BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah

Pada hakekatnya penelitian diawali dari hasrat keingintahuan peneliti yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan. Setiap pertanyaan atau per-masalahan  tersebut perlu jawaban atau pemecahan. Dari jawaban dan pemecahan  tersebut peneliti memperoleh pengetahuan yang benar mengenai suatu masalah. Pengetahuan yang benar adalah yang dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Untuk memperolehnya harus mengikuti kaidah-kaidah dan menurut cara-cara bekerjanya akal yang disebut logika, dan dalam pelaksanaannya diwujudkan melalui penalaran.. Pengetahuan yang benar tersebut disebut juga pengetahuan ilmiah atau ilmu. Dengan demikian penelitian  ilmiah adalah suatu metode ilmiah untuk memperoleh pengetahuan menggunakan penalaran. Penalaran tersebut dilaksanakan melalui prosedur logika deduksi dan induksi. Dengan pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi, perencanaan pembangunan dan untuk pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.

Penelitian atau research berasal dari kata re dan  to search yang berarti mencari kembali yang menunjukkan adanya proses berbentuk siklus bersusun yang selalu berkesinambungan.. Penelitian dimulai dari hasrat keingintahuan dan permasalahan, dilanjutkan dengan pengkajian landasan teoritis yang terdapat dalam kepustakaan untuk mendapatkan jawaban sementara atau hipotesis. Selanjutnya direncanakan dan dilakukan pengumpulan data untuk menguji hipotesis yang akan diperoleh kesimpulan dan jawaban permasalahan. Dalam proses pemecahan masalah dan dari jawaban permasalahan tersebut akan timbul permasalahan baru,  sehingga akan terjadi siklus secara berkesinambungan.

Dalam makalah ini akan di bahas mengenai Proposisi, Asumsi, Postulat Dan hipotesis yang merupakan siklus yang tersusun di dalam pelaksanaan penelitian, walaupun masih banyak lagi istilah-istilah lain di dalamnya. Namun kelompok kami hanya membahas tentang proposisi, asumsi, postulat dan hipotesis.

B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan dalam penulisan makalah  ini adalah sebagai berikut :

1.      Apa Pengertian Proposisi?

2.      Bagaimana Unsur-Unsur  dan jenis-jenis Proposisi?

3.      Apa Pengertian  Asumsi ?

4.      Apa Pengertian Postulat?

5.     Apa Pengertian Hipotesis?

C.       Tujuan Penulisan

        Berdasarkan  rumusan masalah  di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah  ini adalah sebagai berikut : “ Untuk Mengetahui perbedaan dari pengertian Proposisi, Asumsi, Postulat Dan Hipotesis beserta karakteristiknya di dalam sebuah penelitian. ”

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Proposisi
  1. Pengertian Proposisi

Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep atau lebih dalam bentuk kalimat pernyataan. Misalnya “proses migrasi tenaga kerja ditentukan oleh perbedaan upah”.

Sedangkan menurut Supriadi : 2010 “Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh, serta mempunyai nilai benar atau salah, dan tidak boleh kedua-duanya”.

Ada dua tipe proposisi yaitu:

  1. Aksioma atau postulat, yaitu proposisi yang kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga tidak perlu diuji dengan sebuah penelitian.
  2. Teorema, proposisi yang dideduksikan dari aksioma, aksioma banyak digunakan dalam ilmu-ilmu eksakta sedangkan dalam ilmu sosial aksioma sangat jarang. Sedangkan yang menjadi perhatian peneliti adalah teorema inti.
  1. Unsur-Unsur Proposisi
  1. Jenis-Jenis Proposisi
  1. Proposisi kategorik/proposisi subjek-predikat ~> Proposisi yang terdiri atas subjek dan predikat. Dalam proposisi kategorik, predikat mengafirmasi atau menegasi subjek . Contoh:
  1. Proposisi afirmatif/proposisi positif ~> proposisi kategorik yang mengafirmasikan atau mengiakan adanya hubungan antara subjek dan predikat, dalam hal ini diakui pula bahwa subjek menjadi bagian dari predikat. Contoh :
  1. Proposisi negatif ~> proposisi kategorik yang menegasi atau mengingkari adanya hubungan antara subjek dan predikat. Contoh :
  1. Proposisi Universal ~> proposisi kategorik yang menggunakan pembilang/quantifier yang bersifat universal (semua, tiap-tiap, masing-masing, setiap, siapa pun juga, apa pun juga). Contoh :
  1. Proposisi atomik ~> proposisi yang hanya terdiri atas satu peryataan dan mengacu kepada nama diri atau juka menggunakan kata ganti, maka akan menggunakan penunjuk ini atau itu. Contoh :
  1. Proposisi asertorik ~> proposisi yang membenarkan bahwa subjek adalah sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh predikat. Dengan kata lain, apa yang disebutkan oleh predikat mengenai subjek memang benar adanya. Contoh :
  1. Proposisi apodiktik ~> proposisi yang merupakan  kemestian kebenaran dari penjelasan yang diberikan oleh predikat terhadap subjek berdasarkan pertimbangan akal budi semata. Contoh :
  1. Proposisi empirik ~> proposisi yang didasarkan pada pengamatan dan pengalaman. Contoh :
  1. Proposisi majemuk ~> proposisi yang mengandung lebih dari satu pernyataan yang terlihat pula lewat subjek atau predikat yang berjumlah lebih dari satu. Contoh :
  1. Proposisi disjungtif ~> proposisi majemuk yang menegaskan bahwa pada waktu yang bersamaan dua buah proposisi tidak dapat kedua-duanya benar atau kedua-duanya salah. (selalu menggunakan kata atau). Contoh :

Hanya ada proposisi yang benar :

  1. Proposisi konjungtif ~> proposisi majelmuk yang menegaskan bahwa dua predikat yang dihubungkan dengan subjek yang sama pada waktu yang sama tidak mungkin kedua-duanya benar. Hanya satu yang benar. (biasanya menggunakan kata “….sekaligus……. dan….”.
  1. Proposisi kondisional ~> proposisi majemuk yang bersyarat, yang ditunjukan oleh kata-kata “jika, apabila…….maka”
  2. Proposisi komparatif ~> proposisi majemuk yang membandingkan dua subjek yang dihubungkan oleh suatu predikat.
  3. Proposisi problematik ~> proposisi yang predikatnya hanyalah merupakan kemungkinan bagi subjek.
  4. Proposisi relasional ~> proposisi yang mengafirmasi atau menegasi hubungan antara dua hal atau dua subjek.
  5. Proposisi eksponibel ~> proposisi yang tampaknya tidak jelas apakah ia merupakan proposisi tunggal atau proposisi majemuk, namun sebenarnya adalah proposisi majelmuk.
  6. Proposisi ekseptif ~> proposisi yang subjeknya dijelaskan dengan kata “selain daripada”, “selain”, dan “kecuali”.
  7. Proposisi eksklusif ~> proposisi yang subjeknya dijelaskan dengan kata-kata ”semata-mata”, ”hanya” atau ”Cuma”.
  8. Proposisi tanpa pembilang ~> proposisi yang subjeknya tidak dijelaskan oleh kata pembilang.

  1.  Asumsi
  1. Pengertian Asumsi

Asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berfikir karena dianggap benar. Sedangkan pengertian asumsi dalam filsafat ilmu ini merupakan anggapan/ andaian dasar tentang realitas suatu objek yang menjadi pusat penelaahan atau pondasi bagi penyusunan pengetahuan ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan ilmu. Tanpa asumsi anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kacamata apa. Ernan McMullin seorang Professor Emeritus filsafat di Universitas of Notre Dame, USA (2002) pun menyatakan tentang pentingnya keberadaan asumsi dalam suatu ilmu pengetahuan, ia mengatakan bahwa hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu objek sebelum melakukan penelitian.

Dalam mendapatkan pengetahuan seorang ilmuwan/ peneliti harus membuat bermacam asumsi mengenai objek-objek empiris karena dalam menentukan asumsi hanya bisa dilakukan oleh si ilmuwan/ peneliti sendiri sebelum melakukan kegiatan penelitian, apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dari suatu ilmu yang akan ditelitinya. Semakin banyak asumsi akan semakin sempit ruang gerak penelitiannya. Asumsi diperlukan karena pernyataan asumtif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan.

Suriasumantri menyatakan bahwa sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama bisa menerima asumsi yang dikemukakan. Semua ilmu mempunyai asumsi-asumsi ini, baik yang dinyatakan secara tersirat maupun secara tersurat. Secara garis besar kita mengambil contoh dua bidang ilmu yang berbeda yaitu antara ilmu social dan sains. Petama, dalam ilmu ekonomi (salah satu cabang ilmu social), asumsi dikenal dengan istilah Cateris Paribus, istilah ini seringkali digunakan sebagai suatu asumsi yang menyederhanakan beragam formulasi dan deskripsi dari berbagai anggapan ekonomi, contohnya asumsi akan harga suatu barang, dinyatakan bahwa harga barang akan meningkat ketika permintaan terhadap barang tersebut meningkat. Kedua, dalam ilmu sains, asumsi disebut dengan istilah Kausalitas, yaitu suatu asumsi dasar yang dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat/ dampak) yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama, contohnya asumsi tentang hujan, dinyatakan  bahwa adanya awan tebal dan langit gelap/ mendung merupakan pertanda akan turun hujan, hal tersubut bukanlah suatu kebetulan tetapi memang polanya sudah demikian, kejadian tersebut akan terus berulang dengan pola yang sama.

Dalam mengembangkan ilmu, kita harus bertolak dengan mempunyai asumsi/ anggapan yang sama mengenai hukum-hukum alam dan objek yang akan ditelaah oleh ilmu baik itu dalam ilmu alam ataupun ilmu-ilmu sosial. Ilmu alam membahas asumsi mengenai zat, ruang, dan waktu. Ilmu sosial mengedepankan membahas asumsi mengenai manusia.

  1. Asumsi Mengenai Hukum Alam

Suatu peristiwa alam tak luput dari adanya asumsi, semuanya tidaklah terjadi secara kebetulan saja, namun memiliki pola yang tetap dan teratur, seperti langit mendung pertanda akan turun hujan walaupun masih terdapat peluang kecil disana bahwa hujan pun terkadang tidak turun meski langit telah berubah menjadi mendung, akan tetapi kejadian langit mendung kemudian turun hujan sering kali terulang dan menjadi suatu sistem yang teratur. Asumsi terhadap hukum alam ini pun berbeda-beda menurut kelompok penganut paham berikut ini:

  1. Deterministik

Kelompok penganut paham ini menganggap hukum alam tunduk kepada hukum alam yang bersifat universal (determinisme). William Hamilton dan Thomas Hobbes dua orang tokoh yang menyimpulkan bahwa pengetahuan bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Pada kenyataannya ilmu sains lebih kental dengan sifat deterministik ini jika dibandingkan dengan ilmu social, contohnya perhitungan tahun dinyatakan bahwa dalam satu tahun terdapat 12 bulan, 365 hari, 8760 jam, dst.  

  1. Pilihan bebas

Kelompok penganut paham ini menganggap hukum yang mengatur itu tanpa sebab karena setiap gejala alam merupakan pilihan bebas. Penganut ini menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya tanpa terikat hukum alam. Kebalikan dari deterministik bahwa ilmu social menemukan banyak karakteristiknya disini dibandingkan dengan ilmu sains, contohnya seorang pengusaha baju ingin membuka satu cabang perusahaan di wilayah pedalaman Irian Jaya yang penduduknya tidak mengetahui tentang fashion serta belum mengetahui cara berpakaian, apakah perusahaannya akan mengalami kesuksesan disana? tentunya dia dihadapkan diantara dua pilihan “ya” atau “tidak”. Asumsi yang pertama, “ya” dia akan mengalami kesuksesan karena dia menjadi pelopor di wilayah tersebut, dia akan memperkenalkan kepada penduduk setempat apa itu pakaian, bagaimana penggunaannya, serta apa keuntungannya, bahkan dia menjadi satu-satunya trendsetter di tempat itu, sehingga seluruh penduduk disana hanya akan membeli pakaian hanya dari hasil produksinya. Asumsi yang kedua, “tidak” akan mengalami kesuksesan karena dia akan menghadapi kerugian besar disebabkan tak ada satu penduduk pun yang akan membeli produknya, memang karena mereka telah terbiasa menggunakan koteka saja tanpa pakaian lengkap atau trendy. Dari kedua asumsi tersebut, keduanya adalah pilihan bebas dan orang bisa bebas memilih salah satu diantaranya sesuai dengan asumsi yang diyakininya.  

  1. Probabilistik

Kelompok penganut paham ini berada diantara deterministik dan pilihan bebas yang menyatakan bahwa gejala umum yang universal itu memang ada namun sifatnya berupa peluang (probabilistik). Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa hukum alam tunduk kepada hukum alam (deterministik) akan tetapi suatu kejadian tertentu tidak harus selalu mengikuti pola tersebut. Jujun (1992) memaparkan bahwa ilmu itu tidak mengemukakan kalau X selalu mengakibatkan Y, melainkan X memiliki peluang yang besar untuk mengakibatkan terjadinya Y. Sebagai contoh sederhananya, langit mendung pertanda akan turun hujan (sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya), memang disana terdapat peluang besar akan datangnya hujan, tetapi masih ada peluang kecil didalamnya bahwa tidak akan datang hujan walaupun langit telah mendung.

Ilmu mempelajari tentang hukum alam. Agar ilmu itu ada kita harus mengasumsikan bahwa hukum yang mengatur semua kejadian itu ada. Tanpa asumsi itu berbagai ilmu tidak bisa lahir. Hukum diartikan sebagai aturan main atau pola kejadian yang diikuti sebagian besar orang, gejalanya berulang kali dapat diamati dan menghasilkan hasil yang sama. Ilmu tidak mempelajari kejadian yang seharusnya melainkan mempelajari kejadian sebagaimana adanya.

Aliran determinisme ini berlawanan dan ditentang oleh penganut paham fatalisme dan penganut paham pilihan bebas. Menurut aliran fatalisme bahwa semua kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Jika kita ingin hukum kejadian itu berlaku bagi seluruh manusia maka kita bertolak dari paham determinisme. Jika kita ingin hukum kejadian yang pas bagi tiap individu kita berpaling pada paham pilihan bebas. Sedangkan jika kita memilih posisi di tengah mengantarkan kita pada paham probabilistik. Jika kita menginginkan hukum yang bersifat mutlak dan universal, kesulitannya adalah dalam kemampuan manusia untuk memenuhi semua kejadian. Misalnya matahari selalu terbit dari timur, beranikah kita menyimpulkan bahwa kapan matahari akan terbit dari barat?

Di lain pihak jika menginginkan keunikan individual seperti yang diikuti paham pilihan bebas, maka akan ada kesulitan dalam hal praktis dan ekonomis. Kompromi di antara kutub determinisme dan paham pilihan bebas, ilmu menjatuhkan pilihannya pada asumsi atau penafsiran probabilistik (bersifat peluang).

  1. Asumsi dalam Ilmu

Ilmu yang paling maju yaitu fisika karena mempunyai cakupan objek zat, gerak, ruang, dan waktu. Newton dalam bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut dan dengan demikian berbeda secara substantif dengan energi. Sedangkan Einstein berbeda pendapat dengan Newton, dalam The Special Theory of Relativity (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif. Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut.

Asumsi dalam ilmu sosial lebih rumit. Masing-masing ilmu sosial mempunya berbagai asumsi mengenai manusia. Siapa sebenarnya manusia? Jawabnya tergantung kepada situasinya : dalam kegiatan ekonomis maka dia makhluk ekonomi, dalam politik maka dia political animal, dalam pendidikan dia homo educandum. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan asumsi:

Dalam kegiatan ekonomis manusia yang berperan adalah manusia ‘yang mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya’ dan inilah yang dijadikan sebagai pegangan. Asumsi seperti ini dipakai dalam penyusunan kebijaksanaan atau strategi, serta penjabaran peraturan lainnya, Namun penetapan asumsi yang berdasarkan keadaan yang seharusnya ini seyogyanya tidak dilakukan dalam analisis teori keilmuan sebab metafisika keilmuan berdasarkan kenyataan sesungguhnya berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Seseorang ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya, sebab mempergunakan asumsi yang berbeda, maka akan berbeda pula konsep pemikiran yang dipergunakan.

  1. Asumsi Mengenai Objek Empiris

Dalam mendapatkan pengetahuan, seorang ilmuwan melakukan berbagai macam asumsi mengenai objek-objek empiris. Asumsi diperlukan sebagai landasan dan penunjuk arah dalam kegiatan penelaahan mereka. Asumsi yang benar akan menjembatani tujuan penelitian sampai penarikan kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis. Bahkan asumsi berguna sebagai jembatan untuk melompat suatu bagian jalur penalaran yang sedikit atau hampa fakta dan data sekalipun.

Adapun beberapa ilmu yang mengemukakan beberapa asumsi mengenai objek empiris, yaitu:

  1. Menganggap bahwa objek-objek tertentu mempunyai kesamaan satu sama   lain. Seperti dalam hal bentuk, struktur, dan sifat. Berdasarkan ini, maka dapat dikelompokkan beberapa objek yang serupa ke dalam satu golongan. Klasifikasi merupakan pendekatan keilmuan yang pertama terhadap objek-objek yang ditelaahnya dan taksonomi merupakan cabang keilmuan pertama yang menggunakan teori ini. Setelah taksonomi, mulai berkembang konsep perbandingan atau komparatif. Dengan klasifikasi ini, maka individu dalam satu kelas tertentu mempunyai ciri-ciri yang serupa. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Linnaeus (1707-1778), seorang biolog yang mengklasifikasikan hewan dan tumbuhan sesuai dengan kelas tertentu.
  2. Menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam keadaan tertentu. Kegiatan ini tidak mungkin dilakukan apabila objek selalu berubah-ubah tiap waktu. Walaupun tidak mungkin menuntut adanya kelestarian yang relatif atau sifat-sifat pokok suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu, misalnya ilmu yang mempelajari tentang benda-benda ruang angkasa, planet-planet memperlihatkan perubahannya dalam jangka waktu yang relativ lama.
  3. Menganggap bahwa setiap gejala bukan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan-urutan yang sama dan gejala itu akan mengikiti pola yang ada. Misalnya sate yang dibakar akan mengeluarkan bau sedap yang menggugah selera makan. Ini bukanlah suatu kebetulan sebab memang sudah seperti itu hakekatnya suatu pola, karena sate apabila dibakar akan selalu menimbulkan bau yang merangsang selera.

  1. Postulat
  1. Pengertian

Dalam Bahasa Inggris: postulate. Dari Latin postulatum, dari postulare (meminta, menuntut). Istilah ini biasanya digunakan untuk menunjukkan proposisi-pro- posisi yang merupakan titik tolak pencarian yang bukan definisi, atau praandaian sementara, tidak juga sedemikian pasti sehingga mereka dapat diangkat sebagai aksioma. Proposisi-proposisi itu ditentukan sebagai benar, dan digunakan tanpa pembuktian. Jadi, postulat salah satu dari kelompok istilah-istilah yang saling berkaitan, termasuk “definisi”, “asumsi”, “hipotesis”, dan “aksioma”. Hal ini dapat dirinci lebih lanjut:

  1. Pernyataan yang dibutuhkan sebagai suatu asumsi dan/atau yang ditegaskan, tanpa bukti dan/atau sebagai jelas-sendiri, biasanya dalam konteks sistem logika atau matematika formal.
  2. Pernyataan yang diterima sebagai benar tanpa sendiri memiliki bukti logis bagi kebenarannya dan yang digunakan untuk menurunkan pernyataan-pernyataan lain yang membentuk sistem analisis logis atau logiko empiris yang koheren.
  3. Asumsi, perkiraan, atau hipotesis yang diakui atau ditetapkan sedemikian rupa sehingga suatu studi bisa dilaksanakan secara sistematis.
  4. Prinsip atau pernyataan dalam sebuah teori ilmiah. Pernyataan ini diambil sebagai pernyataan awal, tak dapat dibuktikan dalam kerangka teori bersangkutan.

  1. Dalam Logika dan Ilmu Pengetahuan Modern

Aristoteles memandang postulat sebagai satu di antara premis- premis pertama pembuktian. Postulat dianggapnya terbuktikan tetapi digunakan tanpa pembuktian. Aristoteles dan Thomas Aquinas mengerti postulat (petitio) sebagai pernyataan yang tidak segera dilihat sebagai benar, tetapi yang untuk sementara diterima sebagai benar dalam sebuah diskusi ilmiah tanpa pembuktian. Tetapi diandaikan, entah bagaimana, telah dibuktikan. Postulat berbeda dengan suposisi (suppositio) dalam kasus ini. Dalam perdebatan formal, suposisi (perkiraan) diterima oleh kedua belah pihak sebagai benar, sementara dalam soal postulat, satu pihak dari argumen tidak menempati posisi kebenaran dari pernyataan.

Euklides setuju bahwa postulat satu di antara premis-premis pertama pembuktian. Baginya, postulat tak terbuktikan dan juga tidak jelas sendiri. Jika aksioma sistem Euklides general dan non-geometris, maka yang muncul di antara postulat-postulat hanyalah pernyataan-pernyataan geometris. Misalnya: “Di antara dua garis dapat ditarik suatu garis lurus”.

Wolff menggunakan istilah ini secara lebih luas untuk menunjuk pada proposisi-proposisi yang tak terbuktikan, praktis, dan partikular. Kant mengikuti jejak Wolff, setidaknya sebagian. Dia menyebut prinsip-prinsip modalitasnya dengan nama “postulat pemikiran empiris”, dan memandang ide-ide Allah, kebebasan, dan imortalitas sebagai “postulat akal praktis”.

Demikianlah Kant berbicara mengenai postulat-postulat rasio praktis. Postulat seperti ini merupakan “proposisi teoritis tetapi sedemikian tak dapat didemonstrasikan sejauh merek sungguh-sungguh pada hukum praktis sehingga bersifat a priori yang mengikat secara mutlak”. Artinya, postulat rasio aktif praktis adalah proposisi yang harus diterim kalau hukum moral tidak menjadi tak berarti. Postulat-postulat dalam pengertian ini menurut Kant adalah kehendak bebas, imortalitas (kebakaan) jiwa dan eksistensi Allah. Lotze memandang postulat sebagai asumsi yang niscaya dan mutlak, yang berbeda dengan hipotesis-hipotesis yang bersifat terkaan.

  1. Hipotesis
  1. Pengertian

Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejala-gejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi. Sedangkan Menurut  Iskandar,2008, 56 dalam Musfiqon (2012, 46) Hipotesis merupakan pernyataan yang masih harus diuji kebenarannya secara empiric. Karena hipotesis masih bersifat dugaan , belum merupakan pembenaran atas jawaban masalah penelitian. Dari inilah perlu dilakukan penelitian untuk mencari jawaban yang sebenarnya atas hipotesis yang dimunculkan peneliti.

Jadi hipotesis merupakan rumusan jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya dengan data data yang dianalisis dalam kegiatan penelitian. Perumusan hipotesis harus berdasarkan fakta yang ditemukan. Fakta yang diperlukan untuk merumuskan hipotesis ada tiga cara, yaitu:

  1. Memperoleh sendiri dari sumber aslinya.
  2. Menafsirkan dari sumber asli.
  3. Fakta yang diperoleh dngan jalan menyusunnya dalam bentuk abstract    reasoning (penalaran abstrak).

Hasan dalam sangadj.dkk,( 2010, 91) Mengemukakan empat fungsi hipotesis, yaitu:

  1. Hipotesis berfungsi memberikan penjelasan sementara mengenai fenomena   agar pengetahuan yang kita miliki dapat bertambah secara luas dalam salah satu bidang ilmu.
  2. Hipotesis berfungsi sebagai suatu pernyataan mengenai hubungan langsung yang dapat diuji kebenarannya melalui penelitian.
  3. Hipotesis berfungsi untuk menggambarkan tujuan secara spesifik, agar peneliti     dapat mengetahui data yang perlu dikaji untuk diketahui proposinya.

Hipotesis berfungsi sebagai kerangka kerja untuk menarik sebuah kesimpulan pada saat selesai melakukan penelitian. Bentuk-bentuk hipotesis :

  1.   Hipotesis Deskriptif

Hipotesis Deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

  1. Hipotesis Komparatif

                Hipotesis Komparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

  1.  Hipotesis Assosiatif

Hipotesis Assosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah assosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih.

Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Hipotesis yang abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, tetapi juga sukar diuji secara empiris. Goode dan Hatt (1952: 67-73) menjelaskan ciri-ciri hipotesis yang baik sebagai berikut :

  1. Hipotesis harus jelas secara konseptual

Konsep sedapat mungkin didefinisikan secara operasional. Untuk menjelaskan konsep, definisikanlah konsep itu;

a.    Dengan kata-kata

b.    Dalam operasi tertentu (indeks pengukuran, jenis observasi)

c.   Dengan menghubungkannya pada konsep-konsep lain yang terdapat dalam penelitian sebelumnya.

2.    Hipotesis harus mempunyai rujukan empiris

Hipotesis tidak boleh mengandung konsep-konsep yang merupakan penilaian   (value judgements). “Pemuda seharusnya berperan dalam pembangunan” atau “Jika hubungan masyarakat dilakukan dengan baik, maka hubungan masyarakat akan efektif” atau “Manusia bisa dikatakan manusia, jika ia berkomunikasi” adalah contoh-contoh hipotesis yang merujuk pada nilai, bukan pada rujukan empiris. Kata-kata seperti “seharusnya”, “baik”, “efektif” harus dihindari karena lebih mencerminkan sikap daripada gejala empiris.

3.    Hipotesis harus bersifat spesifik

Kita sering kali tergoda untuk membuat hipotesis-hipotesis yang umum karena hipotesis-hipotesis tersebut kedengarannya “hebat” dan mengesankan. Tetapi hipotesis-hipotesis seperti itu tidak dapat diuji. Inilah contoh-contoh hipotesis “besar” yang sukar diuji:

a.    Jika komunikasi timbal-balik antara pemerintah dan rakyat dilakukan sebaik -   baiknya, partisipasi dalam pembangunan akan meningkat.

b.    Bila siaran pedesaan disesuaikan dengan frame of reference pendengarnya, siaran pedesaan itu akan mencapai sasarannya.

Supaya dapat diteliti (researchable), hipotesis-hipotesis “besar” itu harus dijabarkan menjadi subhipotesis-hipotesis. Dalam subhipotesis digunakan konsep-konsep yang sudah sangat spesifik. Subjek, waktu, target, dan hubungan-hubungan dinyatakan secara jelas dan eksplisit.

4.      Hipotesis harus dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada

Teori dan metode bukanlah hal yang bertentangan. Ahli teori yang tidak tahu teknik untuk menguji hipotesisnya tidak akan mampu merumuskan masalah yang diteliti. Sebelum meneliti masalah kita harus mempelajari beberapa teknik yang pernah dipergunakan untuk mengukur faktor-faktor yang diteliti. Kalau mungkin, pelajari juga kritikan terhadap teknik-teknik tersebut. Hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan antara status sosial ekonomi dengan terpaan media adalah hipotesis yang berguna. Status sosial ekonomi sudah ada indeksnya. Terpaan media sudah ada teknik mengukurnya. Tetapi hipotesis yang menyatakan, “makin tinggi keimanan seseorang, makin terpelihara moralitasnya” sukar diuji. Belum ada teknik yang cermat untuk mengukur keimanan dan moralitas.

5.     Hipotesis harus berkaitan dengan suatu teori

Kriteria ini sering kali luput dari perhatian pemula. Ia cenderung memilih pokok penelitian yang “menarik”, tanpa meneliti apakah penelitiannya dapat menolak, meneguhkan, atau mendukung teori hubungan sosial yang ada. Ilmu baru bersifat kumulatif bila ditegakkan diatas bangunan fakta dan teori yang ada. Ilmu tidak akan berkembang, bila setiap studi merupakan survey yang terpisah. Untuk merumuskan hipotesis yang berkaitan dengan teori jelas memerlukan penelaahan kepustakaan. Hipotesis yang lahir tanpa pengetahuan teoritis tidak lebih tinggi nilainya dari dugaan orang awam. Selain tidak akan mengembangkan ilmu, hipotesis seperti itu tidak akan memberikan kepuasan ilmiah.

Hipotesis yang baik dapat dijadikan petunjuk dalam melaksanakan penelitian. Hipotesis yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Bentuk-bentuk rumusan hipotesis dalam penelitian kependidikan adalah:

  1. Rumusan hipotesis kerja (Ha)

Yaitu hipotesis yang berfungsi untuk membuat ramalan tentang suatu peristiwa yang akan atau mungkin akan terjadi bila sesuatu gejala muncul.

  1. Rumusan hipotesis nol (Ho)

Yaitu hipotesis yang berfungsi untuk menyatakan suatu kesamaan atau tidak adanya perbedaan yang berarti antara dua kelompok atau lebih tentang sesuatu hal yang dipermasalahkan.

     Contoh hipotesis penelitian:

Kemampuan bahasa asing murid-murid SLTA itu rendah ( hipotesis    deskriptif untuk populasi, hipotesis ini sering tidak dirumuskan dalam penelitian sosial).

Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara Sekolah Negeri dan Swasta.   (Hipotesis komparatif, untuk populasi).

Ada hubungan positif antara penghasilan orang tua dengan ketersediaan fasilitas belajar anak. (hipotasis asosiatif, untuk populasi).

hipotesis dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu:

  1. Hipotesis deskriptif (descriptive hypothesis), pernyataan tentang keberadaan variable tunggal.
  2. Hipotesis gabungan (relational hypothesis), pernyataan tentang dua variable”.(sangadji.dkk, 2010, 92).

BAB III

PENUTUP

  1. SIMPULAN

Proposisi adalah hubungan yang logis antara antara dua konsep atau lebih dalam bentuk kalimat pernyataan. Misalnya “proses migrasi tenaga kerja ditentukan oleh perbedaan upah”.

  1. Unsur-Unsur Proposisi
  1. Jenis-Jenis Proposisi
  1. Proposisi kategorik/proposisi subjek-predikat
  2. Proposisi afirmatif/proposisi
  3. Proposisi negatif
  4. Proposisi Universal
  5. dll

Asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berfikir karena dianggap benar.

Postulat dapat diartikan Dalam Bahasa Inggris: postulate. Dari Latin postulatum, dari postulare (meminta, menuntut

Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang suatu tingkah laku, gejala-gejala, atau kejadian tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA