PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA ASPEK KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN TEKNIK SKRAMBEL PADA SISWA KELAS IV SDN INPRES 1 LOLU KECAMATAN PALU SELATAN KOTA PALU SEMESTER II TAHUN 2011/2012
Oleh . Ani Herawati
ABSTRAK
Membaca merupakan jembatan bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan.Membaca bukan suatu proses “efakator”melainkan suatu kemampuan yang interaktif dan terpadu. Apabila seseorang sudah memiliki keterampilan membaca yang memadahi, sangat mungkin seseorang dengan mudah meraih kesuksesan. Kenyataannya kemampuan membaca kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012 masih rendah. Faktor penyebab rendahnya keterampilan membaca siswa diduga karena minat siswa terhadap pembelajaran tersebut. Metode mengajar guru yang kurang sesuai mengakibatkan penguasaan bahasa Indonesia terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut,perlu diadakan penelitian tindakan kelas. Teknik skrambel adalah suatu permainan yang berupa aktivitas menyusun kembali atau pengurutan suatu struktur bahasa yang dikacaubalaukan/diacak. Dasar pemikirannya adalah “belajar sambil bermain”bukan”bermain sambil belajar”.
Masalah dalam penelitian ini adalah mampukah teknik skrambel ini meningkatkan keterampilan membaca pemahaman dan mengubah perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi secara konkret penggunaan teknik skrambel dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa dan perubahan tingkah laku siswa selama dan setelah kegiatan pembelajaran.
Subyek peneliltian ini adalah siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012, yang terdiri atas 39 siswa.Variabel penelitian ini ada dua yaitu :(1) kemampuan membaca pemahaman, (2) penggunaan teknik skrambel. Instrumen peneliltian berupa tes dan nontes.Proses tindakan kelas meliputi siklus I dan siklus II, dengan langkah perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.Hasil tes awal dan tes akhir sikllus I diperoleh nilai rata-rata ketercapaian 64 %. Hasil tes akhir siklus I rata-rata ketercapaian 74 %. dan tes akhir siklus II diperoleh ketercapain rata-rata 82 %. Dengan demikian terjadi peningkatan hasil pada setiap siklusnya.Berdasarkan hal tersebut, teknik skrambel dapat dijadikan alternatif oleh guru dalam pembelajaran karena terbukti teknik ini dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman yang ditandai dengan perubahan hasi belajar dan perilaku siswa.
Kata kunci: Membaca Pemahaman, Teknik Skrambel.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan ( Budi Nuryanto.1997:11.24). Pembelajaran membaca di kelas dengan pemberian tugas terasa suatu pekerjaan yang membosankan dan menjenuhkan. Saat ini siwa lebih suka menonton televisi,santai,dan tidur daripada mengerjakan tugas itu, akibatnya kemampuan siswa tidak seperti yang diharapkan kurikulum.. Dari pengamatan di kelas ketika diberi pelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca terlihat 50 % siswa tidak tertarik, acuh tak acuh, beberapa siswa selalu bercakap-cakap dengan teman sebangkunya, sebagian besar siswa gaduh, dan bacaan baru selesai dalam waktu yang cukup lama. Diajukan pertanyaan, semua diam, sibuk membaca kembali teks, jawaban siswa tidak mencapai sasaran.
Lemahnya tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa merupakan kendala untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, apalagi bila metode pembelajaran yang diterapkan guru kurang tepat, hal ini akan membuat nilai hasil belajar siswa semakin terpuruk berada jauh di bawah batas ketuntasan. Kenyataan praktis di lapangan ini sangat menarik perhatian penulis,dan sebagai guru kelas tergerak hatinya untuk mengadakan penelitian dengan mengujicobakan teknik skrambel untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012.
Teknik skrambel adalah teknik permainan yang berupa aktivitas menyusun kembali atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya telah dikacaubalaukan. Beberapa macam teknik skrambel yang kita kenal yaitu : (a) skrambel kata, (b) skrambel kalimat, (c) skrambel paragraph dan (d) skrambel wacana ( Suparno 1998:76). Berdasar prinsip dari sejenis permainan kemudian konsepnya dipinjam untuk kepentingan pengajaran membaca. Sasaran utamanya sama, yakni mengajak anak untuk berlatih menyusun sesuatu agar sesuatu itu menjadi bermakna.
B. Rumusan Masalah
2. Adakah perubahan perilaku siswa dalam proses belajar mengajar membaca
pemahaman dengan teknik skrambel ?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara konkret penggunaan teknik skrambel untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012. Tujuan lain adalah memberikan gambaran mengenai perubahan perilaku siswa selama mengikuti proses belajar-mengajar dengan teknik skrambel.
E. Manfaat Penelitian.
1. Manfaat Praktis.
Hasil penelitian ini besar manfaatnya bagi guru dan siswa. Guru dapat meningkatkan prestasi mengajar dan menghilangkan kejenuhan dalam mendampingi dan membimbing siswa dalam upaya penguasaan bahan ajar. Siswa mendapatkan masukan baru mengenai cara memahami suatu bahan ajar dengan teknik yang efektif. Disamping manfaat di atas, penggunaan teknik skrambel ternyata mampu mengubah perilaku siswa.
2. Manfaat Teoritis.
Hasil penelitian ini,dapat dipakai sebagai dasar dan acuan bagi peneliti lain di tempat dan pelajaran yang berbeda, agar dapat mengembangkan model-model/teknik baru atas dasar penelitian ini, sampai ditemukannya teknik yangpaling efektif dalam pengajaran membaca pemahaman.
LANDASAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1. Hakekat Membaca
Para pakar hingga saat ini masih memberikan batasan yang berbeda tentang hakikat membaca. Anderson dalam Tarigan (1985 :7) mengatakan bahwa membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and deconding process). Bagi Dika yang masih duduk di kelas 1 SD pengertiam membaca seperti itu tepat sebab ketika dia membaca hanya terbatas mengemukakan atau membunyikan rangkaian lambang-lambang bahasa tulis yang dilihatnya, dari huruf menjadi kata kemudian menjadi frasa kalimat, dan seterusnya. Mengerti atau tidak mengerti makna dari seluruh rangkaian lambang-lambang bahasa tulis tidak menjadi persoalan. Pengertian tersebut menyatakan seakan-seakan membaca suatu hal yang pasif.Dengan demikian membaca bukan hanya sekedar memahami lambang-lambang bahasa tulis saja, melainkan berusaha memahami, menerima, menolak, membandingkan, dan meyakini pendapat pengarang.
2.Tujuan Membaca
Budi Nuryanto,dkk. (1997 :11.2) merumuskan bahwa tujuan membaca dilingkupi oleh empat tujuan berbahasa secara umum, Pertama tujuan penalaran, menyangkut kesanggupan berpikir dan pengungkapan nilai serta sikap social budaya, pendeknya identitas dan kepribadian seseorang.Kedua tujuan instrumental, menyangkut penggunaan bahasa yang dipelajari itu untuk tujuan-tujuan material dan konkret, umpamanya supaya tahu memakai alat-alat, memperbaiki kerusakan mesin, mempelajari satu ilmu, melakukan korespondensi komersial, dan sebagainya. Ketiga, tujuan integrative, menyangkut keinginan seseorang menjadi anggota suatu masyarakat yang menggunakan bahasa (atau dialek) itu sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dengan cara menguasai bahasa itu seperti penutur asli, atau paling sedikit membuat orangnya tidak akan dianggap “asing” lagi oleh penutur-penutur bahasa atau dialek tersebut. Keempat, tujuan kebudayaan terdapat pada orang yang secara ilmiah ingin mengetahui atau memperdalam pengetahuannya tentang suatu kebudayaan atau masyarakat. Ini didasarkan atas asumsi bahwa bahasa adalah suatu inventaris dari unsur-unsur suatu kebudayaan atau masyarakat biasa.
3. Jenis Membaca
Tarigan (1985:12-13) berpendapat bahwa kegiatan membaca dibedakan kedalam jenis membaca bersuara atau membaca nyaring (oral reading atau reading aloud) dan membaca dalam hati (silent reading). Penjenisan ini berdasar atas perbedaan tujuan yang hendak dicapai. Jenis pertama tepat untuk mencapai penguasaan hal-hal yang bersifat mekanis seperti pengenalan bentuk huruf dan unsur-unsur linguistik.Jenis kedua sesuai untuk tujuan yang bersifat pemahaman.
Selanjutnya kegiatan membaca dalam hati dibedakan lagi menjadi kegiatan membaca ekstensif, yang meliputi kegiatan survey (survey
reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (superficial reading), dan kegiatan membaca intensif, meliputi kegiatan membaca telaah isi serta membaca telaah bahasa. Kegiatan membaca yang bersifat telaah isi dibedakan menjadi kegiatan membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis dan membaca ide-ide, sedangkan kegiatan membaca yang bersifat telaah bahasa meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra.
4 .Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman menurut Tarigan ( 1986:56 ) merupakan sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan ( literary standards ), resensi kritis ( critical review ), drama tulis (primed drama ), serta pola-pola fiksi ( pattenrs of fiction ).Proses penguasaan dan ketrampilan membaca pemahaman dipengaruhi beberapa faktor. Sedangkan Ebel ( 1972:35 ) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh siswa dan perkembangan minat bacanya tergantung pada faktor-faktor berikut :(1) Siswa yang bersangkutan, 2) keluarganya, (3) Kebudayaannya,dan (4) Situasi sekolah.Alexander ( 1983:143) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pemahaman bacaan meliputi : program pengajaran membaca, kepribadian siswa, motivasi, kebiasaan dan lingkungan social ekonomi mereka.
5. Teknik Skrambel
1. Pengertian Teknik Skrambel.
Istilah “Skrambel” berasal dari bahasa Inggris yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “perebutan, pertarungan, perjuangan . Teknik “skrambel” biasanya dipakai oleh anak-anak sebagai permainan yang pada dasarnaya merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemilikan kosakata kosakata dan huruf huruf yang tersedia.Teknik permainan ini pada prinsipnya menghendaki siswa supaya melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan susunannya. Berdasarkan sifat jawabannya, skramble terdiri atas bermacam macam bentuk.
a. Skrambel kata, yakni sebuah permainan yang menyusun kata-kata dari huruf- huruf yang telah dikacaukan letak huruf-hurufnya sehingga membentuk suatu kata tertentu yag bermakna.
Misalnya dari huruf-huruf : lewerkala menjadi kelelawar; opmketru menjadi komputer
b. Skrambel Kalimat, yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata
acak. Bentukan kalimat dimaksud hendaknya logis, bermakna, tepat dan
benar.
c. Skrambel Wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat atau paragraf acak. Hasil susunan wacana dalam permainan skrambel hendaknya logis dan bermakna.
2. Pembelajaran Membaca Pemahaman dengan Teknik Skrambel
Skrambel adalah salah satu permainan bahasa pada hakikatnya permainan bahasa merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara menggembirakan(Suparno 1998:60) Dengan bermain siswa akan memperoleh kegembiraan atau kesenangan,selain itu keterampilan tertentu akan diperolehnya dengan tidak sengaja. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan dan tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan.
D. Kerangka Berpikir
Skema tentang kerangka berpikir ini akan disajikan sebagai berikut.
KONDISI
AWAL
TINDAKAN
KONDISI
AKHIR
Gambar 2.1 Diagram Penelitian Tindakan Kelas
E. Hipotesis Tindakan
”Keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012 meningkat setelah digunakan teknik skrambel dalam kegiatan belajar-mengajar yang ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku dari negatif ke positif pada waktu proses dan setelah pembelajaran membaca pemahaman ”.
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus.Tiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang peneliti lakukan adalah bertolak dari permasalahan yang akan dipecahkan, kemudian peneliti merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya. Pada pelaksanaan tindakan peneliti melakukan penyampaian materi, tes perbuatan, dan observasi terhadap kegiatan yang dilakukan. Tahap berikutnya, berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan jurnal peneliti merefleksi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Permasalahan-permasalahan yang muncul pada siklus I merupakan permasalahan yang harus dipecahkan pada siklus II. Selanjutnya, kegiatan dimulai lagi seperti kegiatan pada siklus I, yakni perencaaan, tindakan, observasi, dan refleksi dengan perubahan-perubahan untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada siklus I. Berikut ini adalah gambar penelitian yang ditempuh peneliti.
Keterangan :
P= Perencanaan; T= Tindakan; R= Refleksi; R= Revisi Perencanaan
O= Observasi
B. Variabel Penelitian.
Variabel penelitian ini ada dua,yaitu (1) kemampuan membaca pemahaman dan (2) penggunaan teknik skrambel.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012 dengan jumlah 39 siswa.
D. Indikator Keberhasilan
Penelitian ini dianggap berhasil apabila kompetensi membaca dengan tehnik skrambel siswa meningkat. Peningkatan keterampilan siswa ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai yang diperoleh siswa dari siklus I ke siklus II. Nilai yang diperoleh siswa pada siklus II lebih tinggi daripada nilai yang diperoleh siswa pada siklus I.Berikut indikator tingkat keberhasilan siswa:
Tabel 1. Indikator Penelitian Tingkat Keberhasilan Siswa
No | Hasil yang dicapai siswa | Kategori |
1. | < 65,0 | Kurang |
2. | 65,0 – 74 | Cukup |
3. | 75,0 - 84 | Baik |
4. | >84 | Sangat Baik |
E. Instrumen Penelitian
a. Bentuk Instrumen berupa Tes
Tes yang digunakan untuk mengukur keterampilan membaca dengan teknik skrambel siswa adalah tes lisan dan tertulis.
b. Bentuk Instrumen berupa Nontes
Instrumen nontes yang digunakan berbentuk observasi atau pengamatan, wawancara, jurnal,dokumentasi foto
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan nontes.
G. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini yaitu teknik
kuantitatif dan teknik kualitatif.
a. Teknik Kuantitatif
Tes kuantitatif dipakai untuk menganalisis hasil tes siswa yang dilakukan pada setiap siklus.
b. Teknik Kualitatif
Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data-data nontes, yaitu data observasi atau pengamatan, data hasil wawancara, data jurnal, data foto dan dokumentasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian.
1. Pratindakan
Sebelum tindakan kelas dilakukan siswa mengerjakan tes awal yang bertujuan mengetahui kemampuan sisiwa sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung atau sebelum tindakan dilakukan. Tes ini terdiri atas satu teks cerpen dan 10 soal yang menilai aspek-aspek membaca pemahaman, yaitu pemahaman kata, pemahaman konsep, pemahaman kalimat, pemahaman struktur paragraf, dan pemahaman sikap dan tujuan, dari data yang dihimpun memperoleh nilai rata-rata ketuntasan 64 %.
2. Hasil Penelitian Siklus I
a.Hasil tes
Pada akhir siklus I diberikan tes masing-masing tes ada 10 soal. Teks I berjudul “ Dolphina Si Anak Laut”. Hasil tes akhir siklus I dapat dilihat pada lampiran .Secara umum, hasil tes keterampilan bercerita pada siklus I ini dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Hasil Tes Keterampilan Bercerita Siklus I
No | Nilai | Kategori | Frekuensi | % | Hasil Klasikal |
1 | < 65 | Kurang | 0 | 0 | 39 siswa mencapai nilai total 2146 dengan rata-rata nilai 74 dengan kategori cukup. |
2 | 65-74 | Cukup | 31 | 79 | |
3 | 75-84 | Baik | 8 | 21 | |
4 | >84 | Sangat baik | 0 | 0 | |
Jumlah | 39 | 100 | |||
b. Hasil Nontes
Pada Penelitian tindakan kelas ini data penelitian hasil nontes didapatkan dari hasil observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto.
3. Hasil Penelitian Siklus II
Pelaksanaan penelitian pada siklus II ini dilaksanakan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang daripada siklus I. Dengan adanya perbaikan-perbaikan pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar, hasil penelitian yang berupa nilai tes membaca dengan skrambel siswa meningkat. Selain itu, pada siklus II ini suasana pembelajaran berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan suasana pembelajaran pada siklus I.
a. Hasil Tes
Penilaian tes keterampilan membaca dewngan teknik skrambel ini dilakukan dengan cara meminta setiap kelompok tampil di depan kelas untuk menampilkan hasil kerja mereka dengan diwakili tiap kelompok satu orang dan hasil tes individu. Secara umum, hasil tes keterampilan bercerita siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012 pada siklus II ini dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Hasil Tes Keterampilan Bercerita Siklus II
No | Nilai | Kategori | Frekuensi | % | Hasil Klasikal |
1 | < 65 | Kurang | 0 | 0 | 39 siswa mencapai nilai total 2378 dengan rata-rata nilai 82 dengan kategori Baik. |
2 | 65-74 | Cukup | 0 | 0 | |
3 | 75-84 | Baik | 33 | 86 | |
4 | >84 | Sangat baik | 6 | 14 | |
Jumlah | 39 | 100 | |||
b. Hasil Nontes
Pada Penelitian tindakan kelas ini data penelitian hasil nontes didapatkan dari hasil observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto.
B.Pembahasan.
Data awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kurang tertarik dengan kegiatan membaca.Hal ini terlihat dari kebiasaan sehari-hari di sekolah,pembelajaran dengan metode tugas membaca merupakan suatu kegiatan yang membosankan dan menjenuhkan.Akibat kurang berminatnya siswa terhadap suatu bacaan atau cerita. Penggunaan bahasa Indonesia tidak baku dalam kegiatan sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah,kecuali kegiatan belajar-mengajar,mengakibatkan penguasaan bahasa Indonesia terbatas.Hal ini akan mengganggu dalam proses pemahaman bahan bacaan.
Masalah di atas dikuatkan dengan hasil tes awal pada pra tindakan dengan perolehan nilai rata-rata 6,40 dengan rincian yang mendapatkan nilai 4 = 2,2 %,yang mendapatkan nilai 5 = 20 %,yang mendapatkan nilai 6 = 26,7 %,yang mendapatkan nilai 7 = 31,1 %, dan yang mendapatkan nilai 8 = 17,8 %, dan yang mendapatkan nilai 9 = 2,2 % .
Salah satu alternatif untuk memecahkan masalah di atas diujicobakan teknik skrambel.Teknik skrambel merupakan permainan bahasa,suatu aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara yang menggembirakan. Pengamatan dalam proses tindakan bahwa teknik skrambel ini dapat mengubah perilaku dan suasana pembelajaran di kelas menjadi lebih kondusif.
Jurnal dan wawancara menunjukkan sebagian besar siswa sangat tertarik,bersemangat,antusias, dan merasa senang,ditunjukkan pada waktu mengikuti pelajaran dengan teknik skrambel waktu terasa demikian cepat berlalu.
Dari hasil tes awal 64 % dan tes akhir siklus I diperoleh nilai rata-rata ketuntasan belajar mencapai 74 % . Dari hasil akhir tes siklus II stelah dilakukan refleksi diperoleh ketuntasan rata hasil siswa sebesar 82% .Hal ini membuktikan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Inpres 1 Lolu Kecamatan Palu Selatan Kota Palu Semester II Tahun 2011/2012 meningkat setelah digunakan teknik skrambel. Unsur spekulasi yang ada dalam permainan mengakibatkan pemenang bukanlah yang pandai,dalam penelitian ini terbukti ada anak yang agresif dan aktif belum tentu mendapatkan nilai yang baik,atau selalu meningkat dari siklus ke siklus berikutnya.
Teori pembelajaran Medan Gestalt terbukti di sini bahwa perubahan tingkah laku baik pengetahuan atau sikapnya dipengaruhi oleh unsur-unsur lingkungannya. Pernyataan Chomsky yang menyebutkan pemerolehan bahasa tidak dipengaruhi oleh IQ,motivasi atau emosi anak,bertentangan dengan hasil tes ini dari tes dan nontes ( observasi, jurnal dan wawancara ),baik dalam siklus I maupun siklus II sebagian besar siswa yang mendapatkan baik adalah siswa yang merasa senang atau tertarik, dan mendapatkan nilai baik dalam pelajaran lainnya.Sedangkan siswa yang selalu acuh tak acuh selalu mendapat nilai yang jelek atau bahkan menurun.Data nontes menunjukkan pelajaran lainnya juga jelek.Jadi yang cocok adalah pendapat Witty dan Kopel bahwa anak anak yang dapat membaca dengan baik adalah anak yang memiliki IQ di atas 70.
Perolehan hasil tes membaca pemahaman yang rata-rata masih rendah sebagian besar terpengaruh oleh aspek siswa yang bersangkutan.Aspek ini meliputi keluasan wawasan siswa,kebiasaan siswa, minat dan motivasi. Metode tugas dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat berpengaruh dalam memahami isi bacaan.Hal ini berakibat sebagian besar siswa kurang berminat membaca bacaan berbahasa Indonesia.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
1. Teknik skrambel dapat meningkatkan ketrampilan membaca pemahaman siswa.Hal itu terlihat dari hasil tes awal hanya mencapai 64 %,tes akhir siklus I mencapai 74 % dan tes akhir siklus II mencapai ketuntasan rata-rata 82 %
2. Perubahan tingkah laku atau sikap tampak dalam pembelajaran membaca pemahaman dngan teknik skrambel. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan jurnal membuktikan bahwa sebagian besar siswa tertarik dengan teknik skrambel. Situasi dan kondisi jenuh,lelah dan bosan dapat diatasi dengan permainan ini,sehingga suasana kondusif dapat tercipta.Hal ini terbukti siswa merasakan waktu atau jam pelajaran cepat selesai meskipun kegiatan ini dilakukan pada jam yang terakhir.
B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas disarankan agar para guru menggunakan teknik skrambel untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman, teknik ini sudah teruji mampu meningkatkan prestasi siwa,dan dapat mengubah perilaku negatif siswa menjadi positif terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Karena teknik ini mempunyai kelemaham yaitu waktu yang digunakan untuk mengkaji cukup lama,maka sebaiknya teknik ini digunakan sebagai selingan saat anak dalam keadaan bosan,jenuh dan tak bersemangat mengikuti pembelajaran atau disaat waktu jam pelajaran siang/akhir.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi.1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,Jakarta:
Rineka Cipta.
Budinuryanta,J. dkk. 1997. Pengajaran keterampilan berbahasa, Jakarta: Depdikbud
Darisman, Muh. dkk 2004. Ayo Belajar Berbahasa Indonesia, Jakarta: Yudhistira
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah : Jakarta : Depdiknas
Harras, Kholid,A.dan Lilis Sulistianingsih.1997. Membaca I. Jakarata: Depdikbud
Nurhadi dan Rukhan.1990. Dimensi-Dimensi dalam Belajar Bahasa kedua. Bandung: Sinar Ilmu
Simanjuntak, Mangantar.1987.Pengantar Psikolinguistik Modern. Kuala Lumpur.
Dewan Bahasa dan Budaya
Syah, Muhibbin.1995. Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosda Karya
Soeparno.1980. Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Tarigan, H.G.1986. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa
Tim Penyusun.2001. Kemampuan Dasar Bahasa Indonesia. Klaten. Intan Pariwara
Usman, Moh. Uzer.1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya
BIODATA PENULIS
Nama lengkap : Hj. Ani Herawati,S.Pd
Nip : 19600703 198310 2 001
Jabatan : Kepala Sekolah
Unit kerja : SDN Inpres 1 Lolu Kec. Palu Selatan
Palu, Sulawesi Tengah.