adalah benih yang senantiasa tumbuh dan berkembang; mengikuti Kristus berarti melakukan perjalanan yang berkelanjutan.

        Karena itu formasio tak pernah berhenti dan menuntut agar kita senantiasa memperhatikan secara khusus tanda-tanda Roh di zaman kita dengan membiarkan diri berkembang dalam kesadaran dan kepekaaan sehingga kita dapat menawarkan jawaban yang memadai atas masalah-masalah zaman kita.[324] Dengan demikian kita menghayati identitas karmelit dewasa ini.

  1. Formasio berkelanjutan meliputi semua prakarsa yang bertujuan membantu kita menghayati karisma kita dengan kesetiaan yang dinamis dalam berbagai tahap kehidupan kita. Karena itu formasio berkelanjutan bukanlah suatu pilihan, melainkan ssuatu bagian yang essensial untuk perkembangan kita.[325]

  1. Masing-masing dari kita bertanggung jawab atas formasio berkelanjutan kita sendiri, untuk memberi ruang dalam hidup kita kepada cita rasa Allah yang hidup agar kita dapat memberikan pelayanan dalam mengikuti Yesus Kristus secara lebih mendalam dan kontemporer.

  1. Sangat penting bahwa Ordo menyediakan kepada setiap anggotanya kesempatan untuk formasio berkelanjutan pada semua taraf dan tahap kehidupannya,[326] sesuai dengan apa yang dimuat dalam RIVC.

  1. Para pemimpin tinggi hendaknya menyediakan sarana yang memadai untuk formasio berkelanjutan di bidang rohani, teologis, teoretis dan teknis. Mereka hendaknya mendorong para anggota yang muda untuk mengikuti studi lanjut untuk meningkatkan taraf akademis Provinsi dan aneka kegiatan pelayanan.

  1. Pusat-pusat internasional kita, antar-provinsi dan provinsi hendaknya menyediakan kepada semua saudara kesempatan untuk pembaharuan pribadi, pembaharuan anugerah hidup Karmelit dan kegiatan kerasulan. Kepada semua Karmelit hendaknya diberikan kesempatan secara berkala untuk mengambil bagian dalam kursus tentang spiritualitas Karmel pada tingkat internasional, dalam kursus formasio lainnya khususnya formasio Karmel, atau pada tingkat lain.


BAGIAN KEEMPAT

KEPEMIMPINAN

Bab XIV

Struktur Dasar Ordo

  1. Ordo Karmel dimasukkan oleh Gereja ke dalam tarekat klerikal. Tarekat ini terdiri dari para saudara yang mengikrarkan ketiga kaul meriah: ketaatan, kemiskinan dan kemurnian, dan yang mempunyai tujuan bersama yaitu menghayati hidup bakti menurut semangat Ordo.[327]

        Demi kebaikan bersama dan untuk memenuhi kebutuhan kerasulan secara lebih baik, para Karmelit bebas dari yurisdiksi Ordinaris wilayah dan tunduk hanya kepada Paus.[328]

  1. $ 1.        Para anggota pertama-tama tergabung dalam Ordo secara keseluruhan dan secara subordinasi ke dalam suatu Provinsi atau Komisariat Jenderal. Keanggotaan mereka diberikan melalui profesi sementara, tetapi baru menjadi definitif apabila seorang anggota mengikrarkan profesi kekal[329] setelah menyelesaikan masa persiapan.

$ 2.        Berkat profesi semua saudara menjadi sama dalam hak dan kewajiban religius, kecuali hak dan kewajiban yang menyangkut jabatan atau pelayanan tertentu.

  1. Keanggotaan dalam Ordo membawa serta hak menerima segala yang perlu untuk hidup.[330] Namun para saudara berada di bawah hukum umum untuk berkarya[331] dan diharapkan memajukan perkembangan Ordo.

  1. $ 1.        Struktur Ordo tersusun dari Provinsi, Komisariat Jenderal dan biara-biara yang di bawah yurisdiksi langsung Prior Jenderal.

$ 2.        Bila diperlukan demi kelangsungan dan kegiatan Ordo, Kapitel Jenderal, dan apabila di luar Kapitel, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, dapat membentuk satuan-satuan lain (Delegasi, Regio, dsb.) dan menetapkan pula hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang menyangkut orang-orang dan benda-benda. Satuan-satuan yang dibentuk oleh Prior Jenderal dan Konsiliumnya membutuhkan persetujuan Kapitel Jenderal berikutnya. Bila tidak disetujui, satuan-satuan itu hendaknya dibubarkan dan para anggotanya kembali ke Provinsi atau Komisariat Jenderal masing-masing.

  1. Kapitel Jenderal, atau apabila di luar kapitel, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, berwenang:
  1. Membagi Ordo ke dalam Provinsi-provinsi; menyatukan Provinsi-provinsi yang ada atau mengubah batas-batasnya, mendirikan Provinsi baru atau membubarkan yang sudah ada setelah memperoleh suara konsultatif para anggota yang bersangkutan.
  2. Mengatur harta benda Provinsi atau Komisariat Jenderal yang dibubarkan dengan tetap memperhatikan hukum keadilan dan kehendak para pendiri.[332]
  1. Provinsi merupakan satuan mendasar dari kehidupan dan kegiatan Ordo, terdiri dari para saudara yang tergabung di dalamnya, tersebar dalam berbagai biara, dan dipimpin oleh Prior Provinsial bersama Konsiliumnya, menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.[333]

  1. $ 1.        Kapitel Provinsi dengan persetujuan Prior Jenderal dan Konsiliumnya, dan setelah mendengarkan pandangan orang-orang yang bersangkutan, dapat membentuk Komisariat Provinsi demi kebaikan kepemimpinan Provinsi.

$ 2.        Komisariat Provinsi merupakan bagian dari Provinsi, walaupun memiliki suatu tingkat otonomi, menurut ketetapan Konstitusi ini dan Statuta Provinsi.

$ 3.        Dengan persetujuan Prior Jenderal dan Konsiliumnya, Kapitel Provinsi dapat membatasi atau mengubah peraturan Komisariat Provinsi atau membubarkan Komisariat setelah mendengarkan pandangan para anggotanya.

  1. $ 1.        Apabila ada harapan bahwa di suatu tempat di masa depan dapat dibentuk Provinsi baru dan ada sekurang-kurangnya tiga rumah yang didirikan secara kanonik dan tiga puluh anggota berprofesi meriah, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, setelah lebih dulu secara seksama menelitinya dan mendengarkan pandangan para anggota yang bersangkutan, dapat mendirikan Komisariat Jenderal. Setelah pendirian Komisariat Jenderal ini, secara otomatis lepaslah ikatan-ikatan yuridis para anggota dengan Provinsi asal mereka.

$ 2.        Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dan setelah mendengarkan pendapat para anggota yang bersangkutan, boleh mengubah atau membubarkan Komisariat Jenderal.

  1. Bila selama beberapa waktu jumlah para religius bertambah dan  Komisariat Jenderal atau Komisariat Provinsi memiliki sekurang-kurangnya empat rumah yang didirikan secara kanonik dan sekitar 40 religius dengan profesi kekal, dengan sarana penghidupan yang cukup, maka Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dan dengan memperhatikan proses hukum dapat memutuskan untuk mendirikan suatu Provinsi baru.

  1. Semua ketetapan Konstitusi ini yang berlaku bagi Provinsi, berlaku juga bagi Komisariat Jenderal, kecuali jika secara tegas ditetapkan berbeda.

  1. $ 1.        Di samping Provinsi dan Komisariat  Jenderal, Kapitel Jenderal atau apabila di luar Kapitel, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, dan setelah mendengarkan mereka yang terkait, dapat mendirikan Delegasi Jenderal dengan membentuk satuan otonom para religius yang berasal dari satu Provinsi atau lebih.

$ 2.         Dalam keputusan pendirian delegasi Jenderal tersebut hendaknya dijabarkan tujuan dan jabatan-jabatannya.

$ 3.        a)        Delegasi Jenderal dikepalai pemimpin yang mempunyai wewenang sebagaimana ditetapkan oleh Prior Jenderal dan Konsiliumnya.

b)        Bila dianggap perlu, Delegatus Jenderal dapat dibantu oleh dua orang Konsiliarius.

c)        Delegatus Jenderal dan para Konsiliariusnya, jika diperlukan, hendaknya ditunjuk oleh Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya.

$ 4.        Dalam Statuta Delegasi Jenderal hendaknya ditetapkan hubungan antara para anggota Delegasi Jenderal dan Provinsi-provinsi asalnya, termasuk segala yang menyangkut pelaksanaan hak suara aktif dan pasif.

  1. Biara-biara yang didirikan secara kanonik diatur berdasarkan ketetapan Hukum Kanonik dan Konstitusi ini, biara-biara yang lain diatur menurut ketetapan Statuta Provinsi.

  1. $ 1.        Sebuah biara didirikan secara kanonik berdasarkan keputusan Prior Jenderal, dengan persetujuan Konsiliumnya, setelah mendapat persetujuan tertulis dari Uskup Diosesan menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.[334]

$ 2.        Persetujuan Uskup Diosesan untuk mendirikan suatu biara mengandung hak untuk mempunyai gereja dengan tetap berlaku ketentuan kanon 1215 $3 dari Hukum Kanonik, dan untuk melaksanakan pelayanan rohani menurut Hukum Kanonik dan juga untuk mengembangkan kegiatan lain yang khas Ordo dengan tetap memperhatikan syarat-syarat yang ditetapkan dalam akte persetujuan.[335]

  1. Persetujuan dari Uskup diperlukan agar biara yang didirikan secara kanonik dapat diperuntukkan bagi karya kerasulan yang berbeda dari tujuan yang telah ditetapkan semula, kecuali jika perubahan hanya menyangkut masalah organisasi intern dan tata tertib religius.[336]

  1. Setelah mendengarkan Prior Provinsial dan Uskup Diosesan yang bersangkutan, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dapat menutup biara yang telah didirikan secara sah.[337]


Bab XV

Hukum Ordo Kita

  1. Selain pada hukum universal Gereja, Ordo kita berdasarkan pada:
  1. Regula St. Albertus,
  2. Konstitusi,
  3. Kodeks hukum umum lain,
  4. Keputusan-keputusan Kapitel Jenderal, Kongregasi Jenderal dan Prior Jenderal,
  5. Kebiasaan-kebiasaan legal yang masih berlaku.

  1. $ 1.        Konstitusi memuat ketetapan-ketetapan fundamental yang diperlukan untuk menata kehidupan semua saudara di mana pun mereka berada dengan berdasarkan pada Regula.[338]

$ 2.        Semua saudara mewajibkan diri untuk menjalankan hukum yang termuat dalam Konstitusi ini dengan kesadaran bahwa tanpa menjalankannya dengan setia akan sulit mencapai tujuan persekutuan persaudaraan dan kesempurnaan Injili menurut kharisma Ordo.

  1. Kapitel Jenderal berwenang untuk mengesahkan, mengubah, mengurangi atau menghapus ketentuan-ketentuan Konstitusi.

  1. Kapitel Jenderal, dan apabila di luar Kapitel, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, berwenang untuk mengesahkan, mengubah, mengurangi, atau menghapus ketentuan-ketentuan kodeks umum lainnya.[339]

  1. Penafsiran otentik Konstitusi dan kodeks umum lainnya merupakan wewenang Kapitel Jenderal. Sesuai dengan Hukum Kanonik, di luar Kapitel penafsiran diberikan[340] oleh Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, tetapi penafsiran demikian hanya mempunyai daya ikat untuk kasus-kasus tertentu yang mendapatkan penafsiran itu dan berlaku hanya sampai Kapitel Jenderal berikutnya, kecuali bila diteguhkan oleh Kapitel tersebut.

  1. Semua ketentuan Kapitel Jenderal dianggap diteguhkan kecuali bila secara eksplisit dihapus oleh Kapitel berikutnya.

  1. $ 1.        Provinsi-provinsi, Komisariat-komisariat Jenderal dan satuan-satuan Ordo yang lain apa pun namanya, hendaknya mempunyai Statutanya sendiri, yang disusun menurut kebutuhan setempat. Statuta tersebut tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi.[341] 

$ 2.        Semua Statuta harus disahkan oleh Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya.

  1. Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dapat mengeluarkan keputusan bagi seluruh Ordo. Namun keputusan itu akan kehilangan seluruh daya ikatnya bila tidak diteguhkan oleh Kapitel Jenderal berikutnya.[342]

  1. Para Prior Provinsial dan para Pemimpin tinggi lainnya dengan persetujuan Konsiliumnya masing-masing dapat mengeluarkan keputusan dalam lingkup yurisdiksinya, asalkan tidak bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi.[343] Keputusan tersebut akan kehilangan seluruh daya ikatnya bila tidak diteguhkan oleh Kapitel Provinsi atau Komisariat berikutnya. Demikian pula, di luar Kapitel para Prior Provinsial dan Komisaris Jenderal dengan persetujuan Konsilium masing-masing, dapat menafsirkan Statuta dengan memperhatikan apa yang sudah disebutkan di atas.

  1. $ 1.        Dalam hal disipliner, Prior Jenderal setelah mendengarkan Konsiliumnya dapat memberi dispensasi dari Konstitusi dan hukum Ordo lainnya kepada setiap saudara dalam seluruh Ordo dengan alasan yang wajar dan masuk akal.

$ 2.        Prior Provinsial setelah mendengarkan Konsiliumnya dapat memberi dispensasi dari norma-norma disipliner yang dikeluarkan Ordo kepada para saudara dari provinsinya di mana pun mereka berada dengan alasan wajar dan masuk akal, kecuali dari perkara yang secara tegas dikecualikan; dalam kasus-kasus khusus ia dapat memberi dispensasi habitual.

$ 3.        Prior lokal dapat memberi dispensasi dari undang-undang disipliner Ordo kepada para saudara yang berada di bawah wewenangnya, kecuali bila wewenang pemberian dispensasinya dikhususkan bagi pemimpin tinggi.

$ 4.        Akan tetapi, pemberian dispensasi habitual bagi para saudara seluruh provinsi merupakan wewenang Prior Jenderal dan dispensasi habitual bagi para saudara seluruh rumah merupakan wewenang Prior Provinsial.

  1. $ 1.        Dispensasi dan pelunakan lain apapun jenisnya, yang diberikan secara tertulis oleh para pemimpin tinggi kepada masing-masing saudara atau komunitas, tidak hilang bila hak orang yang memberikannya berhenti, kecuali kalau ketentuan yang berlawanan dibuat dalam suatu klausul khusus.[344]

$ 2.        Permohonan yang ditolak oleh Prior Jenderal atau Prior Provinsial tidak dapat diperoleh dengan sah dari wakil mereka tanpa persetujuan Prior yang bersangkutan, bahkan bila penolakan itu telah diberitahukan.[345]


Bab XVI

Hak Suara Aktif dan Pasif

  1. Semua biarawan dengan profesi kekal memiliki hak suara aktif dan pasif dalam Provinsi, kecuali bila hakekat perkara atau Konstitusi ini dengan jelas menyatakan sebaliknya. Namun Statuta Provinsi dapat juga menentukan syarat-syarat lain mengenai pelaksanaan hak suara aktif dan pasif.

  1. Para biarawan yang belum mengikrarkan kaul kekal tidak mempunyai hak suara aktif dan pasif meskipun mereka termasuk anggota komunitas. Kendati demikian hendaknya diminta pertimbangan dan pandangan mereka tentang masalah-masalah yang menyangkut kesejahteraan umum, terutama yang secara langsung berkaitan dengan diri mereka.

  1. Biarawan yang tinggal di Provinsi yang bukan Provinsinya sendiri, mempunyai hak suara aktif dalam Provinsi asalnya atau dalam Provinsi tempat tinggalnya menurut kesepakatan tertulis yang dibuat oleh kedua pemimpin tinggi atas usul biarawan yang bersangkutan; namun ia tetap mempunyai hak suara pasif di kedua Provinsi.

  1. Prior Jenderal mempunyai suara di seluruh Ordo, Prior Provinsial di Provinsinya, Prior lokal di biaranya, kecuali jika ada ketentuan yang sebaliknya.

  1. Pemimpin tinggi yang berwenang dengan persetujuan Konsiliumnya, dapat mencabut hak suara aktif dan/atau pasif biarawan yang hidup secara sah di luar rumah Ordo setelah menanyainya dan menyimpulkan bahwa tidak mungkin baginya ambil bagian dengan cara apapun dalam kehidupan Provinsi,.

  1. $ 1.        Kecuali untuk hak-hak khusus, para biarawan mempunyai hak presedensi sesuai dengan urutan sebagai berikut:
  1. Prior Jenderal di seluruh Ordo,
  2. Wakil Prior Jenderal di seluruh Ordo,
  3. Para anggota Konsilium Jenderal di seluruh Ordo,
  4. Prior Provinsial dan Komisaris Jenderal di Provinsi dan Komisariat Jenderalnya,
  5. Komisaris Provinsial di Komisariatnya,
  6. Prior rumah di biaranya,
  7. Konsiliarius Provinsial di Provinsinya.

$ 2.        Setelah Prior Jenderal dan Wakil Prior Jenderal, para anggota Konsilium Jenderal mempunyai presedensi di antara mereka sesuai dengan tanggal profesi pertama mereka; bila tanggal profesi pertama mereka sama, presedensi menurut usianya.

                Para Konsiliarius Provinsial mempunyai presedensi menurut urutan mereka dipilih, kecuali bila Statuta Provinsi menetapkan lain.

$ 3.                Kecuali bila Statuta Provinsi menetapkan lain, semua anggota Ordo lainnya mempunyai presedensi menurut tanggal profesi pertama, dan jika profesi mereka jatuh pada hari yang sama, presedensi menurut usia.


Bab XVII

Otoritas dalam Ordo dan jabatan pada umumnya

  1. Kesatuan Ordo dibangun berdasarkan kasih dan kerjasama yang serasi untuk mencapai cita-cita bersama. Kesatuan ini diteguhkan oleh otoritas, yang mendorong kita, baik untuk menetapkan tujuan yang semakin tinggi maupun untuk melaksanakan semua ketetapan yang dikeluarkan oleh Gereja bagi semua religius dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan secara bersama “dengan persetujuan para saudara”.[346]

  1. Para saudara secara fundamental sama dalam hak dan kewajiban. Namun agar “apa yang perlu dikerjakan, terjadi secara teratur”[347] maka mereka memilih di antara mereka beberapa orang yang tugasnya menjamin kesejahteraan bersama menurut ketetapan Konstitusi, mengembangkan hidup bersama dan kegiatan kerasulan, dan memadukan kemampuan semua saudara menurut ketentuan Konstitusi ini dan ketentuan setiap komunitas. Mereka yang diangkat menjadi pemimpin hendaknya mengikuti teladan Tuhan, yang “tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”[348] Semua biarawan lainnya hendaknya menghormati mereka[349] dan bekerja sama dengan mereka dengan ikhlas, karena otoritas tak akan dapat mencapai tujuannya tanpa kerja sama semua pihak dalam membangun kesejahteraan bersama, terutama melalui komunikasi timbal balik.

  1. Biarawan yang mengemban otoritas memimpin komunitas, secara resmi disebut Prior: Prior Jenderal untuk seluruh Ordo, Prior Provinsial untuk seluruh Provinsi, Prior lokal untuk rumah tertentu. Dalam bahasa setempat sebutan Prior dapat diganti dengan sebutan lain sesuai dengan kebiasaan atau ketentuan Statuta Provinsi. Prior adalah tanda kesatuan dalam komunitas dan bertugas untuk melayaninya. Dia menjadi teladan dalam kata dan perbuatan bagi kelompok yang dipercayakan kepadanya.[350] Sebagai Prior hendaknya ia siap membantu semua dan setiap biarawan, mengembangkan hidup berkomunitas, memperhatikan semua, terutama yang sakit dan lanjut usia, dan mengatur kegiatan dan prakarsa bersama sedemikian rupa sehingga dapat menjadi sarana bagi para saudara untuk menghayati secara otentik hidup “mengikuti Yesus Kristus, dan mengabdi kepada-Nya dengan hati yang murni dan hati nurani yang baik”.[351]

  1. Para pemimpin tinggi Ordo ialah: Prior Jenderal, Prior Provinsial, Komisaris Jenderal dan para wakil mereka. Mereka juga merupakan Ordinaris dan mempunyai semua wewenang yang diberikan Hukum Kanonik kepada para Ordinaris.[352]

  1. $ 1.        Sesuai dengan ketetapan Hukum Kanonik dan Konstitusi ini, para pemimpin tinggi dan Kapitel dalam Ordo kita mempunyai yurisdiksi baik dalam tata batin maupun dalam tata lahir.[353]

$ 2.        Hanya Kapitel Jenderal yang dapat mengeluarkan hukum bagi seluruh Ordo. Kapitel Provinsi dapat merumuskan Statuta Provinsi dan mengeluarkan keputusan, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan Konstitusi dan keputusan Kapitel Jenderal.

$ 3.        Kapitel rumah dapat mengeluarkan ketetapan-ketetapan khusus asalkan hal itu tidak bertentangan dengan Konstitusi atau ketentuan lain dari Kapitel Jenderal atau Kapitel Provinsi.

$ 4.        Para Prior yang dibantu oleh dewan mereka terutama mempunyai kewajiban mengusahakan agar peraturan-peraturan yang berlaku dilaksanakan. Lagi pula mereka dapat mengeluarkan keputusan sesuai dengan wewenangnya, asalkan tidak bertentangan dengan Konstitusi.[354]

  1. $ 1.        Prior Jenderal mempunyai kuasa berdasarkan jabatannya atas semua dan setiap saudara, atas Provinsi dan biara-biaranya. Ia dapat melaksanakan otoritas ini sendiri atau dengan Konsiliumnya, menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.

$ 2.        Prior Provinsial memimpin Provinsi dengan kuasa berdasarkan jabatannya, secara sendirian atau dengan Konsiliumnya, menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.

$ 3.        Prior rumah memimpin biara dengan kuasa berdasarkan jabatannya, secara sendiri atau dengan Kapitel rumah (atau dengan Konsiliumnya, bila ada) menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.[355]

  1. $ 1.        Bila hukum menuntut persetujuan Konsilium, maka Prior Jenderal atau Provinsial bertindak tidak sah apabila bertindak melawan suara Konsilium masing-masing. Hal ini juga berlaku bagi Prior rumah bila bertindak melawan suara Konsiliumnya atau Kapitel rumah.

$ 2.        Apabila dituntut hanya nasihat, maka tindakan Prior akan sah bila dia telah meminta pandangan Konsiliumnya atau Kapitel rumah. Ia tidak wajib menuruti nasihat mereka, bila dalam hati nuraninya ia merasa harus bertindak lain. Namun Prior hendaknya sungguh-sungguh menghargai pandangan mereka, terutama bila hal itu diberikan oleh anggota Konsilium dengan suara bulat, dan dia tidak boleh menolaknya tanpa suatu alasan yang menurut pandangannya lebih sehat. Dalam kasus mendesak pandangan para anggota Konsilium dapat diminta secara perseorangan melalui surat atau dengan sarana komunikasi lain.[356]

  1. Dalam Ordo kuasa yudikatif dipegang oleh Kapitel Jenderal dan Konsilium Jenderal, Kapitel Provinsi dan Konsilium Provinsi. Kapitel melaksanakan kuasa ini lewat hakim-hakim yang dipilih oleh gremiales (anggota Kapitel) pada Kapitel yang sama; mereka membuat putusan atau ketetapan atas nama Kapitel. Dalam kasus khusus, sesuai dengan tingkat keseriusan masalah dan permintaan biarawan yang bersangkutan, para hakim hendaknya diangkat oleh Konsilium Jenderal atau Konsilium Provinsial, tergantung dari perkaranya.

  1. Dengan tetap memperhatikan Hukum Kanonik, semua perkara hendaknya diajukan lewat jalur administratif, kecuali apabila biarawan yang bersangkutan berkeberatan. Pada setiap kasus saudara yang bersangkutan hendaknya selalu diberi kesempatan yang leluasa untuk melaksanakan hak-haknya.

  1. Meskipun menurut ketetapan Hukum Kanonik Kapitel dan para pemimpin dapat menjatuhkan hukuman,[357] biasanya tak seorang pun boleh dihukum [358] tanpa diberi peringatan lebih dahulu. Bila karena kelemahan manusiawi seorang saudara melakukan kesalahan, para Prior hendaknya ingat bahwa mereka adalah gembala dan bukan raja mahakuasa. Hendaknya mereka diilhami kata-kata Rasul bahwa pertama-tama mereka hendaknya memperbaiki dan mengajak dengan kesabaran dan kasih yang besar,[359] dengan mengingat bahwa seringkali dalam kasus orang yang membutuhkan perbaikan, kemurahan lebih efektif daripada sikap keras, ajakan lebih efektif daripada ancaman, kasih lebih efektif daripada otoritas.

  1. $ 1.        Dalam menjatuhkan hukuman yang ditetapkan Hukum Kanonik, ketetapan-ketetapan hukum yang sama hendaknya ditaati.

$ 2.        Terhadap hukuman yang dijatuhkan dapat diajukan naik banding devolutif, dengan tetap menaati ketentuan Hukum Kanonik.


Bab XVII

Kapitel dan kegiatan kolegial lain

1. Kapitel

  1. Kapitel dan pertemuan kolegial lainnya dari para saudara perlu diadakan untuk memajukan hidup rohani dan kerasulan, dengan membaharuinya secara terus menerus menurut tuntutan zaman kita, untuk memantapkan kasih persaudaraan, dan untuk meneliti dan memecahkan masalah-masalah bersama dalam Ordo, Provinsi dan komunitas dalam semangat kerja sama.

Kecuali berhalangan karena alasan wajar para gremiales hendaknya mengikuti kapitel dan pertemuan kolegial lain untuk memajukan kesejahteraan bersama.

  1. Pada waktu yang ditetapkan, Prior atau wakilnya hendaknya melaksanakan konvokasi, dengan memperhatikan ketetapan-ketetapan tentang konvokasi para pemilih sebagaimana dinyatakan dalam no. 234.

Demikian pula, setiap kali dituntut persetujuan atau nasihat sejumlah orang yang berkumpul bersama, gremiales harus dipanggil sebagaimana mestinya, dengan memperhatikan ketetapan-ketetapan yang sama.[360] Pengecualiannya disebutkan dalam no.346a dan 395 $ 2.

  1. $ 1.        Kapitel rumah dan pertemuan kolegial lainnya hendaknya diadakan bila dituntut sebagian besar dari komunitas atau kelompok kolegial.

$ 2.        Kapitel dan pertemuan-pertemuan kolegial lainnya pada tingkat apapun dianggap sah apabila mayoritas dari mereka yang berhak untuk mengikutinya hadir, kecuali bila Statuta khusus menentukan lain.

  1. Kapitel Jenderal dan Kapitel Provinsi berwenang mengubah jumlah gremiales, namun hanya untuk Kapitel berikutnya.

  1. $ 1.        Tak seorang pun yang bukan gremialis diperkenankan untuk memberi suara. Bila terjadi seorang yang bukan gremialis memberi suara, maka semua acta pertemuan tersebut dengan sendirinya tidak sah.[361]

$ 2.        Anggota Kapitel berhak mengundang orang luar untuk mengikuti Kapitel dan untuk menetapkan kapan mereka boleh mengambil bagian dalam sidang Kapitel, tetapi mereka ini tidak memiliki hak suara.

  1. Gremialis yang pertama menurut tata presedensi hendaknya mengetuai Kapitel atau pertemuan kolegial, kecuali kalau diatur secara lain.

  1. Gremiales dan orang lain yang persetujuannya atau nasihatnya diperlukan, hendaknya memberikan pandangannya dengan hormat, setia dan tulus. Ketua dapat meminta mereka untuk memegang rahasia apabila hal itu dia pandang perlu dan bijaksana dengan mengingat bobot perkara yang dibicarakan.[362]

  1. Masalah-masalah yang tidak menyangkut pemilihan dan yang perlu diputuskan secara kolegial, hendaknya diteliti secara mendalam dan dipecahkan menurut pandangan mayoritas mutlak para gremiales yang hadir dalam pemungutan suara pertama atau kedua. Kalau tidak, maka pemungutan suara hendaknya diulangi untuk ketiga kalinya. Bila hasil pemungutan suara sama, ketua berwenang menentukannya dengan suaranya, atau memerintahkan sidang baru untuk menetapkan pemecahan akhir.[363]

  1. Dalam pemilihan dan pemungutan suara yang menyangkut seseorang, pemungutan suara hendaknya rahasia, dan segala bentuk aklamasi tidak diperkenankan.[364]

Dalam kasus lain yang hendaknya diselesaikan secara kolegial, pemungutan suara tidak perlu rahasia, asalkan tak seorang pun gremiales berkeberatan.

2. Jabatan

  1. Jabatan dan tugas dalam Ordo diberikan lewat pemilihan yang diteguhkan dengan tepat, dengan postulasi menurut ketetapan hukum dan disahkan oleh Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, atau dengan pengangkatan yang hendaknya didahului dengan konsultasi yang sesuai.[365]

  1. Semua jabatan diberikan menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.

  1. Pada pembukaan Kapitel, semua jabatan yang hendaknya diisi dalam Kapitel itu langsung menjadi lowong, namun pejabat yang jabatannya menjadi lowong terus melaksanakan tugasnya sampai pejabat baru menduduki jabatannya.

  1. Tak satu jabatan pun yang biasanya diberikan lewat pemilihan, boleh tetap lowong lebih daripada tiga bulan sejak kelowongannya diumumkan, kecuali jika kebalikannya ditetapkan dengan jelas.[366]

  1. Tak seorang pun boleh diberi dua jabatan yang tak dapat diserasikan, artinya, yang tak dapat dilaksanakan bersamaan oleh orang yang sama, misalnya tugas-tugas yang menuntut kediaman yang berbeda, kecuali bila ada ketetapan-ketetapan yang dibuat untuk kasus-kasus tertentu.[367]

  1. Tak seorang pun anggota Ordo boleh menerima jabatan atau tugas di luar Ordo tanpa seizin Prior Provinsial atau Prior lokal yang bersangkutan.[368]

  1. Karena menyangkut yurisdiksi maka hanya biarawan yang telah menerima tahbisan imamat boleh dipilih atau diangkat untuk jabatan Prior atau wakil Prior atau penggantinya.[369]

  1. Pengangkatan hendaknya dilaksanakan dalam semangat dialog persaudaraan. Maka pemimpin yang berhak memberikan jabatan dengan bebas, sebelum mengangkat hendaknya mendengarkan pendapat orang yang hendak diangkatnya. Pemimpinlah yang hendaknya menilai alasan yang diberikan calon, dan kemudian menerima atau menolaknya.

  1. Semua yang memiliki hak suara harus dipanggil untuk pemilihan. Namun tidak perlu mereka dipanggil secara pribadi, cukuplah konvokasi umum yang dilakukan melalui surat yang dialamatkan ke setiap biara atau diumumkan dalam buletin resmi Ordo atau dengan cara lain yang dibenarkan Statuta Provinsi atau yang menjadi kebiasaan. Apabila seorang yang memiliki hak suara terlewatkan, sehingga tidak hadir dalam pemilihan, dan kekeliruan serta ketidak hadiran itu dapat dibuktikan, maka pemilihan tetap sah. Namun apabila ia meminta, pemilihan itu diputuskan tidak sah oleh pemimpin yang berwenang, meskipun pemilihan sudah diteguhkan, selama secara hukum jelas bahwa permintaan itu disampaikan dalam tiga hari setelah pemberitahuan pemilihan. Apabila lebih dari sepertiga dari para pemilih tidak dipanggil, maka pemilihan itu secara hukum tidak sah. Tetapi apabila mereka yang terlewati itu ternyata hadir dalam pemilihan, kekurangan konvokasi tidak membuat pemilihan menjadi tidak sah.[370]

  1. Namun, dengan memperhatikan ketetapan no. 238, mereka yang hadir pada waktu dan tempat yang ditentukan dalam konvokasi mempunyai hak suara.[371]

  1. Mereka yang disisihkan oleh hukum menurut ketetapan Hukum Kanonik no. 171 atau menurut Konstitusi ini tidak boleh memilih.

  1. Bila seseorang atau lebih dari para pemilih hadir di rumah di mana pemilihan diadakan, tetapi tak dapat berpartisipasi karena sakit, maka para pemungut suara hendaknya mengumpulkan suara tertulisnya.[372]

  1. Statuta Provinsi dapat mengizinkan agar suara diberikan lewat surat, asalkan kerahasiaan tetap dijaga dengan ketat.

  1. Kewenangan memberi suara lewat wakil[373] diizinkan pada kasus-kasus sebagai berikut:
  1. Untuk alasan yang wajar Prior Provinsial, Komisaris Jenderal atau Komisaris Provinsial boleh mengutus dari Provinsi atau dari Komisariat seorang wakil dengan hak suara ke Kapitel Jenderal atau  Kongregasi Jenderal. Tetapi apabila seorang wakil dipilih dari Provinsi atau Komisariat Jenderal lain, diperlukan persetujuan Prior Jenderal;
  2. Dengan persetujuan Prior Jenderal, utusan ke Kapitel Jenderal dapat juga mengangkat seorang wakil dengan hak suara, apabila dia atau seorang utusan yang menggantikannya tak dapat datang ke Kapitel;
  3. Statuta Provinsi hendaknya menetapkan hak untuk mengutus seorang wakil ke Kapitel Provinsi.

  1. Walaupun seseorang berhak memberikan suara atas beberapa dasar, namun ia hanya dapat memberikan satu suara.[374]

  1. $ 1.        Suara menjadi tidak sah:
  1. Jika tidak bebas; maka tidak sah suara dari orang yang karena ketakutan besar atau penipuan, secara langsung atau tidak langsung, dipaksa untuk memilih orang tertentu atau beberapa orang satu demi satu.
  2. Bila tidak rahasia, pasti, mutlak dan tertentu.

$ 2.        Syarat-syarat yang dibubuhkan pada suara sebelum pemilihan, hendaknya dianggap sebagai tidak ada.[375]

  1. Hendaknya semua menghindari pencarian suara untuk diri sendiri atau untuk orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.[376] Tetapi diperbolehkan bertukar pandangan mengenai kecakapan calon, asalkan diperhatikan norma-norma keadilan dan kasih.

  1. Kecuali terdapat ketentuan-ketentuan khusus, ketua hendaknya menunjuk sekurang-kurangnya dua orang pemungut suara dan dua orang penghitung serta seorang sekretaris untuk proses pemungutan suara. Semuanya, termasuk ketua, secara nurani terikat untuk dengan setia melaksanakan tugasnya dan menjaga rahasia mengenai segala yang terjadi dalam rapat, bahkan setelah pemilihan selesai. Atas tanda yang diberikan oleh ketua, para pemungut suara hendaknya mengusahakan agar suara diberikan secara rahasia. Setelah pemungutan suara, di hadapan ketua dan para gremiales para pemungut suara memeriksa apakah jumlah suara sesuai dengan jumlah pemilih, memeriksa kertas suara dan mengumumkan secara publik berapa suara yang diperoleh setiap calon, sementara para penghitung mencatat jumlahnya. Bila jumlah suara melebihi jumlah pemilih, pemilihan tidak sah, dan oleh karena itu perlu diadakan pemungutan lagi. Kertas suara hendaknya dimusnahkan langsung sesudah tiap pemungutan, atau pada akhir sidang bila ada lebih dari satu pemungutan suara. Semua acta (perbuatan) yang menyangkut pemilihan hendaknya dicatat dengan seksama oleh sekretaris dalam buku yang telah disediakan untuk tujuan ini dan ditandatangani oleh semua gremiales atau sekurang-kurangnya sekretaris dan ketua, dan hendaknya disimpan dengan seksama dalam arsip.

  1. Dengan persetujuan Kapitel, dapat diadakan tenggang waktu antar pemilihan, atau antar pemungutan suara dalam pemilihan yang sama.

  1. Bila dalam kasus-kasus khusus tidak ditetapkan lain dengan jelas dan jika mayoritas mutlak dari mereka yang harus dipanggil hadir pada pemungutan suara, orang yang memperoleh suara mayoritas mutlak dari mereka yang hadir hendaknya dianggap terpilih dan diumumkan demikian oleh ketua. Bila kedua pemungutan suara pertama tidak berhasil, maka pemungutan suara hendaknya dilaksanakan atas dua calon yang memperoleh suara terbanyak. Bila lebih dari dua calon menerima jumlah suara yang sama, maka pemungutan suara dilaksanakan atas dua calon yang lebih tua berdasarkan profesi pertama, dan bila profesinya jatuh pada hari yang sama, maka berdasarkan atas usianya. Dalam pemungutan suara ini kedua calon tidak mempunyai suara aktif, dan calon yang menerima jumlah suara lebih besar dianggap terpilih. Bila dalam pemungutan suara ketiga kedua calon menerima jumlah suara yang sama, maka calon yang lebih tua menurut profesi pertama dianggap terpilih, atau bila profesi keduanya pada hari yang sama, maka yang lebih tua menurut usia.[377] 

  1. Orang yang terpilih hendaknya segera diberitahu tentang hasil pemilihannya. Dalam delapan hari sejak pemberitahuan itu, ia harus menyatakan apakah menerima pemilihan itu atau tidak. Bila tidak, maka ia kehilangan setiap hak yang diperolehnya dari pemilihan tersebut.[378] Bila orang yang terpilih hadir pada saat pemilihan, maka pengumuman yang disebut dalam no. 245 berfungsi sebagai pemberitahuan.

  1. Bila orang yang terpilih menolak pemilihan itu dan ketua menerima penolakannya, maka ia kehilangan setiap hak yang diperoleh dari pemilihan itu, bahkan apabila ia kemudian menyesal telah menolaknya. Namun ia dapat dipilih kembali.[379]

  1. Pada kasus-kasus yang tidak memerlukan pengukuhan, orang yang terpilih langsung menduduki jabatannya setelah menyetujui pemilihan itu. Pada kasus-kasus yang memerlukan pengukuhan, ia hanya mendapat hak atas jabatan itu; sebelum memperoleh pengukuhan ia tidak boleh melaksanakan jabatannya baik dalam hal-hal jasmani maupun rohani, dan hasil dari tindakan itu tidak sah.[380]

  1. Pemilihan Prior Jenderal atau para anggota Konsiliumnya tidak memerlukan pengukuhan. Pemilihan Prior Provinsial hendaknya dikukuhkan Prior Jenderal atau ketua Kapitel yang dia ditunjuk. Semua pemilihan lain harus dikukuhkan oleh ketua pemilihan sendiri.[381]

  1. Kelompok pemilih dengan sendirinya kehilangan hak memilih:
  1. bila pemilihan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditetapkan,[382]
  2. bila para gremiales mencoba menambah jumlah mereka dan dengan sengaja membiarkan seorang atau lebih yang bukan pemilih memberikan suara, karena bertentangan dengan norma-norma yang ditetapkan dalam no. 220 dan 221.

  1. Hak pemilih dari kelompok tak boleh dicabut tanpa prosedur yang tepat, kecuali untuk keadaan yang disebut dalam no. 250 atau apabila suatu kegagalan diakibatkan kesalahan kelompok.

  1. Bila hak pemilihan kelompok pemilih dicabut karena alasan apa pun, hak pemberian jabatan dengan bebas jatuh pada pemimpin tinggi dengan persetujuan Konsiliumnya.

  1. Dalam kasus postulasi untuk jabatan yang terkena halangan dari hukum Ordo, Prior Jenderal dapat memberi dispensasi dari halangan itu dengan persetujuan Konsiliumnya dan memperkenankan postulasi apabila dinilainya lebih baik.

  1. $ 1.        Agar seorang calon dapat dipilih lewat postulasi, ia harus mendapat dua pertiga jumlah suara mereka yang hadir dalam pemungutan suara pertama dan kedua.

Bila dalam kedua pemungutan pertama tak seorang calon pun mencapai mayoritas suara yang dituntut untuk postulasi atau pemilihan, maka pemungutan suara mulai lagi dari pemungutan pertama, dan calon postulasi kehilangan hak suara pasif.

$ 2.        Bila calon yang dipostulasikan tidak menerima pemilihannya, maka pemungutan suara mulai lagi dengan pemungutan pertama dan berlangsung menurut ketetapan no. 245.


Bab XIX

Kepemimpinan Umum

  1. Kapitel Jenderal

  1. Kapitel Jenderal adalah pemegang otoritas tertinggi dalam Ordo kita, juga menjadi tanda utama kesatuan Ordo dalam kebhinnekaannya. Kapitel Jenderal adalah pertemuan persaudaraan di mana kita bersama-sama dalam komunitas berefleksi untuk berpegang teguh pada Injil dan karisma kita, dan berefleksi atas kepekaan kita  terhadap kebutuhan zaman dan tempat Melalui Kapitel Jenderal, seluruh Ordo dengan memasrahkan diri untuk dibimbing Roh Kudus Tuhan kita Yesus Kristus, berusaha mengenal kehendak Tuhan pada suatu saat tertentu dalam sejarah, sehingga kita dapat melayani Gereja dengan cara terbaik.[383]

  1. $ 1.        Kapitel Jenderal biasa diadakan setiap 6 tahun.

$ 2.        Sebelum konvokasi, Prior Jenderal hendaknya berkonsultasi dengan para Pemimpin tinggi seluruh Ordo tentang tanggal dan tempat Kapitel Jenderal, materi dan masalah yang akan menjadi pokok pembahasan selama Kapitel, dan pemilihan beberapa saudara yang cakap untuk diangkat menjadi anggota-anggota panitia persiapan.

  1. Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dan setelah berkonsultasi dengan para Pemimpin tinggi lain dapat mengadakan konvokasi Kapitel Jenderal luar biasa. Dalam Kapitel ini dapat juga diadakan pemilihan untuk jabatan-jabatan yang sedang lowong, yang merupakan wewenang Kapitel.

  1. $ 1.        Para gremiales Kapitel Jenderal ialah:
  1. Prior Jenderal
  2. Para mantan Prior Jenderal
  3. Para anggota Konsilium Jenderal
  4. Para Prior Provinsial
  5. Para Komisaris Jenderal
  6. Para Komisaris Provinsial dari Komisariat yang pada waktu konvokasi mempunyai sekurang-kurangnya 20 anggota yang punya hak suara
  7. Prior Pusat Internasional S. Alberto di Roma
  8. Para pimpinan delegat Jenderal yang pada saat konvokasi Kapitel Jenderal setidaknya memiliki 20 anggota yang punya hak suara; jika tidak, mereka boleh berpartisipasi tapi tanpa hak suara.
  9. Para delegat Provinsi sebagaimana diatur dalam alinea berikut:

$ 2.        Provinsi yang mempunyai kurang daripada 20 anggota yang memiliki hak suara pada hari konvokasi Kapitel Jenderal, tidak berhak mengutus seorang delegat ke Kapitel Jenderal. Sedangkan Provinsi yang mempunyai lebih daripada 100 anggota yang memiliki hak suara pada hari yang sama, berhak mengutus 3 delegat ke Kapitel. Setiap Provinsi lain boleh mengutus 2 delegat. Dalam menghitung jumlah anggota yang mempunyai hak suara untuk mengirimkan tiga delegat, anggota Komisariat Provinsi yang mempunyai hak suara tidak boleh dihitung jika Komisariat hendak mengutus Komisarisnya sendiri. Komisariat Jenderal tidak berhak mengutus delegat.

$ 3.        Para anggota Konsilium Jenderal yang dibebaskan dari jabatannya tetap mempunyai hak suara selama berlangsungnya Kapitel, saat mereka dilepaskan dari jabatannya. Para anggota Konsilium baru bila mereka belum menjadi anggota gremiales, hendaknya segera dipanggil dan mereka mempunyai hak suara dalam Kapitel.

$ 4.        Komisaris Provinsial dari Komisariat dengan kurang daripada 20 anggota yang memiliki hak suara dan para Ketua Regio berhak menghadiri Kapitel Jenderal, tetapi mereka tidak mempunyai hak suara.

  1. Kapitel Jenderal bertugas:
  1. Mengesahkan Konstitusi dan kitab hukum Ordo lain yang berlaku secara umum untuk Ordo; mengembangkan vitalitas rohani dan kerasulan; menyusun dan menyampaikan kepada Konsilium Jenderal pedoman dan kriteria pelaksanaan kepemimpinan Ordo selama enam tahun mendatang; menyesuaikan undang-undang menurut tuntutan zaman dengan pembaharuan yang sesuai;
  2. Memilih Prior Jenderal dan para anggota Konsilium Jenderal menurut norma no. 276 dan 295;
  3. Menentukan sarana dan jalur untuk memancarkan hidup Ordo kepada semua anggota dalam komunikasi persaudaraan;
  4. Memutuskan masalah lain yang dianggap tepat oleh Kapitel.[384]

  1. $ 1.        Sekurang-kurangnya satu tahun sebelum Kapitel, Prior Jenderal hendaknya mengirim surat konvokasi kepada semua pemimpin tinggi, memberitahukan tempat dan tanggal berlangsungnya Kapitel, dan mengajak para saudara untuk berdoa bagi keberhasilannya.

$ 2.        Pada waktu yang sama Prior Jenderal dengan Konsiliumnya hendaknya membentuk Panitia Persiapan dan Sekretariat Kapitel Jenderal.

$ 3.        Enam bulan sebelum pelaksanaan Kapitel, Prior Jenderal hendaknya mengirimkan kepada semua gremiales laporan tertulis dan dokumentasi tentang status Ordo dan masalah-masalah yang mungkin muncul pada periode enam tahun mendatang.

  1. $ 1.        Sebelum Kapitel, Sekretariat berfungsi sebagai pusat eksekutif dan koordinatif untuk segala sesuatu yang menyangkut hal-hal teknis dan administratif. Selain itu Sekretariat bertugas juga untuk menampung semua usul dan mengirimkannya kepada Panitia Persiapan.

$ 2.        Selama berlangsungnya Kapitel, tugas Sekretariat adalah memberikan pelayanan kepada semua gremiales dan mempersiapkan dokumen-dokumen Kapitel, dengan bekerja sama dengan Panitia yang bersangkutan sebagaimana disebutkan pada no. 271 c).

$ 3.        Sekretariat Konsilium Jenderal hendaknya bekerja sama dengan Sekretariat Kapitel Jenderal.

  1. $ 1.         Panitia Persiapan hendaknya terdiri dari sejumlah saudara yang ahli dalam bidang-bidang yang akan dibahas dalam Kapitel.

$ 2.        Panitia Persiapan bertugas untuk:

  1. Menata masukan-masukan yang dikirim ke Panitia sesuai dengan kriterianya yang tepat;
  2. Menyatakan pandangannya atas masukan-masukan tersebut;
  3. Menyusunnya dalam rumusan yang sesuai untuk pemungutan suara.

  1. $ 1.        Semua saudara berhak untuk memberikan masukan-masukan dan menyampaikan pandangan mereka atas masalah-masalah dan perkara-perkara yang menyangkut kesejahteraan Ordo, dan mengirimkannya ke Sekretariat Kapitel.

$ 2.        Sangat dianjurkan untuk mengadakan dalam seluruh Ordo pertemuan terbuka para anggota yang memiliki hak suara pada tingkat rumah biara, tingkat Provinsi, dan antar Provinsi untuk membahas semua masalah yang dianggap dapat bermanfaat bagi kesejahteraan Ordo dalam dialog persaudaraan dan dengan kepedulian yang penuh kasih dan tulus bagi perkembangan Ordo, dengan tujuan untuk mengajukannya kepada Panitia Persiapan. Konsilium Provinsi dan para delegat ke Kapitel Jenderal hendaknya mendorong dan mendukung usaha pertukaran pandangan ini, menurut ketetapan Statuta Provinsi.

  1. Sekurang-kurangnya enam bulan sebelum Kapitel dimulai, hendaknya dokumen yang disusun Panitia Persiapan dikirim kepada para Prior Provinsial, Prior rumah dan semua gremiales Kapitel Jenderal.

  1. $ 1.        Setelah surat konvokasi diterima, para Prior Provinsial hendaknya mengusahakan agar secepat mungkin diadakan pemilihan para delegat ke Kapitel Jenderal.

$ 2.        Para delegat hendaknya dipilih dari antara semua anggota yang memiliki hak suara, kecuali mereka yang telah menjadi gremiales Kapitel. Statuta Provinsi dapat menentukan tatacara khusus untuk pemilihan dan jumlah suara yang dituntut untuk terpilih, dengan memperhatikan kewajiban untuk menjamin bahwa pemungutan suara dilakukan secara rahasia, dan bahwa calon-calon yang dipilih sungguh-sungguh mampu dan ahli dalam perkara yang akan dibahas dalam Kapitel.

$ 3.        Hendaknya juga dipilih delegat cadangan dalam jumlah yang sama dengan delegat.

$ 4.        Hasil semua pungutan suara dan nama mereka yang terpilih hendaknya secepat mungkin disampaikan ke Sekretariat Kapitel Jenderal.

  1. Apabila seorang delegat karena alasan wajar tidak dapat hadir dalam Kapitel, hendaknya ia diganti oleh delegat cadangan urutan pertama.

  1. Sesegera mungkin setelah setiap Kapitel Jenderal biasa, hendaknya diterbitkan katalog Ordo yang memuat daftar nama anggota baru Kuria dan pejabat jenderal, daftar para biarawan, para rubiah, para suster yang beragregasi dengan Ordo, daftar semua rumah biara dan keterangan berbagai kegiatan mereka.

  1. Konsilium Jenderal hendaknya mengusahakan agar selama berlangsungnya Kapitel ada orang-orang yang kompeten bagi gremiales untuk dapat menjelaskan bahan yang akan dibahas.

  1. Sekurang-kurangnya tiga anggota Panitia Persiapan hendaknya mengambil bagian dalam Kapitel. Mereka ini seperti juga para pakar lainnya yang ditunjuk oleh Konsilium Jenderal tidak mempunyai hak suara. Namun, bila disetujui Kapitel, mereka dapat juga mengambil bagian dalam perdebatan dan menyampaikan kepada Kapitel masalah-masalah yang hendaknya dibahas.

  1. Prosedur dan norma-norma penyelenggaraan Kapitel Jenderal hendaknya ditetapkan dalam Peraturan Prosedur, yang perlu disahkan menurut ketetapan Konstitusi ini, dan dipandang relatif tetap. Kapitel Jenderal dapat mengubah suatu ketetapan hanya dengan suara dua pertiga dari mereka yang hadir dalam sidang sebagaimana disebutkan dalam no. 272 b); dan mayoritas mutlak dituntut apabila  amandemen  itu akan diberlakukan untuk Kapitel Jenderal yang akan datang

  1. Prior Jenderal masa bakti enam tahun sebelumnya hendaknya memimpin sidang pertama Kapitel yang akan berlangsung sebagai berikut:
  1. Apabila surat apostolik telah dikirim oleh Tahta Suci untuk Kapitel ini, surat tersebut dibacakan setelah doa  pembukaan Kapitel.
  2. Selanjutnya sekretaris membacakan daftar gremiales.
  3. Kemudian diumumkan nama-nama para petugas Kapitel yang ditunjuk oleh Prior Jenderal setelah mendengarkan pandangan Konsiliumnya: tiga pemungut suara dan tiga penghitung suara; tiga pemeriksa biaya Kapitel; panitia revisi akta yang hendaknya dibentuk dari wakil-wakil dari berbagai kelompok bahasa, dan yang bertugas menyusun akta Kapitel menurut ketetapan no. 261 $ 2. Semua petugas ini haruslah gremiales.
  4. Seorang dari para anggota hendaknya dipilih secara kanonik menjadi ketua Kapitel; tugasnya ialah mengetuai Kapitel sampai pemilihan dan penerimaan Prior Jenderal. Prior Jenderal masa bakti enam tahun yang sebelumnya tidak mempunyai hak suara pasif dalam pemilihan Ketua.
  5. Gremiales memilih lima hakim untuk memeriksa perkara yang mungkin timbul dan memutuskannya atas nama Kapitel.

  1. Sidang kedua Kapitel berlangsung sebagai berikut:
  1. Prior Jenderal masa bakti enam tahun sebelumnya membacakan laporan tentang keadaan rohani dan jasmani Ordo, dan juga apakah dan bagaimana dalam masa bakti sebelumnya Ordo menjalankan pedoman dari Tahta Suci, dari Kapitel sebelumnya, dan dari Kongregasi Jenderal, dan alasan-alasan yang menghambat pelaksanaannya.
  2. Selanjutnya tata tertib pelaksanaan Kapitel menurut ketetapan no. 270 disampaikan kepada gremiales.

  1. Gremiales menetapkan urutan pokok-pokok di agenda yang akan dibahas, menetapkan kapan dilaksanakan pemilihan, dan memutuskan apakah beberapa biarawan yang bukan gremiales dapat mengikuti sidang, menurut ketetapan no. 221 $ 2.

  1. Para hakim hendaknya mendengarkan dan memeriksa setiap perselisihan yang mungkin muncul mengenai hak untuk mengikuti Kapitel Jenderal, dan mengambil keputusan atas nama Kapitel.

2. Prior Jenderal

  1. Orang yang akan dipilih menjadi Prior Jenderal hendaknya unggul dalam bakat-bakat alamiah dan keutamaan, dan mempunyai pengalaman dan kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga mampu memegang tampuk pimpinan Ordo secara pantas dan efektif, sesuai dengan tuntutan zaman. Tugas jabatannya adalah untuk menjamin secara efektif kesejahteraan bersama seluruh Ordo, bekerja keras agar semangat sejati Karmel terutama mengenai hidup doa sungguh-sungguh terdapat di semua Provinsi dan bertumbuh secara berangsur-angsur, mengembangkan terus-menerus pertumbuhan Ordo dan vitalitas kerasulan serta akademis para biarawan.

  1. $ 1.        Prior Jenderal hendaknya dipilih untuk jangka waktu enam tahun, bila masa bakti ini selesai, ia dapat dipilih lagi untuk jabatan yang sama tetapi ia tidak boleh memegang jabatan itu untuk masa bakti enam tahun ketiga secara berturut-turut.[385]

$ 2.        Pemilihan mengikuti norma no. 245.

$ 3.         Sebelum pemilihan kanonik hendaknya dilaksanakan pemilihan penjajagan.

  1. Agar seseorang dapat dipilih secara sah menjadi Prior Jenderal, ia harus sudah menerima tahbisan imamat,[386] setidaknya telah berusia tiga puluh lima tahun dan telah genap sepuluh tahun dalam Ordo terhitung sejak profesi pertama.[387]

  1. $ 1.        Selain wewenang berdasarkan Hukum Kanonik, Prior Jenderal berwewenang:
  1. Dengan persetujuan Konsiliumnya mengangkat segera mungkin setelah Kapitel Jenderal, para pejabat Jenderal, ketua Institutum Carmelitanum, Arsiparis Jenderal, Prior dan pejabat lain dari biara-biara yang berada di bawah yurisdiksinya, apabila jabatan-jabatan tersebut lowong;
  2. Dengan persetujuan Konsiliumnya memberhentikan seorang Provinsial dari jabatannya karena alasan berat, setelah mendengarkan pandangannya dan pandangan anggota Konsilium Provinsial;
  3. Dengan persetujuan Konsiliumnya dan karena alasan wajar, memajukan atau menunda penyelenggaraan Kapitel Jenderal, tetapi tidak lebih dari enam bulan;
  4. Karena alasan wajar memindahkan para biarawan dari biara yang satu ke biara yang lain, atau dari Provinsi yang satu ke Provinsi yang lain, setelah mendengarkan pandangan para biarawan tersebut dan setelah berkonsultasi dengan Prior Provinsial yang bersangkutan.

$ 2.        Prior Jenderal berwenang mengetuai dengan hak suara aktif Kapitel Provinsial dan Kapitel lokal, dan pertemuan-pertemuan Konsilium Provinsial dan lokal di seluruh Ordo.

  1. Selain kewajiban-kewajiban yang melekat pada jabatannya, menurut norma no. 275, Prior Jenderal berwajiban untuk:
  1. Bertempat tinggal dalam rumah yang sama dengan para anggota Konsilium Jenderal lainnya;[388]
  2. Sekurang-kurangnya sekali dalam masa bakti enam tahun mengadakan sendiri atau lewat orang lain kunjungan kanonik ke semua Provinsi, Komisariat Jenderal dan satuan-satuan yang lain dari Ordo;[389]
  3. Mengirimkan laporan mengenai keadaan Ordo kepada Tahta Suci, menurut norma Hukum Kanonik.[390]

  1. Karena alasan wajar Prior Jenderal dapat meletakkan jabatannya. Peletakan jabatan ini tidak membutuhkan pengabulan, tetapi agar sah hendaknya dilakukan dengan dokumen tertulis yang disampaikan kepada Konsilium Jenderal, atau secara lisan di hadapan dua orang saksi, yang hendaknya segera memberitahukannya kepada Konsilium Jenderal.[391]

  1. Apabila Prior Jenderal menderita sakit yang berkepanjangan sehingga menurut pandangan para dokter dan sebagian besar anggota Konsilium Jenderal ia tidak dapat sepenuhnya menguasai kemampuan mentalnya, maka Wakil Prior Jenderal hendaknya mengambil alih kepemimpinan Ordo dan melaksanakannya selama keadaan ini berlangsung dengan segala hak dan kewajiban Prior Jenderal, tetapi tetap berlaku ketentuan no. 282 $ 2.

  1. $ 1.        Apabila jabatan Prior Jenderal menjadi lowong kurang dari setahun sebelum akhir masa bakti enam tahun, maka Wakil Prior Jenderal hendaknya mengambil alih kepemimpinan Ordo sampai akhir masa bakti enam tahun tersebut dengan segala hak dan kewajiban Prior Jenderal.

$ 2.        Tetapi apabila kelowongan itu terjadi lebih dari satu tahun sebelum akhir masa bakti enam tahun, maka Wakil Prior Jenderal hendaknya mengambil alih kepemimpinan Ordo dengan segala hak dan kewajiban Prior Jenderal, dan dalam dua bulan mengadakan konvokasi Kapitel Jenderal luar biasa menurut ketetapan no. 260 $ 1, 265 dan 266. Kapitel ini akan memilih seorang Prior Jenderal yang hendaknya menjabat sampai akhir masa bakti enam tahun tersebut. Pada akhir masa bakti enam tahun itu hendaknya diselenggarakan Kapitel Jenderal biasa.

  1. Seorang Prior Jenderal yang telah menyelesaikan masa jabatannya, atau meletakkan jabatan, dapat memilih untuk tinggal di rumah mana pun dari Ordo.

  1. Para mantan Prior Jenderal mempunyai hak suara dalam Kapitel Provinsial dari Provinsi dimana mereka tinggal.

  1. Kongregasi Jenderal

  1. Dua tahun sebelum Kapitel Jenderal, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsilium Jenderalnya hendaknya mengadakan konvokasi Kongregasi Jenderal untuk membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama bagi seluruh Ordo.

  1. $ 1.        Para anggota Kongregasi Jenderal ialah:
  1. Prior Jenderal
  2. Para anggota Konsilium Jenderal
  3. Para Prior Provinsial
  4. Para Komisaris Jenderal
  5. Para Komisaris Provinsial dari Komisariat yang pada hari konvokasi Kongregasi Jenderal mempunyai sekurang-kurangnya 20 anggota yang mempunyai hak suara.
  6. Para pimpinan delegasi Jenderal yang pada hari konvokasi Kongregasi Jenderal mempunyai sekurang-kurangnya 20 anggota yang mempunyai hak suara.

$ 2.        Setiap Prior Provinsial dan Komisaris Jenderal dapat disertai seorang biarawan yang sungguh ahli dalam materi yang akan dibahas dalam Kongregasi Jenderal. Biarawan ini mempunyai hak untuk ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan Kongregasi itu tetapi tidak memiliki hak suara.

$ 3.        Para Komisaris Provinsial dan Delegat Jenderal yang tidak termasuk dalam daftar $1.f) diatas, dan Ketua-ketua Regio, ambil bagian dalam Kongregasi itu tetapi tidak memiliki hak suara.

  1. Kongregasi Jenderal yang berhimpun secara kolegial bertugas untuk:
  1. Membantu Prior Jenderal dan Konsiliumnya dalam tugas memimpin dan menjiwai Ordo;
  2. Mengembangkan relasi dan kontak antara Kuria Jenderal dan berbagai kawasan Ordo;
  3. Memastikan pelaksanaan keputusan dan ketetapan Kapitel yang lalu, mengkaji efektivitas pedoman yang telah diberikan,  membuat keputusan dan mengeluarkan ketetapan yang berlaku hanya sampai Kapitel berikutnya;
  4. Membantu dalam persiapan Kapitel berikutnya dan memberi masukan kepada Prior Jenderal mengenai tempat penyelenggaraan Kapitel tersebut;
  5. Membahas masalah-masalah keuangan Ordo.

  1. Musyawarah Provinsi-Provinsi

  1. Musyawarah Provinsi-Provinsi adalah badan konsultatif yang dibentuk dengan tujuan:
  1. Memungkinkan partisipasi lebih besar dari Provinsi-provinsi dalam kepemimpinan pusat Ordo;
  2. Memantau kecenderungan dan kebutuhan Ordo untuk memberikan pandangan kepada Prior Jenderal dan Konsiliumnya;
  3. Membantu menilai pertumbuhan Ordo, atas dasar laporan tertulis yang disajikan oleh para anggota Konsilium Jenderal.

  1. Musyawarah Provinsi-Provinsi terdiri dari anggota sbb:
  1. Prior Jenderal,
  2. Para anggota Konsilium Jenderal,
  3. Para Prior Provinsial,
  4. Para Komisaris Jenderal,
  5. Para Komisaris Provinsial,
  6. Para Ketua Regio,
  7. Para Pimpinan Delegasi Jenderal.

  1. Musyawarah Provinsi-Provinsi diadakan dua tahun setelah Kapitel Jenderal.

  1. Regio-regio

  1. Provinsi-Provinsi, Komisariat Jenderal dan Komisariat Provinsial dapat membentuk Regio-regio untuk mengembangkan komunikasi dan kerja sama yang lebih besar.

  1. Setiap Regio hendaknya mengorganisasi diri dengan cara yang paling sesuai atau perlu, serta menyusun Statutanya sendiri untuk mengatur kegiatannya. Statuta ini, yang harus disahkan menurut norma no. 195 $ 2., hendaknya menjabarkan pejabat-pejabat Regio yang dipilih atau diangkat, dan menetapkan fungsinya (Ketua, Sekretaris, dan sebagainya.).

  1. Konsilium Jenderal

  1. $ 1.        Sebagai badan kolegial yang dibentuk menurut hukum, Konsilium Jenderal terdiri dari Prior Jenderal, Wakil Prior Jenderal, dua Konsiliarius Jenderal bagi Utara (Konsiliarius Jenderal bagi Eropa Utara-Tengah dan Amerika Utara, dan Konsiliarius Jenderal bagi Eropa Mediterania), dua Konsiliarius Jenderal bagi Selatan (Konsiliarius Jenderal bagi Amerika Latin dan Konsiliarius Jenderal bagi Asia-Afrika-Australia), Prokurator Jenderal dan Ekonom Jenderal. Sedangkan Konsilium Prior Jenderal terdiri dari orang-orang yang sama tanpa Prior Jenderal. Namun Prior Jenderal dapat memberi suara bersama para Konsiliarius.[392]

$ 2.        Bila membahas hal-hal yang berkaitan dengan bidang mereka, para pejabat Jenderal dapat dipanggil untuk memberikan pandangan mereka dalam pertemuan-pertemuan Konsilium Jenderal.

  1. Pemilihan kanonik setiap anggota Konsilium Jenderal oleh Kapitel Jenderal hendaknya dilaksanakan setelah pemungutan suara penjajagan.

  1. Semua anggota Konsilium Jenderal hendaknya dipilih untuk masa bakti jabatan enam tahun; bila masa bakti enam tahun selesai mereka dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama, tetapi tidak untuk masa bakti ketiga, tanpa jeda waktu sekurang-kurangnya tiga tahun.

  1. Bila jelas bertindak sebagai badan kolegial, Konsilium Jenderal harus bertindak menurut norma hukum. Sedangkan bila berfungsi sebagai Konsilium Prior Jenderal, maka tugasnya adalah untuk membantu Prior Jenderal dan memberi persetujuan dan masukan menurut ketetapan Hukum Kanonik dan Hukum Ordo.

  1. $ 1.        Dengan tetap memperhatikan ketentuan Hukum Kanonik, pada waktu membahas masalah-masalah administrasi biasa suatu sidang Konsilium Jenderal akan sah, bila sekurang-kurangnya empat anggota hadir.[393]

$ 2.        Apabila menurut hukum Kanonik atau hukum Ordo sendiri masalah yang akan dibahas menuntut kehadiran lebih banyak anggota dari yang hadir saat itu, Konsilium sendiri dalam hal ini boleh memberikan hak suara kepada para pejabat jenderal di Kuria, dengan memperhatikan urutan presedensi menurut ketetapan no. 205 $ 3, atau apabila mereka juga tidak hadir, hak suara dapat diberikan kepada para pemimpin tinggi terdekat.

  1. Dalam perkara-perkara yang penting, Prior Jenderal hendaknya melibatkan bantuan Konsiliumnya, juga dalam kasus yang tidak menuntut partisipasi mereka menurut hukum. Ia hendaknya juga mendengarkan pendapat para pejabat yang disebutkan dalam no. 311 dan 312 dalam hal-hal yang berkaitan dengan jabatan mereka.

  1. Prior Jenderal dan para anggota Konsilium hendaknya sering menjalin kontak dengan para pemimpin tinggi Ordo untuk berbagi pengalaman hidup dari seluruh Ordo.

  1. Wakil Prior Jenderal

  1. Tugas Wakil Prior Jenderal meliputi:
  1. Melaksanakan urusan-urusan Ordo apabila Prior Jenderal absen;
  2. Mewakili Prior Jenderal atas permintaannya;
  3. Menata dan mengkoordinasi karya Konsilium Jenderal;
  4. Mengawasi pelaksanaan aneka jabatan administratif Kuria

  1. Para Konsiliarius Jenderal

  1. Anggota Konsilium Jenderal hendaknya sudah mengikrarkan profesi meriah, dan mempunyai kualitas sebagai berikut:
  1. Kemampuan untuk mengkoordinasi, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain,
  2. Kesediaan dan kemampuan untuk melaksanakan keputusan yang diambil Kapitel Jenderal,
  3. Inspiratif dan kreatif.

  1. Dalam melaksanakan tugas-tugas mereka, para Konsiliarius Jenderal hendaknya berusaha menjaga keseimbangan antara keempat unsur berikut, menurut prinsip kolegialitas, subsidiaritas dan kerja sama timbal balik:
  1. Para Konsilarius Jenderal pertama-tama adalah anggota-anggota Konsilium Jenderal, Penasihat Prior Jenderal; maka mereka berbagi tanggung jawab dalam memajukan kepentingan bersama seluruh Ordo.
  2. Para Konsilarius Jenderal hendaknya menyampaikan laporan kepada Konsilium Jenderal tentang segala kegiatan dan pengalaman regio-regio Ordo yang berada di bawah kawasan geografis kompetensi mereka. Dalam kaitannya dengan Provinsi, Komisariat dan Delegasi dalam kawasan geografis mereka, setiap Konsiliarius Jenderal menjadi penghubung berbagai yurisdiksi lokal dan Konsilium Jenderal.
  3. Dengan memperhatikan dinamika yang penuh perkembangan baik di kawasan Ordo yang sudah mapan, maupun yang sedang berkembang, diharapkan agar para Konsiliarius Jenderal bagi kawasan Utara dan Selatan mengamati kawasan masing-masing dengan penuh perhatian, untuk mengidentifikasi sumber daya dan kebutuhan, dan memberi informasi yang cukup memadai kepada pimpinan pusat Ordo.
  4. Dalam Konsilium Jenderal setiap Konsiliarius diberi tanggung jawab di bidang tertentu. Selain itu setiap Konsiliarius Jenderal akan dilibatkan dalam mengurusi berbagai bidang tanggung jawab sebagaimana disebut dalam no. 303, dalam lingkup kawasan geografisnya dan menyampaikan laporan tentang kegiatannya kepada Konsilium Jenderal.

  1. Konsilium Jenderal membagikan kepada para anggotanya bidang-bidang tanggung jawab sebagai berikut:
  1. Keluarga Karmel:
  1. Evangelisasi:
  1. Spiritualitas, formasio, aktivitas budaya dan akademis:
  1. Pendirian baru;
  2. Rumah di bawah yurisdiksi langsung Prior Jenderal.

  1. Anggota Konsilium Jenderal yang berfungsi sebagai rekan Prior Jenderal dalam Kapitel Provinsi mempunyai hak suara aktif dalam Kapitel itu.

  1. Bila selama masa bakti enam tahun terjadi kelowongan jabatan anggota Konsiliarius Jenderal, maka secara kolegial Konsilium Jenderal hendaknya menggantinya sesegera mungkin dengan seorang biarawan yang cocok; dia akan memegang jabatan tersebut sampai akhir masa bakti enam tahun itu.

  1. Prokurator Jenderal

  1. Prokurator Jenderal bertugas atas nama Prior Jenderal untuk melaksanakan semua urusan Ordo dengan Takhta Suci.

10. Ekonom Jenderal

  1. $ 1.        Ekonom Jenderal bertugas:
  1. Mengurus harta benda Ordo;
  2. Mengatur urusan keuangan Konsilium Jenderal;
  3. Mengadakan kontak dengan para ekonom Provinsi, Komisariat Jenderal, Komisariat Provinsial;
  4. Mempersiapkan anggaran belanja bagi proyek yang diusulkan Kapitel Jenderal atau Musyawarah Provinsi-provinsi,
  5. Menghimpun komisi internasional keuangan dan bersamanya mengajukan kepada Konsilium Jenderal iuran yang hendaknya dibayar oleh Provinsi-Provinsi, menetapkan rencana keuangan, memeriksa laporan tahunan keuangan Provinsi-Provinsi, menetapkan kriteria agar kebijakan keuangan Ordo sejalan dengan pilihan Ordo untuk mengutamakan kaum miskin dan kaum pinggiran, mempersiapkan buku dan laporan keuangan untuk pemeriksaan berkala oleh Konsilium Jenderal;
  6. Mengkoordinasi promosi dan bantuan yang perlu dari berbagai Provinsi Ordo bagi komunitas-komunitas yang mengalami kesulitan.

$ 2.        Dalam melaksanakan jabatannya Ekonom Jenderal dapat melibatkan bantuan para pakar, entah biarawan atau awam, dengan persetujuan Konsilium Jenderal.

11. Sekretaris Jenderal dan Pejabat Kuria

  1. $ 1.        Sekretaris Jenderal dan sekretaris-sekretaris untuk bidang-bidang prioritas khusus Ordo diangkat oleh Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya. Sekretaris Jenderal adalah sekretaris resmi Ordo;

$ 2.        Bidang-bidang prioritas khusus Ordo meliputi:

  1. Keluarga Karmel;
  2. Evangelisasi;
  3. Formasio, spiritualitas dan aktivitas budaya dan akademis.

  1. Bila dipandang baik, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya dapat mengangkat seorang ko-sekretaris untuk bekerja sama dengan Sekretaris Jenderal.

  1. $ 1.        Tugas Sekretaris Jenderal:
  1. Mempersiapkan pertemuan Konsilium Jenderal, menghadiri pertemuan tersebut tanpa hak bicara atau hak suara, dan menyusun notulen pertemuan;
  2. Mengirim dan menerima surat-surat dinas dan dokumen-dokumen lain;
  3. Bertanggung jawab atas persiapan teknis dan administratif Kongregasi Jenderal, Musyawarah Provinsi-Provinsi, dan pertemuan-pertemuan lain yang diadakan oleh otoritas yang bewenang;
  4. Memfasilitasi komunikasi antara Konsilium Jenderal dan berbagai Provinsi Ordo dengan cara terbaik.

$ 2.        Para sekretaris bagi bidang prioritas khusus bersama dengan Konsiliarius yang bersangkutan bertugas:

  1. Mempersiapkan pertemuan, rapat komisi, dan berbagai pertemuan bidangnya;
  2. Mengembangkan proyek dalam bidangnya untuk mendukung perkembangan Ordo;
  3. Mengajukan kepada Ekonom Jenderal anggaran proyek yang disebutkan pada b) diatas;
  4. Pada akhir tahun menyampaikan laporan tentang aktivitas-aktivitas dari bidang mereka kepada Konsilium Jenderal.

  1. Jabatan-jabatan lain dalam Kuria Jenderal ialah:

  1. Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, hendaknya mengangkat petugas-petugas untuk mengisi jabatan-jabatan dalam Kuria yang disebutkan diatas dan jabatan-jabatan yang mungkin akan diadakan, serta menetapkan wewenang dan kewajibannya.


Bab XX

Kepemimpinan Provinsi

  1. Kapitel Provinsi

  1. Kapitel Provinsi adalah pertemuan persaudaraan, dimana komunitas-komunitas lokal meneguhkan rasa turut memiliki komunitas provinsi dengan cara berbagi keprihatinan atas masalah-masalah bersama.

  1. Kapitel Provinsi biasa hendaknya diselenggarakan setiap tiga tahun dalam bulan yang ditetapkan Kapitel sebelumnya dan dengan persetujuan Prior Jenderal.

  1. Kapitel Provinsi luar biasa hendaknya diselenggarakan menurut ketetapan no. 353 $ 2 dari Konstitusi ini.

  1. Kapitel Provinsi hendaknya berlangsung menurut Konstitusi ini dan ketentuan-ketentuan Statuta Provinsi.

  1. Statuta Provinsi hendaknya menentukan dengan jelas para gremiales Kapitel Provinsi dengan mengingat bahwa jumlah delegat sekurang-kurangnya seimbang dengan jumlah anggota yang berhak hadir, dengan tetap memperhatikan ketetapan-ketetapan yang disebutkan pada no. 278 $ 2, 284 dan 304.

  1. Apabila keadaan dan jumlah para biarawan memungkinkan, Statuta Provinsi dapat menetapkan bahwa semua biarawan yang mempunyai hak suara aktif dalam Provinsi adalah gremiales Kapitel Provinsi.

  1. Dalam pemilihan delegat untuk Kapitel Provinsi, hanyalah para anggota yang belum menjadi gremiales Kapitel Provinsi mempunyai hak suara aktif dan pasif.

  1. Dalam penyelenggaraan Kapitel Provinsi pertama setelah pembentukan Provinsi baru, adalah hak Prior Jenderal untuk menentukan siapa akan menjadi gremiales Kapitel tersebut setelah mendengarkan Konsiliumnya dan orang-orang yang berkepentingan, untuk mengadakan konvokasi Kapitel baik langsung ataupun lewat orang lain, dan melaksanakan apa yang ditetapkan pada no. 316, 319, 324-331.

  1. Kapitel Provinsi mempunyai tugas:
  1. Dengan memperhatikan ketentuan no. 322, memilih dengan pemilihan kanonik Prior Provinsial dan para Konsiliarius Provinsial, dan bila ditentukan oleh Statuta Provinsi juga memilih Wakil Prior Provinsial dan Asisten Provinsial;
  2. Merumuskan dan mengubah Statuta Provinsi serta mengeluarkan dekrit-dekrit lain;
  3. Menetapkan pedoman dan kriteria bagi kepemimpinan Provinsi;
  4. Bila dianggap tepat, menentukan pembagian harta benda di seluruh Provinsi dengan memperhatikan keadilan dan kasih;
  5. Menetapkan sumbangan yang hendaknya diberikan beberapa atau semua rumah biara Provinsi bagi keperluan bersama;
  6. Mengambil keputusan lain yang baik guna penataan di seluruh Provinsi atau di suatu biara.

  1. Statuta Provinsi dapat menetapkan bahwa semua biarawan yang yang memiliki suara aktif dalam Provinsi dapat ikut ambil bagian dalam pemilihan Prior Provinsial dan Konsiliarius Provinsial. Statuta hendaknya metetapkan dengan jelas cara pemberian suara dan jumlah suara yang harus diperoleh agar seseorang dapat dinyatakan terpilih.

  1. Sekurang-kurangnya enam bulan sebelum pelaksanaan Kapitel Provinsial, Prior Provinsial hendaknya mengirimkan surat konvokasi ke setiap biara, memberitahukan tempat dan tanggal pembukaan Kapitel, serta mengajak para biarawan untuk berdoa bagi keberhasilannya.

  1. $ 1.        Dalam waktu satu bulan sejak konvokasi Kapitel, Prior Provinsial dengan persetujuan Konsiliumnya hendaknya membentuk baik sekretariat maupun komisi persiapan. Bila keadaan memungkinkan, dapat dibentuk hanya panitia persiapan yang juga berfungsi sebagai sekretariat.

$ 2.        Selain komisi persiapan bagi seluruh Provinsi, dapat juga dibentuk panitia khusus untuk Komisariat Provinsi.

  1. Komisi persiapan hendaknya dibentuk dari sejumlah biarawan yang ahli dalam masalah-masalah yang akan dibahas dalam Kapitel. Namun demikian, para pemimpin tinggi tidak boleh menjadi anggota komisi. Semua sarana yang diperlukan hendaknya disediakan bagi panitia agar  dapat melakukan tugasnya.

  1. Sebelum dan selama berlangsungnya Kapitel, sekretariat menjadi pusat eksekutif dan koordinatif segala yang menyangkut hal teknis dan administratif.

  1. Baik Kapitel Rumah maupun para anggota Provinsi secara perseorangan mempunyai hak untuk mengirim kepada komisi persiapan masukan-masukan untuk dipertimbangkan dalam Kapitel Provinsi.

  1. Panitia persiapan bertugas:
  1. Mengatur masukan-masukan yang diterima dengan kriteria yang tepat;
  2. Menyatakan pandangannya mengenai masukan-masukan tersebut;
  3. Meringkas masukan-masukan tersebut dalam bentuk yang cocok untuk pemungutan suara.

  1. Bahan yang dipersiapkan oleh komisi persiapan hendaknya disusun menjadi satu berkas dan dikirimkan kepada semua gremiales Kapitel dan semua biara provinsi, sekurang-kurangnya sebulan sebelum pembukaan Kapitel.

  1. Setelah konvokasi Kapitel para delegat hendaknya segera dipilih. Hasil semua pemungutan suara dan nama para calon yang terpilih hendaknya diumumkan dengan segera.

  1. Bila ditetapkan oleh Statuta Provinsi, panitia persiapan segera setelah terbentuk hendaknya mengusahakan agar semua anggota Provinsi yang mempunyai hak suara memberikan suara konsultatif atas para calon Prior Provinsial dan Konsiliarius Provinsial. Hasil pemungutan konsultatif ini hendaknya diumumkan dalam sidang pertama Kapitel menurut ketetapan no. 333 f), kecuali bila Statuta Provinsi menentukan lain.

  1. $ 1.        Prior Jenderal mempunyai hak untuk mengetuai Kapitel Provinsi baik secara pribadi atau lewat delegat.

$ 2.        Apabila Prior Jenderal tidak hadir dan tidak menunjuk seorang ketua, Kapitel hendaknya memilih seorang ketua dari para gremiales menurut Hukum Kanonik. Prior Provinsial dari masa bakti sebelumnya hendaknya mengetuai pemilihan ini, namun ia tidak mempunyai hak suara pasif.

$ 3.        Ketua yang terpilih menurut ketetapan $ 2 mempunyai hak dan kewajiban mengetuai Kapitel sampai Prior Provinsial terpilih dan menerima tugas tersebut. Dalam hal ini pemilihan harus dikukuhkan oleh Prior Jenderal menurut ketetapan no. 249.

  1. Sidang pertama Kapitel hendaknya mengikuti urutan sebagai berikut:
  1. Prior Jenderal atau ketua yang ditunjuk olehnya, atau bila keduanya tidak hadir, Prior Provinsial masa bakti tiga tahun yang sebelumnya hendaknya menyampaikan sambutan yang sesuai.
  2. Apabila Prior Jenderal telah mengirim surat yang menunjuk ketua Kapitel, hendaknya surat itu dibacakan.
  3. Bila diperlukan, hendaknya dipilih ketua Kapitel menurut norma no. 332 $ 2.
  4. Setelah mendengarkan pandangan Konsilium Provinsial, Ketua hendaknya menunjuk dari antara para gremiales para pejabat Kapitel sebagai berikut: seorang sekretaris, dua orang pemeriksa akta, dua orang pemungut suara dan dua orang penghitung suara.
  5. Jika dianggap perlu, gremiales hendaknya memilih tiga orang hakim dengan tugas untuk menimbang dan memutuskan atas nama Kapitel perselisihan yang menyangkut hukum atau perkara lain bila ada. Para hakim tersebut hendaknya menyampaikan hasil pekerjaannya kepada gremiales pada waktu yang ditetapkan.
  6. Hendaknya hasil pemungutan suara konsultatif yang disebutkan dalam no. 331 dibuka dan isinya diumumkan, apabila hal ini belum dilaksanakan.

  1. Pada sidang kedua Kapitel Prior Provinsial masa bakti sebelumnya hendaknya membacakan laporan tertulis tentang keadaan rohani dan jasmani Provinsi; para pejabat yang lain hendaknya memberikan laporan pekerjaannya menurut ketetapan Statuta Provinsi.

  1. Gremiales Kapitel kemudian hendaknya menetapkan:
  1. Pokok-pokok pembicaraan Kapitel dan waktu pelaksanaan pemilihan.
  2. Apakah beberapa biarawan yang bukan gremiales boleh mengikuti sidang-sidang, dengan memperhatikan norma no. 221 $ 2.

  1. Gremiales hendaknya kemudian memeriksa dokumen yang disusun oleh panitia persiapan dan mendiskusikannya dalam panitia-panitia Kapitel, lalu kembali ke dalam sidang pleno untuk membahas dan meratifikasi kesimpulan yang sunguh-sungguh dapat membantu kesejahteraan Gereja, Ordo dan Provinsi.

  1. Keputusan Kapitel Provinsi mempunyai daya ikat bagi seluruh Provinsi sampai keputusan tersebut dicabut kembali; keputusan-keputusan itu dapat dicabut atau diubah dalam Kapitel-kapitel Provinsi berikutnya.

  1. Acta Kapitel Provinsi hendaknya dicatat dalam buku khusus dan dibacakan dalam sidang terakhir; acta itu hendaknya diberi cap Provinsi dan ditandatangani sekurang-kurangnya oleh Ketua dan sekretaris. Prior Provinsial hendaknya segera mengirim copy-nya kepada Prior Jenderal, yang bertugas mengesahkannya dengan persetujuan Konsiliumnya. Setelah disahkan, salinannya hendaknya dikirimkan ke semua biara Provinsi.

  1. Pertemuan-pertemuan lain baik untuk kategori biarawan tertentu atau untuk semua anggota Provinsi yang mempunyai hak suara hendaknya didukung. Tujuan pertemuan ini adalah untuk dengan lebih seksama mempelajari dan memecahkan masalah-masalah yang menyangkut seluruh Provinsi dan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab bersama.

  1. Prior Provinsial

  1. $ 1.        Agar dapat dipilih secara sah menjadi Prior Provinsial, calon hendaknya telah menerima tahbisan imamat, telah lima tahun menjalani profesi kekal dalam Ordo dan sekurang-kurangnya berusia 30 tahun.[394]

$ 2.        Hanya biarawan yang menjadi anggota Provinsi yang boleh dipilih menjadi Prior Provinsial. Dalam kasus khusus, karena alasan wajar dan mendesak, dan dengan persetujuan Prior Jenderal, Kapitel Provinsi boleh memilih seorang saudara dari Provinsi lain menjadi Prior Provinsial, dengan memperhatikan no. 322.

  1. Apabila Statuta Provinsi tidak menetapkan lain, maka:
  1. Dalam pemilihan Prior Provinsial, hanya tiga calon yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan penjajagan sebagaimana disebut dalam no. 331, mempunyai hak suara pasif.
  2. Jika sekurang-kurangnya dua dari calon tersebut menyatakan bahwa apabila terpilih mereka bermaksud untuk tidak menerimanya, maka Kapitel Provinsi berwenang memutuskan apa yang selanjutnya akan dilaksanakan.

  1. $ 1.        Prior Provinsial dipilih untuk masa bakti tiga tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama; dia tidak boleh diplih kembali untuk masa bakti yang ketiga kecuali dia telah di luar jabatan itu sekurang-kurangnya tiga tahun.
  1. Prior Provinsial yang menjabat tugas itu untuk menyelesaikan masa bakti tiga tahun pendahulunya menurut norma no. 353 $ 2, masih dapat dipilih kembali untuk dua masa bakti berikutnya secara berturut-turut.
  1. a)        Bila diizinkan oleh Statuta Provinsi, Prior Provinsial dapat dipilih untuk masa bakti enam tahun. Namun, dia tidak dapat dipilih kembali tanpa jeda waktu sekurang-kurangnya tiga tahun.

b)      Bila jabatan itu menjadi lowong sebelum berakhirnya masa bakti tiga tahun, Prior Provinsial yang mengisi kekosongan tersebut sesuai dengan no. 353 $ 2, hanya menjabat sampai habisnya masa bakti tiga tahun tersebut.[395]

  1. Pemilihan Prior Provinsial hendaknya berlangsung sebagaimana diatur dalam no. 245, kecuali bila Statuta Provinsi menetapkan lain.

  1. Prior Provinsial mempunyai otoritas sepenuhnya segera setelah pemilihan diterimanya dan dikukuhkan.

  1. Prior Provinsial hendaknya mengirim kepada Prior Jenderal laporan tentang keadaan Provinsi sesuai dengan petunjuk Prior Jenderal.

  1. Selain hak-hak yang diberikan Hukum Kanonik, Prior Provinsial mempunyai segala wewenang yang dimiliki para pemimpin rumah berdasarkan Konstitusi ini. Namun pada umumnya, sebaiknya ia tidak mencampuri kepemimpinan masing-masing biara. Selain itu dengan memperhatikan no. 350, karena alasan wajar dan seimbang Prior Provinsial mempunyai wewenang berikut:
  1. Memindahkan pejabat provinsial dan lokal karena alasan berat, setelah mendapat persetujuan Konsiliumnya dan sesudah mendengarkan pandangan orang yang bersangkutan; sehubungan dengan pejabat lokal, sebelum memindahkannya hendaknya ia mendengarkan pandangan Prior yang bersangkutan dan/atau secara terpisah para anggota yang mempunyai hak suara dalam biara yang bersangkutan.
  2. Memindah para biarawan dari biara yang satu ke biara yang lain, dengan memperhatikan ketetapan no. 283 dan 348.
  3. Dengan persetujuan Konsiliumnya mengizinkan anggota tinggal di luar biara karena alasan yang wajar, tetapi untuk waktu yang tidak lebih daripada setahun. Karena alasan studi, kesehatan atau kerasulan yang dilaksanakan atas nama Ordo, izin demikian dapat diberikan selama dibutuhkan.[396]
  4. Memberi dispensasi kepada seorang biarawan, bahkan secara rutin, dari kewajiban mendoakan Ibadah Harian dan dari hukum pantang dan puasa.
  5. Dengan memperhatikan ketetapan no. 201 $ 4, memberi dispensasi kepada seorang biarawan atau suatu biara tertentu atau bahkan seluruh Provinsi, dari ketentuan-ketentuan khusus Statuta Provinsi, apabila dispensasi tersebut hanya berkaitan dengan disiplin.
  6. Sesuai dengan norma Hukum Kanonik no. 832, memberi izin kepada para anggota di Provinsinya untuk menerbitkan tulisan yang menyangkut hal-hal agama atau moral.

  1. Prior Provinsial hendaknya sering mengunjungi biara-biara Provinsinya, khususnya rumah-rumah formasio, dan biara-biara rubiah yang berada di bawah yurisdiksi Ordo.[397] Selama kunjungannya hendaknya ia mengadakan dialog dengan para saudara dan para rubiah, menurut ketetapan Hukum Kanonik no. 628 $ 3, mengenai segala hal yang menyangkut penghayatan hidup bakti.

  1. $ 1.        Sebelum memindahkan biarawan dari satu biara ke biara yang lain, Prior Provinsial hendaknya sedapat mungkin mendengarkan pandangan biarawan tersebut serta pandangan Prior rumah yang bersangkutan; lagi pula dia hendaknya memperhatikan keadaan dan kemampuan masing-masing biarawan.

$ 2.        Pemindahan hendaknya dilakukan dengan perintah yang diberikan secara tertulis pada waktu yang tepat.

  1. Apabila kedua  Prior Provinsial yang bersangkutan sepakat, dan dengan memperhatikan no. 202, biarawan yang setuju untuk dipindahkan atau memohonnya, dapat dipindahkan dari satu Provinsi ke Provinsi yang lain; Prior Jenderal harus diberitahu terlebih dahulu.

  1. Setelah konvokasi Kapitel Provinsi, Prior Provinsial tanpa persetujuan Konsilium Provinsial tidak boleh melakukan suatu tindakan yang mengakibatkan perubahan para anggota yang mempunyai hak suara dalam Kapitel, atau yang mengurangi ataupun menambah jumlahnya.

  1. $ 1.        Bila tidak hadir atau berhalangan, Prior Provinsial dapat mengangkat seorang anggota Provinsinya yang telah menerima tahbisan imamat untuk menjadi pejabatnya dengan memperhatikan no.321,a). Jika ia tidak mengangkat seorang pejabat, maka konsiliarius pertama menggantikannya menurut tata presedensi.

$ 2.        Pejabat tersebut mempunyai kewajiban dan wewenang yang sama seperti Prior Provinsial, tetapi tidak dapat melakukan perubahan dalam Provinsi tanpa persetujuan Konsilium Provinsial.

  1. $ 1.        Prior Provinsial berhenti menjabat pada akhir masa baktinya atau karena diberhentikan oleh Prior Jenderal menurut ketetapan no. 278 $ 1 )b atau karena mengundurkan diri.

$ 2.        Agar sah, pengunduran diri harus diajukan secara tertulis atau secara lisan di hadapan dua orang saksi, dan diterima oleh Prior Jenderal setelah mendengarkan Konsiliumnya.

  1. $ 1.        Bila jabatan Prior Provinsial menjadi lowong kurang dari enam bulan sebelum akhir masa bakti tiga tahun, wakil Prior Provinsial atau Konsiliarius pertama menurut tata presedensi hendaknya memimpin Provinsi sampai akhir masa bakti tiga tahun, dengan segala hak dan kewajiban Prior Provinsial.

$ 2.        Bila jabatan menjadi lowong lebih dari enam bulan sebelum akhir masa bakti tiga tahun, wakil Prior Provinsial atau Konsiliarius pertama yang disebut dalam $ 1 hendaknya memimpin Provinsi dengan segala hak dan kewajiban Prior Provinsial. Namun, dalam waktu satu bulan, dengan tetap memperhatikan ketentuan no. 322, ia hendaknya mengadakan konvokasi Kapitel Provinsial luar biasa, gremialesnya sama dengan gremiales Kapitel biasa menurut ketetapan no. 317 atau 318; atau bila Statuta Provinsi mengijinkan, hendaknya para pemilih dipanggil menurut ketetapan no. 322. Dalam kedua hal tersebut hendaknya dipilih Prior Provinsial yang akan menjabat sampai akhir masa bakti tiga tahun itu. Setelah waktu itu hendaknya diadakan Kapitel biasa.

  1. Prior Provinsial masa bakti tiga tahun sebelumnya hendaknya memberikan kepada Konsilium Provinsial segala informasi yang diperlukan atau bermanfaat untuk kebaikan pemerintahan Provinsi.

  1. Jabatan Prior Provinsial tak dapat diemban bersama dengan jabatan Prior rumah.

  1. Konsilium Provinsial

  1. $ 1.        Konsilium Provinsial sebagai badan kolegial menurut ketetapan hukum, terdiri atas Prior Provinsial, para Konsilarius Provinsial, wakil Prior Provinsial dan asisten Provinsial apabila ada, kecuali jika mengenai jabatan yang terakhir ini Statuta Provinsi menetapkan lain.

Konsilium Prior Provinsial terdiri dari orang-orang yang sama tetapi tanpa Prior Provinsial. Meskipun demikian Prior Provinsial dapat memberi suara bersama dengan para Konsiliarius.[398]

$ 2.        Sekretaris Provinsi berfungsi sebagai sekretaris resmi dalam semua sidang Konsilium Provinsial.

  1. Konsilium Provinsial sebagai badan kolegial hendaknya bertindak menurut hukum. Konsilium Prior Provinsial bertugas membantu Prior Provinsial dan memberi persetujuan serta pandangan menurut norma Hukum Kanonik dan hukum Ordo.

  1. Konsilium Provinsial berfungsi sebagai tribunal kolegial yaitu instansi pertama untuk perkara sengketa dan hukuman dalam Provinsi.[399] 

  1. $ 1.        Dengan memperhatikan ketetapan no. 322, keempat konsiliarius Provinsial hendaknya dipilih oleh semua gremiales dalam Kapitel. Segera setelah pemilihan diumumkan, diterima dan dikukuhkan, para konsiliarius Provinsial langsung mempunyai hak suara dalam Kapitel dan Konsilium Provinsial.

$ 2.        Dalam Komisariat Jenderal dapat dipilih hanya dua konsiliarius, apabila ditetapkan demikian dalam Statuta,.

$ 3.        Konsilarius Provinsial diangkat untuk masa jabatan tiga tahun dan setelah berakhirnya masa jabatan tersebut, dapat dipilih kembali untuk masa jabatan yang sama; mereka hanya boleh dipilih kembali untuk masa jabatan ketiga setelah jedah waktu tiga tahun, kecuali bila Statuta Provinsi menentukan lain.

$ 4.        Bila terjadi kekosongan dalam Konsilium Provinsial dalam perjalanan waktu tiga tahun, Konsilium Provinsial hendaknya memilih pengganti untuk mengisi jabatan tersebut sampai Kapitel Provinsi berikutnya, kecuali bila Statuta Provinsi menentukan lain.

  1. Agar seorang saudara dapat dipilih secara sah menjadi Konsiliarius Provinsial, ia harus sudah berprofesi kekal.

  1. Tugas utama Konsilium Provinsial adalah mengurus kepentingan umum Provinsi secara efektif melalui pelaksanaan ketetapan-ketetapan yang berlaku serta sarana-sarana lain yang sesuai, dan lagi pula meningkatkan kerja sama dan tanggung jawab bersama di antara semua biarawan. Untuk tujuan tersebut Konsilium Provinsial dapat mengeluarkan ketetapan baik bagi seluruh Provinsi maupun bagi biara tertentu, dengan tetap memperhatikan Hukum Kanonik dan hukum Ordo. Agar dapat melaksanakan tugas dengan lebih efektif, para Konsiliarius menurut bidang kegiatan masing-masing dapat melibatkan biarawan lain dan awam, para pakar dalam hukum, ekonomi, teknik dan lain-lain.

  1. Selama Kapitel atau sesudah Kapitel bila Statuta Provinsi menyatakan demikian, Prior Provinsial dengan persetujuan Konsiliumnya dapat mengangkat:
  1. Komisaris Provinsial, apabila dituntut demikian dengan tetap memperhatikan ketetapan no. 375 $ 1, dan setelah berkonsultasi dengan mereka yang terkait;
  2. Para Prior dan pejabat lainnya pada setiap biara, apabila Statuta Provinsi menentukan demikian;
  3. Pembimbing novis;
  4. Seorang atau lebih formator;
  5. Ekonom Provinsi;
  6. Delegat para rubiah dan suster Ordo;
  7. Pejabat-pejabat lain untuk jabatan yang menyangkut seluruh Provinsi.

  1. Selain wewenang yang disebut pada ketetapan no. 362, Prior Provinsial dengan persetujuan Konsiliumnya bertugas:
  1. Dengan memperhatikan no 370 mengangkat pejabat Provinsi, bila jabatan itu lowong sebelum masa bakti tiga tahun selesai.
  2. Dalam kasus khusus dan setelah mendengarkan orang-orang yang bersangkutan, menentukan sumbangan luar biasa yang hendaknya diberikan setiap biara.
  3. Menafsirkan secara otentik Statuta Provinsi. Penafsiran demikian tidak berlaku lagi setelah Kapitel Provinsi berikutnya, kecuali bila dikukuhkan Kapitel.
  4. Dengan persetujuan lebih dahulu dari Prior Jenderal dan atas permintaan mayoritas para pemilih dari Provinsi, memajukan atau menunda penyelenggaraan Kapitel Provinsi, namun tidak lebih dari tiga bulan.

  1. Agar sidang Konsilium Provinsi dapat dianggap sah, para konsiliarius harus hadir bersama-sama, menurut norma no. 219 $ 2.

  1. Dengan memperhatikan ketetapan Statuta Provinsi, Prior Provinsial wajib memanggil Konsiliumnya setiap kali membahas hal yang menjadi wewenang Konsilium Provinsial, atau apabila hal tersebut memerlukan persetujuan Konsilium.

  1. Dalam setiap sidang, setelah doa permohonan bantuan ilahi, notulen sidang sebelumnya hendaknya dibacakan; setelah itu Konsilium membahas dengan teliti dan seksama segala perkara Provinsi. Laporan ekonom Provinsi hendaknya diperiksa sekurang-kurangnya satu kali setahun.

  1. $ 1.        Semua notulen setiap sidang Konsilium hendaknya dicatat dalam buku khusus, ditandatangani oleh semua anggota dan dimeterai dengan materai Provinsi. Prior Provinsial hendaknya berusaha agar setiap biara kadang-kadang memperoleh informasi yang memadai tentang perkara yang dibahas tersebut.

$ 2.        Salinan notulen yang disebutkan dalam  $ 1 hendaknya dikirimkan kepada Konsilium Jenderal sebagai informasi.

  1. Bila Statuta Provinsi mengizinkan, seorang konsilarius dapat juga menjadi Prior rumah.

  1. Para pejabat Provinsi

  1. Para biarawan yang dipilih menjadi pejabat Provinsi hendaknya unggul dalam kebijaksanaan, ilmu pengetahuan dan pengalaman, karena mereka menjadi rekan kerja Prior Provinsial yang memerlukan kerja dan masukan mereka dalam memimpin Provinsi.

  1. Semua pejabat Provinsi (sekretaris, ekonom, dsb) hendaknya diangkat untuk masa bakti tiga tahun dan dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama. Apabila jabatan mereka menjadi lowong sebelum masa bakti tiga tahun selesai, hendaknya dipilih orang lain yang akan menyelesaikan masa bakti tiga tahun tersebut.

  1. $ 1.        Prior Provinsial dapat mengangkat seorang biarawan menjadi asistennya untuk membantu dalam melaksanakan tugas-tugasnya menurut pedoman yang diterimanya. Biarawan ini tetap berada di bawah wewenang prior rumah dalam kewajiban tata tertib umum, dengan tetap memperhatikan tanggung jawabnya kepada Prior Provinsial.

$ 2.        Asisten Provinsial dapat juga menjadi prior rumah, kecuali bila ditentukan lain dalam Statuta Provinsi.

$ 3.        Apabila selama masa bakti tiga tahun jabatan Prior Provinsial menjadi lowong karena alasan apapun, maka jabatan asisten Provinsial juga langsung menjadi lowong.

  1. Prior Provinsial hendaknya mempercayakan urusan arsip Provinsi kepada seorang biarawan yang cakap. Arsip-arsip tersebut hendaknya dijaga dengan seksama, bila mungkin di dalam biara kediaman Prior Provinsial. Semua berkas urusan dan dokumen penting hendaknya disimpan disitu menurut secara teratur.

  1. $ 1.        Jabatan-jabatan, fungsi-fungsi dan komisi-komisi lain hendaknya diadakan apabila diperlukan atau bermanfaat bagi kehidupan dan aktivitas Provinsi.

$ 2.        Jabatan, fungsi dan komisi yang disebutkan pada $ 1 tersebut hendaknya diatur oleh Statuta Provinsi.        

  1. Dengan tetap memperhatikan ketetapan no. 371 $ 3, para pejabat Provinsi berhenti dari tugasnya pada akhir masa bakti tiga tahun, atau dalam kasus yang disebut no. 346 a), atau karena mengundurkan diri secara tertulis atau di hadapan dua orang saksi dan diterima Prior Provinsial setelah mendengarkan pandangan Konsiliumnya.

  1. Kepemimpinan Komisariat Provinsial

  1. $ 1.        Kecuali bila Statuta Provinsi menetapkan lain, Konsilium Provinsial setelah mendengarkan pendapat konsultatif dari anggota yang mempunyai hak suara di dalam Komisariat, mempunyai hak untuk memilih dengan pemilihan kanonik seorang Komisaris dari tiga calon yang mendapat suara terbanyak dalam konsultasi yang disebutkan di atas.

$ 2.        Kecuali bila Statuta Provinsi menetapkan lain, hendaknya dipilih dengan pemilihan kanonik dua konsiliarius oleh semua anggota Komisariat yang mempunyai hak suara.

$ 3.        Komisaris Provinsial hendaknya dipilih untuk masa bakti tiga tahun. Masa bakti jabatan tersebut sama dengan masa bakti Prior Provinsial, menurut ketetapan no. 342.

  1. Meskipun Komisaris Provinsial tidak termasuk Pemimpin Tinggi, namun ia terikat pada kewajiban yang sama sebagaimana Prior Provinsial, dan lewat delegasi ia mempunyai semua kewenangan Prior Provinsial, kecuali kewenangan yang secara tegas dikhususkan oleh Prior Provinsial bagi dirinya sendiri.

  1. $ 1.        Bila diperlukan, dalam Komisariat Provinsial hendaknya diangkat penanggung jawab formasio, pembimbing novis, ekonom Komisariat, demikian pula pejabat-pejabat lain menurut Statuta Provinsi.

$ 2.        Pejabat-pejabat tersebut hendaknya diangkat oleh Komisaris Provinsial dengan persetujuan dari para konsiliarus dan dengan memperhatikan ketetapan no. 370.

$ 3.        Dengan persetujuan para Konsiliarus, dan karena alasan yang wajar Komisaris dapat memberhentikan pejabat-pejabat tersebut dari jabatannya dan/atau mengangkat yang baru.

  1. Statuta Provinsi dapat menentukan norma-norma khusus untuk mengatur pemerintahan Komisariat Propinsi, asalkan tidak bertentangan dengan Konstitusi ini.


BAB XXI

Kepemimpinan Komunitas

1. Kapitel dan Konsilium Lokal

  1. $1        Kapitel rumah yang diketuai Prior atau orang lain yang mengambil alih kedudukannya, merupakan kepemimpinan persaudaraan biara, menurut ketetapan Konstitusi ini dan Statuta Provinsi.

$2        Dalam biara-biara dimana tidak ada Konsilium, Kapitel rumah hendaknya berfungsi sebagai Konsilium Prior.[400]74

  1. $1        Dalam setiap biara, semua saudara yang berkaul kekal merupakan anggota Kapitel rumah.

$2        Cara para saudara yang belum berkaul kekal berpartisipasi dalam Kapitel rumah hendaknya ditetapkan oleh Statuta Provinsi.

  1. Kapitel rumah bertugas untuk mengevaluasi terutama melalui dialog dan untuk memilih prakarsa-prakarsa komunitas menurut kriteria umum; mendorong kerja sama penuh tanggung jawab dari semua anggota; memeriksa dan menilai tugas-tugas yang diterima oleh komunitas atau masing-masing anggota; merumuskan ketetapan-ketetapan khusus bagi biara dan mengubah atau menghapuskannya karena alasan yang dapat diterima; membahas perkara-perkara yang penting; serta memberikan pandangan kepada pemimpin yang berwewenang dalam hal penerimaan para calon untuk profesi dan tahbisan, bila hal ini soalnya.

  1. Dengan memperhatikan peraturan no. 390, Kapitel rumah di setiap biara yang dibentuk secara sah, dimana tinggal secara menetap sekurang-kurangnya empat orang biarawan yang berkaul kekal, dapat memilih Prior, ekonom dan pejabat rumah lain, apabila Statuta Provinsi mengizinkan.

  1. $1        Pada hari yang cocok setelah Kapitel Provinsi, hendaknya Kapitel biara yang disebutkan dalam ketetapan no.382 bertemu untuk membahas masalah-masalah yang ditentukan dalam ketetapan nomor yang sama. Kapitel juga hendaknya memutuskan masalah-masalah lain yang dianggap perlu atau bermanfaat untuk itu.

$2        Pertemuan-pertemuan lain dari Kapitel rumah hendaknya diadakan pada saat-saat yang ditetapkan oleh Statuta Provinsi.

  1. $1        Disamping pertemuan Kapitel rumah, menurut bentuk dan waktu yang ditetapkan oleh Statuta Provinsi hendaknya diadakan pertemuan semua biarawan komunitas, termasuk anggota-anggota yang tidak mempunyai hak suara; dan bila perlu, para ahli yang bukan anggota komunitas hendaknya juga dilibatkan untuk membahas soal-soal yang menyangkut hidup bakti, kerasulan, dan sebagainya. Pertemuan-pertemuan ini hendaknya dipersiapkan sebelumnya dan pertukaran gagasan hendaknya dilakukan bahkan bila Prior atau beberapa biarawan lainnya tidak hadir.

$2        Dalam pertemuan semacam ini berbagai sudut pandang mengenai hidup bakti dan kehidupan Karmel dari komunitas hendaknya dibahas sambil memperhatikan ajaran Injil dan bentuk kehidupan yang dipilih secara bebas oleh para biarawan melalui profesi.

  1. Di biara-biara dimana terdapat lebih daripada sepuluh orang anggota yang memiliki hak suara, hendaknya dibentuk Konsilium Prior, apabila ditetapkan oleh Statuta Provinsi.[401]75

  1. Bila ada, Konsilium bertugas mendampingi Prior dalam pelaksanaan jabatannya sebagai pemimpin dan pendorong semangat komunitas. Selain itu Konsilium hendaknya memberikan masukan dan persetujuan dengan cara yang sangat praktis dan tepat guna atas pekara-pekara yang ditentukan oleh statuta Provinsi atau Kapitel rumah, menurut ketetapan-ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.

  1. $1        Jumlah anggota Konsilium dan cara pengangkatannya hendaknya ditetapkan dalam Statuta Provinsi; mereka hendaknya mengemban tugas selama masa bakti tiga tahun dan dapat dipilih kembali untuk periode tiga tahun berturut-turut.

$2        Demi kepentingan umum dan karena alasan berat, Prior Provinsial dapat membebas-tugaskan para Konsiliarus dari jabatannya atau menerima pengunduran diri mereka.

2. Prior Rumah

  1.  $1        Setiap rumah Ordo, bahkan jika tidak didirikan secara kanonik, dimana sekurang-kurangnya tiga saudara tinggal  secara menetap, hendaknya dikepalai oleh seorang Prior yang diangkat menurut ketetapan no. 362 atau no. 382, 390 dan 392.

$2        Rumah yang tergantung pada rumah induk lain hendaknya dipimpin menurut Statuta Provinsi.

  1. Untuk dapat dipilih menjadi seorang Prior, seorang biarawan harus berkaul kekal sekurang-kurangnya lima tahun dan termasuk anggota Provinsi, dengan memperhatikan ketetapan no. 202.

  1. Apabila Prior dan pejabat biara yang lain harus dipilih oleh Kapitel rumah, maka:

a. anggota yang memiliki hak suara yang pertama menurut tata presedensi hendaknya hendaknya mengetuai pemilihan Prior. Dengan tetap memperhatikan ketetapan no. 355, Prior Provinsial tidak mempunyai suara dalam pemilihan ini, kecuali dalam rumah kediamannya,.

b. Pemilihan  hendaknya  dilaksanakan menurut ketetapan no. 245, dan harus dikukuhkan oleh Prior Provinsial.

  1. Apabila Prior rumah diangkat oleh Prior Provinsial bersama dengan Konsiliumnya, pengangkatan hendaknya didahului dengan konsultasi yang memadai.[402]76

  1. $1        Prior hendaknya diangkat untuk masa bakti tiga tahun; bila jabatannya menjadi lowong sebelum selesai masa bakti tiga tahun, maka hendaknya dipilih orang lain untuk menyelesaikan masa bakti tiga tahun tersebut.

$2        Setelah selesai masa bakti tiga tahun, Prior dapat dipilih kembali untuk jabatan yang sama; namun dia tidak boleh dipilih untuk masa bakti tiga tahun yang keempat secara berturut-turut, meskipun di rumah yang lain, tanpa jeda waktu sekurang-kurangnya tiga tahun.[403]77

  1. Prior hendaknya:

a.        mengarahkan kegiatan para biarawan dan mengembangkan ketaatan aktif dan penuh tanggung jawab dalam suasana persaudaraan yang autentik.

b.        tinggal di biaranya dan tidak meninggalkan rumah tanpa alasan wajar;[404]78

c.         mengusahakan agar komunitasnya mengetahui dan melaksanakan dekrit-dekrit Tahta Suci, Konferensi para Uskup dan para Pemimpin Tinggi, dan menaati Konstitusi ini serta segala ketentuan yang dikeluarkan oleh Ordo dan Provinsi;[405]79          

d.        mengundang Kapitel rumah menurut ketetapan no. 218 dan 219 $1 apabila muncul permasalahan yang menyangkut kompetensi Kapitel atau yang tidak dapat diputuskan tanpa mendengarkan nasihat atau mendapatkan persetujuan Kapitel.[406]80

  1. Selain wewenang yang diberikan oleh Hukum Kanonik, Prior dan wakilnya atau penggantinya dengan alasan yang wajar dapat:

a.        memberi dispensasi kasus demi kasus kepada seorang biarawan atau kepada seluruh komunitas dari kewajiban merayakan Ofisi ilahi bersama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun mereka tetap berkewajiban untuk mendoakannya sendiri;

b.        memberi dispensasi kasus demi kasus kepada seorang biarawan atau seluruh komunitas dari kewajiban berpuasa atau berpantang sebagaimana ditetapkan oleh Hukum Kanonik[407]81 atau hukum Ordo;

c.         memberi ijin kepada anggota untuk tinggal sementara di luar komunitas sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Statuta Provinsi.

d.        memberi ijin kepada imam-imam untuk berkotbah di gereja komunitas.[408]82

  1. $1        Karena alasan wajar, prior dapat mengundurkan diri dari jabatannya sebelum akhir masa bakti tiga tahun. Tetapi agar sah, pengunduran dirinya harus dibuat secara tertulis atau secara lisan di hadapan dua orang saksi, dan harus diterima oleh Prior Provinsial dengan persetujuan Konsiliumnya.[409]83

$2        Karena alasan wajar dan dengan persetujuan Kosiliumnya, Prior Provinsial dapat membebas-tugaskan Prior dari jabatannya sebelum masa bakti tiga tahun berakhir.  Namun sebelum melakukannya, Prior Provinsial berkewajiban untuk mendengarkan pendapat Prior tersebut dan setiap anggota secara sendiri-sendiri yang memiliki hak suara yang tinggal di biara bersangkutan.

3.Para pejabat biara lainnya

  1. $1        Statuta Provinsi hendaknya menentukan apakah sebaiknya diadakan jabatan Sub-Prior serta menentukan wewenangnya.

$2        Dengan memperhatikan ketetapan-ketetapan Hukum Kanonik, hendaknya Statuta Provinsi menetapkan siapa yang hendaknya memimpin biara apabila Prior tidak ada di tempat.

  1. $1        Jabatan Sakrista, Ekonom dan Sekretaris, dan jabatan-jabatan lain hendaknya ditetapkan dalam Statuta Provinsi.

$2        Statuta Provinsi hendaknya menetapkan cara pelimpahan jabatan tersebut dan masa baktinya.


BAB XXII

Pengurusan harta benda

  1. Ordo, Provinsi dan biara sebagai badan hukum dapat memperoleh, mengurus dan memindahkan kepemilikan serta menggunakan harta benda menurut ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.[410]84

  1. $1.        Kapitel Jenderal, atau apabila di luar kapitel, Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya, bertugas untuk mengesahkan Direktorium Keuangan Ordo yang memuat ketetapan-ketetapan pengurusan rutin dan non-rutin harta benda, dan kewajiban serta persyaratan Ekonom.

$2.        Bila ada, Direktorium Keuangan nasional dan regional harus memenuhi tuntutan hukum sipil di negara-negara yang terkait.

  1. $1        Ordo sebagai keseluruhan, setiap Provinsi dan setiap biara hendaknya memiliki seorang ekonom atau pengurus harta benda.  Jabatan tersebut tidak boleh dipegang oleh Prior Jenderal dan Prior Provinsial, atau sedapat mungkin juga bukan Prior rumah.[411]85

$2        Untuk membantu ekonom dalam tugas-tugasnya, hendaknya juga dibentuk dewan pengurus untuk urusan keuangan menurut ketetapan Direktorium Keuangan dan Statuta Provinsi.[412]86

  1. Setiap Provinsi dan Komisariat Jenderal hendaknya memberi sumbangan tahunan untuk pengeluaran rutin dan non-rutin Konsilium Jenderal, untuk lembaga-lembaga yang tergantung pada Kuria Jenderal dan untuk proyek-proyek bersama Ordo yang disetujui oleh Kapitel Jenderal dan Kongregasi Jenderal, menurut prosentase yang ditentukan bagi mereka oleh Konsilium Jenderal, langsung sesudah Kapitel Jenderal. Apabila diperlukan, prosentase ini dapat diubah oleh  Kongregasi Jenderal atau oleh Konsilium dalam keadaan luar biasa, senantiasa atas usulan Komisi Keuangan Jenderal.

  1. Ekonom hendaknya melaksanakan jabatannya dalam pengabdian kepada para saudara, dengan memperhatikan secara penuh segala kebutuhan mereka, sebagai pengurus harta benda milik bersama dengan cara yang membantu mereka dalam menghayati kaul kemiskinan.

  1. $1        Untuk pelaksanaan setiap tindakan administratif, yuridis dan ekonomis, para wakil resmi Ordo, Provinsi dan Biara, secara berturut-turut terdiri dari Prior Jenderal, Prior Provinsial dan Prior Biara. Bila menghendakinya, Prior dalam lingkupnya berhak mendelegasikan wewenang ini kepada Ekonomnya.

$2        Bila hukum sipil menuntut jabatan wakil hukum untuk melakukan tindakan yang sah di forum sipil, hendaknya diangkat wakil hukum itu sesuai dengan Direktorium Keuangan dan Statuta Provinsi. Sebelum melakukan tindakan sesuai dengan jabatannya, wakil hukum itu harus mendapatkan mandat dari otoritas yang berwenang.

  1. Setiap Prior bertanggung jawab untuk menjaga dengan seksama pengurusan segala harta benda milik Ordo, Provinsi dan Biara yang berada dalam wewenangnya. Selain itu ia juga bertugas menjamin pengelolaan dan pengurusan harta benda tersebut dengan rapi.[413]87

  1. Direktorium Keuangan menetapkan frekuensi pertemuan antara Ekonom Jenderal beserta dewannya dan para Ekonom Provinsi untuk membahas masalah-masalah ekonomi dan keuangan Ordo.


BAB XXIII

Hal mengundurkan diri dan dikeluarkan dari Ordo

  1. Dalam kaitannya dengan perpisahan untuk sementara waktu, yakni eksklaustrasi, baik atas permohonan sendiri maupun yang diperintahkan oleh Tahta Suci kepada seorang saudara melawan kehendaknya, berlaku ketetapan-ketetapan Hukum Kanonik dan hukum Ordo.[414]88

  1. $1        Saudara yang mohon meninggalkan Ordo selama masa profesi sementara karena alasan berat, dapat memperoleh indult yang diperlukan dari Prior Jenderal dengan persetujuan Konsiliumnya.[415]89

$2        Pada akhir masa profesi sementara seorang saudara bebas untuk meninggalkan Ordo. Demikian pula, Prior Provinsial dapat menolaknya untuk mengikrarkan profesi berikutnya karena alasan wajar dan setelah berkonsultasi dengan Konsiliumnya.[416]90

  1. $1        Bila menurut pandangan para ahli, penyakit fisik atau psikologis membuat seorang saudara yang disebut dalam nomor sebelumnya menjadi tidak mampu untuk hidup dalam Ordo, bahkan apabila penyakit tersebut diderita setelah profesi sementara, dapat menjadi alasan cukup untuk tidak mengijinkannya membaharui profesi sementaranya atau mengikrarkan profesi kekalnya, kecuali pada kasus dimana penyakit tersebut diakibatkan kelalaian pihak Ordo atau karena pekerjaan yang dilaksanakan dalam Ordo.[417]91

$2        Namun, jika seorang anggota berprofesi sementara menjadi gila, ia tidak boleh dikeluarkan dari Ordo, meskipun ia tidak mampu mengikrarkan profesinya.[418]92

  1. Seorang saudara yang berprofesi kekal hendaknya tidak memohon indult meninggalkan Ordo kecuali karena alasan yang sangat berat, yang telah dipertimbangkannya di hadapan Tuhan. Permohonan tersebut hendaknya diajukan kepada Prior Jenderal yang akan meneruskannya bersama dengan pandangannya sendiri dan pandangan Konsiliumnya kepada Tahta Suci yang berhak memberikan indult semacam ini.[419]93

  1. Indult itu sendiri setelah disampaikan kepada saudara yang bersangkutan dan tidak ditolaknya pada saat pemberitahuan, berdasarkan hukum merupakan dispensasi dari kaul-kaul dan dari semua kewajiban berdasarkan profesinya.[420]94

  1. $1        Seorang anggota ipso facto dikeluarkan dari Ordo dalam kasus-kasus yang dijabarkan dalam Hukum Kanonik.[421]95

$2        Dalam kasus-kasus tersebut, apabila fakta-fakta diketahui dengan pasti, cukuplah Prior Provinsial bersama Konsiliumnya mengeluarkan pernyataan pemberhentian. Namun, Prior Provinsial hendaknya menyampaikan pernyataan tersebut kepada saudara yang dikeluarkan, dan memastikan bahwa semua bukti yang terkumpul disimpan dalam arsip Provinsi. Pemberitahuan beserta ringkasan dokumen-dokumen tersebut hendaknya dikirimkan kepada Curia Jenderal.[422]96

  1. Seorang saudara dapat juga dikeluarkan dari Ordo karena alasan-alasan lain asalkan berat, lahiriah, dapat dituduhkan kepadanya dan secara yuridis terbukti, sebagaimana ditentukan dalam no. 696 dari Hukum Kanonik, dan memperhatikan ketetapan-ketetapan Hukum Kanonik.

  1. Dengan pengeluaran secara sah, maka ipso facto berhenti pulalah kaul-kaul dan setiap hak serta kewajiban-kewajiban yang berasal dari profesi tersebut. Tetapi apabila saudara yang dikeluarkan tersebut adalah seorang imam, dia tidak boleh melaksanakan tahbisan suci sampai dia menemukan seorang uskup yang mau menerimanya atau sekurang-kurangnya mengijinkannya melaksanakan pelayanan.[423]97

  1. Para saudara yang keluar dari Ordo tidak mempunyai hak untuk menuntut sesuatu dari Ordo atas segala kegiatan yang telah dilaksanakannya di dalam keluarga religius. Namun para pemimpin hendaknya merasa terikat pada kewajiban kasih untuk membantu kebutuhan mereka sesuai dengan statuta, terutama pada awal bentuk hidup baru mereka.[424]98

  1. Dianjurkan agar Statuta Provinsi dengan bantuan para ahli hukum sipil setempat membuat perjanjian untuk ditanda-tangani oleh setiap calon sebelum diijinkan masuk pra-novisiat atau novisiat.


EPILOG

  1. Para biarawan hendaknya berusaha sekuat tenaga agar cita-cita Karmel yang digariskan dalam Regula dan Konstitusi ini menjadi sumber hidup mereka. Dengan menempuh perjalanan yang singkat dan satu-satunya di dunia ini,[425]99 mereka bagaikan orang buangan di tanah asing; tanah-air mereka berada di surga.[426]100 Mereka hendaknya bersama semua orang kudus berusaha memahami segala tindakan kasih Kristus yang mengatasi semua pengetahuan.[427]101 Mereka terbakar oleh  kasih yang berkobar dan kerinduan yang menyala untuk mencapai tempat yang dijanjikan akan dipersiapkanNya bagi kita ketika Ia meninggalkan dunia ini.[428]102 Dengan berakar dan dikukuhkan dalam kasih, senantiasa berjaga dan memegang pelita menyala, hendaknya mereka melipat-gandakan segala bakat mereka, agar pada saat kematian mereka pantas mendengarkan sabda Tuhan yang menghibur ketika Ia kembali: “Bagus, hamba yang baik dan setia.”[429]103

 


[1] Rm 1,1; 2 Kor 1,1; 1 Kor 4,14.17; Ef 5,1; Flm 1,1; Kis 9,31

[2] Ibr 1,1

[3] 2 Kor 10,5; 1 Tim 1,5.19; 1 Ptr 1,22; 3,16; Mzm 24,4

[4] 1 Yoh 3,18

[5] Mzm 1,2; Yos 1,8

[6] 1 Ptr 4,7; Kol 4,2; Ef 6,18; Luk 21,36

[7] Mat 6,9 dst.; Luk 11,2 dst.

[8] Kis 4,32; 2,44

[9] Kis 4,35

[10] Yeh 48,8

[11] Im 6,5; Mzm 145,2; Kis 2,46; Yeh 46,13-15

[12] 1 Ptr 1,9

[13] 1 Kor 16,14; 2 Mak 10,4; Gal 6,1

[14] Ayb 7,1; Sir 2,1

[15] 2 Tim 3,12; Tit 2,12

[16] 1 Ptr 5,8; Mzm 7,3

[17] Ef 6,11.13; 2 Kor 10,3 dst.

[18] Ef 6,14; Luk 12,35; Kel 12,11; Yes 11,5

[19] 1 Ptr 4,1; Ams 2,11

[20] Ef 6,14; Yes 59,17; Keb 5,18; 1 Tes 5,8

[21] Luk 10,27; Ul 6,5; Mrk 12,30-31; Mat 22,37-39

[22] Ef 6,16; Keb 5,19; Mzm 7,13

[23] Ibr 11,6

[24] Ef 6,17; Yes 59,17; 1 Tes 5,8

[25] Mat 1,21; Ibr 9,28

[26] Ef 6,17; Ibr 4,12; Keb 18,15

[27] Kol 3,16; Ul 30,14; Rm 10,8; Mzm 37,30

[28] Kol 3,17; 1 Ptr 4,11; 1 Kor 10,31

[29] 2 Kor 13,3

[30] 1 Tim 2,7; 2 Tim 1,11

[31] 2 Tes 3,7-12; 1 Tes 2,9; 4,11; Kis 20,35

[32] Yes 30,21; 35,8; Yer 6,16; Mzm 77,14

[33] 2 Tes 3,12

[34] Yes 32,17

[35] Yes 30,15

[36] Ams 10,19

[37] Ams 13,3

[38] Sir 20,8

[39] Mat 12,36

[40] Sir 28,25-26; 22,27; 14,1

[41] Mzm 39,2; Sir 19,17

[42] Yes 32,17; Ul 24,8

[43] Why 3,3; 1 Yoh 3,18

[44] Mat 20,26-27; Mrk 10,43-44; Luk 22,26; Gal 5,13

[45] Sir 3,21

[46] Mzm 66,12

[47] Luk 10,16; Mat 10,40; Mrk 9,37; Yoh 13,20

[48] 1 Ptr 5,12; Ibr 13,22

[49] Luk 10,35

[50] Ams 19,2

[51] Kol 1: 15

[52] LG 1

[53] Regula, bab 2

[54] PC 2

[55] 1 Kor 12:11

[56] LG 9; GS 32

[57] LG 44

[58] Jacques de Vitry, Historia Orientalis, bab 51 & 52, ed. J Bongars, Gesta Dei per Francos, Hannover 1611, I, hlm. 1074 dst.

[59] Regula, bab 3

[60] Regula, bab 10, 18, 14 dengan Yoh 15:4; 14:23; Ibr 13:14; Kis 21; dan Regula, bab 7-11 dengan Kis 2:42-46; 4:32-36.

[61] Bulla Ex Vestra Religionis dari Urbanus IV, 5 Agustus 1262, dlm. Bulla.Carm, I, hlm.523.

[62] Constitutiones Capituli Londinensis Anni 1281, Rubrica I, ed. oleh L. Saggi, dalam AOC 15 (1950) 208.

[63] Bulla Ut vivendi normam, Honorius III, 30 Januari 1226; Ex officii nostr,i Gregorius IX, 6 April 1229; Ex officii nostri, Innocensius IV, 8 Juni 1245, dlm Bull. Carm., I, hlm.1,4-5,5.

[64] Bulla Quae honorem Conditoris, Innocensius IV, 1 Oktober 1247, dlm Bull. Carm., I, hlm.8

[65] Bulla Pagnorum incursus, Innocentius IV, 27 Juli 1246, ed. A. Staring, dlm. Carmelus, 27(1980)281-2

[66] Regula, bab 10, 18; Constitutiones 1281, hlm. 210.

[67] Regula, bab 10

[68] Regula, bab 10, 18, 21

[69] Regula, bab 10, 11

[70] Regula, bab 18

[71] Regula, bab 14

[72] Regula, bab 15

[73] Regula, bab 7, 12

[74] Regula, bab 15

[75] Regula, bab 16, 17, 20

[76] Regula, bab 22-23

[77] Kongr. Jend. 1992, hlm.50

[78] PC 2

[79] Regula, bab 2; 2 Kor 10:5; 1 Tim 1:5

[80] Musyawarah Prov. XII, hlm.48

[81] Regula, bab 10

[82] Regula, bab 11

[83] Regula, bab 19

[84] Regula, bab 20

[85] Regula, bab 21

[86] Regula, bab 24

[87] PC 7; Kan. 674

[88] Kongr. Jend.1986, hlm.4

[89] GS 41; Musyawarah Prov. II, hlm.32

[90] GS 1

[91] Regula, bab 5,6,8,12,15,22,23; juga Kongr. Jenderal 1974, hlm.40

[92] Regula, bab 10 – 15; dan Kis 2:42-46; 4:32-36.

[93] Regula, bab 14, 15

[94] Regula, bab 4-6,8,22-23

[95] Regula, bab 4-6

[96] Regula, bab 6,7,12

[97] Regula, bab 15

[98] Regula, bab 15,16,17

[99] Regula, bab 7,10

[100] Flp 3:8

[101] Regula, bab 10

[102] Regula, bab 19

[103] Regula, bab 11

[104] PC 6,15; LG 11; PO 5

[105] Regula, bab 14

[106] Kis 4:32

[107] Regula, bab 22,23

[108] Regula, bab 15

[109] MR 12

[110] Kongr. Jend. 1986, hlm.30-39

[111] Regula, bab 17

[112] MR 11,18

[113] Regula, bab 9

[114] Kongr. Jend. 1986, hlm.18; Kongr. Jend. 1974, hlm.4-42; Kongr. Jend. 1980, hlm.90

[115] Kongr. Jend. 1980, hlm.89-90

[116] Musyawarah Prov. I, hlm.18-19; Kongr. Jend. 1980, hlm.89

[117] Bdk. A. Bostius, De Patronatu et Patoicinio B.V. Mariae, ed. Daniel a V.M. Speculum Carmelitanum, I, Anwerp, 1680, no. 1654

[118] Musyawarah Prov. V, hlm.73

[119] 1 Raj 17:1.15,18,19.21; 2 Raj 1:2

[120] 2 Raj 2:1-13

[121] Sir 48:1

[122] 1 Raj 19:1-18

[123] 1 Raj 18:20-46

[124] 1 Raj 17:7-24; 21:17-29

[125] Musyawarah Prov. V, hlm.75-76; Kongr. Jend. 1974, hlm.42; Kongr. Jend. 1980, hlm.90; Musyawarah Prov. X, hlm.64

[126] De Instituione Primorum Monachorum, vol.4, ps. 2-3, 7;  vol.7, ps.1

[127] Persaudaraan yang berdoa, hlm.160

[128] Luk 1:35

[129] Yeh 36: 26

[130] Luk 1:28-37

[131] Luk 2:19.51

[132] Luk 2:44-50

[133] Luk 1:46-55

[134] MC 17, 35; RMa 12, 19

[135] Yoh. 13:13-17; 15:12-17

[136] Yoh 2:5

[137] Yoh 19:26

[138]88 Kis 1:14

[139]89 Luk 1:39

[140]90 Kis 1:14

[141]91 Missal Karmel (1980), Prefasi I SPM dari Gunung Karmel; LG 53; SC 103

[142]92 Musyawarah Prov. V, hlm.73-75; Kongr. Jend. 1980, hlm.90; Musyawarah Prov. XI, hlm.51; Persaudaraan yang berdoa, hlm.159,161

[143]93 Pius XII, Surat Apostolik Neminem Profecto Latet, 11 Pebruari 1950, dalam AOC 16(1951)96-97; dan Paulus VI, Surat kepada Utusan Kongres Mariologi Internasional, 11 Pebruari 1965, dalam AOC 24 (1964-65)187

[144]94 Musyawarah Prov. IX, hlm.1

[145]95 Musyawarah Prov. XIII, hlm.11, 42-53

[146] LG 1-4; AG 2-4

[147] Kis 2:42-47; 4:32-35; juga 5:12-14

[148] 1 Kor 12:7; LG 12; AA 3, PO 9; RUP 27

[149] CFL 23; Kongr. Jend. 1980, hlm.92; Kongr. Jend. 1986, hlm.14

[150] Regula, bab  14,12,19,19,15,7,21 dan 17

[151] Musyawarah Prov. VII, hlm.160

[152] Kongr. Jend. 1974, hlm.42

[153] Musyawarah Prov. I, hlm.21-23

[154] Kongr. Jend. 1974, hlm.41; Musyawarah Prov. VI, hlm.116

[155] Musyawarah Prov II, hlm.29-31

[156] Musyawarah Prov. IX, hlm.13

[157] EN 45

[158] Kan. 666

[159] Kan. 665

[160] Musyawarah Prov. I, hlm.20-21

[161]  2 Mak 12:45

[162] Mrk 1:15

[163] DCVR 14

[164] PC 17

[165] Kan. 669 $1

[166] Kan 667 $1

[167] EE 10

[168] PC 1

[169] Rom 12:2

[170] Yoh  17:18

[171] Regula, bab 4

[172] Ibr. 10:5-10

[173] Yoh 6:38;17:4

[174] Yoh 13:1

[175] Yoh 14:31

[176] Flp 2:8; Ibr 5:7-8; Luk 22:42

[177] Rom 6:14; 8:9

[178] ET 10

[179] Rom 12:2

[180] Yoh 16:13

[181] Regula, bab 2

[182] Regula, bab 10,11,19

[183] Regula, bab 15

[184] Musyawarah Prov. VI, hlm.116-117

[185] Regula, bab 5,6,15; ET 25; RD 13

[186] Regula, bab 4; PC 14; ET 25; RD 13; Kan. 618

[187] Regula, bab 8

[188] Kan. 49; 601

[189] Luk  9:58

[190] Yoh 6:15; 5:41

[191] Flp 2:7

[192] Mat 25:40

[193] Yoh 1:39

[194] Yoh 15:15

[195] Mat 10

[196] Luk 11:1-4

[197] Ibr 2:11; Rom 8:29

[198] 2 Kor 8:9; dan juga RD 12

[199] Kis 2:42-47; 4:32; 2 Kor 8: 1-15

[200] 1 Ptr 4:10-11

[201] Regula, bab 12

[202] Musyawarah Prov. I, hlm.19-20

[203] SRS 16

[204] ET 8

[205] Regula, bab 20, ET 20

[206] Kongr. Jend. 1980, hlm.88-89; Musyawarah Prov. X, hlm.65

[207] Musyawarah Prov. I, hlm.19-20

[208] Musyawarah Prov. I, hlm.21; Musyawarah Prov. III, hlm.50-53; Kongr. Jendr. 1980, hlm.92; Musyawarah Prov. VI, hlm.116-117

[209] Kan. 668

[210] Regula, bab 20; LE 27

[211] GS 34

[212] ET 13; PdV 50l; RD 11

[213] Yoh 20:17

[214] Luk 4:16 dst

[215] Yoh 5:36-37; 8:29

[216] Mrk 12:29-31

[217] 1 Kor 7:24

[218] 1 Kor 7:7; PC 12; ET 15

[219] 2 Kor 4:7

[220] PC 12  

[221] ET 43

[222] Mzm 34:3,8

[223] Musyawarah Prov. II, hlm.32

[224] Luk 2:19.51; 1:46-55

[225] PO 14, 18; EE 29

[226] F. Thuis, Colpiti dal mistero di Dio. Contemplazione: filo conduttore della vita del Carmelo, Roma, Curia Generalizia dei Carmelitani, 1983, hlm.42-43

[227] Musyawarah Prov. II, hlm.32

[228] Musyawarah Prov. II, hlm.28; Musyawarah Prov. XII, hlm.48-49

[229] ET 46

[230] OT 11

[231] Regula, bab 11,21

[232] Mat 6:6

[233] SC 9-10,12

[234] CD 30/2; LG 11; Regula, bab 14

[235] SC 48

[236] Regula, bab 11,14

[237] SC 83

[238] SC 90; Musyawarah Prov. II, hlm.30

[239] LH 12

[240] SC 102

[241] Surat Haec Sacra Congregatione dari Kongregasi Religius dan Tarekat Sekular kepada Prior Jendral para Karmelit, 20 Desember 1969, dalam AOC 28 (1968-1969)49-50

[242] SC 100; LH 12

[243] LG 11

[244] Mat 6:6; SC 12

[245] DCVR 1; EE 2

[246] 1 Raj 17:1.15:18:19.21; 2 Raj 1:2; Luk  2:19.51

[247] Musyawarah Prov. II, hlm.31

[248] Regula, bab 10,19

[249] PC 6; SC 24; DV 25

[250] Regula, bab 19

[251] Luk 18:1

[252] SC 103

[253] RMa 42-46

[254] MC 56

[255] MC 2-14

[256] MC 16-23

[257] LG 67

[258] MC 29; Pedoman MC 3-38

[259] SC 104

[260] Lihat Bagian I, catatan kaki 93

[261] SanP 73-92

[262] EN 9,13,69

[263] EN 39; RPU 4 d&e; EE 23, 25-26, 35-37

[264] MR 15; Musyawarah Prov. I, hlm.19; Kongr. Jend. 1974, hlm.42; Kongr. Jend. 1980, hlm.89-90; Musyawarah Prov. IX, hlm.65; Kongr. Jend. 1992, hlm.50-51

[265] LG 88

[266] UR 5

[267] UR 7-12; RdU 50

[268] EN 60,69; EE 38-43; MR 18

[269] EE 27

[270] AA 3, PO 9

[271] Kan. 520

[272] Kan. 678 $1

[273] Kan. 681 $1

[274] RM 31-33

[275] RM 5

[276] RM 21

[277] RM 69

[278] RM 87

[279] Gal 6:10

[280] PP 79; Mat 25:35-36

[281] PP 82,86; SRS 35-40,46

[282] ET 17; Musyawarah Prov.X, hlm.66; Kongr. Jend. 1992, hlm.52

[283] Kongr. Jend. 1980, hlm.89-90; Musyawarah Prov. X, hlm.64; Persaudaraan yang berdoa, hlm.161-162

[284] Musyawarah Prov.X, hlm.64

[285] Musyawarah Prov.X, hlm.65

[286] Rom 8:19-23

[287] Kongr. Jend. 1986, hlm.41

[288] MR 12

[289] Kan. 651 $3

[290] PI 32

[291] PI 29

[292] PI 30,32

[293] PI 26-28

[294] PI 30-31, 33-41

[295] Kan. 659 $2 dan $3; 650 $1

[296] Luk 17:10

[297] Kongr. Jend.1986, hlm.42

[298] PI 44

[299] Kan. 641-645; PI 43,49

[300] Kan. 646

[301] PI 46-48

[302] Kan. 647 $2; 648 $1

[303] Kan. 647 $1

[304] Kan. 647 $3

[305] Kan. 643 $1,1

[306] Kan. 652 $5

[307] Kan. 648 $2

[308] Kan. 648 $2, $3

[309] Kan. 690 $1

[310] Kan. 690 $1

[311] Kan. 668 $1

[312] Kan. 653 $2; 654

[313] PI 58-59.

[314] Kan. 660 $1; PI 60-61.

[315] Kan. 660 $2; PI 62.

[316] Kan. 649 $2.

[317] Kan. 655.

[318] Kan. 655.

[319] Kan. 657 $2.

[320] PI 64

[321] Kan. 657 $3

[322] Kan. 668

[323] MR 26; PI 65

[324] PI 66-67

[325] PI 68

[326] PI 69,70

[327] Kan. 588 $2

[328] Kan. 591

[329] Kan. 654

[330] Kan. 670

[331] PC 13

[332] Kan. 581,585,123

[333] Kan.  621

[334] Kan. 609 $1; 610

[335] Kan. 611

[336] Kan. 612

[337] Kan. 616 $1

[338] Kan. 587 $1

[339] Kan. 587 $4

[340] Kan. 16

[341] Kan. 587 $4

[342] Kan. 596

[343] Kan. 596

[344] Kan. 37,46,81

[345] Kan. 65 $1

[346] Regula, bab 6

[347] Regula, bab 9

[348] Mat 20:28

[349] Regula, bab 23

[350] 1 Ptr 5:3

[351] Regula, bab 2

[352] Kan. 620 & 134

[353] Kan. 596

[354] Kan. 596

[355] Kan. 622

[356] Kan. 127

[357] Kan. 1315 $1,3

[358] Kan. 1339 & 1341

[359] 2 Tim 4:2

[360] Kan. 127 $1

[361] Kan. 169

[362] Kan. 127 $3

[363] Kan. 119, n.2

[364] Kan. 172 $1 no.2

[365] Kan. 181 $1; 182 $1; 625 $3

[366] Kan. 151,165

[367] Kan 152

[368] Kan. 671

[369] Kan. 129; 588 $1; 596 $2

[370] Kan. 166

[371] Kan. 167 $1

[372] Kan. 167 $2

[373] Kan. 167 $1

[374] Kan. 168

[375] Kan. 172

[376] Kan. 626

[377] Kan. 119, no.1; 176

[378] Kan. 177 $1

[379] Kan. 177 $2

[380] Kan. 178; 179 $4

[381] Kan. 625 $3

[382] Kan. 165

[383] Kan. 631 $1

[384] Kan. 596; 631 $1

[385] Kan. 624 $1

[386] Kan. 588 $2; 596 $2

[387] Kan. 623

[388] Kan 629

[389] Kan. 628 $1

[390] Kan. 592 $1

[391] Kan. 187; 189 $1

[392] Bdk. Pernyataan tentang Penafsiran Otentik Kan. 127 $1 oleh  Kongregasi Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 31 Januari 1991, dalam  AOC 42(1991)5-7

[393] Kan. 699 $1

[394] Kan. 129 $1; 588 $2; 596 $2; 623

[395] Kan. 625 $3

[396] Kan. 665 $1

[397] Kan. 628 $1

[398] Bagian IV catatan 66

[399] Kan. 1427 $1; 1717

[400]74 Kan. 627 $1

[401]75 Kan. 627 $1

[402]76 Kan. 625 $3

[403]77 Kan. 624 $1 & $2

[404]78 Kan. 629

[405]79 Kan. 592 $2

[406]80 Kan. 127 $1

[407]81 Kan. 1245

[408]82 Kan. 765

[409]83 Kan. 187; 189 $1

[410]84 Kan. 634 $1

[411]85 Kan. 636 $1

[412]86 Kan. 1280

[413]87 Kan. 1276 $1

[414]88 Kan. 686 $1 & 3; 687

[415]89 Kan. 688 $2

[416]90 Kan. 688 $1; 689 $1

[417]91 Kan. 689 $2

[418]92 Kan. 689 $3

[419]93 Kan. 691

[420]94 Kan. 692

[421]95 Kan. 694 $1

[422]96 Kan. 694 $2

[423]97 Kan. 701

[424]98 Kan. 702

[425]99 Ibr 9:27; LG 48

[426]100 Flp 3:20

[427]101 Ef  3:17-19

[428]102 Yoh 14:2-3; Ibr 4:11

[429]103 Mat 24:42-51; 25:1-30; Mrk 13:32-37; Luk 12:35-48; 21:34-36