Untuk Masyarakat yang bermukim di Kawasan Rawan Bencana G Kelud

Oleh

Amien Widodo

amienwidodo@yahoo.com

Ketua Pusat Studi Bencana LPPM ITS

Dokumen dapat diperoleh disini : 

http://docs.google.com/Doc?id=dgz8jm3r_55s2b847
  1. Latar belakang

Bencana tsunami Aceh, gempa di Yogya dan Jawa Tengah, tsunami Pangandaran, meletusnya Gunung Merapi, gempa di Bengkulu-Padang dan bencana-bencana lain di Indonesia mestinya memberi pelajaran sangat penting untuk bangsa kita bagaimana menangani bencana dan bagaimana memulihkan keadaan setelah bencana. Kenyataanya hampir semua dampak bencana yang ditimbulkan selama ini masih menyisakan derita dan trauma bagi masyarakat yang terpapar.

Ada suatu contoh bagus yang bisa kita teladani yaitu upaya yang dilakuakan bangsa Jepang dan beberapa negara lainnya. Apa yang dilakukan bangsa jepang jelas telah teruji hasilnya dari berbagai bencana yang telah menimpa negara ini, misalnya peristiwa gempa tahun 2007 dengan skala 6,9 korban meninggal hanya 1, jumlah yang luka-luka dan rumah rusak hanya beberapa saja. Bandingkan dengan gempa Yogya jawa tengah dengan skala 5,9 korban meninggal > 6000 orang, luka-luka ribuan orang dan rumah rusak > 300 ribu rumah. Jepang sudah melakukan banyak penelitian tentang bencana sebelum terjadi sehingga bisa dibuat berbagai alat peringatan dini, walau begitu rakyat Jepang masih wajib belajar mengenal, memahami dan mengetahui tata cara menghadapi bencana. Uutuk bangsa jepang memasukkan bencana dalam kurikulum sehingga rakyatnya sudah sadar sejak belajar di taman kanak-kanak. Artinya pemberdayaan masyarakat masih merupakan kunci utama dalam rangka manajemen bencana.

Untuk kita, bangsa Indonesia pemberdayaan masyarakat lokal menjadi sangat penting ini dikarenakan (1) masyarakat lokal merupakan masyarakat yang paling terpapar/pada ancaman dan terkena dampak bencana, (2) dalam keadaan daruratpun, masyarakat “korban” masih mempunyai kekuatan yang bisa didayagunakan, (3) masyarakat lokal, mengenal lebih baik karakteristik wilayahnya, dan mempunyai cara adaptasi yang telah teruji dari waktu ke waktu, (4) akan mengefektikan kerjasama dengan pihak lain untuk melakukan dukungan lanjutan bila dibutuhkan atau (5) akan mempermudah komunikasi dan shring informasi dengan Satlak kabupaten/kota

Agar masyarakat lokal bisa menrima dengan baik maka dalam pelaksanaan disarankan memperhatikan prinsip-prinsip pendekatan yang holistik (melalui keseluruhan tahapan manajemen resiko bencana), integratif (menautkan program dan kebutuhan lain), partisipatif sejak perencanaan hingga pengakhiran program (untuk semua strata, kelompok, gender) dan “Tidak merusak” (do no harm) sistem yang sudah ada, termasuk kepercayaan/ tradisi lokal. Perlu diingatkan bahwa pemberdayaan masyarakat, bukan “kembali ke normal” akan tetapi berupaya bila ancaman yang sama datang lagi, bencana yang sama tidak kembali terjadi.

Tujuan akhir dari pemberdayaan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan sehingga menjadi budaya dan kearifan lokal yang tanggap dan bisa menghindar bila bencana datang.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal sekitar G Kelud

Pertama saling bekomitmen bersama untuk membentuk Satgas Penanganan Bencana, intinya tugas pokok satgas ini adalah melakukan kegiatan pertemuan untuk mencatat dan mendiskusikan selalu masalah bencana dan mensosialisasikan apa yang harus kita lakukan agar selamat bencana. Mulailah dengan mencatat segala kejadian bencana yang pernah terjadi di daerah kita, mengidentifikasi dan menganalisa risiko. Untuk itu disarankan segera (1) mempelajari sejarah bencana yang pernah terjadi dan dokumentasikan dengan baik. Sejarah bencana bisa ditanyakan pada penduduk yang sudah lama tinggal disitu, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dinas terkait, perguruan tinggi terdekat dan dari berbagai sumber, (2) Tanyakan pula pada aparat pemerintah dan dinas terkait apakah sudah ada peta bencana dan bagaimana caranya agar bisa memperoleh peta tersebut; (3) bila peta bencana belum dibuat maka buatlah peta itu dengan jalan melihat dan mengamati langsung bekas-bekas akibat bencana yang pernah terjadi. Data pengamatan digambarkan dalam peta. Kalau kesulitan bisa minta bantuan perguruan tinggi setempat; (4) bila dari hasil peta yang dibuat ada beberapa bangunan vital (misalnya sekolah, rumah sakit, kantor polisi dll) masuk di wilayah sangat rawan bencana maka disarankan untuk dipindahkan. Mengingat kalau terjadi bencana dan yang terkena rumah sakit maka bisa dipastikan korban akan makin banyak, (5) lengkapi peta dengan jalur evakuasi dan tempat pengungsian sementara.

Kedua setelah peta kawasan rawan bencana sudah kita buat kemudain lakukan (1) mensosialisasikan peta yang dibuat kepada seluruh anggota kelompok dan pastikan seluruh anggota kelompok mengetahui peta tersebut (tinjau ulang bila ada kesalahan-kesalahan dan diupayakan peta selalu siap di update); (2) melakukan identifikasi sumberdaya (sumberdaya manusia, peralatan, finansial, rumah sakit, tim penyelamat, lsm, media dll) dan selanjutnya mengadakan komitmen-komitmen serta pembagian tugas, (3) mencatat dan menyebarkan ke setiap anggota satgas no tilpon penting seperti Bupati, Dinsos, Satlak,Linmas, PMI, SAR, Radio dan Televisi yang peduli terhadap bencana, PSB ITS Surabaya, dll.

Ketiga mengembangkan sistem peringatan dini misalnya dengan tanda seperti kentongan, peluit, interkom, pengeras suara di masjid dengan peralatan yang dimiliki dan merencanakan gladi dan berlatih dalam keadaan darurat bersama tetangga dengan komando ketua SAT GAS, dan memberitahukan apa-apa yang harus disiapkan saat mengungsi misalnya menyiapkan tas yang diisi dengan pakaian, bahan makanan dan minuman, obat-obatan, senter/sentolop, dan alat-alat lain yang diperlukan. Bawa secukupnya untuk ngungsi selama minimal 3 hari.

Keempat mengembangkan dan merencanakan serta berlatih untuk keadaan darurat dengan SATGAS lain di luar daerah. Ini penting untuk koordinasi antar satgas

Kelima merencanakan dan memberitahukan dengan cermat cara-cara evakuasi untuk keluarga kita sendiri. Pastikan mereka mengetahuinya.

Keenam mempelajari tentang PPPK dengan bantuan PMI agar saat terjadi bencana ada pertolongan pertama dengan cara yang benar. Banyak korban cacat atau meninggal karena tidak tahu cara penyelamatan pertama.

Ketujuh mencatat semua anggota Satgas, jumlah anggota kelompok rentan (manula, balita, orang sakit, ibu hamil dll) dan anggota masyarakat yang memlihara binatang buas/binatang berbisa. Pertama disarankan untuk tidak memelihara binatang-binatang tersebut, bila tidak mau konsekuensinya saat terjadi bencana ditolong paling akhir.

Kedelapan kenali dan catat tanda-tanda alam yang biasanya akan muncul sebelum bencana akan meletus atau akan mengeluarkan sesuatu. Untuk itu perhatikan, dengarkan dan rasakan adakah sesuatu yang berbeda di sekitar kita bila dibandingkan dengan keadaan biasanya misalnya :

Kesembilan daftarkan satgas dan laporkan rencana aktivitas satgas ke SATLAK agar mudah dalam dalam mengkoordinasikan dan agar muadah saling memantau serta saling memberi informasi. Kalau status bencana dinyatakan siaga maka saling kontak dan berkomunikasi harus tiap hari sehingga tahu perkembangan keadaan.

Kesepuluh kepedulian masyarakat akan ancaman bahaya dari lingkungan di sekelilingnya akan meningkatkan kesadaran dan kesiapsigaan sehingga dapat mengurangi risiko/konsekuensi akibat adanya bencana gunungapi berskala besar.

Bila diumumkan SIAGA Bencana maka lakukan hal-hal sebagai berikut :

Bila diumumkan AWAS Bencana, maka lakukan hal-hal sebagai berikut :

Tingkat/Status gunung berapi di Indonesia

Status

Makna

Tindakan

AWAS

  • Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana

  • Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap

  • Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam

  • Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan

  • Koordinasi dilakukan secara harian

  • Piket penuh

SIAGA

  • Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana

  • Peningkatan intensif kegiatan seismik

  • Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana

  • Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu

  • Sosialisasi di wilayah terancam

  • Penyiapan sarana darurat

  • Koordinasi harian

  • Piket penuh

WASPADA

  • Ada aktivitas apa pun bentuknya

  • Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal

  • Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya

  • Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal

  • Penyuluhan/sosialisasi

  • Penilaian bahaya

  • Pengecekan sarana

  • Pelaksanaan piket terbatas

NORMAL

  • Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma

  • Level aktivitas dasar

  • Pengamatan rutin

  • Survei dan penyelidikan


update : 3 Oktober 2007

1