Perlakuan Mekanis dan Pemberian Etilen Dalam Menginduksi PembentukanTerpenoid pada Pohon Gaharu (Aquilaria beccariana)

                

Oleh: Rawana

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Instiper Yogyakarta

Jl. Nangka II Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Gaharu merupakan salah satu komoditas hasil hutan non kayu yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi (marketable). Gubal gaharu adalah sejenis kayu wangi dengan berbagi bentuk dan warna yang khas (Standar Nasional Indonesia 1999). Gubal gaharu ini digunakan untuk pewangi ruangan, bahan baku minyak, dupa, makmul, kosmetika dan untuk bahan obat alam (ayurvedic). Gubal gaharu dapat disuling  untuk mendapatkan minyak gaharu, dan minyak ini dapat digunakan sebagai bahan industri minyak wangi/parfum, obat-obatan dan bahan kosmetik (Michiho et.al, 2005, Anonim, 2006). Negara pengimpor gubal gaharu dan minyak gaharu yaitu Uni emirat arab, Arab saudi, Yaman, Singapura, Hongkong, Jepang, Malaysia, Korea, dan Amerika Serikat.

Gubal gaharu terbentuk akibat mekanisme pertahanan pohon gaharu terhadap suatu gangguan seperti akibat pelukaan maupun infeksi cendawan. Menurut Rahayu dan Situmorang (2006) Resin gaharu yang dideposit pada jaringan kayu membuat serat-serat kayu lebih terikat dan mengubah warna serat dari putih menjadi kehitaman.  Gubal gaharu alami dengan kualitas terbaik sulit ditemukan, disebabkan karena jumlah populasi gaharu alam mulai menurun akibat penebangan yang tidak terkendali (overcutting), oleh karenanya pengembangan budidaya gaharu perlu dilakukan.

Budidaya gaharu dilakukan dengan sistem silvikltur intensif  (intensive silviculture), dengan mengoptimalkan faktor-faktor yang diperlukan untuk tanaman gaharu. Untuk mempercepat dan meningkatkan produk gubal gaharu dilakukan dengan teknik induksi buatan. Menurut Nobuchi dan Siripatanadilok (1991) gubal gaharu terbentuk akibat infeksi cendawan, pelukaan dan atau pemberian pestisida. Inokulasi cendawan Acremonium sp. Dan pemberian metil jasmonat tebukti dapat menginduksi pembentukan senyawa gaharu (Putri, 2007). Jasmonat merupakan senyawa sekunder untuk respon pertahanan pohon, selaian asam salisilat dan etilen (Yang et.al., 1997). Menurut Pojangaron dan Kaewark (2005) pemberian pelakuan mekanis terhadap pohon gaharu dapat merespon terbentuknya terpenoid, dan aroma wangi apabila dibakar.

        Menurut Shirsat et.al, (1999) Etilen merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat merangsang perkembangan tanaman. Pemberian etilen pada tanaman dapat menyebabkan tanaman mengalami gutasi, gumosis, atau pengeluaran lateks (Abeles, 1973). Pemberian etilen juga dapat merangsang pembentukan fitoaleksin dan sintesis atau aktiviasi beberapa enzim yang berperan dalam meningkatkan pertahanan tanaman terhadap infeksi. Etilen juga dapat meningkatkan hasil panen buah tomat. Etilen diformulasikan dengan senyawa-senyawa lain, membentuk formula misalnya etepon. Etepon adalah zat pengatur pertumbuhan tanaman yang bekerja secara sistemik. Etepon dapat terdekomposisi menjadi etilen, fosfat dan ion klorida saat dilarutkan dalam air pada pH diatas 4-5. Penggunan etepon dengan konsentrasi 2,02 % pada tanaman karet dapat meningkatkan produksi lateks (Junaidi, et. al., 2007).

        Senyawa gaharu seperti lateks merupakan senyawa terpenoid. Peran etilen dalam merangsang pembentukan senyawa gaharu belum diktahui, oleh sebab itu efektivitas penggunaan etiln dalam pembentukan senyawa terpenoid pada pohon gaharu perlu dipelajari.

  1. Tujuan  

Tujuan  yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui perlakuan mekanis dan konsentrasi optimum etilen yang paling effektif dalam  menginduksi terbentuknya senyawa terpenoid pada pohon gaharu (Aquilaria beccariana) umur 2 tahun.  (2)  Untuk mengetahui kombinasi antara perlakuan mekanis dan pemberaian etilen yang paling effektif dalam menginduksi terbentuknya senyawa terpenoid pada pohon gaharu umur 2 tahun.

METODE PENELITIAN

1.  Waktu dan Tempat Penelitian

        Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan (tanggal 20 Juni 2011 sampai dengan tanggal 20 September 2011), bertempat di laboratorium Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta, di areal Researt Alam Tropika Yogyakarta dan di Laboratorium sentral Institut Pertanian Stiper Yogyakarta.

2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan sebanyak 3 pohon Aquilaria beccariana umur 2 tahun, Ethrel 40 PGR (bahan aktif  etepon 48%), alkohol 70%, alkohol absolut, plastic dan spidol. Bahan yang digunakan untuk analisis terpenoid yaitu: etanol absolute, aquadest, dietil eter, H2SO4. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bur listrik, meteran, corong, gergaji, cutter, wax, skrup, palu, paku, dan alat tulis. Sedangkan peralatan laboratirium yang digunakan yaitu: tabung reaksi, rak tabung reaksi, beker glass, piper ukur 10 ml, karet  isap, water bath, timbangan analitik merk AND, spectopotometry merk Stimatsu, corong glass, dan petridish.

        

  1. Induksi Pembentukan Senyawa Terpenoid

Induksi pembentukan senyawa terpenoid dilakukan pada  batang utama dengan memberikan perlakuan mekanis: dilakukan pengeboran batang dengan menggunakan sekrup dengan diameter 0,4 cm dengan variasi kedalaman 1 cm (S1), 1,27 cm (S2), 1,54 cm (S3), dan kontrol (S0). Perlakuan mekanis dilakukan pada batang utama dengan ketinggian ± 10 c m di atas permukaan tanah. Jarak antar lobang 5 cm secara spiral. Pemberian senyawa etepon dengan berbagai konsentrasi: Kontrol 0 % (E0), 0,5% (E1), 1,5% (E2), dan 2 % (E3).

Tiap lobang disuntikan senyawa etepon sebanyak 1 ml. Semua perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Pohon gaharu yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 3 pohon gaharu jenis Aquilaria beccariana umur 2 tahun. Pembentukan senyawa terpenoid dideteksi dengan metode Liebermann Burchard.

        

  1. Perubahan warna dan tingkat wangi

Pengamatan warna kayu meliputi tingkat perubahan warna, panjang dan lebar kayu yang berubah warna. Tingkat perubahan warna kayu ditetapkan berdasarkan sistem skor (0=putih, 1=putih kecoklatan, 2=coklat, 3=coklat kehitaman) dan dinyatakan dalam rataan nilai skor dari 3 responden. Kulit batang disekitar titik induksi dikupas dengan kedalaman ± 2 mm. panjang dan lebar zona perubahan warna batang diukur berturut-turut ke arah vertikal dan horizontal, pada daerah yang menunjukkan perubahan warna kayu dari putih hingga coklat kehitaman. Pengamatan wangi kayu meliputi tingkat wangi dan frekuensi titik induksi yang wangi. Tingkat wangi ditetapkan melalui uji organoleptik yang dinyatakan dengan rataan skor dari 3 responden. Skala skor wangi 0=tidak wangi, 1=kurang wangi, dan 3=wangi sekali.

  1. Uji Terpenoid

Bagian sampel kayu yang mengalami perubahan warna dianalisis kandungan senyawa terpenoid dengan menggunakan metode Liebermann-Burchard. Sebanyak 0,4 gram sampel dilarutkan dalam 5 ml etanol absolut panas kemudian disaring dalam cawan petri steril dan diuapkan sampai kering hingga terbentuk endapan berwarna kuning. Kemudian endapan ditambahkan 1 ml dietil eter dan dihomogenisasi. Selanjutnya dipindahkan ke dalam tabung reaksi steril lalu ditambahkan setetes asam sulfat pekat. Warna merah atau ungu menunjukkan adanya senyawa terpenoid (Harbone, 1987). Nilai absorbansi diperoleh dari sampel yang telah diuji Liebermann-Burchard kemudian diencerkan dengan etanol absolut lalu dilihat kandungan triterpenoid menggunakan spektofotometer pada panjang gelombang 268 nm.

  1. Analisis data

Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 faktor (perlakuan dan masa inkubasi). Untuk mengetahui pengaruh nyata tiap faktor, maka digunakan uji F pada α = 0.01. bila terdapat pengaruh nyata dari tiap faktor terhadap peubah yang diamati maka setiap taraf faktor dibandingkan dengan menggunakan uji lanjut Duncan pada α = 0.01. Data dianalisis dengan menggunakan Program statistik IBM SPSS 19.

HASIL DAN  PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis data terhadap parameter perubahan warna, tingkat wangi, dan kandungan terenoid, disajikan sebagai berikut:  

  1. Perubahan warna
  1. Zona perubahan warna arah lateral

Berdasarkan analisis varian terhadap parameter persebaran warna secara radial menunjukkan bahwa pemberian perlakuan etepon tidak memberikan pengaruh yang signifikan, demikian juga interaksi antara etepon dengan kedalaman sekrup. Adapun  perlakuan kedalaman skrup menunjukkan beda nyata dengan nilai signifikasi pada taraf uji 0,01.

Tabel 1. Uji lanjut zona perubahan warna arah lateral pada perlakuan kedalaman skrup

Perlakuan

Subset

1

2

kedalaman 1,27 cm

5.1333 a

kedalaman 1,54 cm

5.2500 a

kedalaman 1 cm

5.6250 a

5.6250 b

kedalaman 0 cm

7.2083 b

Sig.

.467

.017

        Ket.:  Angka yang diikuti huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata pada taraf uji 0,01 (α:0,01)


Grafik 1. Rata-rata perlakuan kedalaman sekrup

Pengeboran dengan menggunakan sekrup dengan kedalaman 1 cm memberikan pengaruh terhadap zona perubahan warna kearah lateral sebesar 5,63 cm kemudian disusul dengan kedalaman sekrup 1,54 cm dan 1,27 cm secara berturut-turut memberikan zona arah lateral sebesar 5,25 cm dan 5,13 cm. sedangkan zona perubahan warna  yang paling besar pada control (kedalaman 0 cm). pada kedalaman 0 cm (control) memberikan  luas zona perubahan warna  terbesar, karena ini diduga infeksi dari mikroba yang ada di alam, sehingga menyebabkan terjadinya pembusukan. Lebar zona perubahan warna yang terjadi pada kontrol tidak menunjukkan infeksi pembentukan gubal gaharu, namun justru terjadi pembusukan. Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan kedalaman sekrup 1 cm, 1,27 cm, dan 1,54 cm tidak menunjukkan perbedaan nyata (non significant), sedangkan perlakuan kedalaman 0 cm memberikan pengaruh yang dignifikan terhadap perlakuan kedalaman sekrup 1, 1,27 dan 1,54 cm. rata-rata zona perubahan warna arah lateral dari semua perlakuan sebesar 5,8 mm.

E:\FOTO-FOTO\penelitian gaharu 2011\IMG_0652.JPG

Gambar 1. Foto persebaran zona perubahan warna dari beberapa perlakuan 1: kedalaman sekrup 1 cm, 2: kedalaman sekrup 1,27 cm dan 3: kedalaman sekrup 1,54cm.

  1. Zona perubahan warna arah axial

Berdasarkan analisis varian yang dilakukan diketahui bahwa pengaruh pemberian etepon dengan tiga aras (1 %, 1,5% dan 2%) dan perlakuan kedalaman sekrup (0 cm, 1 cm, 1,27 cm, dan 1,54 cm) tidak memberikan pengaruh yang nyata pada Zona perubahan warna arah axial. Rata-rata zona perubahan warna arah axial dari semua perlakuan sebesar 11,8 mm

Lebar zona perubahan warna arah lateral lebih pendek dibandingkan dengan perubahan zona perubahan warna arah axial, hal ini diduga berkaitan dengan sel-sel pohon yang kearah lateral yaitu sel jari-jari dan saluran pembuluh, yang jumlahnya ralatif sedikit dibandingkan dengan jumlah sel yang ke arah axial seperti sel serabut, sel pembuluh dan sel parenkim.

  1. Tingkat kegelapan warna

Interaksi perlakuan etepon dan kedalaman sekrup tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kegelapan warna pada taraf uji 0,01. Demikian juga perlakuan pemberian etepon dengan 3 aras juga tidak memberikan pengaruh yang nyata dalam paremeter tingkat kegelapan warna. Adapun kedalaman sekrup memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam parameter tingkat kegelapan warna. Untuk melihat pengaruh  parameter tingkat kegelapan  dilakuakan uji lanjut Duncan’s sebagai berikut.

Tabel 2. Hasil uji Duncan’s terhadap perlakuan kedalaman sekrup

Perlakuan

Subset

1

2

kedalaman 0 cm

.9167 a

kedalaman 1 cm

2.1667 b

kedalaman 1,27 cm

2.6667 b

kedalaman 1,54 cm

2.6667 b

Sig.

1.000

.089

Ket.: angka yang diikuti huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata pada taraf uji 0,01.

Perlakuan kedalaman sekrup 0 cm berbeda nyata dengan kedalaman 1, 1,27 dan 1,54 cm, hal Ini ditunjukkan dengan tabel 2 diatas dimana perlakuan kedalaman 0 cm berada pada kolom yang terpisah dnegan kolom perlakuan kedalaman sekrup yang lain.  Nilai rata-rata tingkat kegelapan warna paling rendah 0,9167 (pada kedalaman sekrup 0 cm), nilai rata-rata tertingi sebesar 2,667 untuk kedalaman sekrup 1,27 dan 1,54 cm. ada kecenderungan kedalaman sekrup semakin dalam akan memberikan dampak tingkat kegelapan warna semakin besar.

E:\FOTO-FOTO\penelitian gaharu 2011\IMG_0651.JPGE:\FOTO-FOTO\penelitian gaharu 2011\IMG_0647.JPG

Gambar 2.  Tingkat kegelapan warna no 16: perlakuan kedalaman 0 cm, 7: perlakuan kedalaman 1 cm, 8: kedalaman sekrup 1,27 cm dan 9:kedalaman sekrup 1,54 cm.

  1. Tingkat wangi

Berdasarkan analisis varian yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian perlakuan etepon dan kedalaman sekrup berbeda nyata untuk masing-masing perlakuan pada taraf uji 0,01, sedangkan interaksi perlakuan tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Duncan’s dengan hasil sebagai berikut.

  Tabel 3. Hasil uji Duncan’s untuk  parameter tingkat wangi

Scrup

Subset

1

2

kedalaman 0 cm

.6667 a

kedalaman 1 cm

2.0000 b

kedalaman 1,54 cm

2.0833 b

kedalaman 1,27 cm

2.1667 b

Sig.

1.000

.606

Ket. : angka yang diikuti hurf yang sama tidak menunjukkan beda nyata pada taraf uji 0,01

Grafik. Tingkat wangi dari berbagai perlakuan

Berdasarkan Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa perlakuan kedalaman skrup 0 cm berbeda nyata dengan perlakuan kedalaman sekrup 1, 1,27 dan 1,54 cm.  Perlakuan kedalaman sekrup 1,27 memberikan tingkat wangi yang rata-rata lebih tinggi, yaitu sebesar 2,1667, dibandingakan dengan perlakuan kedalaman sekrup 1,54 dan kedalaman 1 cm berturut-turut sebesar 2,0833 dan 2.

Terdektisinya aroma wangi gaharu merupakan salah satu indikasi mulai terbentuknya senyawa gaharu. Senyawa gaharu diduga merupakan bagian dari senyawa fitoaleksin, aitu senyawa yang dibentuk tanman sebagai reson terhadap adanya gangguan baik fisik, kima maupun biologi (Michiho et al. dalam Rahayu et. Al., 2009).

  1. Uji Terpenoid

Berdasarkan Table 4  analisis varians terhadap parameter tingkat absorbansi, menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan menunjukkan beda nya pada taraf uji 0,01. Demikian juga interaksi antar perlakukan juga menunjukkan pengaruh yang beda nyata. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan dan interaksinya dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan Uji lanjut Duncan’s didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4. Hasil Uji DMRT Untuk Perlakuan Pemberian Etepon

Perlakuan

Subset

1

2

3

4

etepon 1 %

.1199 a

etepon 2 %

.2512 b

etepon 0%

.3721 c

etepon 1,5 %

.7969 d

Sig.

1.000

1.000

1.000

1.000

Ket.: angka yang dibelakangnya diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata.

Berdasarkan table 4 di atas menunjukkan bahwa perlakukan pemberian etepon dengan berbagai konsentrasi memberikan pengaruh berbeda nyata dalam tingkat absorbansinya. Pemberian etepon dengan konsentrasi 1,5 % memberikan pengaruh tingakat absorbansi yang paling tinggi yaitu sebesar 0.7969, kemudian diikuti dengan konsentrasi 2 % dengan tingkat absorbanyai sebesar 0,2512.

Tabel 5. Hasil Uji DMRT Untuk Perlakuan Kedalaman Skrup

Perlakuan

Subset

1

2

3

kedalaman 0 cm

.2463 a

kedalaman 1,54 cm

.3228 b

kedalaman 1,27 cm

.3664 b

kedalaman 1 cm

.6047 c

Sig.

1.000

.018

1.000

Ket.: angka yang dibelakanya diikuti huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata.

Berdasarkan Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa perlakuan kedalaman skrup berbeda nyata dengan control. Kedalaman skrup 1,54 cm dan kedalaman skup 1,27 cm berbeda nyata dengan kedalaman skup 1 cm.  

Perlakuan kedalaman skrup 1 cm memberikan nilai absorbansi terbesar (0,6047) kemudian diikuti oleh perlakuan kedalaman skrup 1,27 cm dan kedalaman skrup 1,54 cm.

E:\FOTO-FOTO\penelitian gaharu 2011\IMG_0680.JPG

Tabel 6. Hasil Uji DMRT untuk interaksi perlakuan pemberian etepon dan kedalaman skrup

Perlakuan

Uji DMRT

Etepon 1,5 %

Kedalaman 1 cm

1,266 a

Etepon 1,5 %

Kedalaman 1,27 cm

1,141 b

Etepon 0 %

Kedalaman 1 cm

0,984 c

Etepon 2 %

Kedalaman 1,54 cm

0,853 d

Etepon 1,5 %

Kedalaman 0 cm

0,757 d

Etepon 1 %

Kedalaman 1,54 cm

0,235 e

Etepon 0 %

Kedalaman 1,27 cm

0,21   e

Etepon 0 %

Kedalaman 1,54 cm

0,18    e

Etepon 0 %

Kedalaman 0%

0,114 f

Etepon 1 %

Kedalaman 1 %

0,113 f

Etepon 1 %

Kedalaman 0 %

0,093 f

Etepon 2 %

Kedalaman 1,27

0,074 f

Etepon 2 %

Kedalaman 1 cm

0,055 f

Etepon 1 %

Kedalaman 1,27 cm

0,039 f

Etepon 1,5 %

Kedalaman 1,54 cm

0,023 f

Etepon 2%

Kedalaman 0 cm

0,022 f

Ket. : angka yang dibelakangnya diikuti huruf yang sama tidak menunjukkan beda nyata pada taraf uji 0,01.

Berdasarkan Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa interaksi perlakuan E2S1 (pemberian etepon dengan konsentrasi 1,5 % dengan kedalaman skrup 1 cm memberikan nilai tingkat absorbasi paling besar (1,226), kemudian perlakuan pemberian etepon 1,5 % dengan kedalaman 1,27 cm. Menurut Gayuh (2009) nilai absorbansi 0,62 mengandung triterpenoid, sedangkan nilai absorbansi gaharu sebedar 0,813.

        

KESIMPULAN

  1. Perlakuan kedalaman skrup memberikan pengaruh signifikan dalam parameter zona perubahan warna ke arah lateral pada gaharu umur 2 tahun.
  2. Tingkat kegelapan warna dipengaruhi oleh perlakuan kedalaman skrup. Semakin dalam kedalaman skrup cenderung tingkat kegelapan warna semakin besar.
  3. Perlakuan kedalaman skrup memberikan pengaruh signifikan terhadap parameter tingkat wangi. Perlakuan kedalaman skrup 1,54 cm memberiakan pengaruh tingkat wangi terbesar, kemudian diikuti perlakuan kedalaman skrup 1,27 cm dan 1 cm.
  4. Interaksi perlakuan pemberian etepon dan kedalaman skrup memberikan pengaruh yang nyata dalam parameter nilai absorbansi. Interaksi perlakuan pemberian etepon 1,5 % dan kedalaman skrup 1 cm memberikan nilai abasorbansi terbesar (1,266).
  5. Interaksi perlakuan etepon dan kedalaman skrup memberikan pengaruh yang nyata dalam pembentukan senyawa terpenoid pada gaharu umur 2 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Abeles FB. 1973. Ethylene in Plant Biology. New York: Academic Press, Inc.

Isnaeni Yupi dan Dewi Rahmawati, 2005. Prosiding seminar Nasional Gaharu, Peluang dan Tantangan Pengembangan Gaharu di Indonesia. Seameo Biotrop South East Asian Regional Centre For Tropical Biology. Bogor. Indonesia.

Junaidi, Sumarmadji, Karyudi, 2007. Aplikasi Stimulant Gas LET 200 Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanaman Karet. Balai Penelitian Sungai Putih (Pusat Penelitian Karet).

Mulyanigsih Tri dan Parman, 2004. Teknologi Inokulasi Mrikrobia Pada Tanaman Gaharu Dan Penanganan Pasca Panen Gubal. Makalah Utama Disampaikan Pada Pelatihan Nasional Budidaya Gaharu dan Teknik Inokulasi Untuk Mempercepat Pembentukan Gubal Gaharu. Pusat Penelitian Agroekologi Lembaga Peneliltian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Instiper Yogyakarta. 6-7 Oktober 2004. Yogyakarta. Indonesia.

Nobuchi T, Siripatanadilok, 1991. Peliminary abservation of Aquilaria crassna wood asosiated with the formulation of aloeswood . Bull Kyoto University 63:226-235.

Pojangaron dan Kaewark (2005) “Mechanical Methods to Stimulate Aloeswood in Aquilaria crassna Pierre ex H.Lec (Kritsana) Trees”. Acta Horticulturae 676, 161-166.

Paoli Gary D., David R. Peart, Mark Leighton, Ismayadi Samsoedin, --------.An Ecological and Economic Assessment of the Nontimber Forest Product Gaharu Wood in Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia.Conservation Biology.Volume 15, Issue 6 , Pages1721 – 1732.Society for Conservation Biology. BOGOR-Indonesia.

Putri A. 2007. Induksi terbentuknya senyawa terpenoid pada pohon gaharu (Aquilaria 

crassna) dengan Acremonium sp. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. 

Rahayu G, Situmorang J. 2006. Menuju Produksi Senyawa Gaharu secara Lestari. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XI. Bogor: Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarat IPB.  

Ramadhani Rizki  Chairiah, Juliarni, Gayuh Rahayu, 2005. Jaringan Pengkululasi Resin Gaharu pada Aquilaria crassna. Bogor. 1- 2 Desember 2005. Published By Seameo Biotrop Southeast Asian Tegional Centre for Tropical Biology. Bogor. Indonesia.

Shirsat,Gatehouse, Robinson, 1999. Plant biochemistry and molecular second edition. Chichester: John Wiley and Sons.

Suwardi Dan Edriana, 2005. Gaharu Dan Prospek Peningkatan Nilai Tambah Memalui Penyulingan Tepat Guna. Proseding Seminar Nasional Gaharu. Peluang Dan Tantangan Pengembangan Gaharu Di Indonesia. Bogor. 1- 2 Desember 2005. Published By Seameo Biotrop Southeast Asian Tegional Centre for Tropical Biology. Bogor. Indonesia.

Tamuli, Phatik, Borah, Paran, Nath, Subhan Leclereq dan Piet, 2005. Essential Oil of Eaglewood Tree: A Product of  Pathogenesis. Journal of Essential Oil Research: JEOR.

Tarigan Kelin, 2004. Profil Pengusahaan Gaharu. Departemen Kehutanan Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan. Jakarta.

Tran Qun Le, Qui Kim Tran, Kyoji Kouda, Nhan Trung Nguyen, Yukiko, Saiki dan Kadota, 2003. A Survey on agarwood in vietnam. Journal Trad. Med. 20.124-131.

Widyastuti,2009.Pengaruh Etilen Dalam Menginduksi Pembentukan   Senyawa Terpenoid Pada Pohon Gaharu (Aquilaria Microcarpa).

Yang Y, Shah, Klessig, 1997. Signal perception ang transduction in plant defense respone. Gene Dev. 11:1621-1639.

Zinch Farnk dan James Compton. 2001. Agarwood (Gaharu) Hatvest and Trade in Papua New Guinea : A Preliminary Assessment. An information document prepared by TRAFFIC Oceana for the Eleventh Meeting of The CITES Decisions 11.12 and 11.113 regading Aquilaria spp. Sydney. Australia.