Memperlakukan Pohon Layaknya Seorang Anak
JANICE Krisanti (16), siswa kelas XI SMA Santo Aloysius Bandung, memasang label pada pohon suren yang baru ditanamnya di kawasan konservasi Gunung Masigit Kareumbi, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung, Sabtu (17/1).* DENI YUDIAWAN/"PR"
PROGRAM adopsi atau orang tua asuh lazim dilakukan sebagai wujud kasih sayang dan kepedulian antarsesama manusia. Adopsi dilakukan dengan penuh sukarela disertai dengan pengorbanan waktu, perhatian, hingga materi si orang tua, untuk membesarkan anak manusia yang diadopsinya. Namun, pernahkah terlintas dalam benak Anda jika yang diadopsi itu adalah sebatang pohon kecil, bukan anak manusia seperti yang lazim dilakukan selama ini?
Kerusakan lingkungan di Bandung dan sekitarnya yang disertai dengan kenaikan suhu lokal Bandung saat ini, memicu dirintisnya program adopsi pohon. Program yang kemudian diberi nama "Wali Pohon" ini, digagas oleh Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri. Mereka akan melibatkan masyarakat luas dari semua kalangan untuk ikut serta dalam program ini.
"Masyarakat sebagai orang tua asuh pohon hanya menyisihkan uang Rp 50.000,00 untuk setiap satu batang pohon yang diadopsi. Biaya tersebut termasuk bibit, pemeliharaan, perawatan, serta garansi selama lima tahun pohon itu dapat hidup dan bertumbuh," kata Manajer Pengelola Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi Remi Tjahari, Sabtu (17/1).
Ia ditemui saat soft launching program Wali Pohon di Blok KW kawasan konservasi Gunung Masigit Kareumbi Kp. Leuwiliang, Desa Tanjungwangi, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung.
Menurut dia, orang tua asuh pohon hanya menyisihkan dana untuk pengadopsian, sementara pihak pengelola yang akan melakukan semua proses hingga pohon itu dapat hidup dan tumbuh selama lima tahun ke depan. Pengelola akan melibatkan masyarakat sekitar untuk diberdayakan memelihara pohon-pohon tersebut. Setiap pohon yang diadopsi akan memiliki label yang berisikan nama orang tua asuhnya. Label itu akan terus tercantum selama pohon itu tumbuh. Orang tua asuh pun akan memegang sertifikat pohon yang ditanamnya.
Terdapat enam jenis pohon yang dapat diadopsi, semuanya merupakan jenis pohon kayu yang telah disesuaikan dengan kondisi Gunung Masigit Kareumbi. Jenis pohon-pohon itu adalah baros atau manglid (Mangelieta glauca), sobsi (Maesopsis eminii), puspa (Schima wallichii), salam (Syzygium polyanthum), rasamala (Altingia excelsa), dan suren (Toona sureni).
Taman buru
Kawasan Gunung Masigit Kareumbi sebenarnya berstatus taman buru, satu-satunya di Pulau Jawa dari sepuluh taman buru di Indonesia. Manajemen pengelola dibentuk atas dasar kerja sama kemitraan antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar dan Wanadri, untuk menghidupkan kembali kawasan ini yang sempat didera konflik dengan masyarakat beberapa tahun lalu. Luas seluruh kawasan Gunung Masigit Kareumbi adalah 12.470,7 ha, namun yang akan dikelola hanya 10%-nya atau 1.200 ha.
"Program serupa telah lama dilakukan di Inggris dan Jerman dengan nama baby tree. Mereka tak punya hutan, namun menjadi orang tua asuh pohon pada beberapa tempat di dunia," kata salah seorang staf pengelola, Galih Donikara.
Ia mengatakan, adopsi pohon itu sebenarnya merupakan sebagian kecil dari pengelolaan yang akan dilakukan. Terdapat lima program yang akan dikembangkan di kawasan ini yaitu pendidikan dan pelatihan alam terbuka, ekowisata, penangkaran satwa buru dan wisata buru, pemberdayaan masyarakat, serta penelitian dan pengembangan.
Sebagai tahap awal, Wanadri telah menanam 600 pohon di kawasan itu. Pada acara soft launching kemarin, penanaman pohon juga dilakukan para alumni Taruna Ogha Praviti (TOP) Sekolah Santo Aloysius Bandung yang tengah memperingati hari jadinya yang ke-60. Mereka menanam 1.200 pohon dalam satu bukit di kawasan itu.
Janice Krisanti (16), seorang siswa kelas XI SMA Santo Aloysius yang menjadi orang tua asuh pohon di sana, mengaku tertarik dengan program ini. "Biasanya kita kan punya hewan peliharaan, tetapi sekarang aku punya pohon peliharaan. Lucu juga," kata Janice yang bersemangat menanam pohon di areal bukit itu.
Penggubah lagu sekaligus anggota senior Wanadri Iwan Abdulrachman yang akrab disapa Abah Iwan, menggugah tentang kesadaran menanam pohon ini dalam acara tersebut. Ia mengajak semua orang untuk dapat mengadopsi pohon di kawasan itu dan mencintai layaknya anak sendiri. Upaya itu sekaligus merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat hidup yang diberikan Sang Maha Pencipta. (Deni Yudiawan/"PR")***
Sumber:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=53949