Adopsi Pohon Bergaransi Ala Wanadri
Orang sering lupa, setelah ditanam, bibit pohon butuh perawatan. Pohon tidak dengan sendirinya bisa leluasa tumbuh, bertambah besar, dan rindang. Ada gulma dan hama yang siap menerkamnya kapan saja. Ritus penanaman pohon yang gencar dilakukan selama ini menegaskan hal tersebut. Setelah bibit tertancap dan upacara meriah selesai, seolah selesai juga semua tanggung jawab kita.
Dengan ringan, orang meninggalkan "bayi pohon" berjuang sendirian untuk tumbuh. Alhasil, niat baik menambah sejuk kota bakal kandas di tengah jalan.
Menyimak kecenderungan buruk seperti ini, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri Bandung menawarkan solusi alternatif penghijauan. Namanya adopsi pohon.
Gagasan utamanya, masyarakat atau lembaga bertindak selaku "orang tua asuh" setiap pohon yang ditanam.
Saat ini Wanadri diberi tanggung jawab oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengelola 350 hektare tanah kosong di kawasan Gunung Masigit-Kareumbi. Kawasan bekas taman buru seluas 12.000 hektare itu terletak sekitar 12 km dari Cicalengka Kab. Bandung. Dari 350 hektare tanah yang menjadi tanggung jawabnya, tahun ini Wanadri berfokus pada luasan 30 hektare.
Secara resmi, program adopsi pohon diluncurkan pada peringatan Hari Pohon, 28 November lalu. Wanadri memelopori gerakan ini dengan menanam 600 pohon di lahan seluas satu hektare. Hingga kini, telah ada puluhan orang tua asuh yang telah menanam 250 pohon. Ada yang melakukannya atas nama perseorangan, ada juga yang menggunakan nama instansi atau perusahaan.
Tanggung jawab orang tua asuh adalah membiayai pertumbuhan "anak-anak asuhnya". Ongkosnya tidak mahal. Satu pohon membutuhkan donasi Rp 50.000,00. "Jumlah uang tak seberapa ini bukanlah yang utama. Ini sekadar tanda pengikat antara si penanam dan pohonnya. Dengan beban biaya ini, diharapkan muncul rasa memiliki," kata Ketua Wanadri Darmanto, di Bandung, Senin (1/12).
Apa yang bisa diharapkan dari Rp 50.000,00? Tidak main-main, Wanadri memberi jaminan pemeliharaan selama lima tahun. Lima tahun dianggap sebagai umur yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh secara mandiri. Jika selama waktu garansi, pohon sakit atau mati, tidak usah khawatir, Wanadri siap mengganti.
Perawatan semacam inilah yang kerap diabaikan dalam berbagai penanaman pohon. Padahal, bayi pohon di bawah lima tahun sangat rentan dengan gulma dan hama. "Kita ingin memastikan pohon hidup dan tumbuh dengan sehat," ujar Darmanto.
Pelayanan Wanadri sebagai pengelola tidak berhenti sampai di situ. Secara rutin mereka memantau perkembangan pohon dan melaporkannya kepada para orang tua asuh. Jadi, jika tidak sempat berkunjung ke Gunung Masigit-Kareumbi, data bisa diakses secara online di www.wanadri.org. Di situs web ini, tercantum segala keterangan mengenai perkembangan pohon.
**
Adopsi pohon sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pelestarian lingkungan. Di Amerika dan Eropa, model konservasi seperti ini dikenal sebagai baby tree. Setiap "orang tua" dikenai biaya perawatan 10 dolar AS/pohon. Nilai lebih Wanadri adalah keinginan kuat melibatkan masyarakat sekitar wilayah penghijauan.
Wanadri melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh warga dan memberdayakan mereka sebagai ujung tombak perawatan kawasan lindung.
"Kami tidak akan mungkin mampu mengelola semuanya. Masyarakat sekitarlah yang bisa. Oleh karena itu, merekalah yang kita andalkan," kata Manajer Pengelolaan Kawasan Masigit-Kareumbi, Remi Tjahari.
Biaya dari para orang tua asuh pada akhirnya kembali kepada masyarakat. Dengan merawat bayi-bayi pohon, mereka memperoleh sedikit tambahan penghasilan.
"Kami tidak mau muluk-muluk, uang itu tentu tidak cukup menghidupi mereka. Tapi setidaknya mereka memiliki tambahan penghasilan dan yang terpenting, mereka memiliki kesadaran untuk terlibat dalam upaya penghijauan lingkungan sekitar mereka," ujar Remi.
Saat ini, ada enam jenis bibit pohon yang bisa ditanam para orang tua asuh, yakni manglid, sobsi, puspa, salam, rasamala, dan suren. Enam jenis pohon itu dipilih karena memiliki keunggulan masing-masing. Suren, misalnya, mampu menyebarkan aroma yang ditakuti serangga. Sementara rasamala dan manglid dapat mengundang monyet dan burung untuk singgah dan membuat sarang.
Pemilihan tanaman ini terkait dengan mimpi besar Wanadri untuk menjadikan Gunung Masigit-Kareumbi sebagai kawasan hijau yang berfungsi sebagai tempat pendidikan alam terbuka, ekoturisme, dan penangkaran.
"Kami baru memulai. Jalannya masih panjang. Oleh karena itu, kami mengajak semua orang untuk bergabung, baik perorangan maupun perusahaan," kata Remi.
Remi mengaku terkejut dengan tanggapan masyarakat terhadap program adopsi pohon yang baru diluncurkan ini. Promosi memang tidak dilakukan secara besar-besaran. Baru sebatas para pegiat di Wanadri dan keluarga serta kenalan-kenalannya. Akan tetapi, sekarang sudah 250 pohon tertanam.
Remi lantas bercerita tentang delapan murid sebuah playgroup di kawasan Setiabudhi Kota Bandung yang ikut menjadi orang tua asuh. "Mereka menamai pohon-pohon dengan nama mereka masing-masing. Tentu saja, uangnya mereka peroleh dari orang tua. Tapi melihat semangat mereka, saya terharu sekaligus bangga. Kita bisa melakukan ini," tuturnya.
Ya, menamai bayi-bayi pohon dengan nama kita atau anak cucu kita adalah satu lagi keunggulan yang ditawarkan program ini sekaligus menandai kedekatan kita dengan tanaman yang kita miliki.
Kita bisa membayangkan, beberapa tahun kemudian, "anak-anak" kita telah tumbuh besar dan cantik. Batangnya besar, rantingnya banyak, dan daunnya hijau rimbun. Pohon-pohon tersebut akan tumbuh selamanya karena kawasan ini merupakan hutan lindung, dan bukan hutan produksi.
Bayangkan juga apabila program adopsi itu dapat diterapkan di Kota Bandung. Bisa jadi di pinggir-pinggir jalan atau di taman kota, kita memiliki "bayi dan anak-anak pohon" yang beranjak tumbuh dan bisa kita kunjungi kapan saja. Bangganya kita bisa terlibat dalam setiap usaha penghijauan! Bangganya kita bisa mewariskan sesuatu yang bermakna pada generasi sesudah kita!
Nah, Anda tertarik untuk menjadi orang tua asuh? Wanadri membuka pintu lebar untuk kepedulian Anda. Puluhan hektare tanah kosong menunggu. Datang saja ke Kantor Pusat Pengelolaan Kawasan Masigit-Kareumbi, Jln. Kawista 26 Bandung. Selanjutnya, selamat bergabung dalam keluarga besar konservasi dan selamat menjadi orang tua asuh yang baik! (Ag. Tri Joko Her Riadi)***
Sumber
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=45848