Man BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

                    Sekolah sebagai lembaga formal pendidikan saat ini diberi beban oleh pemerintah dengan berbagai program seperti penanaman nilai-nilai karakter bangsa, salah satu karakter yang diharapkan adalah peduli lingkungan.

                Manusia sebagai mahkluk sosial senantiasa membutuhkan makhluk lain, baik manusia maupun lingkungan sekitar. Kepedulian manusia terhadap lingkungan alam sekitar sangat menentukan kehidupan alam di waktu yang akan datang. Sebuah ekosistem alam akan seimbang apabila antar komponen penyusun ekosistem dalam keadaan seimbang sesuai dengan prinsip piramida makanan. Tetapi apabila salah komponen rusak akibat kejadian alam seperti banjir, lonsor, kekeringan atau karena kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan manusia maka keseimbangan ekosistem akan rusak.

                    Peserta didik dan warga sekolah lainnya mempunyai peranan yang sangat vital dalam melestarikan ekosistem yang ada disekitarnya. Peranan sekolah akan lebih efektif apabila sekolah mengadakan suatu program yang dapat menjadi sarana aktualisasi para peserta didik dalam mempratekkan konsep pelestarian ekosistem.

                    Sekolah konservasi sebagai sebuah program yang didalamnya memberikan bekal kepada peserta didik dan warga sekolah lainnya untuk peduli terhadap lingkungan baik dilingkungan sendiri maupun lingkungan orang lain.

                    Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam.

B. Tujuan

                Tujuan dari pembuatan buku panduan sekolah konservasi ini adalah:

1.        Pedoman bagi tim pengembang sekolah konservasi  SMP Negeri 2 Banjarnegara.

2.        Dasar bagi warga sekolah dalam menjalankan program sekolah konservasi  SMP Negeri 2 Banjarnegara.

3.        Panduan bagi masyarakat untuk aktif dalam kegiatan sekolah konservasi SMP Negeri 2 Banjarnegara.

 

C. Manfaat

                Manfaat dari buku pedoman sekolah konservasi ini adalah:

     1.        Bagi sekolah

a.         Memudahkan sekolah dalam mengembangkan menjadi sekolah konservasi.

b.        Meningkatkan keefektifan program kerja dari sekolah konservasi, sehingga mendapakatkan hasil sesuai dengan harapan.

c.         Menambah daya tarik masyarakat terhadap pendidikan yang dilakukan oleh sekolah konservasi SMP Negeri 2 Banjarnegara.

d.        Menghasilkan lulusan yang tidak hanya lulus dalam kompetensi sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tetapi mempunyai kelebihan lain yaitu peduli pada lingkungan.

e.         Meningkatkan daya saing terhadap sekolah menengah lain yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

2.        Bagi Kabupaten Banjarnegara

a.         Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

b.  Meningkatkan taraf ekonomi manyarakat, terutama bagi daerah binaan sekolah konservasi SMP Negeri 2 Banjarnegara.

c.         Menambah ciri khas bagi pendidikan di Kabupaten Banjarnegara dengan adanya sekolah konservasi.

D. Lingkup Buku Panduan Konservasi

                Dalam panduan ini akan dipaparkan sekolah konservasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pengawasan serta desiminasi, sehingga program sekolah konservasi dapat berjalan dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang diharapakan.

                Tahap perencanaan didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematis berarti secara runtut, terarah dan terukur, mulai dari pemberian informasi tentang sekolah konservasi ke guru-guru dan karyawan kemudian ke peserta didik dan masyarakat. Sistemik berarti mempertimbangan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu melibatkan semua aspek baik dari stakeholder sekolah, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara, SKPD terkait seperti Dinas Kehutanan, Dinas Perhutani, Kantor Lingkungan Hidup dan Lembaga non pemerintah yang peduli terhadap lingkungan.

                Pelaksanaan program konservasi mencakup tiga tahap yaitu; penguatan kader konservasi, pelaksanaan di lapangan dan perawatan. Kader konservasi merupakan peserta didik yang berminat dalam pelestarian lingkungan. Dalam merekrut kader konservasi dibantu oleh OSIS yang merupakan organisasi di tingkat sekolah. Sebelum kader konservasi melakukan kegiatan dilapangan, maka perlu dilatih dahulu melalui kegiatan workshop maupun kunjungan pelatihan ke tempat-tempat konservasi lingkungan hidup.

                Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan oleh seluruh elemen sekolah, tetapi pada saat tertentu dan program tertentu dilaksanakan oleh kader konservasi sebagai pelaku utama. Tim sekolah konservasi bertanggungjawab  terhadap kegiatan pendampingan dan kegiatan keluar yang melibakan masyarakat luas.

                Penilaian program harus selalu dilakukan untuk melihat seberapa keefektifan program kerja yang sudah dijalankan. Peranan kepala sekolah sebagai pembuat kebijakan disekolah sangat menentukan akan berlangsungnya program tersebut. Secara umum penilaian dilakukan atas segala aspek kegiatan mulai dari perencanan dan pelaksanaan, baik yang dilaksanakan di sekolah atau dilaksanakan diluar sekolah.

                Pengawasan proses kegiatan juga diperlukan sebagai wujud akuntabilitas sekolah kepada masyarakat dan kepada lembaga yang memberikan dana pendampingan sekolah konservasi. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan. Upaya pengawasan pada hakikatnya merupakan tanggung jawab bersama semua pihak yang terkait, sesuai dengan ketentuan tentang hak, kewajiban warga negara, orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

LANDASAN PENGEMBANGAN SEKOLAH KONSERVASI

 

Landasan yang perlu dibahas sebagai acuan dalam mengembangkan sistem penilaian pendidikan adalah landasan filosofis, yuridis, dan konseptual.

A.  Landasan Filosofis

                Kepedulian peserta didik akan pelestarian lingkungan hidup sangat penting bagi perkembangan kehidupan hayati di masa yang akan datang, karena peserta didik merupakan tunas bangsa yang akan menjadi pemimpin dan pengisi kehidupan kebangsaan di masa yang akan datang.

                Kehidupan manusia seluruhnya tergantung kepada kelestarian hayati. Manusia butuh oksigen yang dihasilkan oleh proses fotosintesis, membutuhkan makanan dari hasil asimilasi zat makanan tumbuhan hijau, bangunan indah dan kuat dari kayu tumbuhan yang sudah tua. Melestarikan kehidupan hayati sama juga dengan melestarikan kehidupan manusia.

B.  Landasan Yuridis

                Undang-undang No. 5 Tahun 2009 tentang Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 2 menyatkan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Pasal 3 menjelaskan Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pasal 4 menjelaskan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat.

 

C.  Landasan Konseptual

Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 199 tentang Kehutanan, kawasan hutan Negara Indonesia dibagi kedalam 3 kelompok sebagai berikut:

1.           Hutan Konservasi, yaitu kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri dari:

a.   Kawasan Suaka Alam (KSA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. KSA berupa Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM).

b.   Kawasan Pelestarian Alam (KPA) adalah kawasan dengan ciri khas tertentu , baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan  satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. KPA berupa Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya (THR), dan Taman Wisata Alam (TWA).

c.  Taman Buru (TB) adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.

2.  Hutan Lindung, yaitu hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

3.  Hutan Produksi, yaitu kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.